CEO LSPR: Ibu Saya Terkena Kanker Payudara Usia 75 Tahun

CEO LSPR: Ibu Saya Terkena Kanker Payudara Usia 75 Tahun

Jakarta, YKPI – Founder sekaligus CEO London School of Public Relations (LSPR) Communication and Business Institute, Prita Kemal Gani menyimpan kisah pilu, ketika sang ibu divonis terkena kanker payudara di usia 75 tahun.

Kala itu, Prita yang sudah memiliki tiga orang anak merasa sangat ketakutan kanker akan merenggut ibundanya. Maklum, sejak usia lima tahun Prita sudah ditinggal wafat oleh sang ayah, sehingga Prita tidak ingin lagi kehilangan ibu yang sangat dia cintai.

“Saya pikir rasa takut itu akan hilang ketia saya dewasa dan menjadi mandiri, namun ternyata perasaan itu tak hilang, karena saya selalu bergantung kepada ibu saya. Saya harus meminta pendapat ibu saya atas pilihan yang akan ambil,” tutur Prita dalam virtual talkshow `YKPI Goes to Campus: Deteksi Dini Kanker Payudara, Kapan Dimulainya?` yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada Jumat (21/8) lalu.

Namun Prita tidak pasrah. Dia selalu memberikan dukungan dan menemani pengobatan sang ibu untuk melawan kanker tersebut.

“Saya juga selalu memohon kepada Tuhan jangan ambil mami saya,” kenang Prita.

Belajar dari pengalaman itulah, Prita meyakini bahwa penyintas kanker payudara membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungannya.

Karenanya juga Prita memandang keberadaan Pilar Pendukung Survivors dan Warriors (PPSW) sangat penting bagi para penyintas, untuk menanamkan keyakinan bahwa kanker bukan akhir dari segalanya.

“Saya bisa merasakan betapa pedihnya ketika seorang anak harus kehilangan ibunda tercintanya. Kita kehilangan cinta sejati,” ungkap Prita.

“Kita harus bersatu untuk mendukung para penyintas kanker untuk sembuh, bahagia, aktif, dan produktif, tidak boleh lagi ada anak-anak kehilangan orang tuanya. Semua harus berjuang untuk sembuh dan sehat,” sambung Prita.

Prita juga mengimbau kepada para perempuan untuk tetap menjaga diri dengan cara menerapkan pola hidup sehat, makanan sehat, berolahraga, dan menghindari stres dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Dan kita memohon kepada tuhan agar diberikan sisa hidup yang bermanfaat untuk semua orang,” tutupnya.

 

Sumber: Jurnas.com

Share this post