Ini Perbedaan Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Ini Perbedaan Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Skrining dan deteksi dini merupakan dua istilah yang sering kali digunakan dalam kasus kanker payudara. Meski keduanya sama-sama bertujuan sebagai langkah pencegahan kanker payudara, skrining dan deteksi dini punya perbedaan yang signifikan.

Ahli bedah onkologi Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, SpB.K.Onk MARS MEpid mengatakan terdapat enam tahap perjalanan kanker payudara, mulai dari sel sehat hingga berujung kematian.

Keenam tahap tersebut ialah healthy cells (sel sehat), abnormal cells (sel abnormal), pre-invasive cancer (kanker pra-invasif), invasive cancer (kanker invasif), cancer spread (penyebaran kanker), dan death (kematian).

Yang disebut skrining (screening), lanjut dr. Sonar, ialah pemeriksaan yang dilakukan sebelum ada keluhan. Atau dalam proses tersebut mengetahui kanker payudara saat masih di tahap sel sehat, sel abnormal, atau kanker pra-invasif.

Adapun sebaliknya, deteksi dini merupakan pemeriksaan setelah ada keluhan dan biasanya ukuran kanker sudah di atas satu sentimeter.

“Idealnya, kalau kita bisa mendeteksi di daerah sel yang masih sehat itu hebat sekali. Bisa memperkirakan seseorang bisa menjadi kanker. Pemeriksaan ini sedang dikembangkan. USD payudara dan mamografi yang sudah standar kita gunakan baru bisa mendeteksi kanker berukuran di atas 1 CM,” terang dr. Sonar dalam kegiatan ‘Webinar Kanker Payudara: Seberapa Dini Penanganan Kanker Payudara?’ pada Jumat (24/7) yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia, dan diikuti oleh 500 peserta dari seluruh Indonesia.

“Yang sekarang kita punya dengan USG dan mammografi baru sampai di tahap invasive cancer ke kanan. Makanya ada istilah early diagnosis atau deteksi dini,”

Lebih lanjut dr. Sonar menjelaskan, deteksi dini adalah jenis pencegahan sekunder. Adapun pencegahan primer kanker payudara ialah dengan menghindari faktor risiko.

Di antara faktor risiko kanker antara lain obesitas, kurang berolahraga, alkohol, penggunaan obat hormon, tidak menyusui, genetik, dan peningkatan usia.

Namun pada praktiknya, menghindari faktor risiko itu kerap kali sulit dilakukan. Padahal menurut dr. Sonar, hal itu sangat efektif untuk mencegah kanker payudara.

“Misalnya untuk faktor genetik, kalau kita bisa menemukan gen ini, kita bisa mencegah hampir 85 persen kanker payudara. Cuma masalahnya, bahwa gen yang disebut BRCA ini tidak banyak. Biasanya di populasi wanita itu cuma 5-10 persen,” tandas mantan Dirut Rumah Sakit Kanker Dharmais tersebut.

Sementara Ketua YKPI Linda Agum Gumelar menegaskan bahwa upaya pencegahan kanker payudara sangat penting dilakukan. Pasalnya, hingga saat ini jumlah kasus kanker payudara menjadi nomor dua di Indonesia setelah kanker paru-paru.

“Pada umumnya mereka baru datang ke dokter 70 persen ketika sudah berada dalam stadium lanjut. Padahal apabila diketahui sejak awal, angka harapan hidupnya bisa lebih tinggi,” kata Linda.

Share this post