Meluruskan Stigma Negatif Perawatan Paliatif

Meluruskan Stigma Negatif Perawatan Paliatif

Jakarta, YKPI – Kepala Instalasi Paliatif Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Maria Witjaksono, MPALLC(FU) menyebut perawatan paliatif masih kerap mendapatkan stigma negatif di masyarakat maupun kalangan tenaga kesehatan.

Banyak orang berpikir, lanjut dr. Maria, bahwa perawatan paliatif hanya untuk pasien yang akan meninggal. Padahal kenyataannya tidak demikian.

“Justru perawatan paliatif dibutuhkan sejak awal. Bahkan ketika sel kanker itu belum ganas,” kata dr. Maria dalam kegiatan Temu Virtual Alumni Pelatihan Pendamping Kanker Payudara Angkatan I-V bertajuk ‘Perawatan Paliatif Pasien Kanker Payudara di Masa Pandemi Covid-19: Lebih dari Sekadar Masalah Klinis’, yang digelar Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada Sabtu (19/9) lalu.

Alumnus fakultas kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut menyontohkan, pada kondisi pasien belum didiagnosa kanker payudara, sementara dicurigai bahwa itu adalah kanker payudara stadium lanjut, maka pasien membutuhkan perawatan paliatif.

“Untuk apa? Yang utama bagaimana mereka bebas dari gejala yang sedang atau akan mereka rasakan,” terang dr. Maria.

Adapun bagi mereka yang baru didiagnosa kanker payudara, maka bukan hal yang mudah untuk menerima penyakit tersebut begitu saja. Maka perawatan paliatif bermanfaat bagi pasien untuk mengerti tentang penyakitnya.

“Pasien bisa menerima penyakitnya dengan baik, dengan demikian pasien bisa kita ajak untuk berdiskusi, mengenai pengobatan apa yang terbaik untuk pasien tersebut,” papar dr. Maria.

Selain stigma negatif, perawatan paliatif juga sulit dilakukan akibat kurang tepatnya respons keluarga. dr. Maria menjelaskan, ada banyak keluarga yang tetap memaksakan pengobatan, ketika dokter menyatakan bahwa sudah tidak ada lagi pengobatan bagi pasien yang menderita kanker stadium lanjut.

Disaat seperti ini, dikatakan dr. Maria, perawatan paliatif sebetulnya akan sangat bermanfaat. Karena justru saat-saat  seperti ini merawat pasien yang bisa dikatakan sudah tidak bereaksi terhadap pengobatan kuratif, jauh lebih penting daripada memaksakan diri untuk melakukan tindakan yang dokter sendiri sudah tidak dapat lagi merencanakan pengobatan medis untuk si pasien.

Selain karena hasilnya tidak akan lebih baik, tambah dr. Maria, memaksanakan pengobatan dalam kondisi tersebut juga akan membuat pasien kehilangan waktunya untuk bisa bersama dengan keluarga.

“Dengan tidak dilakukan tindakan yang invasif, menyebabkan pasien memiliki harapan hidup yang panjang,” tandas dr. Maria.

Share this post