Neni Ismail, Merajut Payudara Artifisial untuk Penyintas

Neni Ismail, Merajut Payudara Artifisial untuk Penyintas

Jakarta – Hidup dengan satu payudara tak jarang membuat perempuan merasa minder. Namun tidak bagi Neni Ismail, yang telah kehilangan satu payudaranya akibat terkena kanker payudara.

Alih-alih berputus asa, Neni yang terkena Ca Mammae (istilah untuk kanker payudara) pada awal 2018, mengalihkan kesedihannya dengan merajut knokers atau payudara artifisial. Knokers hasil buatanya, dia bagikan secara cuma-cuma ke sesama penyintas yang sudah memasuki tahap mastektomi.

Kepada Jurnas.com, Neni menceritakan awalnya memang tak pernah menyangka akan terjangkit kanker payudara. Pasalnya, perempuan ini rutin mempraktikkan pola hidup sehat, mulai dari berenang, lari, hingga makanan bergizi.

Namun kecurigaan Neni muncul pada Februari lalu, saat payudaranya terasa seperti kesetrum ketika disentuh. Semakin lama, rasa kesetrum semakin sering, dan anehnya hanya di satu titik.

Ketika diraba pun Neni tidak merasakan apa-apa, hingga suatu saat dia diperiksa di Puskesmas, dan dokter menemukan benjolan sebesar 2-3,5 cm, yang letaknya agak di dalam.

Untuk memastikan hal itu, Neni dirujuk ke dokter bedah. Dokter pun menyarankan benjolan di payudara Neni supaya diangkat dan dibiopsi eksisi.

Pada akhir Februari, benjolan di payudara Neni diangkat. Dan secara hampir bersamaan, hasil patologi anatominya keluar. Dia dinyatakan menderita kanker payudara, dengan kecurigaan awal ganas.

Dua minggu setelah menjalani patologi anatomi, pemeriksaan imunohistokimia atau IHK Neni juga keluar. Neni diminta untuk merujuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, untuk proses pengangkatan seluruh payudaranya.

“Seluruh payudara saya harus diangkat, karena ada tulisan tepian tidak bersih dianggap ada sisa sel kankernya,” lirih Neni.

Sebelum operasi pengangkatan, Neni sempat diberikan dua pilihan oleh dokter. Pertama, payudara diangkat lebih besar namun tidak seluruhnya, dan kedua diambil seluruhnya.

Jika Neni mempertahankan sisa payudaranya, maka selanjutnya dia harus menjalani proses kemoterapi dan radiasi. Sementara jika dimastektomi, proses tersebut tidak diperlukan.

“Akhirnya mastektomi, ternyata efek kelenjar getah bening ikut diangkat, dan dokter bilang tidak boleh mengangkat beban berat,” tuturnya.

Kepada Neni, dokter mengatakan operasi kanker payudara dalam beberapa kasus, juga ikut mengangkat kelenjar getah bening. Adapun setiap orang berbeda jumlah kelenjar getah bening yang diangkat.

“Progresnya setelah ada pemeriksaan lagi ternyata jaringan saya tidak ada, tidak tahu kenapa hilang jaringannya,” lanjut Neni.

Tak hanya Mastektomi, Neni juga juga menjalani operasi pengangkatan indung telur oleh dokter kandungan. Saat itu usianya sudah menginjak 48 tahun. Sementara jika indung telur diangkat, dia dipastikan tidak bisa hamil lagi.

“Kalau di usia itu tidak ada rencana hamil mending angkat rahim dan serviks, supaya menyebar,” kata Neni.

Akhirnya, Neni menyimpulkan bahwa setiap perempuan wajib melakukan deteiksi dini. Dan jika hasil deteksi dini juga harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis.

“Meski saya sudah menjalankan hidup sehat, berenang, lari, dan makan sehat ternyata bisa juga kena,” kenangnya.

Meski kini ia menjalani hidup dengan satu payudara, namun Neni tetap semangat. Energinya dipakai untuk merajut knokers dari benang wol yang dimasukkan dalam bra.

“Awalnya saya sendiri, lama-lama banyak yang nyumbang benang dan saya bikin banyak, kami bikin grup enam orang kita bagi-bagi. Ukurannya ada yang besar dan kecil sesuai keinginan,” tandasnya.

Share this post