Irianti: Khawatir Kanker Payudara Menurun Pada Anak Perempuanya

Irianti: Khawatir Kanker Payudara Menurun Pada Anak Perempuanya

Kanker payudara pada dasarnya dapat menyerang siapapun. Kanker payudara bisa menyerang tanpa memandang usia, status ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.

Penelitian menunjukkan munculnya kasus kanker payudara  5-10 persen  berhubungan dengan faktor genetik. Namun apakah benar kanker payudara itu bersifat menurun? Jika ibunya terdiagnosis, maka anak perempuanya akan otomatis akan terkena.

Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri dari seorang penyintas kanker payudara asal Surabaya, Irianti, yang memiliki anak perempuan. Irianti paham benar jika ada banyak hal yang dapat menimbulkan risiko terkena kanker payudara.

Pola hidup tak sehat, jarang berolahraga, hingga konsumsi makanan berlemak masuk dalam list penyebabnya. Tapi tetap saja, Irianti harus lebih waspada pada segala kemungkinan terburuk. Ia tidak mau anak perempuanya mengalami hal sama dengannya.

Kekuatiran Irianti diperkuat dengan pernyataan dr. Zora Revina yang pernah diulas Jurnas.Com pada berita  Juli lalu. Dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) ini mengatakan faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu pemicu risiko kanker payudara.

Karena itu, kata dr. Zora, bagi keluarga yang memiliki riwayat terkena penyakit ini, harus memeriksakan diri sebelum terlambat.

“Kalau ibunya menderita kanker payudara, maka anaknya yang perempuan bisa jadi ada risiko terkena kanker payudara. Untuk memastikan hal itu, nanti ada screening-nya untuk menghitung presentase si anak terkena kanker,” ujar dr. Zora kala itu.

Kendati begitu,  dr. Zola menggarisbawahi, meski faktor keturunan bisa memicu risiko kanker payudara, tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan terkena kanker payudara.

Ia menambahkan berkembangnya ilmu dan teknologi di bidang bedah payudara saat ini, serta penanganan secara professional dari tim medis menjadikan kanker payudara dapat didiagnosis sedini mungkin sehingga penderita dapat menjalani operasi dengan berbagai macam pilihan tehnik terkini sesuai dengan standar dan protokol internasional.

Irianti kemudian mengenang asal mula dirinya divonis kanker payudara. Tahun 2015, ia begitu yakin akan terkena kanker ketika puting susunya masuk ke dalam meski tanpa rasa sakit. “Lalu ada benjolan 2 CM, saya deg-degan, tapi saya bertekat harus segera memeriksakan diri ke dokter. Cek medis. Karena puting saya juga tambah masuk,” katanya.

Perkembangan kankernya, ditambahkan Irianti, sangatlah cepat. Tapi ia bersyukur karena tidak menunda melakukan cek medis dan tidak berlari ke pengobatan alternatif. “Saya enam kali kemo, minum obat dan langsung operasi,” ujar Irianti yang sempat melakukan rekonstruksi payudaranya pasca operasi dengan mengambil lemak dari perut.

“Bagi penderita kanker yang masih muda, jangan terlalu risau dengan penampian payudara kita, karena payudara bisa digantikan dari lemak bagian tubuh lain,” semangatnya untuk memotivasi penyintas yang lebih muda.

Ya, semangat itu bagai obat kedua selain tindakan medis. Irianti mengatakan selalu mengajak suami dan anaknya selama mengikuti pengobatan. “Kita harus punya semangat untuk saling menyemangati agar hati selalu gembira dan bahagia. Sebagai penyintas kita punya kewajiban moral untuk memberikan dampingan pada sesama penyintas. Kita tidak sendiri. Kita bersama lawan penyakit ini,” seru Irianti lagi.

Share this post