Tag - mammografi

Asal Usul Mammografi

Mammografi berasal dari dua kata yaitu mammae/mammo yang berarti payudara, dan kata grafi yang berarti pindai/metode menulis atau membuat gambar dengan teknik/ilmu tertemu. Jadi mammografi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat adanya kelainan pada payudara.

Seorang ahli bedah Jerman, A. Salomon, pada 1913 mengamati anatomi radiologi dibandingkan dengan hasil pemeriksaan mikroskopik. Pada 1940 -1070 pengembangan teknik oleh ahli radiologi diikuti oleh industry di bawah dorongan Ch. Gross. Sejak “Compagnie Generale de Radiologie” (CGR) membuat “Senographe”, pemasaran peralatan mamografi mendorong revolusi dalam pencitraan payudara.

Sejak 1970 inilah mamografi dikenal sebagai teknik yang tepat dalam screening kanker payudara. Salah satu pelopor nya adalah Ph Strax dari Amerika Serikat dengan penelitiannya yang diberi nama “Health Insurance Plan (HIP) of NY” dimana dilaporkan penurunan angka mortalitas karena mamografi. Kemudian pada akhir tahun 80an USG dan MRI merupakan teknik tambahan untuk menunjang mamografi dalam diagnosis kanker payudara.

Proses pemeriksaan payudara dalam mammografi menggunakan sinar-X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Mammografi digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista, dan telah terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat kanker payudara.

Melalui pemeriksaan Mammografi memungkinkan dokter dapat melihat dengan lebih jelas jenis kelainan benjolan pada payudara melalui perubahan di jaringan payudara. Mammogram dapat menunjukkan pula letak dan luas kelainan pada payudara seorang perempuan.

Mammografi pada awalnya dikembangkan secara konvensional dengan gambar yang dituangkan dalam film (film dalam kaset yang dirancang khusus). Namun semakin berkembangnya zaman, produsen mengembangkan alat mamografi digital. Keuntungan utama dari sistem mamografi digital adalah pemisahan gambar dan pengolahan akuisisi dan tampilan. Kualitas gambar juga lebih optimal

Read more...

Mobil Mammografi, Cara Efektif Deteksi Kanker Payudara

Jakarta (VIVA) – Deteksi dini pada kanker payudara sangat penting dan ampuh mencegahnya ke stadium lanjut. Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) melakukan upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut, dengan sosialisasi deteksi dini ke beberapa daerah serta pengoperasian unit mobil mammografi, bekerjasama dengan RSK Dharmais yang membutuhkan biaya tinggi.

“Sejak 2015 hingga Agustus 2018 kami telah melakukan pemeriksaan mammografi sebanyak 10.544, di mana  1.565 orang di antaranya mengalami tumor jinak dan 152 orang dicurigai ganas,” ujar Linda Agum Gumelar, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia di Jakarta.

Berdasarkan data dari Globacan 2018, dikatakan Linda, angka kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia yang didiagnosa kanker adalah yang paling tinggi (sekitar 42,1 persen).

“Angka kematian karena kanker payudara juga cukup tinggi di Indonesia. Hal ini terjadi karena pasien pada umumnya datang memeriksakan diri ke dokter hampir 70 persen sudah dalam stadium lanjut,” ujar Linda lagi.

Lebih lanjut Linda mengingatkan pentingnya deteksi dini kanker payudara melalui SADARI dan SADANIS. Dijelaskannya bahwa pengobatan penyakit mematikan yang juga bisa menyerang anak muda dan laki-laki ini memang tidak murah.

YKPI juga menjalankan program pelatihan pendampingan pasien kanker payudara dan mendirikan rumah singgah di Jalan Anggrek Nely Murni No. A38, Slipi, Jakarta, untuk membantu meringankan beban para penderita kanker payudara selama melakukan pengobatan di Jakarta.

Sebagai tambahan informasi, untuk ketiga kalinya Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyelenggarakan Temu Penyintas Kanker Payudara se Indonesia. Acara tahunan kali ini akan dihadiri sekitar 450 penyintas dengan tema Motivasi Yang Kuat Membantu Upaya Menjalani Pengobatan Kanker Payudara–Kamu Bisa, Kita Bisa!, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta.

Pendiri sekaligus Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan pemilihan tema tersebut dirasakan perlu untuk membangun motivasi para penyintas kanker payudara melalui masa–masa sulit sekaligus membangun kualitas hidup para penyintas. Oleh karenanya nanti ada sesi membangun motivasi oleh motivator James Gwee, testimoni penyintas yang menginspirasi selain sharing info seputar kanker payudara dan limfadema oleh dr. Walta Gautama dari RS Kanker Dharmasi.

“Diharapkan pertemuan ini bisa menjadi ajang saling memotivasi untuk lalui masa-masa sulit pengobatan kanker payudara,” kata dia.

Read more...