Uncategorized @id

Tips Teknik Pendampingan Pasien Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Psikolog Nelly Hursepunny S.Psi mengatakan, menjadi seorang pendamping pasien kanker harus memiliki kemampuan untuk memahami perasaan atau permasalahan yang dihadapi oleh si pasien. Pasalnya, dengan mampu memahami kondisi pasien, pendamping akan mengetahui hal yang harus dilakukan untuk membantu mereka.

“Pendampingan adalah satu situasi dimana setiap orang perlu secara terus menerus dan sistematis menfasilitasi berbagai macam permasalahan yang dihadapi oleh pasien maupun keluarga atau pun komunitasnya,” ujar Nelly dalam acara pelatihan pendamping kanker yang diselenggarakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), 26-28 Juli 2019 di LSPR Jakarta.

Nelly menjelaskan ada tiga teknik pendampingan yang harus dimiliki oleh seorang pendamping. Pertama, mereka harus menjadi seorang good listener (pendengar yang baik), mendengarkan setiap permasalahan yang diceritakan si pasien.

“Karena pasti akan banyak sekali kisah permasalahan yang tengah dihadapi pasien ingin diceritakan pada pendampingnya,” ungkap Nelly.

Kedua, pendamping harus memiliki rasa empati agar mampu memahami apa yang dirasakan si pasien, seolah-olah pendamping merasakan hal yang sama dengan mereka.

“Pasien kanker umumnya akan mengalami stress, gelisah, kesedihan bahkan depresi. Oleh karena itu, mereka butuh sikap empati dari pendamping. Empati artinya pendamping berusaha mengerti dan merasakan apa yang dialaminya,” tuturnya.

Ketiga, pendamping harus memiliki teknik komunikasi yang tepat dan benar saat berinteraksi dengan pasien.

“Artinya, seorang pendamping lebih banyak menyampaikan hal yang dibutuhkan oleh pasien bukan berbicara tentang kondisi penyakit si pasien,” katanya.

lebih lanjut Nelly menjelaskan, pendamping yang baik tidak akan menempatkan dirinya menjadi seorang penasehat medis. Untuk itu, pendamping tidak boleh memberikan saran medis kepada pasien.

“Kalau memang pasien menanyakannya, pendamping harus bilang tidak tahu dan mengarahkan pasien untuk menanyakan langsung ke dokternya,” tegas Nelly.

Selain itu, kata Nelly lagi, sangatlah penting bagi pendamping dalam menjaga kerahasiaan pasien. Pendamping dilarang mengekspos keterangan yang diberikan si pasien, apalagi sampai diviralkan melalui media sosial, baik dalam bentuk foto maupun video. Bagaimana, apakah Anda sudah siap menjadi pendamping pasien kanker?

Read more...

Psikolog: Pasien Kanker Butuh Pendengar Bukan Penasehat

Jakarta, Jurnas.com – Pasien kanker tidak hanya membutuhkan pengobatan secara medis, namun juga perlu penyembuhan secara psikologis. Karenanya, menurut psikolog Cindy Dwi Utami, butuh upaya pendampingan untuk mengatasi gangguan secara psikologis yang dialami setiap pasien.

“Biasanya pasien-pasien dengan penyakit kronis seperti kanker payudara selalu menghadapi tekanan-tekanan mental atau emosi dalam menghadapi masalah-masalah yang dihadapi. Untuk itu, perlu adanya pendamping agar si pasien dapat keluar dari tekanan-tekanan tersebut,” ujar Cindy dalam acara pelatihan pendamping pasien kanker yang diselenggarakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 26-28 Juli 2019 di LSPR Jakarta.

Menurut psikolog dari London School of Public Relation (LSPR) itu, seorang pendamping harus mampu beradaptasi dengan kondisi emosi si pasien. Pasalnya, kondisi emosi setiap pasien berbeda-beda meski tekanan yang dihadapi sama yaitu terjangkit penyakit kronis seperti kanker payudara, sehingga pendamping harus bisa hadir secara fisik maupun emosional di dalam kesadaran pasien.

“Peran pendamping dalam mengdampingi si pasien yang didiagnosis kanker payudara, ya seperti namanya mendampingi artinya secara fisik maupun emosional hadir dan disadari oleh si pasien bahwa ada seseorang yang mendampingi atau menemani dia dalam perjalanannya menghadapi kanker payudara ini,” ujar Cindy.

Selain itu, kata psikolog muda itu, pendamping harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk pasien. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, seorang pendamping akan mampu belajar dan memahami apa yang dialami si pasien.

“Kemudian yang paling penting adalah mendengar, karena pada dasarnya sebenarnya pendamping bukan penasehat, bukan pemecah masalah, pendamping itu adalah seseorang yang hadir untuk berusaha belajar dan memahami apa yang dialami si pasien,” katanya.

Menurutnya, kesadaran bahwa ada orang yang berusaha mendampingi, menemani, dan berusaha mendengarkan si pasien pada dasarnya menjadi lompatan menuju penyembuhan psikologis pada diri mereka.

Cindy menambahkan, tugas seorang pendamping hanya membantu si pasien untuk menyadari potensi-potensi yang dimiliki di dalam dirinya, sehingga ia mampu mengobati tekanan-tekanan emosi yang menyelimuti tanpa bertumpu pada orang lain.

“Untuk itu, dengan membiarkan si pasien berbicara, merupakan salah satu cara membuat pasien menghadirkan kesadaran bahwa di dalam dirinya memiliki kekuatan untuk menghadapi masalah,” tambahnya.

Read more...

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Pendamping Pasien Kanker YKPI

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bekerjasama dengan PT TUV Rheinland Indonesia dan London School of Public Relation (LPSR) menyelenggarakan pelatihan pendamping pasien angkatan kelima bersertifikat Internasional pada 26-28 Juli 2019, yang terselenggara di LSPR Jakarta.

Pelatihan tersebut diikuti lebih dari 70 peserta terdiri Penyintas Kanker Payudara, Relawan YKPI, Organisasi Masyarakat, Masyarakat Umum serta Tenaga Kesehatan dari puksesmas dan rumah sakit.

Pelatihan yang dibuka oleh Linda Amalia Sari Gumelar selaku Ketua YKPI diwarnai dengan antusias para peserta mulai dari kalangan ibu-ibu, hingga beberapa peserta muda yang baru lulus kuliah. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini terasa spesial lantaran ada dua peserta dari kalangan pria.

Linda Gumelar berharap dengan adanya pelatihan tersebut, dapat dijadikan sebagai ajang untuk melatih para peserta menjadi tenaga relawan dan tenaga medis yang memiliki kemampuan membangun hubungan dan mendukung pasien kanker payudara dalam mengatasi penyakitnya.

“Kami berharap agar relawan yang lulus dalam pelatihan ini nantinya sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai relawan pendukung, dapat membangun hubungan dan berkemampuan dalam berkomunikasi dengan pasien, sehingga dapat berkomunikasi secara efektif, mengerti dampak emosional dari kanker payudara dan dapat memberikan pendapat strategis yang positif dalam mengatasi penyakitnya,” kata Linda.

Selain itu, Linda juga berpesan agar para relawan dapat membantu para pasien walau hanya dengan pendampingan tanpa melihat dimana dan siapa yang terserang kanker. Pasalnya, kegiatan pendampingan menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II, adalah suatu keharusan yang menjadi tanggung jawab para relawan.

“Yang paling penting pendampingan itu tidak harus di rumah sakit, jadi dimana pun ibu berada, bertemu dengan siapa pun yang mempunyai masalah dengan kanker atau kanker payudara ibu bisa mendampingi secara baik,” ujar Linda.

Nantinya, lanjut Linda, para peserta akan terdaftar dalam TUV Rheinland sebagai relawan pendamping, pasien resmi, bahkan tercatat secara online. “Melalui TUV Rheinland, nama-nama ibu akan terdaftar secara internasional. Kita ada disitu jadi kalau orang liat kita melakukan pendampingan, orang bisa percaya karena kita ada disitu,” lanjutnya.

Dalam pelatihan tersebut diisi dengan beberapa materi diantaranya: pengetahuan dasar kanker payudara, diagnosa dan terapi, dampak emosional akibat kanker payudara dan sensivitas budaya, teknik konseling pasien kanker payudara, serta membangun hubungan dan kemampuan berkomunikasi.

Sementara itu, Mila salah seorang peserta mengaku mendapat banyak pengalaman serta pengetahuan baru saat mengikuti pelatihan tersebut. Menurut Mila, selain nara sumber yang kompeten dalam memberikan materi, pelatihan tersebut juga membuatnya bertemu dengan orang-orang baru, sehingga bisa saling berbagi semangat untuk menjadi relawan pendamping.

“Banyak sekali hal-hal yang saya dapat dari sini selain dari nara sumber yang sangat kompeten dan bagus sekali dalam memberikan ilmu-ilmu yang sangat luar biasa yang sama sekali belum pernah saya dapat,” kata peserta perwakilan dari rumah sakit Dharmais.

“Dengan adanya acara ini saya merasa senang karena ini pengalaman baru saya berada disini bertemu dengan teman-teman yang luar biasa hebatnya juga. Ke depannya dengan selesainya acara ini Insya Allah akan berpartisipasi dalam kegiatan relawan penyintas kanker,” tambahnya.

Senada dengan Mila, Fatmawati yang juga merupakan peserta asal Kendari mengatakan, pelatihan yang digelar YKPI memberinya banyak ilmu serta meningkatkan motivasi dalam diri untuk aktif di masyarakat melakukan pendampingan dan memberikan edukasi terkait kanker, khususnya kanker payudara.

“Dengan adanya pelatihan ini, maka kami termotivasi untuk tetap bergabung dengan masyarakat, memotivasi mereka untuk tetap jaga diri, peduli untuk kesehatannya khususnya untuk kanker. Saya harapkan ke depan bisa lebih ditingkatkan lagi. Atau melanjutkan kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Read more...

Deteksi Dini Kanker Payudara Dorong Kesembuhan Lebih Cepat

Jakarta, Jurnas.com – Kanker payudara merupakan penyakit mematikan, yang umumnya menyasar perempuan. Oleh karenanya, setiap perempuan patut memerhatikan bahwa ada kondisi atau ciri-ciri perempuan tertentu yang bisa lebih berisiko terkena kanker ini.

Berdasarkan catatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Gumelar, perempuan Indonesia paling banyak yang mengidap kanker payudara. Namun sekitar 80 persen kasus kanker ini baru ditangani justru ketika sudah berada pada stadium lanjut.

Untuk itu, menurut Direktur Rumah Sakit Kanker Dharmais(RSKD), Prof. Abdul Kadir, deteksi dini kanker payudara pada wanita akan mendorong percepatan tingkat kesembuhan pasien tersebut. Selain itu, Ia menilai deteksi dini juga akan mengurangi biaya yang dikeluarkan selama masa pengobatan.

“Kita mengharapkan angka kesembuhan dari kanker payudara cukup bagus sebenarnya namun demikian tentunya, kalau dia datang dengan stadium lanjut, maka biaya pengobatan yang kita akan keluarkan jauh lebih mahal dibandingkan kalau dia datang dalam kondisi stadium awal. Juga angka kesembuhannya jika datang saat stadium awal jauh lebih baik dibanding datang dengan stadium lanjut,” ujar Kadir usai melakukan penandatanganan prasasti bangsal anak dan remaja bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia di Jakarta, Kamis (27/06).

Selama ini, lanjut Kadir, pasien kanker yang berobat ke RSKD kebanyakan ketika dalam kondisi stadium tiga atau empat (lanjut). “Terus terang untuk pasien kanker payudara itu, itu 70 persen mereka datang dengan stadium tiga dan empat. Cuman 30 persen yang datang dengan stadium awal,” katanya.

Untuk itu, Kadir menghimbau kepada masyarakat agar mampu memahami gajala-gejala awal dari kanker payudara, sehingga pengobatan dapat dilakukan dengan segera tanpa menunggu hingga masuk ke level stadium lanjut.

“Ketika ada misalnya, ibu-ibu kita atau adek-adek kita mendapatkan benjolan di payudaranya atau mungkin ada perubahan warna dari payudara atau mungkin daerah putingnya itu tertarik ke dalam atau kulit payudaranya berubah menjadi kasar atau mungkin ada cairan yang keluar bercampur darah, maka tolong hati-hati sebaiknya datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lengkap untuk membuktikan bahwa penyakit itu bukan karena payudara,” tutur Kadir.

“Seandainya memang kanker payudara maka sedapat mungkin melakukan pengobatan yang lengkap ,” tambahnya.

Pria asal Sulawesi Selatan juga mengimbau kepasa masyarakat untuk melakukan pengobatan secara tepat bukan kepada tabib-tabib atau dukun yang dikhawatirkan malah memperparah penyakit kanker payudara tersebut.

“Saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak datang kepada tabib-tabib, dukun-dukun, pengobatan-pengobatan tradisional yang justru akan menghambat pemeriksaan dan pengobatan kanker payudara itu sendiri atau menyebabkan kanker itu semakin berkembang dengan cepat,” harapnya.

Kadir menambahkan, 67 persen pasien yang dirawat di RSKD merupakan pasien pengidap kanker payudara. Namun tingkat kesembuhannya lebih banyak dibanding kanker-kanker lainnya.

“Alhamdulillah kanker payudara ini angka survivalnya itu jauh lebih bagus dibandingkan kanker-kanker yang lain karena mereka itu gampang dideteksi, sehingga sampai disini masih dalam stadium-stadium dua atau tiga,” tambahnya.

Read more...

Kanker Payudara pada Laki-laki Ternyata Lebih Akut

Jakarta, Jurnas.com – Seperti halnya perempuan, laki-laki juga memiliki peluang yang sama untuk terkena kanker payudara. Hanya saja, pada laki-laki ternyata pembunuh nomor satu di Indonesia ini bisa lebih akut.

Ahli bedah onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Walta Gautama, Sp.B (K) Onk menjelaskan, penyebab akutnya kanker payudara pada laki-laki disebabkan oleh dinding payudara yang lebih tipis dibandingkan perempuan.

Dan secara statistik, kendati perbandingannya 1:100, kanker payudara laki-laki kebanyakan baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut.

“Jadi kankernya lebih cepat, stadiumnya lebih tinggi, dan lebih cepat menyebar. Ke mana menyebarnya? Ya, ke tulang,” kata dr. Walta kepada Jurnas.com di sela kegiatan Sosialiasi Deteksi Dini Kanker Payudara dari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), di auditorium Badan Kepegawaian Negara (BKN), Jakarta, pada Selasa (25/7).

Sementara untuk operasi pengangkatan payudara, lanjut dr. Walta, terapi yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan sedikit berbeda. Pada perempuan, payudara masih mungkin dipertahankan dengan syarat-syarat tertentu.

“Tapi kalau pada laki-laki sifatnya pasti (diangkat), karena lebih tipis. Bahkan kami menganjurkan kalau perlu otot yang ada di bawah puting ikut diangkat, jadi bukan hanya benjolannya saja,” terang Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia tersebut.

Dengan demikian, untuk meminimalisasi peluang terkena kanker payudara, dr. Walta mengimbau masyarakat giat melakukan periksa payudara sendiri (Sadari). Praktik Sadari ini, sama tahapannya baik untuk laki-laki maupun perempuan.

“Caranya sama dengan Sadari perempuan. Prinsipnya semua daerah payudara harus diraba. Cuma karena umumnya kelenjar payudara laki-laki tidak tumbuh, jadi pasti banyaknya di daerah puting,” tandas dia.

Read more...

Linda Gumelar Makin Mantap Lawan Kanker Payudara

Jakarta, Jurnas.com – Usia memang tidak muda lagi. Namun semangat seorang Linda Agum Gumelar melawan angka kanker payudara stadium lanjut di Indonesia masih berapi-api.

Demikian disampaikan Linda yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), usai menerima penghargaan dari perusahaan kosmetik Wardah, dalam acara bertajuk `Inspirasi Perempuan untuk Indonesia` pada Rabu (24/4) kemarin di Jakarta.

“Ini semakin memotivasi dan menguatkan niat saya untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi dalam aktivitas sosial. Terlebih, saya bersama teman-teman YKPI bisa secara nyata membantu program untuk membantu masyarakat menekan angka kanker payudara stadium lanjut,” kata Linda kepada Jurnas.com.

Setelah masa jabatannya sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) berakhir pada 2014 silam, Linda Gumelar memang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama YKPI, lembaga yang dia pimpin berkat pengalaman terkena kanker payudara pada 1996 silam.

Beberapa program yang dijalankan lembaga non-profit tersebut di antaranya sosialisasi deteksi dini kanker payudara, pemeriksaan mammografi gratis, hingga pelatihan pendamping bagi pasien kanker payudara.

Selain YKPI, Linda juga aktif sebagai Dewan Pembina Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Wakil Ketua Dewan Pembina Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) periode 2019-2023, dan Ketua Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP).

Linda mengaku tidak menyangka dan kaget jika dirinya masih bisa mendapatkan penghargaan. Ia pun mengapresiasi penyelenggara yang mendokumentasikan kegiatannya hingga ia layak mendapatkan penghargaan tersebut.

“Terima kasih kepada Wardah dan juga kepada semua tim YKPI yang solid, bekerja keras, dan penuh empati disertai niat yang tulus. Semoga apa yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar dia.

Penghargaan kepada Linda Gumelar diserahkan oleh Menteri PPPA Yohana Yembise didampingi oleh CEO Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat5

Read more...

Shinta Nuriyah Wahid Ingatkan Pentingnya Peranan Perempuan

Jakarta, Jurnas.com – Berbicara di hadapan ratusan ibu-ibu dalam acara perayaan ulang tahunnya ke-71, istri Presiden Republik Indonesia ke-4 Shinta Nuriyah Wahid mengingatkan peranan penting perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Istri almarhum Abdurrahman Wahid (Gusdur) itu menyatakan, perempuan merupakan makhluk yang spesial karena lewat perempuanlah awal kehidupan dimulai dari melahirkan hingga merawat anak.

“Perempuan adalah tokoh penting dalam kehidupan, kalau tak ada perempuan siapa yang melahirkan anak, menyusui dan merawat mereka,” kata Shinta saat memberikan sambutan dalam acara pemeriksaan Papsmear dan Mammografi gratis, di kediamannya Ciganjur, Sabtu (09/03).

Menurut Shinta, selain perbedaan fisik, ada beberapa hal yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, yang membuat perempuan layak untuk dihargai setinggi-tingginya. Pasalnya, hanya perempuan lah yang memiliki hal tersebut.

“Ada lima hal pada diri perempuan yang tak terdapat pada laki-laki yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui dan mampu melakukan banyak hal dalam sekali waktu,” kata perempuan yang termasuk dalam 100 tokoh perempuan paling berpengaruh di dunia.

Untuk itu, lanjut Shinta, perempuan harus selalu sehat untuk mampu menjalankan peran tersebut. Pasalnya, jika seorang perempuan sakit maka siapa yang mengurus anak, suami dan rumah. Karena hanya perempuan lah yang melakukan itu semua.

“Saya mengingatkan agar perempuan (ibu-ibu) selalu menjaga kesehatan, jika merasakan sakit harus segera berobat. Jangan malu apalagi takut untuk selalu memeriksa kesehatan,” tambahnya.

Perayaan ulang tahun yang sekaligus merupakan peringatan hari perempuan internasional itu juga dirangkai dengan pemeriksaan Papsmear dan Mammografi gratis yang diikuti oleh ratusan ibu-ibu setempat.

Hal itu dilakukan untuk memeriksa kesehatan payudara para peserta menggunakan sinar-X dosis rendah. Sekaligus digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista, serta mengurangi mortalitas akibat kanker payudara

Read more...

YKPI Imbau Masyarakat Tak Takut Lakukan Pemeriksaan Payudara

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tak henti-hentinya menyuarakan kepada masyarakat melakukan deteksi kanker sejak dini, sehingga diharapkan menekan angka kanker di Indonesia.

Hal itu disampaikan ketua sekaligus pendiri YKPI, dalam acara sosialisasi deteksi dini kanker payudara oleh dr Martha dari RSK Dharmais dan pemeriksaan gratis mammografi dalam rangka Hari Perempuan Dunia dan Ulang tahun Istri Presiden Republik Indonesia ke-4 almarhum Abdurrahman Wahid, Sabtu (09/03) di Ciganjur, Jakarta.

“Deteksi dini itu sangat penting. Karena jika semakin cepat kanker diketahui, maka peluang untuk sembuh juga semakin tinggi,” kata Linda.

Untuk itu, Linda menyerukan agar masyarakat, khususnya perempuan-perempuan tak takut melakukan pemeriksaan dini terkait kanker payudara karena fatal akibatnya jika tak dideteksi secara cepat.

“Saya berharap kepada ibu-ibu agar tak takut untuk melakukan pemeriksaan dini (Mammografi). Terus jangan takut akan hasilnya, karena semua itu harus dihadapi dengan berani,” kata Linda.

Untuk menguatkan masyarakat, Linda menceritakan pengalamannya yang pernah menderita kanker, namun karena keberanian dan perjuangannya melawan kanker, ia pun berhasil keluar dalam situasi tersebut.

“Tak usah takut, saya juga dulu pernah didiagnosa kanker payudara, namun saya memberanikan diri dan saya bersyukur mampu keluar dari situasi itu. Dan saya yakin ibu-ibu juga bisa menghadapinya,” tambahnya.

Senada dengan Linda, Shinta Nuriyah Wahid mengajak kalangan perempuan untuk selalu menjaga kesehatan karena perempuan dituntut untuk selalu sehat dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu.

“Peranan perempuan sangat penting dalam kehidupan. Untuk itu perempuan harus selalu sehat, dan jika merasa ada sakit segera berobat,” tutur Shinta.

Menurut Shinta, kegiatan Mammografi merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan ulang tahunnya.

“Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang selalu diselenggarakan, dan tahun ini sudah yang ke delapan kalinya diselenggarakan,” tambahnya.

Sementara salah seorang peserta yang mengikuti acara tersebut, Wasmi, merasa sangat senang dengan adanya pemeriksaan tersebut.

Meski awalnya takut, ia mengaku kesadarannya akan bahaya kanker payudara mulai meningkat, sehingga lebih peduli dan kesehatan payudara sejak mengikuti kegiatan tersebut.

“Awalnya takut sih tapi udah kesini-kesini bahkan ini yang kedelapan kalinya sudah mulai merasa baik. Pelajarannya paling dikasih tau cara memeriksa sendiri (Sedari) itu. Buat Ibu-ibu baik kok,” kata Wasih.

Selain Wasih, Neneng yang juga merupakan peserta merasa terbantu dengan adanya pemeriksaan rutin. Menurutnya, masyarakat sangat terbantu dengan adanya pemeriksaan itu, apalagi tanpa dipungut biaya sepersen pun.

“Iya dengan adanya agenda rutin ini, masyarakat jadi bisa Papsmear karena kan kalau ke dokter biaya mahal,” katanya.

Ia berharap perempuan-perempuan Indonesia terdorong untuk melakukan pemeriksaan dini, sehingga mampu menekan angka kanker di tanah air.

“Saya berharap perempuan-perempuan jangan sampai kena kanker dengan melakukan pemeriksaan dini,” harapnya.

Read more...

Fun Walk Edukasi Masyarakat soal Jenis-jenis Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Ada yang berbeda di tengah pelaksanaan car free day, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada akhir pekan lalu. Sejumlah survivor dan warrior kanker, melakukan parade dengan warna kostum yang berbeda-beda setiap kelompoknya.

Ini merupakan kegiatan Fun Walk dengan tema `Cancer Ribbon Awareness`. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan masyarakat tentang kanker, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat seputar penyakit mematikan tersebut.

Sebenarnya pewarnaan pada jenis kanker lahir dari kebutuhan meningkatkan kepedulian akan kanker payudara. Adalah Susan G. Komen, memulainya pada 1980 untuk sebuah yayasan kanker payudara asal Amerika Serikat.

Kala itu, Susan melakukan donasi hingga akhirnya banyak warna untuk mengidentifikasi kanker, yang diperkenalkan oleh organisasi nirlaba lainnya.

Seperti di antaranya pita emas yang dipilih oleh organisasi kanker anak pada 1990-an. Warna emas konon dipilih untuk mengingatkan betapa berharganya anak-anak seperti emas.

Perlu diketahui, hingga hari ini setidaknya ada 30 warna pita untuk jenis kanker yang berbeda. Tapi sayangnya, yang populer di masyarakat hanya pita pink, yang digunakan untuk mengidentifikasi kanker payudara.

“Iya selama ini hanya tahu pita pink, belum tahu kalau ada pita warna lain,” kata Rizky asal Bekasi saat ditemui di arena car free day.

Senada dengan Rizky, Lona dari Kebayoran Lama juga hanya mengenal dua warna pita, yakni pita pink untuk kanker payudara dan pita emas untuk kanker anak.

“Pita emas tahu karena ada saudara yang menderita leukimia sejak usia balita,” tutur Lona.

Lain halnya dengan Ambar yang tidak begitu peduli dengan warna-warna pita kanker. Karena menurut dia, hal terpenting ialah menunjukkan dukungan untuk menyemangati penderita kanker.

“Apalagi jika orang itu dekat dengan kita. Tahu sih ada pita pink, pita ungu, pita emas, tapi karena simbol saja kan, dan sosialisasinya kurang banget. Intinya yang penting tunjukkan kita peduli dan dukung mereka yang sedang sakit kanker,” ujar mahasiswa asal Jambi ini.

Sementara Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyatakan sepakat bahwa sosialisasi dan edukasi mengenai kanker harus digalakkan di tengah masyarakat.

Menurut dia upaya tersebut juga akan menimbulkan kesadaran deteksi dini, sehingga diharapkan menekan angka kanker di Indonesia, yang saat ini menjadi pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan gagal ginjal.

“Deteksi dini itu sangat penting. Karena jika semakin cepat kanker diketahui, maka peluang untuk sembuh juga semakin tinggi,” jelas Linda.

Adapun dalam rangka melakukan sosialisasi, lanjut Linda, masyarakat maupun NGO tidak bisa berjalan sendiri. Dia menyebut upaya ini membutuhkan peran pemerintah dan swasta.

“Kami sebagai yayasan kanker yang merupakan mitra pemerintah, akan berupaya menekan kanker payudara stadium lanjut. Tapi harus ada kerja sama antara kami sebagai masyarakat, dengan pemerintah dan swasta,” tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Komentar senada juga disampaikan oleh dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Onkologi Prof. Sonar Soni Panigoro. Dia berharap angka pasien kanker yang datang ke rumah sakit, semakin lama semakin menurun, dengan cara melakukan deteksi dini.

“Informasi itu bisa diakses di berbagai media, salah satunya YKPI. Jadi silakan bapak dan ibu untuk mengakses website tersebut,” tutup Sonar.

Read more...

Kanker Pembunuh Nomor Tiga setelah Jantung dan Ginjal

Jakarta, Jurnas.com – Dewasa ini kanker masih menghuni urutan nomor tiga dari deretan penyakit mematikan di Indonesia.

Kendati demikian, menurut Direkur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Prof. Abdul Kadir, penyakit tersebut berpeluang menjadi pembunuh nomor satu, karena jumlah pengidapnya semakin meningkat.

“Kalau di Jepang dan Korea, kanker penyebab kematian pertama. Sementara di Indonesia urutan ketiga setelah jantung dan gagal ginjal,” terang Prof. Kadir dalam kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness, di Car Free Day Bundaran HI, Jakarta pada Minggu (17/2).

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkomitmen menjadikan kanker sebagai musuh bersama, dengan cara rutin melakukan deteksi dini dan menjaga pola hidup sehat.

Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie mengatakan, upaya penanggulangan kanker sudah mulai dilakukan dari tingkat masyarakat.

Harapannya, bila masyarakat rutin melakukan deteksi dini kanker, maka tidak akan ada banyak pengobatan di rumah sakit.

“Meski belum diketahui sebab pasti, namun pola makan dan gaya hidup yang sehat merupakan beberapa cara menekan faktor risiko kanker,” jelas Arianie.

Sementara itu Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, setelah melakukan deteksi dini melalui Sadari (Periksa Payudara Sendiri) dan menemukan adanya benjolan, dia mengimbau agar segera pergi ke dokter.

“Langsung pergi ke dokter, jangan ke pengobatan alternatif atau herbal, agar segera diketahui stadium kankernya. Semakin dini ketahui, semakin besar peluang sembuh,” kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini.

Kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness juga diikuti oleh Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Dalam acara peringatan Hari Kanker Anak Sedunia setiap 15 Februari itu, ratusan pengurus, survivor kanker anak, orangtua, dan relawan muda YOAI memberikan dukungan untuk Pink Ribbon Awareness, dengan membentuk formasi pita emas, agar semakin banyak orang peduli dan mengenal kanker anak.

Read more...