Kisah Dosen Pejuang Kanker di Usia 43 Tahun

Kisah Dosen Pejuang Kanker di Usia 43 Tahun

Jakarta, YKPI – Ada yang mengganjal di benak Yolanda ketika sebuah benjolan muncul di payudara kanannya pada akhir November 2018. Benjolan itu, kata Yolanda, semakin lama semakin membesar.

Pemilik nama lengkap Yolanda Stella Rosa inipun langsung bergegas mencari informasi melalui internet. Yolanda was-was apabila benjolan itu menjadi tumor ganas atau kanker.

Sembari mencari informasi, dosen sekaligus Wakil Rektor LSPR Communication and Business Institute itu juga memeriksakan diri ke dokter, untuk mengetahui benjolan di payudara kanannya.

Namun sayang, selama satu bulan Yolanda tak kunjung berhasil bertemu dengan dokter, karena kendala padatnya jadwal pemeriksaan.

“Akhirnya di penghujung akhir tahun, ada dokter bedah yang menerima saya dan memeriksa. Kebetulan, itu hari terakhir praktik dokter,” kenang Yolanda dalam virtual talkshow `YKPI Goes to Campus: Deteksi Dini Kanker Payudara, Kapan Dimulainya?` yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada Jumat (21/8) lalu.

Oleh dokter, Yolanda diminta langsung melakukan pemeriksaan mammografi dan USG. Namun hasilnya tidak bisa langsung diketahui, karena berbenturan dengan masa cuti dokter.

Dan dua hari setelah tahun baru 2019, Yolanda mendapatkan kabar. Dokter menyarankannya melakukan biopsi dengan pembedahan.

“Kalau tumor ganas akan langsung dimastektomi karena ukurannya sudah mencapai 3 cm,” tuturnya.

Yolanda kaget bukan kepalang. Di tengah kesedihan, Yolanda mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter bedah lain pada 4 Januari 2019. Namun jawabannya tetap sama. Yolanda harus dibiopsi.

“Akhirnya tanggal 15 Januari 2019 proses operasi berlangsung. Saya bersyukur Tuhan masih memberikan kehidupan kedua, setelah didiagnosis dokter saya mengidap kanker payudara stadium dua di usia 43 tahun,” kata Yolanda.

“Tekad saya waktu itu, saya harus berjuang dan bersahabat dengan kanker, karena saya masih punya dua anak yang ingin saya dampingi hingga dewasa,” imbuh Yolanda.

Pasca operasi, Yolanda sudah menjalani enam kali kemoterapi. Yolanda mengakui tida mudah melewati fase ini, karena perempuan itu sempat mengalami alergi hebat.

“Itulah kenapa kemoterapi berikutnya saya was-was. Tapi Alhamdulillah berjalan lancar. Sampai sekarang saya masih menjalani terapi hormonal,” ujarnya.

Di akhir, Yolanda mengimbau kepada masyarakat khususnya para perempuan untuk melakukan deteksi dini. Menurutnya, jika kanker bisa dideteksi pada stadium awal dan disertai dengan tindakan medis, maka tingkat kesembuhannya sangat besar.

“Sampai saat ini saya masih terus berkarir dan beraktivitas, dan tidak terlepas dari dukungan luar biasa dari keluarga dan lingkungan sekitar. Apalagi setelah operasi saya bergabung dengan YKPI, saya tidak sendiri lagi. Saya percaya hidup dan mati kehendak Tuhan,” tandas Yolanda.

Sumber: Jurnas.com

Share this post