Rahmawati Nyaris Berakhir di Meja Pengobatan Alternatif

Rahmawati Nyaris Berakhir di Meja Pengobatan Alternatif

Jakarta – Rahmawati masih ingat betul saat pertama kali dokter menjatuhkan vonis kanker payudara stadium 3B kepadanya. Di tengah rasa putus asa, nyawanya bahkan nyaris berakhir di meja pengobatan alternatif.

Wati, demikian nama panggilan perempuan asal Jakarta ini, menuturkan pertama kali merasakan ada benjolan di payudara kanannya pada awal 2008. Alih-alih ke dokter, Wati memilih mendiamkan benjolan tersebut.

“Baru setelah makin terasa aku datang ke dokter,” kata Wati saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Setelah memutuskan datang ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta beberapa bulan kemudian, Wati mulai menjalani biopsi. Hasilnya, benjolan itu dinyatakan kanker payudara stadium 3B.

Bak disampar petir di siang bolong, Wati shock. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Hendak berobat ke medis, keuangannya jauh dari kata cukup.

“Akhirnya aku diam saja,” lirih Wati.

Wati tak benar-benar diam. Sembari merutuki nasibnya, Wati mencoba pengobatan alternatif. Namun tak dinyana, alih-alih sembuh, kankernya makin menjadi-jadi.

Karena itu pula, Wati akhirnya berhenti melakukan pengobatan. Tiga tahun dia membiarkan kanker yang menggerogoti payudaranya itu tanpa satu pengobatan pun.

“Setelah berobat alternatif tidak keman-mana, sampai koma, dan tidak bisa apa-apa, berat badan jadi 30 kilogram, rasanya kena kanker itu sangat menggerogoti,” kenangnya.

Setelah sedemikian parah, Wati dan sang suami akhirnya Kartu Jakarta Sehat (KJS), dengan maksud agar bisa mendaftar ke BPJS, dan kembali memulai pengobatan medis.

“Aku pun dimarahi dokter lantaran benjolan sudah pecah lalu kena ke jantung, paru-paru juga terendam cairan, jadi langkah awal proses membereskan itu dulu,” imbuh Wati.

Keinginan sembuh begitu kuat Wati rasakan. Setelah proses pembersihan cairan, ia menjalani Mastektomi, yakni pengangkatan payudara di tahun 2014.

Tak terasa, kini sudah 10 tahun Wati berjuang. Payudaranya sudah terangkat, dan ia tetap konsisten menjalani perawatan.

“Sekarang aku rajin kontrol dan minum obat Femara setiap bulan sampai lima tahun ke depan,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Wati belajar bahwa ketika ada benjolan meski tidak merasakan sakit, harus segerala melakukan periksa payudara sendiri (Sadari).

“Jangan diam, begitu ada yang tidak beres langsung periksa, kanker tidak bisa menunggu karena cepat sekali menyebar tahu-tahu sudah stadium lanjut,” imbau Wati.

Ia selalu memberi semangat positif pada diri sendiri, apapun yang dokter minta dilakukan, ia percaya upayanya adalah satu keniscayaan. “Pelan-pelan kita pasti sehat, masalah umur Allah yang mengatur. Kita harus happy,” ujarnya sumringah.

Untuk membuat dirinya bahagia, ia mengisi waktu dengan menyibukkan diri membuat aneka kerajinan tangan dari decopage yang bisa bantu menambah keuangan keluarga.

Share this post