Sekilas Tentang Rumah Singgah YKPI

Sekilas Tentang Rumah Singgah YKPI

Rumah Singgah YKPI didirikan pada 2 Februari 2017, bertepatan dengan peringatan bulan kanker sedunia. Pendiri sekaligus Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar, meresmikan langsung rumah singgah yang berlokasi di Jalan Anggrek Neli Murni No. A38, Slipi, Jakarta Barat, disaksikan pengurus, rekanan dokter, wartawan dan para pendiri lainnya.

Rumah Singgah YKPI ini didirikan sebagai bentuk keprihatinan YKPI akan banyaknya jumlah penderita kanker payudara, khususnya dari daerah, yang  dirujuk untuk berobat ke Jakarta. Diutamakan untuk pasien kanker payudara stadium 1-3 A dan pasien BPJS kelas 3 atau dari  keluarga yang kurang mampu dan sulit mendapatkan akomodasi di Jakarta.

Menurut keterangan dokter bedah Onkologi dari RS Dharmais, dr. Walta Gautama, Sp.B (K), Onk, satu pasien harus mengikuti pengobatan secara bertahap. Bisa saja menjalani terapi radiasi sekitar 30 kali, selain kemoterapi dan tahapan medis lainnya, sehingga si pasien harus bolak-balik ke rumah sakit.  Nah, umah Singgah YKPI hadir untuk memudahkan pasien melakukan pengobatan tanpa stress memikirkan biaya di luar biaya medis. Karena di Rumah Singgah YKPI, mereka hanya membayar biaya kebersihan sebesar Rp. 15.000 per pasien per malam.

Rumah Singgah YKPI  memiliki 28 kamar tidur,  terdiri dari 14 kamar untuk pasien dan 14 lainnya untuk pendamping. Layaknya rumah, tersedia pula dapur untuk memberi kebebasan pasien memasak masakan sesuai selera mereka, dengan fasilitas peralatan masak modern ditambah nasi dan air mineral cuma-cuma setiap harinya.

Hingga pertengahan 2018, dikatakan Koordinator Pengelola Rumah Singgah, Nani Firmansyah,  Rumah Singgah YKPI telah memberikan pelayanan kepada pasien kanker payudara sebanyak 2.800 malam.  Satu pasien bisa datang berulang kali tergantung dengan masa pengobatannya. Hingga kini, selain dari Jabodetabek, pasien berdatangan dari Banyuwangi, Karawang, Sukabumi, Indramayu, Pontianak, Pangkal Pinang, Bengkulu, Lampung, Sulawesi tengah, Sulawesi Tenggara, NTT, Maluku hingga Papua.

Secara rutin, para penyintas kanker payudara yang tergabung dalam pitapink survivor warrior, mengadakan pelatihan keterampilan dari seorang ahli. Seperti seni suspeso, melipat kertas, membuat bros, perhiasan atau kerajinan tangan lainnya. Selain untuk mengisi waktu luang, saling memotivasi dan menguatkan dalam menjalankan pengobatan, pelatihan ini juga dapat membantu meningkatkan ekonomi mereka dengan menjual hasil karyanya.

Share this post