Tag - kanker payudara

Fun Walk Edukasi Masyarakat soal Jenis-jenis Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Ada yang berbeda di tengah pelaksanaan car free day, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada akhir pekan lalu. Sejumlah survivor dan warrior kanker, melakukan parade dengan warna kostum yang berbeda-beda setiap kelompoknya.

Ini merupakan kegiatan Fun Walk dengan tema `Cancer Ribbon Awareness`. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan masyarakat tentang kanker, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat seputar penyakit mematikan tersebut.

Sebenarnya pewarnaan pada jenis kanker lahir dari kebutuhan meningkatkan kepedulian akan kanker payudara. Adalah Susan G. Komen, memulainya pada 1980 untuk sebuah yayasan kanker payudara asal Amerika Serikat.

Kala itu, Susan melakukan donasi hingga akhirnya banyak warna untuk mengidentifikasi kanker, yang diperkenalkan oleh organisasi nirlaba lainnya.

Seperti di antaranya pita emas yang dipilih oleh organisasi kanker anak pada 1990-an. Warna emas konon dipilih untuk mengingatkan betapa berharganya anak-anak seperti emas.

Perlu diketahui, hingga hari ini setidaknya ada 30 warna pita untuk jenis kanker yang berbeda. Tapi sayangnya, yang populer di masyarakat hanya pita pink, yang digunakan untuk mengidentifikasi kanker payudara.

“Iya selama ini hanya tahu pita pink, belum tahu kalau ada pita warna lain,” kata Rizky asal Bekasi saat ditemui di arena car free day.

Senada dengan Rizky, Lona dari Kebayoran Lama juga hanya mengenal dua warna pita, yakni pita pink untuk kanker payudara dan pita emas untuk kanker anak.

“Pita emas tahu karena ada saudara yang menderita leukimia sejak usia balita,” tutur Lona.

Lain halnya dengan Ambar yang tidak begitu peduli dengan warna-warna pita kanker. Karena menurut dia, hal terpenting ialah menunjukkan dukungan untuk menyemangati penderita kanker.

“Apalagi jika orang itu dekat dengan kita. Tahu sih ada pita pink, pita ungu, pita emas, tapi karena simbol saja kan, dan sosialisasinya kurang banget. Intinya yang penting tunjukkan kita peduli dan dukung mereka yang sedang sakit kanker,” ujar mahasiswa asal Jambi ini.

Sementara Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyatakan sepakat bahwa sosialisasi dan edukasi mengenai kanker harus digalakkan di tengah masyarakat.

Menurut dia upaya tersebut juga akan menimbulkan kesadaran deteksi dini, sehingga diharapkan menekan angka kanker di Indonesia, yang saat ini menjadi pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan gagal ginjal.

“Deteksi dini itu sangat penting. Karena jika semakin cepat kanker diketahui, maka peluang untuk sembuh juga semakin tinggi,” jelas Linda.

Adapun dalam rangka melakukan sosialisasi, lanjut Linda, masyarakat maupun NGO tidak bisa berjalan sendiri. Dia menyebut upaya ini membutuhkan peran pemerintah dan swasta.

“Kami sebagai yayasan kanker yang merupakan mitra pemerintah, akan berupaya menekan kanker payudara stadium lanjut. Tapi harus ada kerja sama antara kami sebagai masyarakat, dengan pemerintah dan swasta,” tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Komentar senada juga disampaikan oleh dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Onkologi Prof. Sonar Soni Panigoro. Dia berharap angka pasien kanker yang datang ke rumah sakit, semakin lama semakin menurun, dengan cara melakukan deteksi dini.

“Informasi itu bisa diakses di berbagai media, salah satunya YKPI. Jadi silakan bapak dan ibu untuk mengakses website tersebut,” tutup Sonar.

Read more...

Kanker Pembunuh Nomor Tiga setelah Jantung dan Ginjal

Jakarta, Jurnas.com – Dewasa ini kanker masih menghuni urutan nomor tiga dari deretan penyakit mematikan di Indonesia.

Kendati demikian, menurut Direkur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Prof. Abdul Kadir, penyakit tersebut berpeluang menjadi pembunuh nomor satu, karena jumlah pengidapnya semakin meningkat.

“Kalau di Jepang dan Korea, kanker penyebab kematian pertama. Sementara di Indonesia urutan ketiga setelah jantung dan gagal ginjal,” terang Prof. Kadir dalam kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness, di Car Free Day Bundaran HI, Jakarta pada Minggu (17/2).

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkomitmen menjadikan kanker sebagai musuh bersama, dengan cara rutin melakukan deteksi dini dan menjaga pola hidup sehat.

Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie mengatakan, upaya penanggulangan kanker sudah mulai dilakukan dari tingkat masyarakat.

Harapannya, bila masyarakat rutin melakukan deteksi dini kanker, maka tidak akan ada banyak pengobatan di rumah sakit.

“Meski belum diketahui sebab pasti, namun pola makan dan gaya hidup yang sehat merupakan beberapa cara menekan faktor risiko kanker,” jelas Arianie.

Sementara itu Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, setelah melakukan deteksi dini melalui Sadari (Periksa Payudara Sendiri) dan menemukan adanya benjolan, dia mengimbau agar segera pergi ke dokter.

“Langsung pergi ke dokter, jangan ke pengobatan alternatif atau herbal, agar segera diketahui stadium kankernya. Semakin dini ketahui, semakin besar peluang sembuh,” kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini.

Kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness juga diikuti oleh Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Dalam acara peringatan Hari Kanker Anak Sedunia setiap 15 Februari itu, ratusan pengurus, survivor kanker anak, orangtua, dan relawan muda YOAI memberikan dukungan untuk Pink Ribbon Awareness, dengan membentuk formasi pita emas, agar semakin banyak orang peduli dan mengenal kanker anak.

Read more...

Selamat Hari Kanker Se-Dunia Sahabat Pitapink

Jakarta – Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari. Tahun ini tema yang diangkat adalah ”Saya Adalah dan Saya Akan” (I Am and I Will). Tema ini bermakna untuk mengajak semua pihak terkait, menjalankan perannya masing masing dalam mengurangi beban akibat penyakit kanker.

Mengapa Hari Kanker Se-Dunia (HKS) ini penting? Karena angka kematian akibat kanker setiap tahunnya masih tinggi. Dengan peringatan ini, diharapkan dapat menyelamatkan jutaan jiwa dari kematian yang dapat dicegah setiap tahunnya.

Masyarakat dapat mengetahui kegiatan HKS 2019 dengan mengunjungi www.worldcancerday.org dan www.harikankersedunia.com. Diharapkan melalui peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 dapat menjadi sarana dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kanker.

Dari data Globocan diketahui terdapat 18,1 juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian di tahun 2018. Dimana 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Data tersebut juga menyatakan 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan, meninggal karena kanker.

Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk, yang diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk.

Angka kejadian penyakit kanker untuk perempuan di Indonesia yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah di provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 79 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk.

Untuk pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, khususnya dua jenis kanker terbanyak di Indonesia, yaitu kanker payudara dan leher rahim, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) untuk payudara dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim.

Kementerian Kesehatan RI mengembangkan program penemuan dini kanker pada anak, pelayanan paliatif kanker, deteksi dini faktor risiko kanker paru, dan sistem registrasi kanker nasional.

Dalam rangka mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, perlu adanya upaya masif yang dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian kanker.

Rangkaian kegiatan Hari Kanker Sedunia 2019 dilaksanakan mulai dari pusat hingga daerah melalui surat edaran kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum agar berpartisipasi aktif falam peringatan HKS 2019 dan mengkampanyekan Saya adalah dan saya akan (I Am and I Will).

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 di pusat dilaksanakan dengan melibatkan Komite Penanggulangan Kanker Nasional dan organisasi penyintas kanker yang meliputi kegiatan: Media Briefing Hari Kanker Sedunia 2019, deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim, serta penyebaran media komunikasi dan infomasi kepada masyarakat.  (sumber Kemenkes RI)

Read more...

9 dari 10 Benjolan di Payudara Bukan Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Kanker payudara selalu diawali dengan tumbuhnya benjolan. Namun jangan salah, menurut dokter spesialis bedan onkologi Rumah Sakit Dharmais Jakarta dr. Bob Andinata, Sp.B (K) Onk, 9 dari 10 benjolan di payudara justru bukan kanker.

Dalam kegiatan ‘Bulan Kesehatan Bank Bukopin’ di Kantor Pusat Bank Bukopin Jakarta, dr. Bob menerangkan, jika benjolan terasa sakit, itu umumnya ciri kista. Untuk kista, penderitanya tidak perlu melakukan operasi atau kemoterapi.

“Yang penting jaga pola hidup sehat, tidak makan sembarangan, dan rutin olahraga,” terang dr. Bob kepada Jurnas.com.

Kista ini, lanjut dr. Bob, akan hilang dengan sendirinya, dua bulan setelah benjolan pertama kali dirasakan. Berbeda halnya dengan kanker payudara, di mana benjolan semakin lama semakin membesar, karena bekerja dengan mengikat kulit hingga jaringan yang ada di sekitar payudara.

Adapun jika benjolan itu merupakan kanker payudara, umumnya tidak terasa sakit. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang menganggap benjolan kanker sepele, dan baru memeriksakan diri setelah memasuki stadium lanjut.

“Benjolan kanker payudara di stadium awal tidak nyeri. Ini yang berbahaya karena banyak yang menganggap sepele,” jelas dia.

Karena itu, dalam rangka Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari 2019 mendatang, dr. Bob mengimbau kepada para perempuan agar melakukan deteksi dini payudara, baik dengan cara melakukan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) maupun Sadanis (Periksa Payudara secara Klinis).

Alasannya, semakin awal kanker payudara diketahui, maka harapan hidup juga semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya.

“Jika 10 orang berobat ketika berada di stadium empat, maka lima tahun kemudian sisa yang hidup kemungkinan cuma dua orang. Tapi kalau 10 orang berobat pada stadium satu, maka lima tahun kemudian 10 orang itu masih hidup,” tandasya.

Read more...

Empat Gejala yang Patut Dicurigai oleh Pria pada Payudaranya

1. Benjolan
Benjolan merupakan tanda pertama dan utama kanker payudara, baik pada pria ataupun perempuan. Nah, pria sering cenderung mengabaikannya ketimbang perempuan. Biasanya muncul tanpa rasa sakit, tetapi terkadang benjolan ini terasa lembut disentuh. Jika kanker sudah menyebar, peradangan bisa sampai ke ketiak.

2. Puting susu
Posisi puting yang terbalik menandakan adanya pertumbuhan tumor ganas atau kanker payudara. Saat tumbuh, sel-sel kanker dapat menarik ligamen di dalam payudara. Efeknya, bisa membuat puting menjadi penyok, kering dan juga bersisik.

3. Keluar cairan
Jika Anda melihat ada noda di baju sekitar dada, itu bisa menandakan adanya cairan yang keluar dari puting payudara. Cairan tersebut merupakan cairan tumor yang menumpuk dalam jaringan payudara, sehingga keluar melalui saluran puting.

4. Luka terbuka
Puting yang memiliki luka terbuka adalah situasi yang ekstrim, yang menandakan adanya pertumbuhan tumor melalui kulit. Karena jaringan payudara pada pria tidak sebanyak pada perempuan, maka gejala luka akan terlihat seperti jerawat yang sudah dipencet, berdarah serta bernanah.

Read more...

Asal Usul Mammografi

Mammografi berasal dari dua kata yaitu mammae/mammo yang berarti payudara, dan kata grafi yang berarti pindai/metode menulis atau membuat gambar dengan teknik/ilmu tertemu. Jadi mammografi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat adanya kelainan pada payudara.

Seorang ahli bedah Jerman, A. Salomon, pada 1913 mengamati anatomi radiologi dibandingkan dengan hasil pemeriksaan mikroskopik. Pada 1940 -1070 pengembangan teknik oleh ahli radiologi diikuti oleh industry di bawah dorongan Ch. Gross. Sejak “Compagnie Generale de Radiologie” (CGR) membuat “Senographe”, pemasaran peralatan mamografi mendorong revolusi dalam pencitraan payudara.

Sejak 1970 inilah mamografi dikenal sebagai teknik yang tepat dalam screening kanker payudara. Salah satu pelopor nya adalah Ph Strax dari Amerika Serikat dengan penelitiannya yang diberi nama “Health Insurance Plan (HIP) of NY” dimana dilaporkan penurunan angka mortalitas karena mamografi. Kemudian pada akhir tahun 80an USG dan MRI merupakan teknik tambahan untuk menunjang mamografi dalam diagnosis kanker payudara.

Proses pemeriksaan payudara dalam mammografi menggunakan sinar-X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Mammografi digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista, dan telah terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat kanker payudara.

Melalui pemeriksaan Mammografi memungkinkan dokter dapat melihat dengan lebih jelas jenis kelainan benjolan pada payudara melalui perubahan di jaringan payudara. Mammogram dapat menunjukkan pula letak dan luas kelainan pada payudara seorang perempuan.

Mammografi pada awalnya dikembangkan secara konvensional dengan gambar yang dituangkan dalam film (film dalam kaset yang dirancang khusus). Namun semakin berkembangnya zaman, produsen mengembangkan alat mamografi digital. Keuntungan utama dari sistem mamografi digital adalah pemisahan gambar dan pengolahan akuisisi dan tampilan. Kualitas gambar juga lebih optimal

Read more...

Yesaya, Ketika Kanker Payudara Jadi Tak Menyeramkan

Jakarta – Yesaya Fernindi Hohu tak pernah membayangkan sebelumnya kanker payudara akan membuatnya bolak-balik ke meja operasi.

Namun karena enggan terpuruk dalam kepahitan, Yesa memilih mengabadikan pengalamannya lewat sebuah buku, bertajuk It’s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker.

Saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu, Yesa berulang kali menekankan pentingnya mencegah sejak dini. Hal itu dia lakukan bukan tanpa alasan. Pasalnya perempuan asal Cilacap Jawa Tengah ini sedang berjuang melawan kanker payudara stadium empat.

Sembari menjawab pertanyaan tim, nafas Yesa sempat beberapa kali terengah. Dia tak bisa lama-lama berdiri, sesekali ia memegang bagian kanan bawah ketiaknya, yang baru saja menjalani operasi ke-sembilan.

Saat itu tak ada pilihan lain selain pengobatan. Yesa pun mulai intens menjalani Kemoterapi sebanyak 18 kali, kemo untuk hepar 6 kali, kemo untuk tulang 5 kali, dan radiasi mulai per 25 Oktober, sampai usai operasi ke-sembilan akan diadakan radiasi ulang untuk kelenjar getah bening.

Selama obrolan, Yesa kerap disapa teman-teman yang menanyakan kondisinya usai operasi. Dengan suara renyahnya Yesa menjawab: Aku gak apa-apa kok, siapa yang sakit?

Kekuatan yang dialami Yesa tak serta merta ada, sebab ia pernah mengalami fase terpuruk manakala vonis menghampiri. Saat itu ia banyak merenung, dialog dengan Tuhan melalui salat seraya meyakinkan diri bahwa ia mampu melalui meski sudah lumpuh. Ia tak lagi berpikir kalau kanker itu menyeramkan tapi bagaimana berjuang menghadapinya.

Tak hanya itu, perempuan yang lahir di Lampung ini juga mengisi masa-masa pengobatan dengan menulis catatan-catatan pengalaman hidupnya melalui sosial media.

Aktif menulis hingga seorang kawan pun terketuk ingin bantu menerbitkan kisahnya, sampai kemudian terbit buku bertajuk “It`s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker”.

Buku yang terbit rupanya makin melecutkan semangat sembuh Yesa. Melalui buku itu ia juga menyampaikan betapa deteksi dini itu sangat penting, lewat periksa payudara sendiri (Sadari) dan periksa payudara klinis (Sadanis).

Menulis menjadi terapi bagi Yesa. Dengan menulis, ia tak lagi stres, ditambah dukungan dari keluarga dan teman yang tak ada habis-habisnya.

Read more...

Neni Ismail, Merajut Payudara Artifisial untuk Penyintas

Jakarta – Hidup dengan satu payudara tak jarang membuat perempuan merasa minder. Namun tidak bagi Neni Ismail, yang telah kehilangan satu payudaranya akibat terkena kanker payudara.

Alih-alih berputus asa, Neni yang terkena Ca Mammae (istilah untuk kanker payudara) pada awal 2018, mengalihkan kesedihannya dengan merajut knokers atau payudara artifisial. Knokers hasil buatanya, dia bagikan secara cuma-cuma ke sesama penyintas yang sudah memasuki tahap mastektomi.

Kepada Jurnas.com, Neni menceritakan awalnya memang tak pernah menyangka akan terjangkit kanker payudara. Pasalnya, perempuan ini rutin mempraktikkan pola hidup sehat, mulai dari berenang, lari, hingga makanan bergizi.

Namun kecurigaan Neni muncul pada Februari lalu, saat payudaranya terasa seperti kesetrum ketika disentuh. Semakin lama, rasa kesetrum semakin sering, dan anehnya hanya di satu titik.

Ketika diraba pun Neni tidak merasakan apa-apa, hingga suatu saat dia diperiksa di Puskesmas, dan dokter menemukan benjolan sebesar 2-3,5 cm, yang letaknya agak di dalam.

Untuk memastikan hal itu, Neni dirujuk ke dokter bedah. Dokter pun menyarankan benjolan di payudara Neni supaya diangkat dan dibiopsi eksisi.

Pada akhir Februari, benjolan di payudara Neni diangkat. Dan secara hampir bersamaan, hasil patologi anatominya keluar. Dia dinyatakan menderita kanker payudara, dengan kecurigaan awal ganas.

Dua minggu setelah menjalani patologi anatomi, pemeriksaan imunohistokimia atau IHK Neni juga keluar. Neni diminta untuk merujuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, untuk proses pengangkatan seluruh payudaranya.

“Seluruh payudara saya harus diangkat, karena ada tulisan tepian tidak bersih dianggap ada sisa sel kankernya,” lirih Neni.

Sebelum operasi pengangkatan, Neni sempat diberikan dua pilihan oleh dokter. Pertama, payudara diangkat lebih besar namun tidak seluruhnya, dan kedua diambil seluruhnya.

Jika Neni mempertahankan sisa payudaranya, maka selanjutnya dia harus menjalani proses kemoterapi dan radiasi. Sementara jika dimastektomi, proses tersebut tidak diperlukan.

“Akhirnya mastektomi, ternyata efek kelenjar getah bening ikut diangkat, dan dokter bilang tidak boleh mengangkat beban berat,” tuturnya.

Kepada Neni, dokter mengatakan operasi kanker payudara dalam beberapa kasus, juga ikut mengangkat kelenjar getah bening. Adapun setiap orang berbeda jumlah kelenjar getah bening yang diangkat.

“Progresnya setelah ada pemeriksaan lagi ternyata jaringan saya tidak ada, tidak tahu kenapa hilang jaringannya,” lanjut Neni.

Tak hanya Mastektomi, Neni juga juga menjalani operasi pengangkatan indung telur oleh dokter kandungan. Saat itu usianya sudah menginjak 48 tahun. Sementara jika indung telur diangkat, dia dipastikan tidak bisa hamil lagi.

“Kalau di usia itu tidak ada rencana hamil mending angkat rahim dan serviks, supaya menyebar,” kata Neni.

Akhirnya, Neni menyimpulkan bahwa setiap perempuan wajib melakukan deteiksi dini. Dan jika hasil deteksi dini juga harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis.

“Meski saya sudah menjalankan hidup sehat, berenang, lari, dan makan sehat ternyata bisa juga kena,” kenangnya.

Meski kini ia menjalani hidup dengan satu payudara, namun Neni tetap semangat. Energinya dipakai untuk merajut knokers dari benang wol yang dimasukkan dalam bra.

“Awalnya saya sendiri, lama-lama banyak yang nyumbang benang dan saya bikin banyak, kami bikin grup enam orang kita bagi-bagi. Ukurannya ada yang besar dan kecil sesuai keinginan,” tandasnya.

Read more...

Kanker Payudara “Dekatkan” Nurul dengan Tuhan

Jakarta – Saat pertama kali mendengar vonis kanker payudara, Nurul Hidayah lemas tak berdaya. Perasaan sedih dan hancur campur aduk. Namun siapa sangka, justru penyakit itu membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.

Kisah itu dialami pada awal 2015 silam. Sebab merasa ada benjolan di payudara kirinya, Nurul datang ke dokter. Namun tak dinyana, dokter langsung memvonisnya kanker ganas stadium awal, dan berpotensi meletus jika tak segera ditangani.

“Walaupun masih kecil benjolannya, belum ada tiga sentimeter namun hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan untuk payudara saya meletus,” ucap Nurul kepada Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Nurul patah arang. Kenyataan itu bahkan sempat membuat perempuan kelahiran 2 Juni 1973 ini menyalahkan Tuhan atas penyakitnya.

“Kenapa ya Allah? Waktu itu saya hanya butuh untuk sendiri dan merenung. Jujur saja saya tidak tahu harus ke mana atau berbuat apa,” lirihnya.

Di tengah kesedihannya, Nurul memutusan berjalan kaki ke luar rumah tanpa tujuan. Sepanjang jalan, vonis dokter terngiang-ngiang di kepalanya. Beribu pertanyaan mengapa yang muncul, pada akhirnya berujung tanpa jawaban.

Sibuk mencari jawaban, Nurul tanpa sadar bahwa dia telah berjalan terlalu jauh dari rumah. Sudah 15 kilometer dia lalui tanpa kelelahan, karena dirundung kesedihan yang teramat sangat.

Akhirnya, dengan hati mantap Nurul mengambil keputusan penting kala itu. Dia akan hadapi sesakit dan sesulit apapun, kanker yang menggerogoti payudaranya.

“Karena ternyata baru saya sadari bahwa saya punya keluarga dan teman-teman yang peduli dan sayang pada saya. Apalagi saya punya empat anak yang amazing, saya ingin berjuang lebih lama untuk hidup mendampingi mereka juga mengajarkan mereka untuk lebih dekat pada Tuhan dan mengantar mereka ke masa depan,” tutur ibu empat anak ini.

Sejak keputusan besar itu ia kukuhkan, Nurul kembali menemui dokter lagi dan menyatakan bersedia untuk operasi Mastektomi.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski dokter jadwalkan kemoterapi sebanyak delapan kali yang sangat menyiksa, namun ternyata bila kita resapi dan lakukan dengan ikhlas semua itu terasa nikmat karena dengan sakit ini dosa-dosa kita berguguran,” ucapnya penuh haru.

Nurul pun konsisten menjalani semua perintah dokter, ia yakin dan percaya tetap pada Allah bahwa hidup dan mati rahasia-Nya, bukan karena masalah kanker.

Sekarang telah hampir 4 tahun berlalu, Nurul merasa sehat dan ia berharap akan selalu sehat. Tidak muluk-muluk ia selalu positif thinking dan selalu menjaga pola hidup juga pola makan. Nurul percaya kita bisa bila berusaha dan jangan pernah lari dari kenyataan.

“Hikmahnya karena ini semua saya jadi lebih dekat pada Allah, lebih religius, lebih tahu artinya ikhlas dan memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda dari sebelum saya divonis kanker. Tidak boleh lari dan takut pasrah kepada tuhan setelah berusaha semaksimal mungkin,” ucapnya.

Kini Nurul tetap menjalankan aktivitasnya meski banyak berubah karena ia tak boleh terlalu lelah. Sebelum kanker menyerangnya, Nurul kerja di konveksi sekarang di rumah sambil terima pesanan sprei atau apapun yang bisa ia jahit.

“Saya suka banget menjahit dan masak kue atau masakan apa saja, asyik di dapur saya. Sering juga ada yang datang mijitin bayi kerumah karena saya belajar fisioterapi juga untuk baby sejak saya punya anak pertama. Saya menyukai semua yang saya lakukan,” pungkasnya.

Read more...

Keinginan Rachmawati yang 10 Tahun Jadi Penyintas Kanker Payudara

Jakarta – Rahmawati masih ingat betul saat pertama kali dokter menjatuhkan vonis kanker payudara stadium 3B kepadanya. Di tengah rasa putus asa, nyawanya bahkan nyaris berakhir di meja pengobatan alternatif.

Wati, demikian nama panggilan perempuan asal Jakarta ini, menuturkan pertama kali merasakan ada benjolan di payudara kanannya pada awal 2008. Alih-alih ke dokter, Wati memilih mendiamkan benjolan tersebut.

“Baru setelah makin terasa aku datang ke dokter,” kata Wati saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Setelah memutuskan datang ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta beberapa bulan kemudian, Wati mulai menjalani biopsi. Hasilnya, benjolan itu dinyatakan kanker payudara stadium 3B.

Bak disampar petir di siang bolong, Wati shock. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Hendak berobat ke medis, keuangannya jauh dari kata cukup.

“Akhirnya aku diam saja,” lirih Wati.

Wati tak benar-benar diam. Sembari merutuki nasibnya, Wati mencoba pengobatan alternatif. Namun tak dinyana, alih-alih sembuh, kankernya makin menjadi-jadi.

Karena itu pula, Wati akhirnya berhenti melakukan pengobatan. Tiga tahun dia membiarkan kanker yang menggerogoti payudaranya itu tanpa satu pengobatan pun.

“Setelah berobat alternatif tidak keman-mana, sampai koma, dan tidak bisa apa-apa, berat badan jadi 30 kilogram, rasanya kena kanker itu sangat menggerogoti,” kenangnya.

Setelah sedemikian parah, Wati dan sang suami akhirnya Kartu Jakarta Sehat (KJS), dengan maksud agar bisa mendaftar ke BPJS, dan kembali memulai pengobatan medis.

“Aku pun dimarahi dokter lantaran benjolan sudah pecah lalu kena ke jantung, paru-paru juga terendam cairan, jadi langkah awal proses membereskan itu dulu,” imbuh Wati.

Keinginan sembuh begitu kuat Wati rasakan. Setelah proses pembersihan cairan, ia menjalani Mastektomi, yakni pengangkatan payudara di tahun 2014.

Tak terasa, kini sudah 10 tahun Wati berjuang. Payudaranya sudah terangkat, dan ia tetap konsisten menjalani perawatan.

“Sekarang aku rajin kontrol dan minum obat Femara setiap bulan sampai lima tahun ke depan,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Wati belajar bahwa ketika ada benjolan meski tidak merasakan sakit, harus segerala melakukan periksa payudara sendiri (Sadari).

“Jangan diam, begitu ada yang tidak beres langsung periksa, kanker tidak bisa menunggu karena cepat sekali menyebar tahu-tahu sudah stadium lanjut,” imbau Wati.

Ia selalu memberi semangat positif pada diri sendiri, apapun yang dokter minta dilakukan, ia percaya upayanya adalah satu keniscayaan. “Pelan-pelan kita pasti sehat, masalah umur Allah yang mengatur. Kita harus happy,” ujarnya sumringah.

Untuk membuat dirinya bahagia, ia mengisi waktu dengan menyibukkan diri membuat aneka kerajinan tangan dari decopage yang bisa bantu menambah keuangan keluarga.

Read more...