Perista Lemhanas Ajak Perempuan Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Persatuan Istri-istri Anggota (Perista) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) mengajak kepada para perempuan Indonesia, agar tidak ragu melakukan deteksi dini kanker payudara.

Pasalnya, menurut Plt Ketua Perista Lemhanas, Lisa Wieko Syofyan, perempuan dituntut senantiasa sehat dan bugar, mengingat perannya yang sangat sentral di tengah keluarga.

“Perempuan diciptakan agar bisa berperan sebagai ibu, istri, dan anak sekaligus. Karena itu, sangat penting bagi perempuan melakukan deteksi dini agar terhindar dari gangguan kesehatan,” ujar Lisa dalam kegiatan `Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara` bersama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Kantor Lemhanas, Jakarta pada Selasa (21/1) kemarin.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar. Berdasarkan data Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, dari seluruh pasien yang memeriksakan diri ke RSKD, 56 persen di antaranya mengidap kanker payudara.

Sementara 44 persen sisanya ialah penyintas kanker serviks, kanker anak, kanker nesofaring, kanker paru-paru, dan kanker tulang.

“Dan yang menyedihkan, 70 persen pasien kanker payudara, datang dalam stadium lanjut,” kata Linda.

Linda mengingatkan, kanker payudara dapat menimpa siapapun, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, kasus kanker payudara pada perempuan dalam hal ini lebih banyak.

“Tapi kalau laki-laki, sekali kena langsung ganas (kankernya),” terang dia lagi.

Karena itu, guna mengetahui kanker payudara lebih awal, ahli deteksi dini RSKD Jakarta, dr. Martha Roida Manurung mengimbau agar lekas melakukan deteksi dini kanker.

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan, yakni periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), USG, dan mammografi.

“Kalau yang ada yang punya keluhan pada payudara, silakan bisa datang ke poliklinik deteksi dini kanker, pemeriksaannya tidak sakit. Dokternya juga perempuan,” tutur Martha.

Adapun khusus untuk Sadari, tambah Martha, dapat dilakukan secara rutin di rumah. Salah satu caranya ialah dengan berdiri di depan cermin, lalu meraba payudara dari pinggir secara melingkar ke tengah, untuk memastikan ada atau tidak adanya benjolan.

“Posisi tangan juga bervariasi. Pertama di samping dada, sambil melihat ke cermin apakah ada perubahan atau tidak. Kedua, tangan di pinggang. Ketiga, tangan diangkat ke atas. Lihat apakah ada benjolan, atau ukuran payudara simetris atau tidak,” tandas dia.

Read more...

Wujudkan Indonesia Bebas Kanker Payudara 2030, YKPI Gaet Milenial

Jakarta, YKPI – Kolaborasi atau akrab dikenal dengan istilah ‘collab’ sedang marak belakangan ini dilakukan di antara para pengguna media sosial Indonesia. Tak terkecuali Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar.

Saat ditemui Jurnas.com, YKPI sedang mencoba menjajaki kolaborasi dengan sekumpulan anak muda kreatif, Gerakan Satupadu Indonesia, pada Rabu (15/1) siang di Kantor YKPI, Jakarta Selatan.

Linda mengatakan, untuk mewujudkan visi YKPI Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut pada 2030 mendatang, pihaknya harus menggandeng pelbagai pihak dalam mengkampanyekan pentingnya deteksi dini.

Hal ini dimaksudkan agar angka kejadian kanker payudara stadium lanjut dapat menurun, termasuk di kalangan anak muda, atau generasi milenial.

“Hal ini dikarenakan kanker payudara juga dapat terjadi pada anak muda,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak era Kabinet Indonesia Bersatu itu.

Linda  menuturkan, pengalaman ini didapati saat YKPI mendampingi anak muda usia 17 tahun yang harus berjuang mengalahkan kanker payudara.

Melalui kolaborasi ini, Linda berharap YKPI dan Satupadu Indonesia akan memiliki program baru, supaya anak muda Indonesia dapat mengenal langkah-langkah periksa payudara sendiri (SADARI) sejak dini.

“Selain itu, YKPI sangat berharap pemahaman tentang kanker payudara juga tersebar secara luas ke semua kalangan. Karena jika kanker payudara ditemukan pada stadium awal peluang untuk sembuhnya sangat besar, dapat mencapai 98 persen. Tentunya melalui pengobatan medis,” harap Linda.

Masalah perbedaan usia, dikatakan Nanda dari Gerakan Satupadu Indonesia tidaklah menjadi permasalahan selama mereka bisa berkolaborasi untuk perubahan.

“Dan kayaknya Satupadu dengan YKPI sudah satu frekuensi, tinggal kita memikirkan konsep kolaborasi programnya saja,” ujar mahasiswa semester akhir Program Studi Hubungan Internasional itu.

Pada kesempatan sama, YKPI menyambut baik kedatangan dan niat baik kolaborasi ini dengan harapan agar program kolaborasinya nantinya dapat  menghubungkan anak muda Indonesia dengan lebih baik bukan saja di dalam melainkan juga di luar negeri.

“Saya harap kita dapat selalu kolaborasi dan mampu memahami dan menghadapi perubahan yang terjadi. Ayo maju bersama anak muda Indonesia, masa depan Indonesia ada di tangan kalian,” tandas Linda.

Read more...

Natal di Balik Atap Rumah Singgah

Jakarta, YKPI – Empat perempuan berbaris di depan sebuah meja makan kaca. Di atasnya, satu bakul nasi dan semangkuk gulai berwarna oranye yang menggiurkan lidah berdampingan dengan aneka lauk pauk.

Keempat perempuan yang berasal dari Pontianak, Bengkulu, dan Banten itu baru saja pulang dari gereja di bilangan Slipi, Jakarta Barat, seusai merayakan Natal.

“Ada beberapa yang Kristiani dan merayakan Natal di Rumah Singgah,” ungkap pengelola Rumah Singgah YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), Nani Firmansyah pada Kamis (26/12).

Mengharukan, sudah pasti. Natal yang biasanya dirayakan bersama keluarga besar di kampung halaman, namun tidak bagi keempat perempuan tersebut.

Pengobatan kanker payudara yang sedang dijalani saat ini, mengharuskan mereka bolak-balik Rumah Singgah dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, guna menjalani perawatan.

“Kebetulan mereka tidak pulang dan saya juga ada waktu luang untuk bisa masak dengan lauk sederhana saja,” tutur Nani.

“Kami makan siang bersama setelah mereka pulang dari gereja,” lanjut dia.

Untuk diketahui, Rumah Singgah YKPI yang beralamat di Jalan Anggrek Neli Murni Nomor A38, Slipi, Jakarta Barat didirikan pada 2 Februari 2017.

Rumah singgah ini memiliki 28 tempat, yang terdiri dari 14 tempat tidur pasien, dan 14 tempat tidur bagi pendamping.

Selain tersedia fasilitas kamar mandi, dapur, dan ruangan tamu keluarga, Rumah Singgah YKPI juga hanya membebankan pasien Rp15.000 per malam untuk biaya kebersihan.

Read more...

Perempuan Belum Hamil dan Tak Menyusui Rawan Kanker Payudara

Perempuan belum hamil berpotensi mengidap kanker payudara. Hormon estrogen dalam payudara tidak tersalurkan. Menumpuk. Sehingga memicu tumbuhnya benjolan atau daging tumbuh.

Namun itu masih dugaan. Penyebab pastinya belum diketahui. Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) dr Walta Gautama SpB(K)Onk menuturkan penyebabnya berhubungan dengan hormon.

Perempuan yang tidak pernah hamil dan menyusui membuat payudara tidak beristirahat. Kelenjar payudara sendiri menghasilkan hormon estrogen setiap fase datang bulan.

“Estrogen ini dipakai oleh rahim supaya elastis ketika ada bayi. Rahim itu memakai estrogen dari payudara,” terang dr Walta pada media beberapa waktu lalu.

Tidak hamil dan menyusui, faktor risikonya menjadi bertambah.

Pengidap berusia 40-50 tahun berpotensi besar mengidap. Namun usia 20-an pun tetap rawan. Umumnya keluhan utama adalah adanya benjolan yang terasa pada payudara. Tapi benjolan tersebut ada yang nampak, ada pula yang tidak. Untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan USG dan momografi.

“Gejala awal biasanya hanya benjolan. Mau kecil atau pun besar itu sudah harus diperiksa,” tegas dr Walta.

Dokter yang praktek di RSK Dharmais Jakarta ini menjelaskan seluruh dokter onkologi tidak akan merekomendasikan penanganan hanya mengandalkan obat herbal. Lalu penanganan medis dikesampingkan. Justru potensi akan naiknya  stadium kanker payudara malah lebih besar. Harapan untuk sembuh menjadi kecil. Biaya berobat pun lebih mahal. Karena itu, kuncinya ada pada deteksi dini.

Mengobati kanker katanya jangan ditunda. Semakin ditunda penanganan medis, status stadium akan naik. Kemungkinan terburuk adalah kematian bagi si pengidap.

“Sempat viral beberapa tanaman tradisional dalam menyembuhkan kanker. Yang penting adalah jangan ditinggal pengobatan medisnya. Kalau bisa diambil benjolan,  ambil. Karena itu cara yang paling terbaik,” imbuh dr Walta.

Read more...

Ini Harapan Linda Gumelar Sambut Hari Kesehatan Nasional

Jakarta, Jurnas.com – Selain ditetapkan sebagai Hari Ayah Nasional, tanggal 12 November juga diperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Di tahun 2019, HKN menginjak tahun ke-55.

Menyambut HKN, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Agum Gumelar berharap pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin baik. Menurutnya, HKN bukan hanya sebuah peringatan melainkan ada makna yang terkandung di dalamnya.

“Kami dari yayasan kanker payudara Indonesia dan saya pribadi berharap peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus semakin baik, terutama dalam peraturan-peraturan BPJS yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Linda usai nonton bareng film “Bebas” di Jakarta, Kamis (07/11).

Selain itu, tokoh wanita Indonesia yang pernah menjabat sebagai sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabinet Indonesia Bersatu tersebut juga berharap peringatan HKN dijadikan pemicu masyarakat untuk menjaga pola hidup yang lebih baik.

“Kita juga berharap masyarakat menjaga gaya hidup yang baik, sehingga tidak menjadi penyebab dari suatu penyakit. Karena itu, lifestyle itu penting sekali. Kita ingin masyarakat sehat lahir dan batin,” ujar Linda.

Perayaan HKN pertama kali diperingati di tahun 1959. Saat itu dilakukan penyemprotan nyamuk Malaria secara simbolis oleh Presiden Soekarno.

Usai penyemprotan secara simbolis dilakukan, penyuluhan pun diberikan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan bahaya penyakit Malaria dan agar mereka lebih waspada terhadapnya.

Di tahun-tahun berikutnya, Hari Kesehatan Nasional (HKN) terus diperingati dengan tujuan memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan untuk masyarakat Indonesia.

Read more...

YKPI Gelar Nonton Bareng Film “Bebas”

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengajak para pengurus, relawan dan juga dari komunitas survivor kanker nonton bareng (nobar) film “Bebas” karya Mira Lesmana dan Riri Riza di Cinema XXI, Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (07/11).

Ketua YKPI, Linda Amalia Sari atau dikenal dengan Linda Agum Gumelar mengatakan salah satu alasan memilih film “Bebas” karena dinilai mengandung banyak pelajaran yang bisa dipetik usai menonton film tersebut.

“Film yang kami pilih adalah film bebas karena saat membaca resensi filmnya, kami melihat penggambaran semangat persahabatan yang begitu kuat, kepercayaan diri serta sifat keberanian,” ujar Linda saat ditemui usai acara nobar.

Menurut Tokoh Wanita Indonesia sekaligus istri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar, film ini bisa menjadi inspirasi bagi survivor kanker untuk terus semangat menjalani hidup meski dengan segala keadaan yang dihadapi.

“Saya kira dari judul lagu, judul film ini bisa memberi semangat kepada para survivor untuk tetap berani dan semangat menjalani segala kondisi yang ada. Sifat ini sangat penting bagi seorang perempuan terutama untuk orang-orang yang sedang mengalami ujian,” katanya.

Selain itu, Linda juga mengaku sangat tertarik dengan jalan cerita film yang dibintangi salah satu aktris ternama tanah air, Marsha Timothy tersebut. Selain menggambarkan masa-masa SMA, namun juga memperlihatkan arti persahabatan sejati.

“Filmnya menggembirakan mengingatkan masa lalu. Ceritanya juga memperlihatkan sahabat-sahabat yang memberikan semangat untuk sahabatnya yang terdiagnosa sakit. Ini saya kira support yang luar biasa,” tuturnya.

Bebas merupakan adaptasi film Korea Selatan berjudul Sunny. Dalam versi Indonesianya, latar waktu akan berada pada era 90-an. Sedangkan pada versi Sunny, latar waktu sekitar tahun 1987-an.

Bebas bercerita tentang pertemanan sejak masa sekolah. Awalnya Vina (Maizura) sekolah di salah satu SMA di kota kecil di Jawa Barat. Karena beberapa hal, dia pindah sekolah menuju Ibukota Jakarta. Pada hari pertamanya, Vina menjadi bahan lelucon teman sekolah karena logat bicaranya. Dia juga mendapat intimidasi dari salah satu cowok di sekolah. Untungnya datang sekelompok gang sekolah yang menolong Vina.

Anggota gang bernama Bebas ini yaitu Kris (Sheryl Sheinafia) sang pemimpin, Jessica (Agatha Pricilla) yang lucu dan terobsesi akan kecantikan, Gina (Zulfa Maharani) anak terkaya di grup, Suci (Luthesha) perempuan cantik dan misterius, serta Jojo (Baskara Mahendra) cowok satu-satunya.

Read more...

PERABOI & YKPI Ajak Masyarakat Tenggarong Turunkan Angka Kejadian Kanker

Seiring dengan meningkatknya angka kejadian kanker di Indonesia, PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) semakin giat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, salah satunya talkshow seputar kanker payudara dan kanker tiroid. Dipandu oleh artis sekaligus komedian kawakan Tukul Arwana, talkshow diselenggarkan di Pendopo Bupati Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Sabtu (19/10).

Ketua PERABOI dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan sejak disahkan sebagai anak organisasi dari Perhimpunan Dokter spesialis Bedah Indonesia (IKABI) dan anggota dari World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS) pada 1984, PERABOI yang terdiri dari para dokter spesialis bedah se-Indonesia itu telah melakukan pelbagai kegiatan.

“Bukan hanya untuk melestarikan pengembangan ilmu bedah onkologi dengan pertemuan-pertemuan ilmiah saja, melainkan juga turun ke masyarakat hingga ke daerah-daerah terpencil, melakukan bakti sosial atau sosialisasi tentang penyakit kanker, seperti yang dilakukan saat ini di Kabupaten Tenggarong dengan kemasan talkshow,” kata dokter yang praktek di RS Kanker Dharmais tersebut.

Hal ini, tambah dr Walta, dilakukan PERABOI untuk menyikapi kenyataan bahwa kanker telah menjadi penyakit yang  mendapat perhatian dunia. Seluruh negara di dunia ini, dilanjutkan dr Walta, tengah berupaya keras menurunkan angka kejadian kanker stadium lanjut sekaligus menurunkan angka kematian.

“Termasuk kanker payudara yang rata-rata pasiennya datang ke dokter saat stadium lanjut. Faktor inilah sebenarnya yang menyebabkan angka kematian akibat kanker menjadi tinggi. Padahal jika mereka datang ke dokter pada stadium awal kemungkinan dapat disembuhkannya tinggi sekali. Bisa mencapai 98%,” ujar dr Walta lagi.

Melihat kondisi ini, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), menanggapi dengan serius melalui program-program kerjanya. “Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan dan semakin mengusik serta memotivasi kami YKPI untuk semakin bekerja menurunkan angkat kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia,” kata Linda Agum Gumelar, Ketua sekaligus pendiri YKPI.

Lebih lanjut Linda menjelaskan pengobatan penyakit mematikan ini memang tidak murah. Melalui pelbagai program YKPI yang dipimpinnya, Linda memaparkan upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut dengan sosialisasi deteksi dini melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri) ke beberapa daerah hingga ke pelosok tanah air.

Sejak 2015, YKPI menjadi satu-satunya organisasi nirlaba di Indonesia yang fokus terhadap kanker payudara yang memiliki unit mobil mammografi. Tercatat hingga April 2019  sebanyak 13.214 orang telah melakukan mamografi dengan hasil 1.973 (14,8%) orang diketahui memiliki tumor jinak dan 203 orang  (1,5%) memiliki tumor ganas.

“Mereka yang diduga memiliki tumor langsung dirujuk melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut di rumah sakit, agar kankernya dapat segera tertangani secara klinis dan biaya pengobatannya juga tidak menjadi tinggi,” tambah mantan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kabinet Indonesia Bersatu itu.

Program lain YKPI, lanjut Linda,  adalah pengelolaan Rumah Singgah YKPI bagi pasien BPJS kelas II, di kawasan Anggrek Nelly Murni Slipi, Jakarta Barat,  dan  pelatihan pendamping pasien kanker. Di tingkat Internasional, YKPI aktif sebagai anggota Reach to Recovery International (RRI) dan Union for International Cancer Control (UICC), sebuah organisasi yang mewakili hampir 2.000 organisasi di 170 negara.

“Ke depan, YKPI berencana mewujudkan adanya mobil kemoterapi sebagai upaya jemput bola dengan cara mendatangai pasien rawat jalan yang harus melakukan kemoterapi. Dan, kita juga akan menjadi tuan rumah penyelenggaran South East Asia Breast Cancer Symphosium bagi sekitar 250 peserta dari seluruh negara di  dari dalam dan luar negeri pada Juli 2020,” pungkas Linda yang juga pernah divonis kanker payudara pada 1996.

Dengan visi menjadi organisasi profesi yang mampu membawa anggotanya menjadi  dokter sub spesialisasi  Bedah Onkologi  terkemuka di Asia, PERABOI dikatakan dr Walta akan terus berperan aktif guna meningkatkan kualitas layanan bidang onkologi dan mengedukasi masyarakat tentang kanker melalui pelbagai kanal media. “Hari ini dimulai dari masyarakat Tenggarong, ayo kenali kanker dan kita berperan aktif menurunkan angka kejadian kanker khususnya kanker stadium lanjut di Indonesia,” pungkas dr Walta diamini Linda Agum.

Read more...

Operasi Masal Kanker Pertama di Indonesia

Sebanyak 52 pasien kanker  dioperasi secara masal oleh dokter onkologi yang tergabung dalam PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia), di Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Minggu (20/10). Operasi kanker masal ini merupakan yang pertama dan terbesar di Indonesia.

Ketua PERABOI, dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan operasi  dilakukan di dua tempat. “Operasi mayor terhadap 7 pasien dilakukan di RSUD AM Parikesit Tenggarong. Sedangkan 45 orang lainnya melakukan operasi minor di pendopo Bupati,” tambah dr Walta.    Lebih lanjut dr Walta menjelaskan operasi yang dilakukan pihaknya tersebut meliputi kanker kulit, lymphedema, kanker tiroid, kanker payudara serta kanker wajah tanpa dipungut biaya.

“Ini merupakan kegiatan bakti sosial PERABOI sebagai wujud pengabdian kami pada masyarakat,” sambung dr Walta.  Kata onkologi dikatakan dr Walta acapkali masih terasa asing di telinga. Ia berharap istilah yang berasal dari Bahasa Yunani ini tidak ditakuti dan akrab di masyarakat. Onkolgi, sambung dr Walta, adalah cabang ilmu kedokteran yang mengkhususkan pada diagnosis dan pengobatan kanker. “Jadi Onkologi adalah bidang ilmu kesehatan khususppenanganan kanker, mulai dari pemeriksaan kanker sampai perawatan paliatif,” ujar dr Walta lagi.

Lebih lanjut dr Walta menjelaskan seorang ahli onkologi bertanggung jawab untuk mendiagnosis kanker, menentukan rencana pengobatan yang tepat, mengatur dan mengawasi jalannya pengobatan, serta tindakan pencegahan dari kekambuhan kanker itu sendiri.

Sejak tahun 1984, para ahli onkologi di Indonesia membentuk PERABOI. “Selama ini, banyak orang beranggapan PERABOI imejnya adalah hanya menangani kanker payudara. Tapi sebenarnya PERABOI menangani kanker secara meyeluruh diantaranya kanker tiroid, kanker kepala leher, kanker kulit, kanker jaringan lunak seperti otot dan jaringan di bawah kulit, mulai dari deteksi dini, Diagnostik, terapi termasuk rekonstruksi pasca pengangkatan tumor, tindakan kemoterapi dan terapi terhadap beberapa komplikasi pasca bedah,” ungkap dr Walta.

Di usia PERABOI yang ke 35 tahun, dr Walta berharap agar masyarakat yang tidak terlayani dengan BPJS atau mereka yang kurang mampu mendapatkan akses terapi medis yang tepat dari awal dapat menikmati layanan bedah dari ahlinya tersbut. “Ke depan tentunya ini akan memotivasi kesiapan dan ketersediaan ahli bedah onkologi yang mumpuni di setiap daerah di Indonesia, sehingga pasien kanker dapat berobat di tempat asalnya tanpa perlu harus ke Jakarta atau kota besar lainnya,” jelasnya.

PERABOI, dilanjutkan dokter yang memiliki banyak pasien kanker payudara itu,  tentunya memerlukan wadah untuk kerjasama agar lebih dapat memperkenalkan apa yang menjadi domain penanganan kanker dari PERABOI.

“Bersama Yayasan Kanker Payudara Indonesia atau YKPI pimpinan Bu Linda Gumelar,  kita bekerjasama dalam memberikan sosialisasi dan pelatihan penyintas kanker payudara yang bersertifikasi. YKPI sangat banyak membantu PERABOI. Ke depan tentunya PERABOI terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi atau institusi dalam penanganan kanker lainnya. Selain berkolaborasi dengan YKPI dan melakukan bakti sosial, selama 3 hari ini PERABOI juga menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT),” imbuh dia.

Secara terpisah,  dr Zainal Abidin SpB(K)Onk, ketua panita PIT ke-25 mengatakan dengan adanya pertemuan ini masyarakat diharapkan akan lebih mengenal kanker lebih jauh lagi dan jangan takut berobat ke dokter.

“Peraboi juga berharap dari pertemuan ini masyarakat akan lebih tahu lagi bagaimana temuan-temuan kedepan tentang pengobatan kanker terkini. Karena saat ini penanganan kanker tidak hanya sebatas operasi atau kemoterapi, tetapi juga bisa dilakukan rekonstruksi yang hampir sempurna bahkan operasi mikro dan super mikro juga dapat dilakukan. Dengan pertemuan ini PERABOI juga diharapkan dapat menjadi leader dalam penanganan kanker secara multi disiplin. Agar dari awal atau sejak dini hingga kanker stadium akhir dapat kita tangani,” terang dr Zainal.

Ditanya soal jenis kanker dengan jumlah pasien terbanyak, dr Zainal mengungkapkan angka kejadian kanker payudara adalah yang tertinggi. Hal ini senada dengan upaya YKPI dalam menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut dengan salah satu faktornya adalah delay pengobatan pasien dari daerah ke Jakarta.

“Banyak sekali pasien asal daerah yang kini tinggal di rumah singgah YKPI di kawasan Slipi Jakarta itu datang ke Jakarta sudah dalam kondis stadium lanjut, karena selain takut dan malu untuk berobat juga karena tidak adanya ketersediaan sarana pengobatan di daerah  asalnya,” kata Ketua YKPI Linda Gumelar yang menyambut antusias upaya PERABOI dalam penanganan kanker hingga ke daerah-daerah.

Hal senada dikatakan dr Zainal perihal kendala penanganan kanker di daerah atau wilayah terpencil yang dijadikan tantangan tersendiri bagi PERABOI melalui program-programnya. Salah satunya dengan bakti sosial operasi minor dan mayor yang dilakukan di Kabupaten Tenggarong.

“Kami tentunya berharap operasi tersebut  berdampak pada masyarakat dalam penangan kanker, sehingga masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya, tidak lagi berobat jauh-jauh karena di daerah sendiri sekarang fasilitasnya sudah  sangat mendukung, pemerintahan juga sangat mendukung dan sumber manusia juga sudah tersedia,” lanjut dokter bedah onkologi yang praktek di RSUD Abdul Wahab Sjahrani, Samarinda,  Kalimantan Timur.

Read more...

PERABOI, YKPI, dan KODIM 0906 Tenggarong Buka Klinik Baca di Taman Ulin

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Agum gumelar meresmikan klinik baca PERABOI Kodim 0906/Tenggarong dalam rangka HUT TNI ke – 74 di Taman Ulin, Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Sabtu (19/10).

Kegiatan yang diinisiasi Kodim 0906/Tenggarong ini merupakan rangkaian kegiatan sosialisasi deteksi dini kanker payudara dan ToT Sadari yang dilakukan PERABOI dan YKPI. “YKPI sudah sering berkolaborasi dengan  perhimpunan dokter ahli bedah onkolosi se Indonesia, PERABOI. Kedatangan kami  di Kabupaten Kukar ini dalam rangka bulan peduli kanker payudara internasional. Kami tentunya menyambut baik inisiatif Kodim 0906. Karena dengan membuka klinik baca akan banyak masyarakat yang gemar membaca dan kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang tahu informasi seputar kanker,” kata Linda.

Dalam sambutannya Dandim 0906/Tgr Letkol Inf. Charles Alling menyampaikan “Kita membuat satu paradigma baru kalau membaca itu harus ada setting kreatif sehingga menjadi daya tarik tersendiri, kalau kita masih menggunakan paradigma yang lama menempatkan klinik-klinik baca ataupun perpustakaan mini di tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak terlihat maka tidak bisa langsung dilihat oleh masyarakat kita,” jelas Charles.

Di tempat sama Ketua PERABOI, dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan dengan adanya klinik baca ini diharapkan akan menambah peningkatan kualitas sumber daya manusia salah satunya  adalah memalui metode suka membaca yang diperuntukkan untuk semua kalangan baik itu anak-anak , para remaja maupun orang dewasa.

Tampak hadir pada acara peresmian Bupati Kutai Kartanegara  Drs.Edi Damansyah MSi, Pjs Direktur RSU Aji Muhammad Parikesit dr. Martina. Sp. Op. Finamis, Mars, Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 091 PD VI/ Mulawarman, Persit Kartika Candra Kirana Cabang XVlll, Bayangkari Polres Kukar dan komedian kondang Tukul Arwana. Mulai hari ini, masyarakat sudah dapat menikmati klinik baca tanpa dipungun biaya.

Read more...

Jangan Takut Ke Dokter, Mari SADARI

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kendati sudah divonis kanker payudara dan rela kehilangan satu payudaranya di meja operasi, tak menghalangi dua srikandi asal  Kab. Tenggarong Sri (43) dan Kartini (56) mendalami SADARI (Periksa Payudara Sendiri).

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Saya sekarang mau bawel ke ibu-ibu. Jangan takut ke dokter, mari kita SADARI,” ujar Sri yang menjabat Ibu RT itu penuh semangat saat mengikuti sosialisasi deteksi dini kanker payudara dan ToT SADARI di RSUD AM Parikesit Tenggarong, Kalimantan Timur.

Sri yang juga membuka warung di kediamanya itu mengaku sempat takut jika ada perawat atau dokter yang belanja ke warungnya. “Apalagi rumah saya dekat puskesmas. Kalau lihat mereka saya pasti kabur, lemes dan deg-degan. Saya takut karena pernah divonis dokter usianya hanya tersisa 3 bulan karena kanker payudara,” ujar Sri diamini Kartini yang senasib harus dimastektomi satu payudaranya.

Kini, Sri dan Kartini malah rajin mengajak ibu-ibu yang sakit kanker payudara untuk tidak menunda pemeriksaan medis. “Karena berobat ke alternatif gak sembuh, malah uang habis banyak, ujung-ujungnya ke dokter juga. Dulu kita takut banget sama dokter, sekarang kita jadi sahabat dokter,” tambah Kartini.

Bersama sekitar 100 peserta sosialisasi deteksi dini kanker payudara dan TOT SADARI yang diselenggarakan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) bekerjasama dengan PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia), Sri dan Kartini mengaku sosialisasi dini kanker payudara penting dan berkomitmen akan disebarluaskan pada anggota keluarga dan warga sekitar.

Sementara itu Vira (20) dan Wida (20), keduanya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kaltim,  mewakili peserta dari kalangan anak muda mengaku senang sekali dapat dilibatkan dalam TOT.

“Ini pertama kalinya kami ikut TOT SADARI. Senang sekali karena tahu lebih awal soal kanker payudara, pentingnya deteksi dini dan praktek bagaimana cara SADARI,” kata Vira disambut Wida dengan semangat.

Selain aktif sebagai pelajar, Vira dan Wida tergabung dalam komunitas Support Kanker  Samarinda. Hadir juga sekitar 30 gabungan organisasi wanita lainnya selain  Dharma Wanita, Dharma Pertiwi dan tentunya ibu-ibu PKK Kab Tenggarong pimpinan Ibu Bupati Maslianawati.

“Saya menyambut baik kegiatan ini, sangat luar biasa. Sangat bermanfaat dan semoga makin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya deteksi dini,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Tenggarong.

Dalam kesempatan ini, dr Abdul Rachman SpB(K)Onk, mewakili PERABOI mengatakan angka kejadian kanker payudara masih yang tertinggi pada perempuan di Indonesia.

“Untuk itu sosialisasi ini sangat penting guna menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Saat ini berdasarkan data dari RS Kanker Dharmais (RSKD) sebagai Pusat Rujukan Kanker Nasional, diketahui bahwa 56% pasien yang ditangani oleh RSKD adalah pasien kanker payudara. Dimana 70%-nya diketahui dalam kondisi stadium lanjut,” ujar dr Abdul yang sehari-harinya praktek di RSUD Kab. Tangerang.

Menanggapi hal ini, YKPI diwakili Titien Pamudji mengimbau agar pasien kanker payudara bersifat terbuka dan tidak takut memeriksakan dirinya ke dokter.

“Pasien kanker payudara hendaknya jangan menutup diri. Saya seorang survivor, Ketua YKPI Ibu Linda Agum juga survivor, tapi kami bisa sehat sampai sekarang dan masih beraktivitas. Karena kami memeriksakan diri dari awal. Tidak menundanya. Saya harap ibu-ibu juga demikian,” seru Titien yang kini masih berjuang mengalahkan kankernya.

TOT SADARI yang dipimpin oleh dr Hardinah Sabrida MARS ini disambut antusias peserta. Sebelumnya, dr Hardinah menerangkan seputar kanker payudara, penyebab hingga faktor risikonya.

“Jika setiap bulan kita rutin melakukan SADARI kita akan mengetahui ada tidaknya kelainan di payudara kita.  Kelainan di payudara itu belum tentu kanker. Jangan panik dan segera periksakan diri ke dokter,” ujar dr Hardinah lagi.

Read more...