Penemuan Obat Kanker Butuh Uji Klinis yang Panjang

Penemuan Obat Kanker Butuh Uji Klinis yang Panjang

Hingga kini, masih saja riuh beredar informasi tentang tanaman bajakah di Kalimantan Tengah yang dikabarkan dapat menyembuhkan kanker payudara, menyusul penelitian oleh dua pelajar SMA di Palangka Raya.

Bajakah sebenarnya adalah sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bagian dari tanaman. Istilah tanaman bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu.

Menanggapi kabar tersebut, Ketua PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) dr. Walta Gautama, Sp.B (K) Onk, menjelaskan jika penemuan obat kanker itu tidak instan, prosesnya harus diuji secara klinis.

Hal pertama untuk dinyatakan sebagai obat kanker dikatakan spesialis onkologi tidaklah gampang, harus uji klinis dulu, ada levelnya dimulai dari diteliti obatnya mengandung apa, isinya apa serta zat yang bermanfaat apa.

“Dari situlah kita kemudian tahu zat yang bermanfaat tersebut setelah diuji coba di laboratorium akan bereaksi seperti apa terhadap sel kankernya. Mekanismenya seperti apa, lalu kita coba diterapkan mulai dari binatang yang rendah misalnya tikus, di situ dilihat efek terhadap organ gimana, ke darah gimana, ke ginjal gimana, terhadap otak gimana, perbedaanya gimana, dosinya gimana, dan seterusnya. Jadi panjang sekali prosesnya, ” papar dr Walta seraya menjelaskan uji coba selanjutnya juga perlu diterapkan kepada manusia.

Hasil temuan pelajar SMA yang dikabarkan memiliki tingkat anti oksidan tinggi tersebut, dr Walta sangat mengapresiasi prestasi mereka. Kendati begitu, kita perlu berhati-hati dengan berita yang terlalu booming.

“Masih ingat soal fantastisnya buah merah dan kemudian semua orang mencarinya. Saking boomingnya informasi soal buah merah yang dapat mengobati kanker secara instan, ada pasien kanker yang lebih memilih konsumsi buah tersebut dan menunda pengobatan, ternyata enam bulan kemudian datang ke dokter stadiumnya sudah tinggi,” tuturnya saat ditemui Jurnas di acara HUT YKPI yang ke-16, di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Contoh lainnya dikatakan dr Walta adalah penemuan daun sirsak. Sempat viral sehingga membuat pasien kanker yang semula diketahui hanya stadium 1 atau 2 setelah mengonsumsi daun sirsak dan meninggalkan pengobatan medis malah naik stadiumnya jadi 4.

“Kita tidak melarang jika pasien ingin mencoba, tapi jangan tinggalkan medis,” pungkas dokter yang praktek di RS Kanker Dharmais tersebut.

Share this post