Uncategorized @id

Linda Gumelar Makin Mantap Lawan Kanker Payudara

Jakarta, Jurnas.com – Usia memang tidak muda lagi. Namun semangat seorang Linda Agum Gumelar melawan angka kanker payudara stadium lanjut di Indonesia masih berapi-api.

Demikian disampaikan Linda yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), usai menerima penghargaan dari perusahaan kosmetik Wardah, dalam acara bertajuk `Inspirasi Perempuan untuk Indonesia` pada Rabu (24/4) kemarin di Jakarta.

“Ini semakin memotivasi dan menguatkan niat saya untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi dalam aktivitas sosial. Terlebih, saya bersama teman-teman YKPI bisa secara nyata membantu program untuk membantu masyarakat menekan angka kanker payudara stadium lanjut,” kata Linda kepada Jurnas.com.

Setelah masa jabatannya sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) berakhir pada 2014 silam, Linda Gumelar memang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama YKPI, lembaga yang dia pimpin berkat pengalaman terkena kanker payudara pada 1996 silam.

Beberapa program yang dijalankan lembaga non-profit tersebut di antaranya sosialisasi deteksi dini kanker payudara, pemeriksaan mammografi gratis, hingga pelatihan pendamping bagi pasien kanker payudara.

Selain YKPI, Linda juga aktif sebagai Dewan Pembina Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Wakil Ketua Dewan Pembina Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) periode 2019-2023, dan Ketua Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP).

Linda mengaku tidak menyangka dan kaget jika dirinya masih bisa mendapatkan penghargaan. Ia pun mengapresiasi penyelenggara yang mendokumentasikan kegiatannya hingga ia layak mendapatkan penghargaan tersebut.

“Terima kasih kepada Wardah dan juga kepada semua tim YKPI yang solid, bekerja keras, dan penuh empati disertai niat yang tulus. Semoga apa yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar dia.

Penghargaan kepada Linda Gumelar diserahkan oleh Menteri PPPA Yohana Yembise didampingi oleh CEO Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat5

Read more...

Shinta Nuriyah Wahid Ingatkan Pentingnya Peranan Perempuan

Jakarta, Jurnas.com – Berbicara di hadapan ratusan ibu-ibu dalam acara perayaan ulang tahunnya ke-71, istri Presiden Republik Indonesia ke-4 Shinta Nuriyah Wahid mengingatkan peranan penting perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Istri almarhum Abdurrahman Wahid (Gusdur) itu menyatakan, perempuan merupakan makhluk yang spesial karena lewat perempuanlah awal kehidupan dimulai dari melahirkan hingga merawat anak.

“Perempuan adalah tokoh penting dalam kehidupan, kalau tak ada perempuan siapa yang melahirkan anak, menyusui dan merawat mereka,” kata Shinta saat memberikan sambutan dalam acara pemeriksaan Papsmear dan Mammografi gratis, di kediamannya Ciganjur, Sabtu (09/03).

Menurut Shinta, selain perbedaan fisik, ada beberapa hal yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, yang membuat perempuan layak untuk dihargai setinggi-tingginya. Pasalnya, hanya perempuan lah yang memiliki hal tersebut.

“Ada lima hal pada diri perempuan yang tak terdapat pada laki-laki yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui dan mampu melakukan banyak hal dalam sekali waktu,” kata perempuan yang termasuk dalam 100 tokoh perempuan paling berpengaruh di dunia.

Untuk itu, lanjut Shinta, perempuan harus selalu sehat untuk mampu menjalankan peran tersebut. Pasalnya, jika seorang perempuan sakit maka siapa yang mengurus anak, suami dan rumah. Karena hanya perempuan lah yang melakukan itu semua.

“Saya mengingatkan agar perempuan (ibu-ibu) selalu menjaga kesehatan, jika merasakan sakit harus segera berobat. Jangan malu apalagi takut untuk selalu memeriksa kesehatan,” tambahnya.

Perayaan ulang tahun yang sekaligus merupakan peringatan hari perempuan internasional itu juga dirangkai dengan pemeriksaan Papsmear dan Mammografi gratis yang diikuti oleh ratusan ibu-ibu setempat.

Hal itu dilakukan untuk memeriksa kesehatan payudara para peserta menggunakan sinar-X dosis rendah. Sekaligus digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista, serta mengurangi mortalitas akibat kanker payudara

Read more...

YKPI Imbau Masyarakat Tak Takut Lakukan Pemeriksaan Payudara

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tak henti-hentinya menyuarakan kepada masyarakat melakukan deteksi kanker sejak dini, sehingga diharapkan menekan angka kanker di Indonesia.

Hal itu disampaikan ketua sekaligus pendiri YKPI, dalam acara sosialisasi deteksi dini kanker payudara oleh dr Martha dari RSK Dharmais dan pemeriksaan gratis mammografi dalam rangka Hari Perempuan Dunia dan Ulang tahun Istri Presiden Republik Indonesia ke-4 almarhum Abdurrahman Wahid, Sabtu (09/03) di Ciganjur, Jakarta.

“Deteksi dini itu sangat penting. Karena jika semakin cepat kanker diketahui, maka peluang untuk sembuh juga semakin tinggi,” kata Linda.

Untuk itu, Linda menyerukan agar masyarakat, khususnya perempuan-perempuan tak takut melakukan pemeriksaan dini terkait kanker payudara karena fatal akibatnya jika tak dideteksi secara cepat.

“Saya berharap kepada ibu-ibu agar tak takut untuk melakukan pemeriksaan dini (Mammografi). Terus jangan takut akan hasilnya, karena semua itu harus dihadapi dengan berani,” kata Linda.

Untuk menguatkan masyarakat, Linda menceritakan pengalamannya yang pernah menderita kanker, namun karena keberanian dan perjuangannya melawan kanker, ia pun berhasil keluar dalam situasi tersebut.

“Tak usah takut, saya juga dulu pernah didiagnosa kanker payudara, namun saya memberanikan diri dan saya bersyukur mampu keluar dari situasi itu. Dan saya yakin ibu-ibu juga bisa menghadapinya,” tambahnya.

Senada dengan Linda, Shinta Nuriyah Wahid mengajak kalangan perempuan untuk selalu menjaga kesehatan karena perempuan dituntut untuk selalu sehat dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu.

“Peranan perempuan sangat penting dalam kehidupan. Untuk itu perempuan harus selalu sehat, dan jika merasa ada sakit segera berobat,” tutur Shinta.

Menurut Shinta, kegiatan Mammografi merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan ulang tahunnya.

“Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang selalu diselenggarakan, dan tahun ini sudah yang ke delapan kalinya diselenggarakan,” tambahnya.

Sementara salah seorang peserta yang mengikuti acara tersebut, Wasmi, merasa sangat senang dengan adanya pemeriksaan tersebut.

Meski awalnya takut, ia mengaku kesadarannya akan bahaya kanker payudara mulai meningkat, sehingga lebih peduli dan kesehatan payudara sejak mengikuti kegiatan tersebut.

“Awalnya takut sih tapi udah kesini-kesini bahkan ini yang kedelapan kalinya sudah mulai merasa baik. Pelajarannya paling dikasih tau cara memeriksa sendiri (Sedari) itu. Buat Ibu-ibu baik kok,” kata Wasih.

Selain Wasih, Neneng yang juga merupakan peserta merasa terbantu dengan adanya pemeriksaan rutin. Menurutnya, masyarakat sangat terbantu dengan adanya pemeriksaan itu, apalagi tanpa dipungut biaya sepersen pun.

“Iya dengan adanya agenda rutin ini, masyarakat jadi bisa Papsmear karena kan kalau ke dokter biaya mahal,” katanya.

Ia berharap perempuan-perempuan Indonesia terdorong untuk melakukan pemeriksaan dini, sehingga mampu menekan angka kanker di tanah air.

“Saya berharap perempuan-perempuan jangan sampai kena kanker dengan melakukan pemeriksaan dini,” harapnya.

Read more...

Fun Walk Edukasi Masyarakat soal Jenis-jenis Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Ada yang berbeda di tengah pelaksanaan car free day, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada akhir pekan lalu. Sejumlah survivor dan warrior kanker, melakukan parade dengan warna kostum yang berbeda-beda setiap kelompoknya.

Ini merupakan kegiatan Fun Walk dengan tema `Cancer Ribbon Awareness`. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan masyarakat tentang kanker, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat seputar penyakit mematikan tersebut.

Sebenarnya pewarnaan pada jenis kanker lahir dari kebutuhan meningkatkan kepedulian akan kanker payudara. Adalah Susan G. Komen, memulainya pada 1980 untuk sebuah yayasan kanker payudara asal Amerika Serikat.

Kala itu, Susan melakukan donasi hingga akhirnya banyak warna untuk mengidentifikasi kanker, yang diperkenalkan oleh organisasi nirlaba lainnya.

Seperti di antaranya pita emas yang dipilih oleh organisasi kanker anak pada 1990-an. Warna emas konon dipilih untuk mengingatkan betapa berharganya anak-anak seperti emas.

Perlu diketahui, hingga hari ini setidaknya ada 30 warna pita untuk jenis kanker yang berbeda. Tapi sayangnya, yang populer di masyarakat hanya pita pink, yang digunakan untuk mengidentifikasi kanker payudara.

“Iya selama ini hanya tahu pita pink, belum tahu kalau ada pita warna lain,” kata Rizky asal Bekasi saat ditemui di arena car free day.

Senada dengan Rizky, Lona dari Kebayoran Lama juga hanya mengenal dua warna pita, yakni pita pink untuk kanker payudara dan pita emas untuk kanker anak.

“Pita emas tahu karena ada saudara yang menderita leukimia sejak usia balita,” tutur Lona.

Lain halnya dengan Ambar yang tidak begitu peduli dengan warna-warna pita kanker. Karena menurut dia, hal terpenting ialah menunjukkan dukungan untuk menyemangati penderita kanker.

“Apalagi jika orang itu dekat dengan kita. Tahu sih ada pita pink, pita ungu, pita emas, tapi karena simbol saja kan, dan sosialisasinya kurang banget. Intinya yang penting tunjukkan kita peduli dan dukung mereka yang sedang sakit kanker,” ujar mahasiswa asal Jambi ini.

Sementara Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyatakan sepakat bahwa sosialisasi dan edukasi mengenai kanker harus digalakkan di tengah masyarakat.

Menurut dia upaya tersebut juga akan menimbulkan kesadaran deteksi dini, sehingga diharapkan menekan angka kanker di Indonesia, yang saat ini menjadi pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan gagal ginjal.

“Deteksi dini itu sangat penting. Karena jika semakin cepat kanker diketahui, maka peluang untuk sembuh juga semakin tinggi,” jelas Linda.

Adapun dalam rangka melakukan sosialisasi, lanjut Linda, masyarakat maupun NGO tidak bisa berjalan sendiri. Dia menyebut upaya ini membutuhkan peran pemerintah dan swasta.

“Kami sebagai yayasan kanker yang merupakan mitra pemerintah, akan berupaya menekan kanker payudara stadium lanjut. Tapi harus ada kerja sama antara kami sebagai masyarakat, dengan pemerintah dan swasta,” tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Komentar senada juga disampaikan oleh dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Onkologi Prof. Sonar Soni Panigoro. Dia berharap angka pasien kanker yang datang ke rumah sakit, semakin lama semakin menurun, dengan cara melakukan deteksi dini.

“Informasi itu bisa diakses di berbagai media, salah satunya YKPI. Jadi silakan bapak dan ibu untuk mengakses website tersebut,” tutup Sonar.

Read more...

Kanker Pembunuh Nomor Tiga setelah Jantung dan Ginjal

Jakarta, Jurnas.com – Dewasa ini kanker masih menghuni urutan nomor tiga dari deretan penyakit mematikan di Indonesia.

Kendati demikian, menurut Direkur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Prof. Abdul Kadir, penyakit tersebut berpeluang menjadi pembunuh nomor satu, karena jumlah pengidapnya semakin meningkat.

“Kalau di Jepang dan Korea, kanker penyebab kematian pertama. Sementara di Indonesia urutan ketiga setelah jantung dan gagal ginjal,” terang Prof. Kadir dalam kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness, di Car Free Day Bundaran HI, Jakarta pada Minggu (17/2).

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkomitmen menjadikan kanker sebagai musuh bersama, dengan cara rutin melakukan deteksi dini dan menjaga pola hidup sehat.

Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie mengatakan, upaya penanggulangan kanker sudah mulai dilakukan dari tingkat masyarakat.

Harapannya, bila masyarakat rutin melakukan deteksi dini kanker, maka tidak akan ada banyak pengobatan di rumah sakit.

“Meski belum diketahui sebab pasti, namun pola makan dan gaya hidup yang sehat merupakan beberapa cara menekan faktor risiko kanker,” jelas Arianie.

Sementara itu Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, setelah melakukan deteksi dini melalui Sadari (Periksa Payudara Sendiri) dan menemukan adanya benjolan, dia mengimbau agar segera pergi ke dokter.

“Langsung pergi ke dokter, jangan ke pengobatan alternatif atau herbal, agar segera diketahui stadium kankernya. Semakin dini ketahui, semakin besar peluang sembuh,” kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini.

Kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness juga diikuti oleh Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Dalam acara peringatan Hari Kanker Anak Sedunia setiap 15 Februari itu, ratusan pengurus, survivor kanker anak, orangtua, dan relawan muda YOAI memberikan dukungan untuk Pink Ribbon Awareness, dengan membentuk formasi pita emas, agar semakin banyak orang peduli dan mengenal kanker anak.

Read more...

Wacoal Ajak Penghuni Rumah Singgah Belajar Melukis

Jakarta – Perusahaan pakaian dalam (underwear) Wacoal Indonesia menggelar kegiatan melukis bersama penghuni Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), pada Senin (11/2) kemarin.

Kegiatan yang menggandeng Bartega Studio ini juga diakhiri dengan penyerahan sumbangan dari Marketing Deputy Wacoal Indonesia Melinda, kepada Ketua YKPI Linda Agum Gumelar.

“Terima kasih atas sumbangan dari Wacoal Indonesia. Nilai ini sangat besar artinya bagi kami. Dan semoga juga bisa bermanfaat untuk mendukung kegiatan sosial yang YKPI lakukan,” kata Linda.

Dalam sambutannya, Linda menjelaskan secara singkat mengenai Rumah Singgah YKPI. Dia mengatakan, rumah itu diperuntukkan bagi pasien kanker payudara, yang sedang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

Keistimewaan Rumah Singgah YKPI, lanjut Linda, yakni biaya yang dikeluarkan relatif murah, yakni hanya Rp15.000 per hari. Harga itu sudah termasuk ranjang bertingkat untuk pasien dan pendamping, perlengkapan makan dan mandi, hingga beras.

Sementara Marketing Deputy Wacoal Indonesia Melinda menyebut sumbangan bersumber dari pelanggan Wacoal. Dia berharap, dengan jumlah tersebut dapat bermanfaat bagi Rumah Singgah YKPI.

“Semoga jadi berkah buat YKPI khususnya rumah singgah,” ujar Melinda.

Selain proses penyerahan sumbangan, Wacoal Indonesia juga menggelar kegiatan melukis bersama pasien dan penyintas kanker payudara, penghuni Rumah Singgah YKPI.

Lebih dari 15 peserta masing-masing diberikan satu kanvas dan seperangkat alat melukis, untuk menggambar sebuah objek yang telah ditentukan oleh Wacoal Indonesia.

“Kita ingin happy saja di sini. Tidak perlu dibawa pikiran ya ibu-ibu,” ujar Melinda di depan peserta.

Read more...

Hari Kanker Sedunia: Prioritaskan Terapi Medis

Jakarta, Jurnas.com – Dokter spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dr. Bob Andinata, Sp.B (K) Onk mengimbau masyarakat memprioritaskan terapi medis saat menjalani pengobatan kanker.

Imbauan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) yang jatuh hari ini, Senin, 4 Februari 2019.

“Pada kanker, pilihan terapi utama adalah operasi, kemoterapi, radioterapi, atau terapi medis yang sudah menjadi standar di seluruh dunia,” kata dr. Bob kepada Jurnas.com, pada Senin (4/2).

Sementara terapi herbal atau pengobatan alternatif lainnya, lanjut dr. Bob, hanyalah sebagai pelengkap semata. Sebab banyak ditemukan, pasien yang memprioritaskan terapi herbal, malah membuat kondisi kanker semakin buruk.

“Herbal atau terapi alternatif lainnya merupakan terapi komplementer. Ingat, hanya tambahan atau pelengkap,” tegas dia.

Dr. Bob menambahkan, ketika telah memutuskan pengobatan medis pun, masyarakat diharapkan cermat memilih dokter umum.

Khususnya untuk kasus kanker payudara, dia menyebut tidak semua dokter umum dibekali kurikulum yang khusus untuk menangani kanker payudara.

“Ibu-ibu harus berhati-hati memeriksakan payudara ke dokter. Pelajaran kanker payudara belum menjadi kurikulum di dokter umum. Hanya dokter umum tertentu saja yang mengetahui kanker payudara,” ujar dr. Bob.

“Sebaiknya langsung ke dokter bedah onkologi,” imbau dia.

Tahun ini, Hari Kanker Sedunia mengusung tema “Saya Adalah, Saya Akan” atau “I Am and I Will”. Tema ini bertujuan agar semua pihak menjalankan perannya mengurangi jumlah penderita kanker di dunia.

Read more...

Selamat Hari Kanker Se-Dunia Sahabat Pitapink

Jakarta – Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari. Tahun ini tema yang diangkat adalah ”Saya Adalah dan Saya Akan” (I Am and I Will). Tema ini bermakna untuk mengajak semua pihak terkait, menjalankan perannya masing masing dalam mengurangi beban akibat penyakit kanker.

Mengapa Hari Kanker Se-Dunia (HKS) ini penting? Karena angka kematian akibat kanker setiap tahunnya masih tinggi. Dengan peringatan ini, diharapkan dapat menyelamatkan jutaan jiwa dari kematian yang dapat dicegah setiap tahunnya.

Masyarakat dapat mengetahui kegiatan HKS 2019 dengan mengunjungi www.worldcancerday.org dan www.harikankersedunia.com. Diharapkan melalui peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 dapat menjadi sarana dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kanker.

Dari data Globocan diketahui terdapat 18,1 juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian di tahun 2018. Dimana 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Data tersebut juga menyatakan 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan, meninggal karena kanker.

Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk, yang diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk.

Angka kejadian penyakit kanker untuk perempuan di Indonesia yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah di provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 79 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk.

Untuk pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, khususnya dua jenis kanker terbanyak di Indonesia, yaitu kanker payudara dan leher rahim, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) untuk payudara dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim.

Kementerian Kesehatan RI mengembangkan program penemuan dini kanker pada anak, pelayanan paliatif kanker, deteksi dini faktor risiko kanker paru, dan sistem registrasi kanker nasional.

Dalam rangka mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, perlu adanya upaya masif yang dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian kanker.

Rangkaian kegiatan Hari Kanker Sedunia 2019 dilaksanakan mulai dari pusat hingga daerah melalui surat edaran kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum agar berpartisipasi aktif falam peringatan HKS 2019 dan mengkampanyekan Saya adalah dan saya akan (I Am and I Will).

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 di pusat dilaksanakan dengan melibatkan Komite Penanggulangan Kanker Nasional dan organisasi penyintas kanker yang meliputi kegiatan: Media Briefing Hari Kanker Sedunia 2019, deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim, serta penyebaran media komunikasi dan infomasi kepada masyarakat.  (sumber Kemenkes RI)

Read more...

9 dari 10 Benjolan di Payudara Bukan Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Kanker payudara selalu diawali dengan tumbuhnya benjolan. Namun jangan salah, menurut dokter spesialis bedan onkologi Rumah Sakit Dharmais Jakarta dr. Bob Andinata, Sp.B (K) Onk, 9 dari 10 benjolan di payudara justru bukan kanker.

Dalam kegiatan ‘Bulan Kesehatan Bank Bukopin’ di Kantor Pusat Bank Bukopin Jakarta, dr. Bob menerangkan, jika benjolan terasa sakit, itu umumnya ciri kista. Untuk kista, penderitanya tidak perlu melakukan operasi atau kemoterapi.

“Yang penting jaga pola hidup sehat, tidak makan sembarangan, dan rutin olahraga,” terang dr. Bob kepada Jurnas.com.

Kista ini, lanjut dr. Bob, akan hilang dengan sendirinya, dua bulan setelah benjolan pertama kali dirasakan. Berbeda halnya dengan kanker payudara, di mana benjolan semakin lama semakin membesar, karena bekerja dengan mengikat kulit hingga jaringan yang ada di sekitar payudara.

Adapun jika benjolan itu merupakan kanker payudara, umumnya tidak terasa sakit. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang menganggap benjolan kanker sepele, dan baru memeriksakan diri setelah memasuki stadium lanjut.

“Benjolan kanker payudara di stadium awal tidak nyeri. Ini yang berbahaya karena banyak yang menganggap sepele,” jelas dia.

Karena itu, dalam rangka Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari 2019 mendatang, dr. Bob mengimbau kepada para perempuan agar melakukan deteksi dini payudara, baik dengan cara melakukan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) maupun Sadanis (Periksa Payudara secara Klinis).

Alasannya, semakin awal kanker payudara diketahui, maka harapan hidup juga semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya.

“Jika 10 orang berobat ketika berada di stadium empat, maka lima tahun kemudian sisa yang hidup kemungkinan cuma dua orang. Tapi kalau 10 orang berobat pada stadium satu, maka lima tahun kemudian 10 orang itu masih hidup,” tandasya.

Read more...

Pengetahuan SADARI Kurang Dikenal di Sekolah

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyayangkan pengetahuan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) belum dikenal secara luas di institusi pendidikan dasar dan menengah.

Padahal metode tersebut sangat bermanfaat untuk mengetahui kanker payudara sejak dini, juga menekan tingginya angka kanker payudaranya stadium lanjut di Indonesia.

Linda menceritakan, dirinya pernah membandingkan antara sekolah yang berada di pinggiran dan perbatasan, dengan sekolah-sekolah top yang ada di ibu kota Jakarta. Saat ditanya soal Sadari, jawaban yang dia peroleh tak jauh berbeda.

“Tidak cuma sekolah pinggiran dan terpencil, namun juga sekolah top di Jakarta ketika ditanya tentang Sadari, tidak ada yang tahu,” ujar Linda saat menjadi pembicara di STMT Trisakti, Jakarta pada Kamis (17/1).

Linda menyebut sudah pernah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), agar memasukkan mata pelajaran kesehatan reproduksi dalam kurikulum.

“Tapi alasannya selalu sudah penuh kurikulumnya, atau sudah masuk di pelajaran lain,” terang Linda.

Oleh karena itu, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini mendorong agar Sadari gencar disosialisasikan di tengah masyarakat.

Dia berharap, bukan saja masyarakat teredukasi mengenai kesehatan payudaranya, namun juga bisa diajarkan kepada anak-anak.

Read more...