Kasus Kanker Payudara Tinggi karena Sering Diabaikan

Kasus Kanker Payudara Tinggi karena Sering Diabaikan

Jakarta, YKPI – Ahli bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, dr. Walta Gautama, SpB(K)Onk menyebut tingginya angka kasus kanker payudara di Indonesia sebab kerap kali diabaikan (denial) oleh masyarakat, khususnya kaum perempuan.

Padahal sebagian besar perempuan mengetahui bahwa pemeriksaan dini kanker payudara sangat penting dilakukan, guna mencegah kanker payudara stadium lanjut.

“Pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong seseorang melakukan tindakan yang benar. Karena tindakan pertama yang dilakukan wanita selalu denial, mereka menyangka ini pasti bukan kanker,” terang dr. Walta dalam kegiatan ‘Virtual Sosialisasi: Deteksi Dini Kanker Payudara dalam Keterbatasan Sarana dan Tenaga Bedah Onkologi’ untuk Indonesia Timur, pada 19 Augustus 2020.

Masih banyak ditemui, lanjut dr. Walta, setelah seorang pasien didiagnosis kanker payudara mereka akan mencari dokter-dokter lain, sampai ada yang menyatakan bahwa yang dideritanya bukan kanker.

“Kalau semua dokter bilang kanker, dia akan cari alternatif, yang bagaimana caranya agar dia tidak melewati operasi pembedahan,” jelas dr. Walta.

Operasi pembedahan kanker payudara memang masih menjadi momok bagi sebagian besar perempuan. Pasalnya, mereka takut kehilangan payudara yang merupakan mahkota bagi perempuan.

Namun dr. Walta memastikan tidak semua operasi kanker payudara akan melakukan pengangkatan payudara. Saat ini sudah ada teknik-teknik lain dalam pembedahan.

“Sekarang juga berkembang Teknik Rekonstruksi, ada yang menggunakan lemak atau otot dari pasien untuk digeser, atau menggeser jaringan payudara bila memungkinkan,” ujar dr. Walta.

Lebih lanjut dr. Walta menambahkan, bagaimanapun deteksi dini penting dilakukan agar kanker payudara tidak memasuki stadium lanjut. Sebab bila sudah masuk stadium lanjut, angka kesembuhan semakin menipis.

“Kalau kanker payudara, orang yang datang stadium satu lalu dia tunda jadi stadium tiga, itu beda penanganannya, beda terapinya. Yang stadium empat beda lagi,” tandas dr. Walta.

Secara umum, angka kesembuhan kanker payudara akan tetap tinggi dengan syarat melakukan deteksi dini, mendapatkan diagnosis yang tepat, serta terapi yang tepat.

Diketahui, kegiatan ‘Virtual Sosialisasi: Deteksi Dini Kanker Payudara dalam Keterbatasan Sarana dan Tenaga Bedah Onkologi’ untuk Indonesia Timur digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dan dibuka langsung oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar.

 

Sumber: Jurnas.com

Share this post