70-80% Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Berisiko Metastasis

Pasien kanker payudara stadium lanjut berisiko mengalami penyebaran sel-sel kanker (metastasis) ke tulang. Menurut dokter spesialis bedah onkologi , dr Walta Gautama berdasarkan data pada 2017 menunjukkan sekitar 70-80 persen pasien kanker payudara stadium lanjut 2B ke atas berisiko mengalami penyebaran sel kanker ke tulang.

Lebih lanjut Walta memaparkan bahwa tulang merupakan jaringan yang disukai sel-sel kanker untuk tumbuh. Awalnya, sel-sel kanker dari payudara ini menyebar lewat pembuluh darah lalu masuk ke jaringan tulang. Kemudian, jaringan tulang akan merespons dengan mengeluarkan zat-zat yang mendukung pertumbuhan sel-sel kanker.

“Begitu sel kanker dari payudara itu masuk ke tulang akan membuat sel-sel kanker aktif lagi,” katanya ketika ditemui Jurnas.Com seusai presentasi masalah Limfoma di Temu Penyintas Kanker Payudara YKPI belum lama ini.

Walta juga menjelaskan jika Mestasis ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan struktur tulang. Salah satu gejala adanya sel kanker di tulang, tambah dokter yang prakter di RS Dharmais ini adalah timbulnya rasa nyeri terus-menerus bahkan patah tulang. “Biasanya target yang disasar sering terjadi di tulang punggung baru disusul dengan rusuk, panggul, dan tulang-tulang panjang,” kata Walta lagi.

Itulah sebabnya, penyintas kanker payudara asal Medan, Hilmasari harus menjalani kemoterapi pada bagian tulangnya setelah menjalani pengobatan total pada kanker payudaranya. “Saya terdekteksi kanker payudara pada 2011. Langsung stadium 2. Waktu itu kalau dapat haid nyeri terus pas diraba kok ada benjolan,” kenangnya.

Perempuan aktif yang saat pertama kali divonis kanker saat usia 40 tahun ini akhirnya memutuskan untuk mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Lima tahun kemudian, Hilmasari tak menyangka jika kankernya mestasis ke bagian tulang belakangnya. “Setelah bersih kanker payudara saya kemo lagi untuk tulang di tahun 2016. Sakitnya luar biasa, saya gak bisa solat, makan juga gak bisa bisa masuk mulut. Sangat menderita,” jelas Himasari lagi yang mengaku pernah berada di posisi terendah dalam hidupnya akibat kesakitan.

Jika saja tidak ada dukungan dari keluarga atau teman kerja, Hilmasari mengungkapkan dirinya pasti sudah menyerah. “Tapi saya berusaha untuk yakin kalau penyakitnya akan sembuh, dan kematian itu soal waktu dari Tuhan bukan karena penyakit,” tegasnya berapi-api.

Kini, Hilmasari terus berupaya agar tidak ditemukan lagi sel kanker  menghindari stress, berpola hidup sehat dan selalu berpikiran positif. “Jangan stress, hindari makanan yang mengandung penyedap rasa, pewarna atau pengawet dan pastikan selalu happy. Pokoknya jangan stress. Semangat ya teman-teman sependeritaan,” pungkasnya menyemangati para penyintas yang ditemuinya agar tidak bernasib sama denganya.

Read more...

Ketika Dua “Mahkota” Fithriani Direnggut di Meja Operasi

Jakarta – Payudara dan rahim adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada perempuan. Tak sedikit perempuan yang merogoh kocek ratusan juga untuk menjaga dan merawat kedua mahkota itu dengan perawatan istimewa.

Tak ada satu pun perempuan yang rela kehilangan salah satu  mahkotanya. Tapi bagaimana jadinya jika perempuan harus merelakan kedua mahkota itu direnggut di meja operasi. Butuh berbagai alasan dan keberanian kuat untuk merelakan semua itu. Tapi tidak bagi seorang ibu. Ia akan rela dan tak gentar menjalaninya demi anak-anaknya.

Kejadian itu benar-benar dialami Fithriani sepuluh tahun lalu. Hebatnya, Fithriani menghadapainya dengan rasa syukur karena masih bisa bernapas hingga detik ini.

Kepada Jurnas.com, perempuan asal Padang yang berulangtahun setiap 14 November ini menceritakan perjuangan beratnya melawan dua penyakit mematikan. Kanker payudara dan kanker rahim.

Kedua kanker itu berawal ketika Fithriani masih berusia 33 tahun. Kala itu, tidurnya terusik. Ia kaget ketika meraba payudara kirinya ada semacam benjolan asing. Tak sakit tapi cukup membuat jantungnya berdegup kencang. Ia takut terkena kanker payudara sementara ia masih memberikan ASI pada anaknya.

Setelah berdiskusi sesaat, Fithriani dan suami sepakat membiarkan benjolan itu hingga satu tahun ke depan, sampai anak keduanya diberikan ASI cukup. Dua tahun kemudian, benjolan di payudara kiri ibu dua anak ini belum juga hilang. Akhirnya, diantar suaminya, Fithriani memutuskan memeriksakan benjolan tersebut ke dokter.

Pada pemeriksaan pertama, Fithriani divonis memiliki Fibroadenoma alias FAM, yang selama ini umum dikenal sebagai tumor jinak di payudara. Solusinya, Fithriani hanya disarankan melakukan operasi pengangkatan benjolan. “Dokter meyakinkan saya bahwa benjolan saya adalah FAM dan diangkat pada 24 Desember 2010,” yakin perempuan bernama lengkap Fithriani Amin ini.

Tapi, di tengah proses operasi, dokter mencurigai benjolan di payudara kirinya bukan hanya FAM. Fithriani pun harus melakukan analisis patologi anatomi jaringan. Hasilnya, dokter memvonis  Fithriani menderita kanker payudara stadium 2B ductal carcinoma invasif.

Fithriani menjelaskan saat itu ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya karena memikirkan kedua buah hatinya yang masih balita. “Bukan main hancurnya perasaan saya,” kenangnya.

Di tengah kesedihan, Fithriani tetap bersyukur. Suami dan orang tuanya terus memberikan dukungan tanpa henti. Dia dan suami pun ikhlas untuk menjalani operasi pengangkatan payudara pada 8 Januari 2011. Namun, operasi itu bukanlah operasi terakhirnya. Saat menjalani kemoterapi Fithriani mengalami menstruasi hebat. Hal ini bertolak belakang dengan proses kemoterapi. “Akhirnya saya dirujuk untuk periksa rahim,” katanya lirih.

Pasca diperiksa, dokter menemukan adanya penebalan di dinding rahim Fithriani. Jika dibiarkan, penebalan ini akan berubah menjadi kanker rahim, yang berisiko tinggi merenggut nyawanya. Dokter pun menyarankan Fithriani menjalani operasi pengangkatan rahim.

“Sokongan dan keridhoan suami mendamaikan saya. Akhirnya, saya pun melakukan operasi angkat rahim,” tutur Fithriani.

Kini, tujuh tahun sudah perjuangan itu berlalu. Fithriani bersyukur, di usianya yang beranjak 43 tahun, dia masih diberikan kesempatan melanjutkan hidup, setelah melewati dua penyakit ganas semasa hidupnya meski harus kehilangan dua mahkotanya.

Read more...

Anisah: Ternyata Obat Kanker itu Ikhlas

Jakarta – Siapapun yang divonis kanker pasti akan merasa selalu dihantui kematian. Tak terkecuali Anisah. Perempuan berusia 51 tahun asal Cilegon ini tak pernah menyangka ketika pertama kali melakukan pemeriksaan kankernya sudah dalam level ganas.

Berawal saat 2015, ketika Anisah merasakan ada benjolan yang diikuti penebalan pada kulit di sekitar payudaranya. “Saat itu kebetulan tidak ada dokter Onkologi yang memeriksa tapi bedah umum,” ingat karyawan anak perusahaan Krakatau Steel ini.

Hingga 2016, Anisah merasakan sakit  karena benjolan dan penebalan itu tidak kunjung reda dan semakin menjadi. Ia pun akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke RS Dharmais Jakarta, berbekal rekap medis dan hasil USG dari RS di kotanya.

“Dokter di Dharmais bilang benjolan saya sudah ganas,” katanya lagi pada Jurnas.com di sela-sela Temu Penyintas Kanker Payudara se Indonesia beberapa waktu lalu.

Tak ada yang bisa dilakukan Anisah kecuali menangis. Ia tidak pernah mengira pemeriksaan awal yang menyatakan tidak ada masalah berarti menjadikanya seorang penderita kanker. Bagi perempuan dimanapun, kanker payudara adalah mimpi buruk yang meruntuhkan kepercayaan dirinya.

Untunglah Anisah memiliki suami yang mendukungnya dan selalu memberinya semangat untuk hidup demi keluarganya. Serangkaian pemeriksaan ia lalui didampingi sang suami tercinta. Perasaan sedih, putus asa dan hancur dikatakan Anisah sudah tak dapat lagi terbendung. Apalagi, ia harus mengikuti serangkaian terapi medis dari dokter. Mulai dari radiasi, kemoterapi dan operasi pengangkatan benjoan di payudaranya.

“Sebelum operasi, dokter memutuskan semua benjolan harus diangkat. Tentu awalnya ada sedikit hambatan, tapi alhamdulillah saya bisa melalui semua itu, bisa beraktivitas lagi dan  bisa ada di sini sekarang,” ujar Anisah lagi seraya mengatakan kanker membawa berkah bagi hidupnya kini.

Kanker menurut Anisah bukan lagi identik dengan kematian tapi peringatan dari tuhan. “Penyakit ini seperti pembersih dosa, ini adalah anugrah sekaligus peringatan bagi saya untuk hidup lebih baik. Kematian adalah rahasia tuhan, kapanpun dan dimanapun bisa terjadi,” tandasnya.

Anisah pun berpesan untuk tidak menunda  melakukan deteksi dini.  Selain tentunya tetap harus menjaga pola hidup dan pikiran yang sehat. Di luar itu semua, dikatakan Anisah lagi, ternyata berserah diri dengan ikhlas adalah obat hati paling mujarab.

”Jangan dipikir berobat itu gampang dan tidak sakit. Kepikiran biaya juga, urusan rumah dan kerjaan. Belum lagi harus bolak-balik rumah sakit sampai rambut botak,” serunya mengenang kembali saat-saat sulit itu. Namun Anisah beruntung, karena kantornya mendukung pengobatan dan masa pemulihanya. Keluarganya pun selalu mendampinginya dengan penuh kasih.

“Jika saja saya tidak ikhlas dan terus mengeluh, entah akan seperti apa saya sekarang,” tutupnya mengajak semua penyintas kanker payudara untuk tetap semangat dan ikhlas melakukan semua tindakan medis. Ah, ternyata ikhlas obat kanker versi Anisah.

Read more...

Janji Yanti Saat Divonis Kanker Payudara

Mengidap kanker bukan satu-satunya mimpi buruk bagi Yanti Setiawadi, namun ia juga harus menghadapi penderitaan lain akibat kemoterapi. Survivor kanker payudara asal Bandung ini pernah merasakan kematian sudah sangat dekat saat anak-anaknya masih kecil. Itu terjadi padsa 2007 ketika dokter memvonisnya mengidap kanker payudara.

Yanti sempat mengabaikan benjolan di payudaranya, meski ia merasakan sakit luar biasa saat mengetahui benjolan di payudaranya sudah berbentuk segiempat pada 2006. Namun ia mengabaikan rasa itu akibat pengaruh teman-temanya yang menganggap benjolan di payudaranya bukan hal yang membahayakan.

“Saat itu saya marah ke Tuhan, kenapa harus saya. Saya sampai meninggalkan kebiasaan saya membaca renungan dan alkitab,’ kata Yanti yang akhirnya memutuskan operasi di 2007.

Yanti mengatakan setelah operasi pada 2007 itu ia harus menjalani 6 kali kemoterapi. Salah satu prosedur pengobatan yang menggunakan bahan kimia sangat kuat untuk menghentikan sekaligus menghambat pertumbuhan sel kanker ini bukanlah perjuangan yang mudah bagi Yanti. “Rasanya nano-nano. Di saat kemo ketiga saya mulai merasa gak kuat. Tapi saya harus yakin sama Tuhan. Di situ saya berjanji pada Tuhan untuk memberi saya kekuatan. Kalau saya kuat menjalani kemo ini, saya berjanji akan mendirikan grup kanker,” cerita Yanti penuh emosi yang mengulang janji itu di kemonya yang kelima dan keenam.

Dia tidak mengucap janji sama di kemonya yang keempat, karena saat itu ibunya mengalami stroke. Pukulan emosional baru bagi Yanti yang harus menahan rasa sakit akibat kemo. Seusai kemo Yanti sempat merasakan kembali beraktivitas seperti semula, meski kepalanya masih botak. Tapi itu hanya sesaat ia rasakah, karena usus buntu menyerangnya. “Teguran lagi dari Tuhan. Tapi saya gak mau operasi. Eh, malah rahim saya kata dokter turun dan akhirnya saya operasi pengangkatan rahim pada Oktober 2007,” kata Yanti lagi menceritakan semua yang ia anggap teguran tuhan padanya.

“Tuhan kenapa di tahun yg sama saya harus kehilangan dua organ yang menjadi ciri khas seorang wanita, kenapa di awal tahun saya kehilangan payudara dan diakhir tahun saya kehilangan rahim,” protes Yanti kala itu.

Yanti pun tersadar akan tiga kali janjinya untuk mendirikan grup peduli kanker payudara di Bandung. Akhirnya seminggu sebelum operasi pengangkatan rahim, Yanti mendirikanya dibantu dua temanya. Perkumpulan itu ia namai Bandung Cancer Society (BSC). Dibantu

“Tuhan punya cara sendiri menguji umatnya. Apapun yg terjadi, itu pasti yang terbaik dari Tuhan. Kanker bukan akhir segalanya, move on and be a winner,” ujarnya lagi penuh syukur saat ditumui Jurnas.Com pada acara yang digelar YKPI beberapa waktu lalu.

Sekilas Bandung Cancer Society (BCS)

BCS didirikan pada 2 desember 2007 dengan tujuan meningkatkan kepedulian terhadap pasien kanker, khususnya di Bandung dan sekitarnya dengan cara memberi bantuan secara moril. Dibantu oleh dokter penasihat berpengalaman di Bandung, program kerja BCS meliputi kunjungan ke pasien kanker yang sedasng atau akan menjalani pengobatan, mengadakan seminar-seminat dengan mengundang pembicara ahli serta mengelola rumah singgah kanker ‘KASIH” untuk menbantu pasien kanker dari luar kota dengan menggunakan BPJS kelas 3.

Read more...

Syarat-Syarat untuk Tinggal di Rumah Singgah YKPI

Pada prinsipnya Rumah Singgah YKPI terbuka untuk seluruh penderita kanker payudara yang melakukan pengobatan di rumah sakit-rumah sakit di Jakarta. Kendati demikian ada beberapa persyaratan dimana mereka inilah yang kami prioritaskan untuk dapat memanfaatkan fasilitas Rumah Singgah YKPI :

  1. Pasien tercatan sebagai peserta BPJS kelas 3 dengan kriteria :
  2. Tempat tinggal diutamakan di luar Jabodetabek
  3. Kesulitan dalam trasnportasi ke rumah sakit di Jakarta
  4. Pasien yang dalam keadaan umum terlihat lemah (berdasarkan vital sign dan hasil diagnosis dokter)
  5. Pasien didiagnosis dengan kanker payudara stadium 1,2 dan 3A (melampirkan bukti dari dokter)
  6. Pasien harus mengisi formulir dan melampirkan fotokopi identitas diri
  7. Pasien membawa surat keterangan dokter
  8. Pasien bersedia mematuhi tata tertib di Rumah Singgah YKPI
  9. Pasien dapat menerima kunjungan keluarga dengan waktu kunjungan yang telah ditentukan
  10. Pasien menaggung sendiri biaya makan dan kebutuhan pribadi lainnya selama di Rumah Singgah YKPI

Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi HOTLINE YKPI (WA) 0812-2364-2164 atau melalui email ke ykpi.sekretariat@gmail.com.

Read more...

Sekilas Tentang Rumah Singgah YKPI

Rumah Singgah YKPI didirikan pada 2 Februari 2017, bertepatan dengan peringatan bulan kanker sedunia. Pendiri sekaligus Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar, meresmikan langsung rumah singgah yang berlokasi di Jalan Anggrek Neli Murni No. A38, Slipi, Jakarta Barat, disaksikan pengurus, rekanan dokter, wartawan dan para pendiri lainnya.

Rumah Singgah YKPI ini didirikan sebagai bentuk keprihatinan YKPI akan banyaknya jumlah penderita kanker payudara, khususnya dari daerah, yang  dirujuk untuk berobat ke Jakarta. Diutamakan untuk pasien kanker payudara stadium 1-3 A dan pasien BPJS kelas 3 atau dari  keluarga yang kurang mampu dan sulit mendapatkan akomodasi di Jakarta.

Menurut keterangan dokter bedah Onkologi dari RS Dharmais, dr. Walta Gautama, Sp.B (K), Onk, satu pasien harus mengikuti pengobatan secara bertahap. Bisa saja menjalani terapi radiasi sekitar 30 kali, selain kemoterapi dan tahapan medis lainnya, sehingga si pasien harus bolak-balik ke rumah sakit.  Nah, umah Singgah YKPI hadir untuk memudahkan pasien melakukan pengobatan tanpa stress memikirkan biaya di luar biaya medis. Karena di Rumah Singgah YKPI, mereka hanya membayar biaya kebersihan sebesar Rp. 15.000 per pasien per malam.

Rumah Singgah YKPI  memiliki 28 kamar tidur,  terdiri dari 14 kamar untuk pasien dan 14 lainnya untuk pendamping. Layaknya rumah, tersedia pula dapur untuk memberi kebebasan pasien memasak masakan sesuai selera mereka, dengan fasilitas peralatan masak modern ditambah nasi dan air mineral cuma-cuma setiap harinya.

Hingga pertengahan 2018, dikatakan Koordinator Pengelola Rumah Singgah, Nani Firmansyah,  Rumah Singgah YKPI telah memberikan pelayanan kepada pasien kanker payudara sebanyak 2.800 malam.  Satu pasien bisa datang berulang kali tergantung dengan masa pengobatannya. Hingga kini, selain dari Jabodetabek, pasien berdatangan dari Banyuwangi, Karawang, Sukabumi, Indramayu, Pontianak, Pangkal Pinang, Bengkulu, Lampung, Sulawesi tengah, Sulawesi Tenggara, NTT, Maluku hingga Papua.

Secara rutin, para penyintas kanker payudara yang tergabung dalam pitapink survivor warrior, mengadakan pelatihan keterampilan dari seorang ahli. Seperti seni suspeso, melipat kertas, membuat bros, perhiasan atau kerajinan tangan lainnya. Selain untuk mengisi waktu luang, saling memotivasi dan menguatkan dalam menjalankan pengobatan, pelatihan ini juga dapat membantu meningkatkan ekonomi mereka dengan menjual hasil karyanya.

Read more...

Payudara Artifisial Jadi Sahabat Penyintas

Jakarta (Jurnas) – Bagi perempuan, payudara ialah bagian dari sisi feminitas. Tak pernah terbayangkan jika pada akhirnya kehilangan payudara. Ya, efek nyata dari kanker payudara adalah operasi pengangkatan payudara atau Mastektomi.

Agaknya Komunitas Knitted Knockers sangat mengetahui kebutuhan para penyintas kanker payudara. Mereka butuh penggantu, butuh payudara artifisial yang membuat mereka nyaman dan dapat membangkitkan rasa percaya diri.

Founder Knitted Knockers Indonesia Rosalina Lee yang mengatakan rajutan berbentuk payudara ini dibuat oleh para relawan dan dibagikan secara gratis. Rosalina tampak semangat menjelaskan pada pengunjung yang hadir di acara Temu Penyintas Kanker Payudara yang diadakan YKPI.

“Ukurannya macam-macam sesuai dengan kebutuhan penyintas, dibuat dari benang wol agar terasa nyaman, ringan, dan lembut,” ujar Rosalina saat ditemui Jurnas.com, Sabtu (27/10).

Knitted Knockers Indonesia adalah Perkumpulan Relawan Perajut Payudara Artifisial Indonesia ya berperan aktif untuk membantu para perempuan di Indonesia yang telah menjalani Mastectomy/Lumpectomy agar memiliki keseimbangan dan lebih percaya diri.

Saat ini Knitted Knockers Indonesia berperan aktif sebagai penyambung antara relawan- relawan perajut yang mampu menghasilkan rajutan Knockers kepada para Breast Cancer Survivors yang membutuhkannya.

Relawan Knitted Knockers Indonesia terdiri dari para Perajut yang tidak dibatasi oleh usia, golongan, suku, agama dan ras, yang berkeinginan untuk mewujudkan tanggungjawab sosial (Social responsibility) bagi masyarakat, khususnya para Breast Cancer Survivors.

Knitted Knockers Indonesia percaya hari kegiatan ini akan tumbuh besar dan benar-benar memberikan dampak positif dan manfaat bagi perempuan yang membutuhkannya.

Read more...

Awas, Limfedema Mengintai Penderita Kanker Payudara

Jakarta (Jurnas) – Limfedema atau edema merupakan pembengkakan bagian tubuh karena penumpukan cairan limfe, atau gangguan pada sistem limfatik. Umumnya pembengkakan ini terjadi pada salah satu atau kedua lengan yang tungkai.

Kepada Jurnas.com, dr. Walta Gautama dari Rumah Sakit Kanker Dharmais mengatakan, limfedema rentan menimpa penderita kanker payudara yang sedang menjalani perawatan maupun terapi. Dan hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut secara tuntas.

Kendati belum ada obat yang bisa menyembuhkan, bukan berarti limfedema tak bisa dikenali penyebabnya. Menurut dr. Walta, setidaknya ada empat penyebab limfedema.

Pertama, operasi. Jika kelenjar limfe diambil saat operasi mastektomi, maka akan ada saluran yang terpotong. Akibatnya, aliran cairan limfe menjadi terhambat, dan berisiko terjadinya penumpukan cairan limfe atau limfedema.

“Makin banyak kelenjar limfe yang diambil, makin berisiko untuk terjadinya limfedema,” kata dr. Walta beberapa waktu lalu.

Kedua, terapi radiasi. Terapi ini berisiko menyebabkan penyempitan dan memicu kerusakan pada pembuluh limfe. Sehingga, risiko limfedema ikut meningkat.

“Ketiga, kemoterapi tertentu. Misalnya, taxanes karena bersifat meretensi cairan tubuh,” paparnya.

Lalu penyebab lainnya yakni sel kanker payudara. Bila sel kanker sudah menginvasi saluran limfovaskular, maka akan terjadi penyumbatan saluran limfe.

Oleh karena itu, untuk mencegah limfedema, dr. Walta menyarankan enam hal berikut:

  1. Hindari terpapar panas
  2. Hindari luka atau infeksi
  3. Hindari pengecekan tekanan darah
  4. Turunkan berat badan
  5. Gunakan manset saat naik pesawat
  6. Gunakan tabir surya dan pelembab.

Adapun tanda-tanda limfedema meliputi:

  1. Bengkak
  2. Kulit kencang
  3. Kulit kering
  4. Lengan kaku
  5. Rasa berat di lengan
  6. Tanda-tanda infeksi
Read more...

YKPI: Deteksi Dini Perbesar Kemungkinan Kanker Sembuh

Jakarta (Antara) – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Gumelar mengatakan deteksi dini memperbesar peluang penderita kanker bisa sembuh.

“Kanker payudara bisa disembuhkan, peluang hidup bisa mencapai 98 persen. Asalkan kanker tersebut terdeteksi sejak dini,” ujar Linda di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, jika kanker ditemukan dalam stadium awal kemungkinan untuk sembuh dan bisa mencapai harapan hidup lebih lama adalah sekitar 98 persen. Dia memberi contoh dirinya  yang menderita kanker payudara selama 21 tahun. “Asalkan rutin berobat dan menjaga gaya hidup begitu divonis kanker payudara stadium awal.”

Linda mengungkapkan, sesuai data Globacan 2018, angka kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia yang didiagnosis kanker adalah paling tinggi, sekira 42,1 persen.

Angka kematian karena kanker payudara juga cukup tinggi di Indonesia. Ini terjadi karena pasien pada umumnya datang memeriksakan diri ke dokter hampir 70 persen sudah dalam stadium lanjut. Ia juga meminta penderita kanker tidak melirik pengobatan herbal. “Untuk itu para perempuan harus selalu melakukan deteksi dini kanker payudara melalui periksa payudara sendiri dan pemeriksaan payudara klinis,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, sesama penderita kanker harus saling mendukung untuk melewati masa-masa sulit sekaligus membangun kualitas hidup mereka.

“Saya kira motivasi yang perlu dibangun dari pasien penderita kanker payudara bahwa mereka tidak sendiri, harus optimistis, semuanya ini ujian dan banyak orang yang bisa melaluinya,” kata dia.

Read more...

Linda Gumelar Usulkan Kespro Masuk Kurikulum

Jakarta, KRJOGJA.com – Menurut data  ybreastcancer.org 1 dari 8 wanita (kira-kira 12%) yang ada di Amerika Serikat beresiko terkena kanker payudara dan akan mengidap kanker tersebut sepanjang hidupnya.

Sedangkan di Indonesia,usia 14 tahun saja sudah terdeteksi kanker payudara. Bahkan 1 dari 1000 pria Indonesia terkena kanker payudara ini. Karena itu sebaiknya dimasukkan ke kurikulum mata pelajaran reproduksi masuk ke sekolah.

“Sebaiknya mulai usia dini sudah mengetahui tentang hak reproduksi,sehingga bisa mendeteksi secara awal”,demikian Linda Agum Gumelar dari Yayasan Kanker Indonesia di Jakarta,Sabtu (27/10 2018).

Perempuan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Kabinet Indonesia Bersatu II itu mengungkapkan, saat dirinya pertama kali didiganosis kanker payudara pada 1996, ia merasa tak mudah menghadapinya. “Nyawa saya dibilang tinggal 40%. Saya minta sama Allah agar diberi kesembuhan” ujarnya.

Selain itu data tahun 2017, diperkirakan ada sekitar 252.710 kasus baru tentang kanker payudara invasif, yang didiagnosis pada wanita di Amerika Serikat, dan ada sebanyak 63.410 kasus baru untuk kanker payudara non-invasif (in situ). Ada sekitar 2.470 kasus baru untuk kanker payudara invasif, yang diperkirakan didiagnosis pada pria di tahun 2017. Resiko menderita kanker ini seumur hidup pada seorang pria memiliki kemungkinan perbandingannya adalah sekitar 1 dari 1.000 orang.

Read more...