Pandemi Bukan Alasan Menunda Pengobatan

Pandemi Bukan Alasan Menunda Pengobatan

Jakarta, YKPI – Sebagai relawan pendamping pasien kanker yang juga seorang survivor kanker, saya menyadari pandemi sangat membuat ngeri. Apalagi pasien dan penyintas kanker tergolong rentan terserang Covid-19. Sempat menunda check up, karena takut keluarga tertular virus. Tapi hidup harus jalan terus. Selama mematuhi peraturan di rumah sakit dan menjalankan protokol kesehatan, saya yakin kontrol ke dokter tidak menjadi hambatan lagi.

Yang membuat sedikit berbeda adalah berkurangnya sosialisasi dengan sesama penyintas dan pasien kanker baru. Sebagai relawan pendamping pasien, biasanya setiap minggu saya mengunjungi RS Kanker Dharmais menyapa dan menyemangati pasien yang baru divonis kanker.

Sejak pandemi, tatap muka berubah menjadi daring. Ini membawa pengaruh luar biasa bagi pola hidup saya. Terutama setelah rumah sakit memberlakukan sejumlah pembatasan guna menekan penularan Covid-19.

Namun hal ini tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap berhubungan melalui ponsel. Saya rutin menanyakan kondisi pasien selama pandemi dan memastikan mereka baik-baik saja. Ada hal menggembirakan tapi tak jarang membuat saya sedih. Saya sempat kehilangan kabar dari salah satu pasien berumur 60 tahun yang telat membalas chat saya. Ternyata pasien yang saya dampingi telah tutup usia. Kankernya telah mencapai stadium 4.

Kalau bertemu langsung, saya dan teman-teman yang tergabung di pilar relawan pendamping pasien kanker payudara YKPI selalu ada cara atau pendekatan lain, jika ada respon tidak baik dari pasien terhadap pengobatan medis. Namannya relawan pendamping, tentu ada batasannya. Kita kan bukan dokter atau tim medis. Tidak boleh memaksa dan sifatnya hanya membantu. Karena saya pernah ada di posisi mereka, saya tentu akan memberikan yang terbaik yang saya tahu dan bisa untuk kesembuhan mereka.

Sejumlah saran yang biasa saya berikan diantaranya menjaga pola hidup sehat guna meningkatkan imunitas, tetap fokus pada pengobatan medisnya dan jangan mencoba pengobatan alternatif yang belum teruji kebenarannya. Kadang saya juga menceritakan pengalaman melewati masa-masa sulit mengalahkan kanker tapi tetap harus semangat demi keluarga tercinta.

Saya juga menyarankan bagi yang sudah selesai pengobatan kemoterapi dan radiasi, jangan lupakan medical check up, ada yang sebulan sekali, tiga bulan sekali, tetap lakukan itu. Meski tidak ada keluhan tetap harus rutin check up, jangan sampai terlewat dan selalu konsultasi dengan dokter.

Tugas saya yang lain sebagai relawan pendamping pasien kanker payudara adalah bertugas mendata pasien kanker payudara di RSKD. Selanjutnya, masing-masing relawan mengambil peran untuk memberikan dorongan moral bahwa kanker tidak perlu ditakuti melainkan ditaklukkan.

Saya sendiri terkena kanker payudara pada Oktober 2014 ketika usia saya 38 tahun, dan lagsung divonis stadium 2B. Ada benjolan di payudara saya. Beruntung, waktu itu kondisinya cukup bagus meski kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening. Sehingga saya tidak perlu melakukan mastektomi.

Menjalani proses pengobatan pasca operasi beratnya memang bukan main. Saya sempat merasa uring-uringan hingga tidak merasa nafsu makan. Namun anak selalu menjadi penyemangat. Apalagi dia senang menemani saya ke rumah sakit waktu itu.

Hingga kini, saya masih terus melakukan medical check up ke rumah sakit setiap enam bulan sekali. Dan akibat pandemi, kegiatan rutin itu sempat tertunda karena adanya pembatasan pasien di RS Kanker Dharmais. Setelah mengikuti beberapa kegiatan webinar kanker payudara yang diselenggarakan YKPI bahkan berkesempatan memandu webinar sebagai moderator, saya sadar, pandemi tak dapat mencegahnya untuk berobat selamat mematuhi protokol kesehatan.

Saya harap, penyintas kanker seperti saya tetap semangat berobat meski covid-19 belum saja berakhir. Saya yakin selama kita mematuhi protokol kesehatan, pandemi bukan alasan menunda pengobatan. Semangat ya sahabat YKPI. Bersama kita kalahkan kanker dan rasa takut berobat secara medis.

 

Penulis: Endang Juniarti (Survivor kanker payudara)

Share this post