Fun Walk Edukasi Masyarakat soal Jenis-jenis Kanker

Fun Walk Edukasi Masyarakat soal Jenis-jenis Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Ada yang berbeda di tengah pelaksanaan car free day, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada akhir pekan lalu. Sejumlah survivor dan warrior kanker, melakukan parade dengan warna kostum yang berbeda-beda setiap kelompoknya.

Ini merupakan kegiatan Fun Walk dengan tema `Cancer Ribbon Awareness`. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan masyarakat tentang kanker, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat seputar penyakit mematikan tersebut.

Sebenarnya pewarnaan pada jenis kanker lahir dari kebutuhan meningkatkan kepedulian akan kanker payudara. Adalah Susan G. Komen, memulainya pada 1980 untuk sebuah yayasan kanker payudara asal Amerika Serikat.

Kala itu, Susan melakukan donasi hingga akhirnya banyak warna untuk mengidentifikasi kanker, yang diperkenalkan oleh organisasi nirlaba lainnya.

Seperti di antaranya pita emas yang dipilih oleh organisasi kanker anak pada 1990-an. Warna emas konon dipilih untuk mengingatkan betapa berharganya anak-anak seperti emas.

Perlu diketahui, hingga hari ini setidaknya ada 30 warna pita untuk jenis kanker yang berbeda. Tapi sayangnya, yang populer di masyarakat hanya pita pink, yang digunakan untuk mengidentifikasi kanker payudara.

“Iya selama ini hanya tahu pita pink, belum tahu kalau ada pita warna lain,” kata Rizky asal Bekasi saat ditemui di arena car free day.

Senada dengan Rizky, Lona dari Kebayoran Lama juga hanya mengenal dua warna pita, yakni pita pink untuk kanker payudara dan pita emas untuk kanker anak.

“Pita emas tahu karena ada saudara yang menderita leukimia sejak usia balita,” tutur Lona.

Lain halnya dengan Ambar yang tidak begitu peduli dengan warna-warna pita kanker. Karena menurut dia, hal terpenting ialah menunjukkan dukungan untuk menyemangati penderita kanker.

“Apalagi jika orang itu dekat dengan kita. Tahu sih ada pita pink, pita ungu, pita emas, tapi karena simbol saja kan, dan sosialisasinya kurang banget. Intinya yang penting tunjukkan kita peduli dan dukung mereka yang sedang sakit kanker,” ujar mahasiswa asal Jambi ini.

Sementara Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyatakan sepakat bahwa sosialisasi dan edukasi mengenai kanker harus digalakkan di tengah masyarakat.

Menurut dia upaya tersebut juga akan menimbulkan kesadaran deteksi dini, sehingga diharapkan menekan angka kanker di Indonesia, yang saat ini menjadi pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan gagal ginjal.

“Deteksi dini itu sangat penting. Karena jika semakin cepat kanker diketahui, maka peluang untuk sembuh juga semakin tinggi,” jelas Linda.

Adapun dalam rangka melakukan sosialisasi, lanjut Linda, masyarakat maupun NGO tidak bisa berjalan sendiri. Dia menyebut upaya ini membutuhkan peran pemerintah dan swasta.

“Kami sebagai yayasan kanker yang merupakan mitra pemerintah, akan berupaya menekan kanker payudara stadium lanjut. Tapi harus ada kerja sama antara kami sebagai masyarakat, dengan pemerintah dan swasta,” tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Komentar senada juga disampaikan oleh dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Onkologi Prof. Sonar Soni Panigoro. Dia berharap angka pasien kanker yang datang ke rumah sakit, semakin lama semakin menurun, dengan cara melakukan deteksi dini.

“Informasi itu bisa diakses di berbagai media, salah satunya YKPI. Jadi silakan bapak dan ibu untuk mengakses website tersebut,” tutup Sonar.

Share this post