Hati-hati Gunakan Kallimat “Apa Kabar” untuk Pasien Kanker

Hati-hati Gunakan Kallimat “Apa Kabar” untuk Pasien Kanker

Jakarta – Bagi seorang pendamping pasien kanker payudara, pemilihan kata dan kalimat dinilai sangat penting. Selain guna menghindari salah persepsi, juga agar memberikan kesan bahwa seorang pendamping sedang berempati, bukan bersimpati.

Psikolog Klinis Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Kanker Dharmais Nelly Hursepuny, M.Psi mengatakan, salah satu kalimat yang perlu dihindari yakni ‘Apa Kabar’. Meski sepele, rupanya kalimat ini dapat menciptakan kesan negatif, bila ditanyakan saat pertama kali bertemu pasien.

“Usahakan tidak menggunakan kalimat tersebut, apalagi memang belum pernah mengenal pasien,” kata Nelly usai acara Resertifikasi TUV Rheinland ‘Optimalisasi Peran Pendamping Pasien Kanker Payudara’ Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar, pada Sabtu (22/9).

“Pasien akan bertanya-tanya, memang sudah sejauh apa pendamping mengenal dia. Itu kesannya terlalu basa-basi,” imbuhnya.

Dari pada menggunakan pertanyaan ‘Apa Kabar’, Nelly menyarankan bagi pendamping memakai pertanyaan lainnya yang bernada netral, atau lebih baik memperkenalkan diri terlebih dahulu, supaya pasien mengenal si pendamping.

“Kesan pertama itu 3-7 menit, membuka peluang sejauh mana pasien menerima Anda sebagai pendampingnya,” ujar Nelly.

Nelly menambahkan, selain pendamping dari kalangan relawan, keluarga juga memiliki peran sangat sentral dalam memberikan dukungan terhadap pasien.

Seperti diungkapkan Nelly, pasien kanker payudara membutuhkan dukungan moral dan sosial, guna mengatasi tekanan psikologis pasca vonis dokter.

“Mereka mengalami kondisi psikologis seperti rasa takut, cemas, dan khawatir berlebihan. Mereka butuh dukungan emosional dari teman terdekat, baik keluarga maupun pendamping,” tandasnya.

Share this post