Hasta Sanders Berjuang Lawan Pengobatan Alternatif

Hasta Sanders Berjuang Lawan Pengobatan Alternatif

Jakarta – Praktik pengobatan alternatif untuk kanker payudara masih menjamur. Padahal selama ini belum ada fakta sahih yang membuktikan bahwa metode non-medis tersebut mampu menyembuhkan kanker payudara.

Hal inilah yang dirasakan oleh Hasta Sanders. Sebagai penasihat Bali Pink Ribbon Foundation, Hasta prihatin banyak penyintas yang lebih memilih pengobatan alternatif, ketimbang berobat langsung ke dokter.

Bahkan, sang kakak tercinta juga berpulang akibat kanker payudara, setelah menjalani pengobatan alternatif. Pengalaman itu membuatnya membulatkan tekad menjadi seorang pendamping kanker payudara, sekaligus mengenalkannya pertama kali dengan aktivis Bali Pink Ribbon.

Hasta sadar tingkat prevalensi kanker payudara di Bali cukup tinggi, yakni 1.233 penderita pada 2013. Dan pola pikir sebagian besar penyintas untuk berobat lewat alternatif, menjadi sebuah tantangan khusus.

“Belum lagi sebagian besar dari mereka sangat meyakini jika sakit adalah karma atau akibat ilmu hitam, sehingga tak mudah untuk diajak berobat,” tutur Hasta saat ditemui di acara Temu Penyintas Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta.

Pengobatan medis, lanjut Hasta, dulunya belum jadi pilihan utama. Malah, kebanyakan penderita kanker payudara datang ke rumah sakit, setelah memasuki stadium lanjut.

Kendati demikian, Hasta tidak menyerah dengan kondisi di tahah kelahirannya. Meski belum bisa mengubah pola pikir yang sudah mengakar terkait pengobatan alternatif secara menyeluruh, setidaknya dia sudah melakukan upaya maksimal.

Dan sekarang, lima tahun terakhir semenjak dia mulai menggelorakan pengobatan medis lewat sosial media, kesadaran perlahan tumbuh. Hingga suatu saat, kata Ellen, Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, sempat kebanjiran pasien kanker payudara.

Sebagai seorang penasihat, Hasta berharap kelak bersama Bali Pink Ribbon ia akan lebih banyak menyuarakan kewaspadaan dan pentingnya deteksi dini.

Tentang Bali Pink Ribbon

Bali Pink Ribbon didirikan oleh Gaye Warren, seorang penderita kanker payudara Inggris yang telah tinggal di Jakarta selama lebih dari dua puluh tahun. Setelah perawatannya sendiri untuk kanker payudara dan suaminya pensiun, mereka pindah dari Jakarta ke Bali.

Tak lama setelah itu, Gaye menemukan bahwa infrastruktur di Bali untuk membuat perempuan sadar akan kanker payudara hampir tidak ada, meskipun keahlian medis profesional tersedia di pulau itu dengan setidaknya dua rumah sakit menawarkan perawatan kanker payudara kepada pasien.

Sebagai anggota Asosiasi Perempuan Internasional Bali, Gaye dan dua temannya membujuk Ketua Umum BIWA untuk memulai kampanye penggalangan dana untuk kesadaran kanker payudara di Bali.

Dari benih kecil itu, mereka berempat mengembangkan prototipe Pita Pink Walk untuk Bali, berdasarkan pengalaman Gaye tentang Pita Merah Muda Berjalan di Inggris.

Share this post