Kanker Payudara “Dekatkan” Nurul dengan Tuhan

Kanker Payudara “Dekatkan” Nurul dengan Tuhan

Jakarta – Saat pertama kali mendengar vonis kanker payudara, Nurul Hidayah lemas tak berdaya. Perasaan sedih dan hancur campur aduk. Namun siapa sangka, justru penyakit itu membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.

Kisah itu dialami pada awal 2015 silam. Sebab merasa ada benjolan di payudara kirinya, Nurul datang ke dokter. Namun tak dinyana, dokter langsung memvonisnya kanker ganas stadium awal, dan berpotensi meletus jika tak segera ditangani.

“Walaupun masih kecil benjolannya, belum ada tiga sentimeter namun hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan untuk payudara saya meletus,” ucap Nurul kepada Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Nurul patah arang. Kenyataan itu bahkan sempat membuat perempuan kelahiran 2 Juni 1973 ini menyalahkan Tuhan atas penyakitnya.

“Kenapa ya Allah? Waktu itu saya hanya butuh untuk sendiri dan merenung. Jujur saja saya tidak tahu harus ke mana atau berbuat apa,” lirihnya.

Di tengah kesedihannya, Nurul memutusan berjalan kaki ke luar rumah tanpa tujuan. Sepanjang jalan, vonis dokter terngiang-ngiang di kepalanya. Beribu pertanyaan mengapa yang muncul, pada akhirnya berujung tanpa jawaban.

Sibuk mencari jawaban, Nurul tanpa sadar bahwa dia telah berjalan terlalu jauh dari rumah. Sudah 15 kilometer dia lalui tanpa kelelahan, karena dirundung kesedihan yang teramat sangat.

Akhirnya, dengan hati mantap Nurul mengambil keputusan penting kala itu. Dia akan hadapi sesakit dan sesulit apapun, kanker yang menggerogoti payudaranya.

“Karena ternyata baru saya sadari bahwa saya punya keluarga dan teman-teman yang peduli dan sayang pada saya. Apalagi saya punya empat anak yang amazing, saya ingin berjuang lebih lama untuk hidup mendampingi mereka juga mengajarkan mereka untuk lebih dekat pada Tuhan dan mengantar mereka ke masa depan,” tutur ibu empat anak ini.

Sejak keputusan besar itu ia kukuhkan, Nurul kembali menemui dokter lagi dan menyatakan bersedia untuk operasi Mastektomi.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski dokter jadwalkan kemoterapi sebanyak delapan kali yang sangat menyiksa, namun ternyata bila kita resapi dan lakukan dengan ikhlas semua itu terasa nikmat karena dengan sakit ini dosa-dosa kita berguguran,” ucapnya penuh haru.

Nurul pun konsisten menjalani semua perintah dokter, ia yakin dan percaya tetap pada Allah bahwa hidup dan mati rahasia-Nya, bukan karena masalah kanker.

Sekarang telah hampir 4 tahun berlalu, Nurul merasa sehat dan ia berharap akan selalu sehat. Tidak muluk-muluk ia selalu positif thinking dan selalu menjaga pola hidup juga pola makan. Nurul percaya kita bisa bila berusaha dan jangan pernah lari dari kenyataan.

“Hikmahnya karena ini semua saya jadi lebih dekat pada Allah, lebih religius, lebih tahu artinya ikhlas dan memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda dari sebelum saya divonis kanker. Tidak boleh lari dan takut pasrah kepada tuhan setelah berusaha semaksimal mungkin,” ucapnya.

Kini Nurul tetap menjalankan aktivitasnya meski banyak berubah karena ia tak boleh terlalu lelah. Sebelum kanker menyerangnya, Nurul kerja di konveksi sekarang di rumah sambil terima pesanan sprei atau apapun yang bisa ia jahit.

“Saya suka banget menjahit dan masak kue atau masakan apa saja, asyik di dapur saya. Sering juga ada yang datang mijitin bayi kerumah karena saya belajar fisioterapi juga untuk baby sejak saya punya anak pertama. Saya menyukai semua yang saya lakukan,” pungkasnya.

Share this post