Waspada, Kanker Payudara Bisa Menyerang Anak Muda

Waspada, Kanker Payudara Bisa Menyerang Anak Muda

Jakarta, YKPI – Sebagai pusat kanker nasional, RS Kanker Dharmais pernah merawat pasien kanker payudara usia 16-21 tahun. Ini menegaskan kanker payudara bukan milik perempuan dewasa saja. Bahkan laki-laki di segala usia pun bisa menderita kanker payudara, meski jumlah pasiennya relatif sangat sedikit.

Demikian diungkapkan dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk di hadapan sekitar 500 peserta virtual talkshow YKPI-LSPR Goes To Campus, pada Jumat (21/8).

Memaparkan presentasi bertema ‘Deteksi Dini Kanker Payudar, Kapan Dimulainya?’, dokter yang kini menjabat sebagai Kepala Instalasi Deteksi Dini & Promosi Kesehatan RS Kanker Dharmais ini mengajak untuk melakukan skrining di usia muda.

“Karena jika terdeteksi sejak awal, kanker payudara dapat diobati sebelum menyebar pada bagian tubuh lainnya. Memang kita tidak dapat mengetahui penyebab terjadinya kanker, namun tanda dan gejalanya dapat mudah dikenali, yakni dengan adanya benjolan yang tidak nyeri pada payudara atau putingnya. Meski begitu tidak semua benjolan juga tanda adanya kanker payudara,” kata dr Bob.

Seperti dikatakan dr. Bob, memang tidak ada yang tahu pasti mengenai penyebab kanker payudara pada perempuan usia muda.

Namun ada beberapa konstributor kemungkinan perempuan muda terkena kanker payudara, bisa jadi karena adanya faktor hormonal, pola hidup tak seimbang, atau keturunan.

Lebih lanjut dr. Bob menjelakan angka kejadian kanker usia di bawah 30 tahun relatif sangat kecil.

“Yang banyak ditemukan itu adanya benjolan atau tumor jinak yang tidak disertai nyeri. Jika cuek, benjolan itu akan semakin membesar dan jika tidak diperiksa bisa bertambah besar dan ganas,” ujar dr Bob lagi.

Untuk tumor jinak, ditambahkan dr. Bob, tidak ada cara lain selain operasi. “Tapi teknik operasinya juga menjunjung tinggi estetika, sehingga garis lukanya tersamar di antara garis areola,” imbuh dokter yang giat mempromosikan pentingnya deteksi dini ini.

Dr. Bob menjelaskan selain tumor jinak tanpa nyeri ada juga benjolan yang disertai rasa nyeri. Karena ada rasanya maka memungkinkan pasien tidak bersikap cuek dan akan segera berobat.

“Tapi sekali lagi tidak semua benjolan pada payudara itu dipastikan kanker, harus dicek dulu,” ajaknya.

Untuk mengenal ada tidaknya kanker, imbuh dr. Bob, harus mengenal faktor-faktor risiko kanker payudara. “Ada dua faktor risikonya, yang dapat dimodifikasi seperti pada perempuan tidak menikah, tidak menyusui, tidak punya anak atau obesitas. Dan yang tidak dapat dimodifikasi seperti ada riwayat kanker payudara atau ovarium di keluarga,” terang dr. Bob.

Berdasarkan data Globocan 2018, insiden kanker pada perempuan di Indonesia tertinggi adalah kanker payudara dengan angka kejadian per tahun 58.256 kasus.

“Jika dikalkulasi maka akan ada 6 pasien perempuan per jam perempuan dengan kanker payudara,” tandas dr. Bob.

Kondisi memprihatinkan ini dapat dicegah sedini mungkin dengan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara secara klinis). Untuk SADARI, lakukan setiap bulan pada hari 7-10 dari haid pertama.

“Jika tidak teratur dapat menggunakan tanggal ulang tahun. Sedangkan SADANIS lakukan sesuai umur karena menggunakan alat baik dengan USG atau mammografi. Untuk perempuan muda usia di bawah 20 tahun cukup lakukan 1 kali saja,” jelas dr. Bob.

Jika ditemukan benjolan di sekitar payudara dan kemudian dioperasi lalu muncul lagi, menurut dr. Bob tidak perlu dikuatirkan. Untuk mengetahui ganas atau tidaknya benjolan tersebut, disarankan agar tidak menunda pemeriksaan medis. Pandemi jangan dijadikan penghalang untuk berobat.

“Tentunya tetap waspada dengan memilih rumah sakit yang bukan rujuknan covid. Intinya lakukan deteksi dini dan skrining sedini mungkin, karena semakin dini diketahui maka angka peluang dapat disembuhkannya 100 persen,” tutup dr. Bob.

 

Sumber: Jurnas.com

Share this post