Efek Kemoterapi Ubah Hidup Ellen Oltarina

Efek Kemoterapi Ubah Hidup Ellen Oltarina

Jakarta – Bagi sebagian besar penderita kanker payudara, mimpi buruk bukan hanya bayangan kematian saja. Lebih dari itu, proses penyembuhan melalui kemoterapi juga sama mengerikannya.

Seperti disampaikan oleh Ellen Oltarina. Dia sempat mengeluh, karena efek pasca kemoterapi sangat menyiksanya. Namun beruntung, kesabaran dan keikhlasan mengantarkannya melewati fase tersebut.

Cerita Ellen berawal dari 2010 lalu, ketika dia mengetahui ada benjolan kecil. Sebab curiga, dia lalu mulai melakukan mammografi dan USG. Akan tapi kata dokter, hasilnya tidak mengkhawatirkan, sehingga tidak perlu menjalani operasi.

Setahun berlalu. Ellen yang sempat melanjutkan pemeriksaan melalui biopsi, tidak menemukan perubahan yang signifikan. Karena itu dia santai.

“Nah di tahun 2014 itulah, tiba-tiba benjolan menjadi aneh, membesar begitu cepat dan keras hingga payudara saya tidak bisa digerakkan atau remas seperti layaknya payudara normal,” tutur Ellen kepada Jurnas.com.

Awalnya, Ellen mengira payudaranya mengeras karena akan kedatangan tamu bulanan (menstruasi, red). Namun karena terasa aneh, dia memilih pergi ke dokter.

“Pikiran saya langsung menduga kalau ini Ca Mamae,” sambungnya.

Dokter pun kembali melakukan biopsi, dan hasilnya seperti apa yang dia pikirkan. Ellen mengidap kanker payudara stadium 2A, Her 2 positif.

“Karena saat itu usia saya 52 tahun dan menstruasi masih lancar normal, kata dokter harus diberhentikan dulu. Akhirnya target Mastektomi tiga bulan, dan saya harus jadwal kemo preop tiga kali per tiga minggu, ditambah setiap malam hari minum Femara,” ujar ibu dua anak ini.

Ada hal unik yang dirasakan perempuan asal Cirebon ini, waktu kali pertama divonis kanker payudara. Karena sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk, ia pun tetap ngobrol dengan dokter layaknya perempuan sehat.

“Tapi entah mengapa air mata menetes sendiri satu demi satu, bulir turun perlahan, rasanya tidak sopan banget terlihat biasa tapi menangis, mungkin denial kali ya, padahal ekspresi biasa sambil ngobrol gitu. Begitu sampai di rumah baru saya menangis, tapi Alhamdulillaah saya tipe yang semangat mungkin karena saya biasa bekerja ya jadi ada pengalihan,” tuturnya.

Sebelum menjalani proses kemoterapi, hasil patologi anatomi menyatakan kanker Ellen sudah sampai stadium 3B. Dia memilih tak reaktif, karena sebelumnya sudah banyak membaca banyak referensi soal kanker.

“Saya sudah sering mendengar kisah orang-orang yang menjalani kemo,” ungkap pegawai Bank milik BUMN ini.

Singkat cerita, Ellen menjalani kemoterapi. Dari tiga kali kemoterapi, Ellen mengakui situasi paling berat yakni pascakemo ketiga, yang dia rasakan luar biasa efeknya. Padahal kemoterapi sebelumnya, ia mengakui masih bisa santai jalan-jalan ke mal.

Tapi kali ini Ellen merasa pusing. Perutnya terasa mual dan mulai malas makan, perasan tidak karuan, seluruh badan linu, nyeri luar biasa terutama kaki tangan. Penderitaan itu ditambah dengan perut seringkali membesar dan seolah mau meletus.

“Seluruh sisi mulut saya sariawan, lidah putih menebal rasanya benar-benar tidak nyaman, karena pengaruh steroid tangan bengkak besar sekali, muka, tangan, dan kaki menghitam, ditambah muka bulat moon face,” ungkap Ellen lagi.

Ellen menceritakan, selama masa kemoterapi, ia diberi obat Mycostatin oleh dokter. Setiap pagi pun ia harus membersihkan lidahnya dengan alat kerok lidah.

Namun sampai habis dua botol obat, putih di lidah Ellen tak kunjung hilang. Perempuan ini juga merasa susah makan, sementara badannya terus bertambah gemuk hingga naik 16 kilogram.

Rasa kebas dan kesemutan seakan sudah menjadi langganan. Hingga akhirnya dia mengalami paru-paru basah pada suatu waktu.

“Alhamdulillah belum perlu disedot bisa dengan terapi, ketika bengkak sempat dirujuk ke dokter bedah vaskuler, beberapa bulan saya dikasih obat pengencer darah Xarelto,” tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ. Efek meminum obat pengencer darah membuat kuku kakinya copot tanpa terasa. “Sampai pernah sempat kesenggol sepeda sedikit  tidak merasa apa-apa, tiba-tiba banyak darah segar di bawah saya kaget, ini darah apa ya ternyata darah dari kaki saya,” ucapnya.

Belum pula hilang efek kemoterapi, Ellen dihampiri oleh penyakit limfedema, yakni pembengkakan yang umumnya terjadi pada salah satu atau kedua lengan dan tungkai,yang disebabkan oleh penghambatan atau gangguan pada sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem imun dalam tubuh.

Umumnya, limfedema terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan atau terapi kanker payudara. Berkat penyakit tersebut, Ellen harus menambah jadwal berobatnya di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

“Saya sempat terapi setiap hari senin hingga jumat selama kurang lebih dua bulan,” lanjutnya.

Waktu pun berlalu. Kini Ellen dinyatakan tidak perlu berobat. Namun dokter tetap memintanya rutin kontrol ke dokter selama tiga bulan sekali, rutin periksa CA153 dan CEA tiap enam bulan sekali, dan petscan.

Sampai pada di titik ini, Ellen menekankan bahwa kuncinya ialah kesabaran, ikhlas dan semangat yang tinggi. Dia yakin semua butuh proses, semangat juang harus selalu ekstra tinggi, sabar, dan ikhlas menjalani semua perawatan.

Ellen pernah membaca sebuah buku yang menyebut bahwa penyintas harus berdamai dengan penyakit dalam tubuhnya. Dan itu lalu ia praktikkan.

“Ternyata benar banget manfaatnya terasa, apapun selalu dibuat happy meski tidak sesuai harapan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Ellen coba mengambil makna postif dari proses yang ia jalani, hidup jadi lebih sehat dan makan yang mengandung gizi.

“Kunci utama terltak pada ikhlas yang membuat saya selalu besyukur dan pasrah pada semua upaya juga tidak mengeluh. Jika saya masih sering mengeluh berarti saya belum ikhlas dan harus dikoreksi lagi , perbaiki lagi dan belajar lagi, begitu seterusnya,” pungkas Ellen

Share this post