Tag - kanker payudara

Efek Kemoterapi Ubah Hidup Ellen Oltarina

Jakarta – Bagi sebagian besar penderita kanker payudara, mimpi buruk bukan hanya bayangan kematian saja. Lebih dari itu, proses penyembuhan melalui kemoterapi juga sama mengerikannya.

Seperti disampaikan oleh Ellen Oltarina. Dia sempat mengeluh, karena efek pasca kemoterapi sangat menyiksanya. Namun beruntung, kesabaran dan keikhlasan mengantarkannya melewati fase tersebut.

Cerita Ellen berawal dari 2010 lalu, ketika dia mengetahui ada benjolan kecil. Sebab curiga, dia lalu mulai melakukan mammografi dan USG. Akan tapi kata dokter, hasilnya tidak mengkhawatirkan, sehingga tidak perlu menjalani operasi.

Setahun berlalu. Ellen yang sempat melanjutkan pemeriksaan melalui biopsi, tidak menemukan perubahan yang signifikan. Karena itu dia santai.

“Nah di tahun 2014 itulah, tiba-tiba benjolan menjadi aneh, membesar begitu cepat dan keras hingga payudara saya tidak bisa digerakkan atau remas seperti layaknya payudara normal,” tutur Ellen kepada Jurnas.com.

Awalnya, Ellen mengira payudaranya mengeras karena akan kedatangan tamu bulanan (menstruasi, red). Namun karena terasa aneh, dia memilih pergi ke dokter.

“Pikiran saya langsung menduga kalau ini Ca Mamae,” sambungnya.

Dokter pun kembali melakukan biopsi, dan hasilnya seperti apa yang dia pikirkan. Ellen mengidap kanker payudara stadium 2A, Her 2 positif.

“Karena saat itu usia saya 52 tahun dan menstruasi masih lancar normal, kata dokter harus diberhentikan dulu. Akhirnya target Mastektomi tiga bulan, dan saya harus jadwal kemo preop tiga kali per tiga minggu, ditambah setiap malam hari minum Femara,” ujar ibu dua anak ini.

Ada hal unik yang dirasakan perempuan asal Cirebon ini, waktu kali pertama divonis kanker payudara. Karena sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk, ia pun tetap ngobrol dengan dokter layaknya perempuan sehat.

“Tapi entah mengapa air mata menetes sendiri satu demi satu, bulir turun perlahan, rasanya tidak sopan banget terlihat biasa tapi menangis, mungkin denial kali ya, padahal ekspresi biasa sambil ngobrol gitu. Begitu sampai di rumah baru saya menangis, tapi Alhamdulillaah saya tipe yang semangat mungkin karena saya biasa bekerja ya jadi ada pengalihan,” tuturnya.

Sebelum menjalani proses kemoterapi, hasil patologi anatomi menyatakan kanker Ellen sudah sampai stadium 3B. Dia memilih tak reaktif, karena sebelumnya sudah banyak membaca banyak referensi soal kanker.

“Saya sudah sering mendengar kisah orang-orang yang menjalani kemo,” ungkap pegawai Bank milik BUMN ini.

Singkat cerita, Ellen menjalani kemoterapi. Dari tiga kali kemoterapi, Ellen mengakui situasi paling berat yakni pascakemo ketiga, yang dia rasakan luar biasa efeknya. Padahal kemoterapi sebelumnya, ia mengakui masih bisa santai jalan-jalan ke mal.

Tapi kali ini Ellen merasa pusing. Perutnya terasa mual dan mulai malas makan, perasan tidak karuan, seluruh badan linu, nyeri luar biasa terutama kaki tangan. Penderitaan itu ditambah dengan perut seringkali membesar dan seolah mau meletus.

“Seluruh sisi mulut saya sariawan, lidah putih menebal rasanya benar-benar tidak nyaman, karena pengaruh steroid tangan bengkak besar sekali, muka, tangan, dan kaki menghitam, ditambah muka bulat moon face,” ungkap Ellen lagi.

Ellen menceritakan, selama masa kemoterapi, ia diberi obat Mycostatin oleh dokter. Setiap pagi pun ia harus membersihkan lidahnya dengan alat kerok lidah.

Namun sampai habis dua botol obat, putih di lidah Ellen tak kunjung hilang. Perempuan ini juga merasa susah makan, sementara badannya terus bertambah gemuk hingga naik 16 kilogram.

Rasa kebas dan kesemutan seakan sudah menjadi langganan. Hingga akhirnya dia mengalami paru-paru basah pada suatu waktu.

“Alhamdulillah belum perlu disedot bisa dengan terapi, ketika bengkak sempat dirujuk ke dokter bedah vaskuler, beberapa bulan saya dikasih obat pengencer darah Xarelto,” tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ. Efek meminum obat pengencer darah membuat kuku kakinya copot tanpa terasa. “Sampai pernah sempat kesenggol sepeda sedikit  tidak merasa apa-apa, tiba-tiba banyak darah segar di bawah saya kaget, ini darah apa ya ternyata darah dari kaki saya,” ucapnya.

Belum pula hilang efek kemoterapi, Ellen dihampiri oleh penyakit limfedema, yakni pembengkakan yang umumnya terjadi pada salah satu atau kedua lengan dan tungkai,yang disebabkan oleh penghambatan atau gangguan pada sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem imun dalam tubuh.

Umumnya, limfedema terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan atau terapi kanker payudara. Berkat penyakit tersebut, Ellen harus menambah jadwal berobatnya di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

“Saya sempat terapi setiap hari senin hingga jumat selama kurang lebih dua bulan,” lanjutnya.

Waktu pun berlalu. Kini Ellen dinyatakan tidak perlu berobat. Namun dokter tetap memintanya rutin kontrol ke dokter selama tiga bulan sekali, rutin periksa CA153 dan CEA tiap enam bulan sekali, dan petscan.

Sampai pada di titik ini, Ellen menekankan bahwa kuncinya ialah kesabaran, ikhlas dan semangat yang tinggi. Dia yakin semua butuh proses, semangat juang harus selalu ekstra tinggi, sabar, dan ikhlas menjalani semua perawatan.

Ellen pernah membaca sebuah buku yang menyebut bahwa penyintas harus berdamai dengan penyakit dalam tubuhnya. Dan itu lalu ia praktikkan.

“Ternyata benar banget manfaatnya terasa, apapun selalu dibuat happy meski tidak sesuai harapan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Ellen coba mengambil makna postif dari proses yang ia jalani, hidup jadi lebih sehat dan makan yang mengandung gizi.

“Kunci utama terltak pada ikhlas yang membuat saya selalu besyukur dan pasrah pada semua upaya juga tidak mengeluh. Jika saya masih sering mengeluh berarti saya belum ikhlas dan harus dikoreksi lagi , perbaiki lagi dan belajar lagi, begitu seterusnya,” pungkas Ellen

Read more...

Rini: Selama Ada Obatnya, Yakinlah Kanker Akan Sembuh

Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar kemampuan manusia ciptaanya. Sebesar dan sesering apapun cobaan itu, jika kita mampu melampauinya meski berulang, tugas manusia hanya menjalankanya dengan ikhlas. Inilah yang dilalui Rini (49), penyintas kanker payudara dari Komunitas Srikandi Jakarta.

Betapa tidak, hampir setiap dua tahun sekali sejak 2011, Rini harus melakukan puluhan kali kemoterapi dan radiasi. Padahal dokter sempat memvonisnya sudah sehat dan tubuhnya sudah bersih dari semua sel kanker. “Tapi ya gitu, dicek normal, terus ada lagi. Padahal saya sudah menjalani pola hidup sehat. Saya juga gak tau kenapa ini bisa terjadi. Mungkin cobaan dari Tuhan, ya harus saya lalui dengan sabar,” lirih perempuan berhijab saat ditemui Jurnas.com di acara Temu Penyintas Kanker Payudara yang diselenggarakan YKPI.

Rini mengawali ceritanya saat menemukan benjoan pada payudaranya di tahun 2011 itu. Tak percaya pada pemeriksaan pertama, ia kemudian mencari second opinion dari dokter lain di rumah sakit lain, hingga akhirnya ia harus pasrah menerima keputusan mengerikan itu.

“Ketika ada benjolan kecil, saya gak percaya kalau itu bahaya. Ditemani suami periksa lagi ke dokter lain. Sampai akhirnya  kata dokter harus operasi karena kanker payudara saya  sudah stadium 2B,” ujarnya. Suaranya berat mengingat betapa sulitnya masa itu karena ia adalah perempuan aktif yang bekerja kantoran. Rini mengaku sangat “down”, sedih dan marah akan nasibnya,

Rini menambahkan setelah operasi itu ia melakukan enam kali kemoterapi dan puluhan kali radiasi. “Lalu saya dinyatakan sehat dan hidup normal lagi. Pokoknya payudara saya bersih, sudah tidak ada kanker lagi,” kata Rini yang memutuskan untuk berpola hidup sehat.

Namun, siapa yang menyangka jika pada 2014, Rini yang kala itu kerap mengalami batuk-batuk hebat  didiagnosis jika sel kankernya sudah menyebar ke paru-paru. Ia pun kembali harus mencium khasnya obat-obatan rumah sakit dengan melakukan kemoterapi dan puluhan radiasi lagi. Selang dua tahun kemudian, tepatnya di 2016,  ia pun mengalami hal sama dan harus kembali dikemoterapi dan radiasi.

“Sekarangpun saya masih harus kemo dan radiasi lagi. Rasanya ingin tidak mempercayai semua ini, tapi ya saya harus menjalani hidup. Saya punya suami dan anak, berusaha normal saja. Bersama-sama mengupayakan agar saya bisa sehat terus demi mereka,” tambah Rini lagi.

Rini bersyukur karena keluarganya begitu mendukungnya untuk sehat. Pun demikian dengan teman-teman di kantornya. Ia sangat yakin selama ada obatnya, penyakit kankernya akan sembuh. “Selama ada obatnya, semangat aja deh. Saya juga masih beraktivitas DAB bekerja. Karena saya punya motivasi tinggi untuk melanjutkan hidup. Saya juga ingin semua perempuan yang bernasib sama jangan menyerah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita,” tutupnya.

Read more...

Tak Hanya Temani Berobat Istri, Rizal Ikut Membotaki Kepalanya

Suami atau anak adalah pendukung utama para penyintas kanker payudara melewati serangkaian pengobatan yang menyakitkan dan melelahkan. Dari merekalah semangat untuk melawan kanker selalu membara. Seperti yang dilakukan Rizal, suami dari penyintas payudara Petra, yang hingga kini masih terus berjuang melawan penyakitnya.

Rizal ketika ditemui Jurnas.com menjadi salah satu pemberi testimoni menemani istrinya pada acara Para Penyintas Kanker Payudara Se- Indonesia beberapa waktu lalu, mengatakan dirinya seperti merasakan sakit yang dirasakan istrinya. “Terkadang saya ingin memindahkan penyakit istri saya ke tubuh saya, kalau melihat dia sudah tidak kuat,” kata Rizal melirik mesra sang istrik.

Bahkan, saat istrinya harus membotaki kepalanya, Rizal pun tak sungkan untuk menjadikan kepalanya plontos. “Jadi kita pernah sama-sama botak, biar dia merasa ada temanya dan istri saya jadi makin semangat melakukan kemo,” kenang Rizal diamini Petra.

Dukungan suami yang tak ada habisnya ditambah semangat dari teman-teman dan dokter ditambahkan Petra menjadi pegangan hidupnya untuk tetap kuat dan ikhlas. Ini diawali saat Petra didiagnosis kanker pada 2011. “Rasanya saat itu dunia seperti runtuh, tapi berkat suami, saya bisa menjalani hidup normal seperti biasa meski kanker menyerang bagian tubuh saya yang lain,” cerita Petra.

Rizal menambahkan istrinya harus menjalani radiasi sebanyak 30 kali dan mastektomi selama sembilan kali. Ia pun tak pernah absen mendampingi istrinya dari awal istrinya divonis kanker hingga saat ini yang masih terus menjalani terapi medis.

“Sejujurnya saya sangat tidak tega tapi juga kagum melihat perjuangan istri saya berobat selama tiga tahun melawan kanker payudaranya.  Lalu tiba-tiba dia mengalami batuk yang tak kunjung sembuh, dan ternyata sel kanker sudah menyerang sampai paru-paru. Saya tetap temani dia melanjutkan kemo hingga dinyatakan bersih,” lanjut Rizal seraya menambahkan kanker juga telah menyerang sel indung telur istrinya.

Rizal mengimbau siapapun tak boleh menyepelekan gejala kanker sekecil apapun dan percaya pada pengobatan medis bukan alternatif. Ia pun percaya, dukungan keluarga sekecil apapun akan menjadi obat mujarab selain obat-obatan medis.

Rupanya perjuangan Rizal mendampingi istrinya masih harus diuji lagi. Sel kanker yang menyerang tubuh istrinya tumbuh lagi dan masih harus terus berobat. Meski dokter telah menyatakan tubuh istrinya bersih dari sel kanker, Rizal mengatakan dirinya harus siap untuk semua kemungkinan. Kendati begitu, hingga kapankun Rizal telah berkomitmen untuk mendampingi istrinya sampai sembuh total. “Saya sangat bersyukur karena istri saya menghadapi semuanya dengan ikhlas, happy dan semangat. I love you gendut,” katanya sambil mengecup kening sang istri.

Read more...

Lisnawati: Pilih Dokter, Jangan Alternatif

Banyak yang bilang kalau kita terkena penyakit harus disyukuri sebagai penebus dosa. Tapi mitos itu tidak berlaku bagi Lisnawati (58), guru seni asal Kendari, Sulawesi Tenggara. Baginya, kanker payudara yang dideritanya adalah penyakit yang harus segera diobati agar ia dapat melanjutkan hidup demi keluarga dan murid-muridnya.

Itu terjadi 18 tahun lalu saat usianya masih 40 tahunan. Dokter memvonisnya terkena kanker payudara dan harus segera dioperasi.  “Waktu itu saya chek up di sebuah rumah sakit di Makasar. Kadang terasa ada biji, agak keras. Lalu saya didiagnosis stadium dini kanker payudara,” kata Lisnawati mengingat awal kanker menyerang tubuhnya.

Sama seperti perempuan lain yang didiagnosis kanker payudara, Lisnawati pun awalnya kuatir dan takut. Apalagi dokter saat itu menyarankan agar payudaranya diangkat saja demi hasil yang lebih baik. “Tentu awalnya takut bercampur kaget dan kuatir juga mengetahui hasil itu. Lalu saya berembuk dengan suami dan anak untuk mengambil keputusan terbaik bagi keselamatan saya. Dan mereka pun mendukung tindakan itu,” tambah Lisnawati seraya mengatakan keluarganya adalah pendukung utama untuk kesembuhan dirinya.

Lisnawati mengaku banyak teman-temanya yang menyarankan untuk mencari pengobatan alternatif daripada harus dioperasi atau diangkat payudaranya. “Tapi saya tidak terpengaruh, saya sama sekali tidak tertarik. Saya yang merasakan, penyakit ini nyata. Mana mungkin saya bisa percaya cara alternative bisa menyembuhkan,” tandas Lisnawati.

Biaya pengobatan kankernya ditambakan Lisnawati tidaklah murah. Untungnya, kata Lisnawati lagi, ia ditolong Askes atau sekarang orang lebih mengenal dengan BPJS. “Askes menanggung pengobatan saya sekitar 85%,” imbuhnya,

Lisnawati yang selalu ceria dan semangat ini kini mengisi hari-harinya dengan memberikan motivasi pada sesame penyintas. Baru-baru ini, ia pun mengikuti pelatihan pendamping kanker payudara yang diselenggarakan YKPI di Jakarta. “Saya yakinkan mereka jalan medis adalah jalan terbaik. Jangan coba-coba alternatif. Tak perlu takut dan ragu. Kita berjuang, jangan lari ke alternatif, datang ke dokter. Saya adalah contoh nyata,” seru Lisnawati penuh semangat.

Read more...

70-80% Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Berisiko Metastasis

Pasien kanker payudara stadium lanjut berisiko mengalami penyebaran sel-sel kanker (metastasis) ke tulang. Menurut dokter spesialis bedah onkologi , dr Walta Gautama berdasarkan data pada 2017 menunjukkan sekitar 70-80 persen pasien kanker payudara stadium lanjut 2B ke atas berisiko mengalami penyebaran sel kanker ke tulang.

Lebih lanjut Walta memaparkan bahwa tulang merupakan jaringan yang disukai sel-sel kanker untuk tumbuh. Awalnya, sel-sel kanker dari payudara ini menyebar lewat pembuluh darah lalu masuk ke jaringan tulang. Kemudian, jaringan tulang akan merespons dengan mengeluarkan zat-zat yang mendukung pertumbuhan sel-sel kanker.

“Begitu sel kanker dari payudara itu masuk ke tulang akan membuat sel-sel kanker aktif lagi,” katanya ketika ditemui Jurnas.Com seusai presentasi masalah Limfoma di Temu Penyintas Kanker Payudara YKPI belum lama ini.

Walta juga menjelaskan jika Mestasis ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan struktur tulang. Salah satu gejala adanya sel kanker di tulang, tambah dokter yang prakter di RS Dharmais ini adalah timbulnya rasa nyeri terus-menerus bahkan patah tulang. “Biasanya target yang disasar sering terjadi di tulang punggung baru disusul dengan rusuk, panggul, dan tulang-tulang panjang,” kata Walta lagi.

Itulah sebabnya, penyintas kanker payudara asal Medan, Hilmasari harus menjalani kemoterapi pada bagian tulangnya setelah menjalani pengobatan total pada kanker payudaranya. “Saya terdekteksi kanker payudara pada 2011. Langsung stadium 2. Waktu itu kalau dapat haid nyeri terus pas diraba kok ada benjolan,” kenangnya.

Perempuan aktif yang saat pertama kali divonis kanker saat usia 40 tahun ini akhirnya memutuskan untuk mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Lima tahun kemudian, Hilmasari tak menyangka jika kankernya mestasis ke bagian tulang belakangnya. “Setelah bersih kanker payudara saya kemo lagi untuk tulang di tahun 2016. Sakitnya luar biasa, saya gak bisa solat, makan juga gak bisa bisa masuk mulut. Sangat menderita,” jelas Himasari lagi yang mengaku pernah berada di posisi terendah dalam hidupnya akibat kesakitan.

Jika saja tidak ada dukungan dari keluarga atau teman kerja, Hilmasari mengungkapkan dirinya pasti sudah menyerah. “Tapi saya berusaha untuk yakin kalau penyakitnya akan sembuh, dan kematian itu soal waktu dari Tuhan bukan karena penyakit,” tegasnya berapi-api.

Kini, Hilmasari terus berupaya agar tidak ditemukan lagi sel kanker  menghindari stress, berpola hidup sehat dan selalu berpikiran positif. “Jangan stress, hindari makanan yang mengandung penyedap rasa, pewarna atau pengawet dan pastikan selalu happy. Pokoknya jangan stress. Semangat ya teman-teman sependeritaan,” pungkasnya menyemangati para penyintas yang ditemuinya agar tidak bernasib sama denganya.

Read more...

Ketika Dua “Mahkota” Fithriani Direnggut di Meja Operasi

Jakarta – Payudara dan rahim adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada perempuan. Tak sedikit perempuan yang merogoh kocek ratusan juga untuk menjaga dan merawat kedua mahkota itu dengan perawatan istimewa.

Tak ada satu pun perempuan yang rela kehilangan salah satu  mahkotanya. Tapi bagaimana jadinya jika perempuan harus merelakan kedua mahkota itu direnggut di meja operasi. Butuh berbagai alasan dan keberanian kuat untuk merelakan semua itu. Tapi tidak bagi seorang ibu. Ia akan rela dan tak gentar menjalaninya demi anak-anaknya.

Kejadian itu benar-benar dialami Fithriani sepuluh tahun lalu. Hebatnya, Fithriani menghadapainya dengan rasa syukur karena masih bisa bernapas hingga detik ini.

Kepada Jurnas.com, perempuan asal Padang yang berulangtahun setiap 14 November ini menceritakan perjuangan beratnya melawan dua penyakit mematikan. Kanker payudara dan kanker rahim.

Kedua kanker itu berawal ketika Fithriani masih berusia 33 tahun. Kala itu, tidurnya terusik. Ia kaget ketika meraba payudara kirinya ada semacam benjolan asing. Tak sakit tapi cukup membuat jantungnya berdegup kencang. Ia takut terkena kanker payudara sementara ia masih memberikan ASI pada anaknya.

Setelah berdiskusi sesaat, Fithriani dan suami sepakat membiarkan benjolan itu hingga satu tahun ke depan, sampai anak keduanya diberikan ASI cukup. Dua tahun kemudian, benjolan di payudara kiri ibu dua anak ini belum juga hilang. Akhirnya, diantar suaminya, Fithriani memutuskan memeriksakan benjolan tersebut ke dokter.

Pada pemeriksaan pertama, Fithriani divonis memiliki Fibroadenoma alias FAM, yang selama ini umum dikenal sebagai tumor jinak di payudara. Solusinya, Fithriani hanya disarankan melakukan operasi pengangkatan benjolan. “Dokter meyakinkan saya bahwa benjolan saya adalah FAM dan diangkat pada 24 Desember 2010,” yakin perempuan bernama lengkap Fithriani Amin ini.

Tapi, di tengah proses operasi, dokter mencurigai benjolan di payudara kirinya bukan hanya FAM. Fithriani pun harus melakukan analisis patologi anatomi jaringan. Hasilnya, dokter memvonis  Fithriani menderita kanker payudara stadium 2B ductal carcinoma invasif.

Fithriani menjelaskan saat itu ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya karena memikirkan kedua buah hatinya yang masih balita. “Bukan main hancurnya perasaan saya,” kenangnya.

Di tengah kesedihan, Fithriani tetap bersyukur. Suami dan orang tuanya terus memberikan dukungan tanpa henti. Dia dan suami pun ikhlas untuk menjalani operasi pengangkatan payudara pada 8 Januari 2011. Namun, operasi itu bukanlah operasi terakhirnya. Saat menjalani kemoterapi Fithriani mengalami menstruasi hebat. Hal ini bertolak belakang dengan proses kemoterapi. “Akhirnya saya dirujuk untuk periksa rahim,” katanya lirih.

Pasca diperiksa, dokter menemukan adanya penebalan di dinding rahim Fithriani. Jika dibiarkan, penebalan ini akan berubah menjadi kanker rahim, yang berisiko tinggi merenggut nyawanya. Dokter pun menyarankan Fithriani menjalani operasi pengangkatan rahim.

“Sokongan dan keridhoan suami mendamaikan saya. Akhirnya, saya pun melakukan operasi angkat rahim,” tutur Fithriani.

Kini, tujuh tahun sudah perjuangan itu berlalu. Fithriani bersyukur, di usianya yang beranjak 43 tahun, dia masih diberikan kesempatan melanjutkan hidup, setelah melewati dua penyakit ganas semasa hidupnya meski harus kehilangan dua mahkotanya.

Read more...

Anisah: Ternyata Obat Kanker itu Ikhlas

Jakarta – Siapapun yang divonis kanker pasti akan merasa selalu dihantui kematian. Tak terkecuali Anisah. Perempuan berusia 51 tahun asal Cilegon ini tak pernah menyangka ketika pertama kali melakukan pemeriksaan kankernya sudah dalam level ganas.

Berawal saat 2015, ketika Anisah merasakan ada benjolan yang diikuti penebalan pada kulit di sekitar payudaranya. “Saat itu kebetulan tidak ada dokter Onkologi yang memeriksa tapi bedah umum,” ingat karyawan anak perusahaan Krakatau Steel ini.

Hingga 2016, Anisah merasakan sakit  karena benjolan dan penebalan itu tidak kunjung reda dan semakin menjadi. Ia pun akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke RS Dharmais Jakarta, berbekal rekap medis dan hasil USG dari RS di kotanya.

“Dokter di Dharmais bilang benjolan saya sudah ganas,” katanya lagi pada Jurnas.com di sela-sela Temu Penyintas Kanker Payudara se Indonesia beberapa waktu lalu.

Tak ada yang bisa dilakukan Anisah kecuali menangis. Ia tidak pernah mengira pemeriksaan awal yang menyatakan tidak ada masalah berarti menjadikanya seorang penderita kanker. Bagi perempuan dimanapun, kanker payudara adalah mimpi buruk yang meruntuhkan kepercayaan dirinya.

Untunglah Anisah memiliki suami yang mendukungnya dan selalu memberinya semangat untuk hidup demi keluarganya. Serangkaian pemeriksaan ia lalui didampingi sang suami tercinta. Perasaan sedih, putus asa dan hancur dikatakan Anisah sudah tak dapat lagi terbendung. Apalagi, ia harus mengikuti serangkaian terapi medis dari dokter. Mulai dari radiasi, kemoterapi dan operasi pengangkatan benjoan di payudaranya.

“Sebelum operasi, dokter memutuskan semua benjolan harus diangkat. Tentu awalnya ada sedikit hambatan, tapi alhamdulillah saya bisa melalui semua itu, bisa beraktivitas lagi dan  bisa ada di sini sekarang,” ujar Anisah lagi seraya mengatakan kanker membawa berkah bagi hidupnya kini.

Kanker menurut Anisah bukan lagi identik dengan kematian tapi peringatan dari tuhan. “Penyakit ini seperti pembersih dosa, ini adalah anugrah sekaligus peringatan bagi saya untuk hidup lebih baik. Kematian adalah rahasia tuhan, kapanpun dan dimanapun bisa terjadi,” tandasnya.

Anisah pun berpesan untuk tidak menunda  melakukan deteksi dini.  Selain tentunya tetap harus menjaga pola hidup dan pikiran yang sehat. Di luar itu semua, dikatakan Anisah lagi, ternyata berserah diri dengan ikhlas adalah obat hati paling mujarab.

”Jangan dipikir berobat itu gampang dan tidak sakit. Kepikiran biaya juga, urusan rumah dan kerjaan. Belum lagi harus bolak-balik rumah sakit sampai rambut botak,” serunya mengenang kembali saat-saat sulit itu. Namun Anisah beruntung, karena kantornya mendukung pengobatan dan masa pemulihanya. Keluarganya pun selalu mendampinginya dengan penuh kasih.

“Jika saja saya tidak ikhlas dan terus mengeluh, entah akan seperti apa saya sekarang,” tutupnya mengajak semua penyintas kanker payudara untuk tetap semangat dan ikhlas melakukan semua tindakan medis. Ah, ternyata ikhlas obat kanker versi Anisah.

Read more...

Janji Yanti Saat Divonis Kanker Payudara

Mengidap kanker bukan satu-satunya mimpi buruk bagi Yanti Setiawadi, namun ia juga harus menghadapi penderitaan lain akibat kemoterapi. Survivor kanker payudara asal Bandung ini pernah merasakan kematian sudah sangat dekat saat anak-anaknya masih kecil. Itu terjadi padsa 2007 ketika dokter memvonisnya mengidap kanker payudara.

Yanti sempat mengabaikan benjolan di payudaranya, meski ia merasakan sakit luar biasa saat mengetahui benjolan di payudaranya sudah berbentuk segiempat pada 2006. Namun ia mengabaikan rasa itu akibat pengaruh teman-temanya yang menganggap benjolan di payudaranya bukan hal yang membahayakan.

“Saat itu saya marah ke Tuhan, kenapa harus saya. Saya sampai meninggalkan kebiasaan saya membaca renungan dan alkitab,’ kata Yanti yang akhirnya memutuskan operasi di 2007.

Yanti mengatakan setelah operasi pada 2007 itu ia harus menjalani 6 kali kemoterapi. Salah satu prosedur pengobatan yang menggunakan bahan kimia sangat kuat untuk menghentikan sekaligus menghambat pertumbuhan sel kanker ini bukanlah perjuangan yang mudah bagi Yanti. “Rasanya nano-nano. Di saat kemo ketiga saya mulai merasa gak kuat. Tapi saya harus yakin sama Tuhan. Di situ saya berjanji pada Tuhan untuk memberi saya kekuatan. Kalau saya kuat menjalani kemo ini, saya berjanji akan mendirikan grup kanker,” cerita Yanti penuh emosi yang mengulang janji itu di kemonya yang kelima dan keenam.

Dia tidak mengucap janji sama di kemonya yang keempat, karena saat itu ibunya mengalami stroke. Pukulan emosional baru bagi Yanti yang harus menahan rasa sakit akibat kemo. Seusai kemo Yanti sempat merasakan kembali beraktivitas seperti semula, meski kepalanya masih botak. Tapi itu hanya sesaat ia rasakah, karena usus buntu menyerangnya. “Teguran lagi dari Tuhan. Tapi saya gak mau operasi. Eh, malah rahim saya kata dokter turun dan akhirnya saya operasi pengangkatan rahim pada Oktober 2007,” kata Yanti lagi menceritakan semua yang ia anggap teguran tuhan padanya.

“Tuhan kenapa di tahun yg sama saya harus kehilangan dua organ yang menjadi ciri khas seorang wanita, kenapa di awal tahun saya kehilangan payudara dan diakhir tahun saya kehilangan rahim,” protes Yanti kala itu.

Yanti pun tersadar akan tiga kali janjinya untuk mendirikan grup peduli kanker payudara di Bandung. Akhirnya seminggu sebelum operasi pengangkatan rahim, Yanti mendirikanya dibantu dua temanya. Perkumpulan itu ia namai Bandung Cancer Society (BSC). Dibantu

“Tuhan punya cara sendiri menguji umatnya. Apapun yg terjadi, itu pasti yang terbaik dari Tuhan. Kanker bukan akhir segalanya, move on and be a winner,” ujarnya lagi penuh syukur saat ditumui Jurnas.Com pada acara yang digelar YKPI beberapa waktu lalu.

Sekilas Bandung Cancer Society (BCS)

BCS didirikan pada 2 desember 2007 dengan tujuan meningkatkan kepedulian terhadap pasien kanker, khususnya di Bandung dan sekitarnya dengan cara memberi bantuan secara moril. Dibantu oleh dokter penasihat berpengalaman di Bandung, program kerja BCS meliputi kunjungan ke pasien kanker yang sedasng atau akan menjalani pengobatan, mengadakan seminar-seminat dengan mengundang pembicara ahli serta mengelola rumah singgah kanker ‘KASIH” untuk menbantu pasien kanker dari luar kota dengan menggunakan BPJS kelas 3.

Read more...

Syarat-Syarat untuk Tinggal di Rumah Singgah YKPI

Pada prinsipnya Rumah Singgah YKPI terbuka untuk seluruh penderita kanker payudara yang melakukan pengobatan di rumah sakit-rumah sakit di Jakarta. Kendati demikian ada beberapa persyaratan dimana mereka inilah yang kami prioritaskan untuk dapat memanfaatkan fasilitas Rumah Singgah YKPI :

  1. Pasien tercatan sebagai peserta BPJS kelas 3 dengan kriteria :
  2. Tempat tinggal diutamakan di luar Jabodetabek
  3. Kesulitan dalam trasnportasi ke rumah sakit di Jakarta
  4. Pasien yang dalam keadaan umum terlihat lemah (berdasarkan vital sign dan hasil diagnosis dokter)
  5. Pasien didiagnosis dengan kanker payudara stadium 1,2 dan 3A (melampirkan bukti dari dokter)
  6. Pasien harus mengisi formulir dan melampirkan fotokopi identitas diri
  7. Pasien membawa surat keterangan dokter
  8. Pasien bersedia mematuhi tata tertib di Rumah Singgah YKPI
  9. Pasien dapat menerima kunjungan keluarga dengan waktu kunjungan yang telah ditentukan
  10. Pasien menaggung sendiri biaya makan dan kebutuhan pribadi lainnya selama di Rumah Singgah YKPI

Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi HOTLINE YKPI (WA) 0812-2364-2164 atau melalui email ke ykpi.sekretariat@gmail.com.

Read more...

Sekilas Tentang Rumah Singgah YKPI

Rumah Singgah YKPI didirikan pada 2 Februari 2017, bertepatan dengan peringatan bulan kanker sedunia. Pendiri sekaligus Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar, meresmikan langsung rumah singgah yang berlokasi di Jalan Anggrek Neli Murni No. A38, Slipi, Jakarta Barat, disaksikan pengurus, rekanan dokter, wartawan dan para pendiri lainnya.

Rumah Singgah YKPI ini didirikan sebagai bentuk keprihatinan YKPI akan banyaknya jumlah penderita kanker payudara, khususnya dari daerah, yang  dirujuk untuk berobat ke Jakarta. Diutamakan untuk pasien kanker payudara stadium 1-3 A dan pasien BPJS kelas 3 atau dari  keluarga yang kurang mampu dan sulit mendapatkan akomodasi di Jakarta.

Menurut keterangan dokter bedah Onkologi dari RS Dharmais, dr. Walta Gautama, Sp.B (K), Onk, satu pasien harus mengikuti pengobatan secara bertahap. Bisa saja menjalani terapi radiasi sekitar 30 kali, selain kemoterapi dan tahapan medis lainnya, sehingga si pasien harus bolak-balik ke rumah sakit.  Nah, umah Singgah YKPI hadir untuk memudahkan pasien melakukan pengobatan tanpa stress memikirkan biaya di luar biaya medis. Karena di Rumah Singgah YKPI, mereka hanya membayar biaya kebersihan sebesar Rp. 15.000 per pasien per malam.

Rumah Singgah YKPI  memiliki 28 kamar tidur,  terdiri dari 14 kamar untuk pasien dan 14 lainnya untuk pendamping. Layaknya rumah, tersedia pula dapur untuk memberi kebebasan pasien memasak masakan sesuai selera mereka, dengan fasilitas peralatan masak modern ditambah nasi dan air mineral cuma-cuma setiap harinya.

Hingga pertengahan 2018, dikatakan Koordinator Pengelola Rumah Singgah, Nani Firmansyah,  Rumah Singgah YKPI telah memberikan pelayanan kepada pasien kanker payudara sebanyak 2.800 malam.  Satu pasien bisa datang berulang kali tergantung dengan masa pengobatannya. Hingga kini, selain dari Jabodetabek, pasien berdatangan dari Banyuwangi, Karawang, Sukabumi, Indramayu, Pontianak, Pangkal Pinang, Bengkulu, Lampung, Sulawesi tengah, Sulawesi Tenggara, NTT, Maluku hingga Papua.

Secara rutin, para penyintas kanker payudara yang tergabung dalam pitapink survivor warrior, mengadakan pelatihan keterampilan dari seorang ahli. Seperti seni suspeso, melipat kertas, membuat bros, perhiasan atau kerajinan tangan lainnya. Selain untuk mengisi waktu luang, saling memotivasi dan menguatkan dalam menjalankan pengobatan, pelatihan ini juga dapat membantu meningkatkan ekonomi mereka dengan menjual hasil karyanya.

Read more...