2030 Indonesia Ditarget Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta – Dalam rangka perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-15, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) kembali menegaskan visi Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut pada 2030.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, target tersebut hanya bisa terpenuhi bila kesadaran diri masyarakat memeriksakan diri secara dini terus tumbuh.

Caranya, lanjut Linda, yakni dengan melakukan periksa payudara sendiri (sadari), atau periksa payudara secara klinis (sadanis), guna mendeteksi adanya benjolan.

“Sadari pintu awal mendeteksi adanya kelainan kanker payudara,” terang Linda kepada Jurnas.com di sela-sela perayaan HUT YKPI ke-15 di Jakarta.

Linda mengimbau masyarakat memanfaatkan akses pemeriksaan mammografi gratis yang diadakan oleh Unit Mobil Mammografi (UMM) YKPI. Program tersebut, hingga saat ini sudah memeriksa lebih dari 10 ribu pasien.

“Dari pemeriksaan sepanjang 2016-2018, 14,7 persen dicurigai jinak, 2,7 persen diucrigai ganas,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Linda juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menempuh pengobatan alternatif atau herbal. Pasalnya, selama ini pengobatan herbal belum terbukti menyembuhkan pembunuh nomor dua di dunia tersebut.

“Jangan sampai nanti sudah borok, sudah stadium lanjut, baru pergi ke dokter. Padahal kalau ke dokter sejak awal, angka harapan hidup pasti tinggi,” tandasnya.

Read more...

YKPI: Kesadaran Memeriksa Kanker Payudara Masih Minim

Jakarta – Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara masih minim. Buktinya, menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar, 70 persen pasien yang memeriksakan diri ke dokter, sudah berada pada tahap stadium lanjut.

Tentu hal ini, kata Linda, menyulitkan proses penyembuhan. Pasalnya, semakin awal kanker payudara dideteksi, angka harapan hidup semakin tinggi.

“Di masyarakat ada yang sudah paham (harus memeriksakan diri) tapi tidak berani. Khawatir dan takut. Padahal kalau ditemukan di stadium awal, harapan hidupnya masih tinggi. Berbeda halnya kalau sudah busuk gara-gara terus menerus ditunda,” kata Linda di sela-sela hari ulang tahun (HUT) YKPI ke-15, di Panglima Polim, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh ahli onkologi dr. I Made Christian Binekada, M.Repro, Sp.B (K) Onk. Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan diri ke dokter ditandai dengan lebih dipilihnya pengobatan alternatif atau herbal.

Hal itu, menurut Christian, tak lepas dari pola pikir masyarakat setempat. Mereka menganggap seakan-akan pengobatan alternatif lebih menjamin, dari pada mengeluarkan ongkos mahal untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Akhirnya pengobatan medis jadi second line-nya. Pengobatan di luar medis jadi first line. Sehingga sekarang bagaimana mengubah paradigma itu dengan kehadiran para pendamping, relawan, dan klinisi untuk menerobos tradisi demikian,” ujar Christian.

Read more...

Waspadai Kanker Payudara Sejak Dini, Inilah Ciri-ciri Gejalanya

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, ada beberapa ciri adanya kanker payudara.

Pertama terdapat benjolan yang tidak disertai dengan nyeri. Benjolan itu tumbuh dengan cepat.

“Atau perubahan seperti kulit jeruk, atau timbul luka di permukaan payudara, itu yang paling sering,” katanya.

Bila menemukan ciri-ciri tersebut, segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan yang ada untuk ditindaklanjuti pemeriksaan medis.

Kanker payudara itu bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak. Bisa juga ke tulang yang menyebabkan tulang patah.

“Bila tulang belakang yang kena, akibatnya bisa lumpuh. Kalau livernya kena, fungsinya bisa terganggu,” tuturnya.

Read more...

Tjhai Chui Mie Ajak Warga Deteksi Dini Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, penyakit kanker harus benar-benar cepat di deteksi agar dapat sedini mungkin di cegah.

Apabila kanker telah menyerang, makan bisa dipastikan akan mempengaruhi umur harapan hidup dalam suatu wilayah.

“Yang berimbas pada derajat kesehatan masyarakat berada pada zona merah,” katanya.

Ia mengajak semua warga yang hadir mengetahui apa itu kanker payudara dan cara deteksi kanker payudara itu sendiri.

Kemudian bagaimana cara menghadapi apabila kanker payudara itu telah menjadi satu di antara masalah gangguan kesehatan.

“Baik pada diri kita, keluarga, maupun lingkungan kita,” ungkapnya.

Read more...

Hati-hati, Kanker Payudara Bisa Karena Faktor Keturunan

Jakarta – Ada banyak hal yang dapat menimbulkan risiko terkena kanker payudara. Di antaranya pola hidup tak sehat, jarang berolahraga, hingga konsumsi makanan berlemak.

Dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) dr. Zora Revina mengatakan faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu pemicu risiko kanker payudra. Karena itu, bagi keluarga yang memiliki riwayat terkena penyakit ini, harus memeriksakan diri sebelum terlambat.

“Kalau ibunya menderita kanker payudara, maka anaknya yang perempuan bisa jadi ada risiko terkena kanker payudara. Untuk memastikan hal itu, nanti ada screening-nya untuk menghitung presentase si anak terkena kanker,” ujar dr. Zora kepada Jurnas.com akhir pekan lalu, dalam kegiatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), pemeriksaan mamografi gratis di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Meski faktor keturunan bisa memicu risiko kanker payudara, dr.Zora menggarisbawahi tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan terkena kanker payudara.

Hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengetahui mereka terkena kanker payudara atau tidak, yakni dengan melakukan Periksa Payudara Sendiri (Sadari) atau Periksa Payudara secara Klinis (Sadanis), agar selanjutnya bisa dilakukan upaya pengobatan dini.

Dr. Zora menjelaskan perbedaan antara Sadari dan Sadanis. Sadari merupakan teknik memeriksa payudara sendiri, sementara Sadanis adalah pemeriksaan payudara dengan bantuan tenaga medis. Kedua-duanya dilakukan secara manual, yakni meraba, namun akurasinya berbeda.

“Orang awam baru mengetahui benjolan setelah dua sentimeter atau lebih, tapi petugas medis (Sadanis), akurasinya lebih tinggi. Satu senti pun sudah bisa diraba,” terang dr. Zora.

Besarnya benjolan dalam pemeriksaan kanker payudara, menurut dr. Zora, sangat berarti dalam penentuan stadium, dan pengobatan selanjutnya. Prinsipnya, semakin cepat diketahui, semakin besar pula kesempatan bertahan hidup.

“Satu senti dan dua senti dalam pengobatan kanker itu sangat berarti, karena akan menentukan stadium. Satu senti orang akan mengatakan, di bawah stadium 2B. Tapi dua senti, orang bisa terkena di 3A atau 3B,” paparnya.

Read more...