Kanker Payudara Butuh Puluhan Tahun sebelum Jadi Ganas

Kanker Payudara Butuh Puluhan Tahun sebelum Jadi Ganas

Jakarta, YKPI – Ahli bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, SpB.K.Onk MARS MEpid mengatakan bahwa kanker payudara tidak terjadi secara spontan.

dr. Sonar menerangkan kanker payudara membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun sebelum akhirnya mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel ganas.

“Bahkan sel kanker payudara untuk mencapai ukuran 1 sentimeter itu butuh waktu tiga sampai lima tahun. Makanya, tidak ada kanker payudara yang tiba-tiba,” kata dr. Sonar dalam kegiatan ‘Webinar Kanker Payudara: Seberapa Dini Penanganan Kanker Payudara?’ yang dilaksanakan oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia bekerja sama dengan para dokter RSKD Jakarta, pada Jumat (24/7), dan diikuti oleh 500 peserta dari seluruh Indonesia.

Perjalanan sel Kanker itu membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun, oleh karenanya dr. Sonar mengimbau masyarakat Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker payudara.

Metode deteksi Dini ini ada berbagai macam, mulai dari periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), Mammografi, MRI, USG, CT Scan, hingga PET.

“Yang paling bagus itu MRI. Tapi kekurangannya pemeriksaan memakan waktu sampai satu jam, biayanya mahal, dan ketersediaannya terbatas,” terang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.

Kalau boleh memiliih dikatakan dr Sonar silakan pakai Mammografi dan USG. “Pertanyaannya, seberapa efektif? Memang belum 100 persen, tapi tetap masih lebih bila dibandingkan dengan periksa sendiri,” sambung dr. Sonar.

DR. Sonar menambahkan bila kanker payudara dapat ditemukan pada stadium 0 maupun 1 berpeluang sembuh lebih besar.

“Selain angka ketahanan tinggi juga ada keuntungan lain. Untuk stadium 0 atau 1 hampir tidak harus melakukan penyinaran atau kemoterapi. Dan kalau tidak menyebar ke getah bening, maka tidak perlu dilakukan pengambilan kelenjar getah bening, sehingga mengurangi kemungkinan limfedema,” tandas dr. Sonar.

Share this post