daftar para pejuang kanker yang berhasil melewati masa kelamnya

Lisnawati: Pilih Dokter, Jangan Alternatif

Banyak yang bilang kalau kita terkena penyakit harus disyukuri sebagai penebus dosa. Tapi mitos itu tidak berlaku bagi Lisnawati (58), guru seni asal Kendari, Sulawesi Tenggara. Baginya, kanker payudara yang dideritanya adalah penyakit yang harus segera diobati agar ia dapat melanjutkan hidup demi keluarga dan murid-muridnya.

Itu terjadi 18 tahun lalu saat usianya masih 40 tahunan. Dokter memvonisnya terkena kanker payudara dan harus segera dioperasi.  “Waktu itu saya chek up di sebuah rumah sakit di Makasar. Kadang terasa ada biji, agak keras. Lalu saya didiagnosis stadium dini kanker payudara,” kata Lisnawati mengingat awal kanker menyerang tubuhnya.

Sama seperti perempuan lain yang didiagnosis kanker payudara, Lisnawati pun awalnya kuatir dan takut. Apalagi dokter saat itu menyarankan agar payudaranya diangkat saja demi hasil yang lebih baik. “Tentu awalnya takut bercampur kaget dan kuatir juga mengetahui hasil itu. Lalu saya berembuk dengan suami dan anak untuk mengambil keputusan terbaik bagi keselamatan saya. Dan mereka pun mendukung tindakan itu,” tambah Lisnawati seraya mengatakan keluarganya adalah pendukung utama untuk kesembuhan dirinya.

Lisnawati mengaku banyak teman-temanya yang menyarankan untuk mencari pengobatan alternatif daripada harus dioperasi atau diangkat payudaranya. “Tapi saya tidak terpengaruh, saya sama sekali tidak tertarik. Saya yang merasakan, penyakit ini nyata. Mana mungkin saya bisa percaya cara alternative bisa menyembuhkan,” tandas Lisnawati.

Biaya pengobatan kankernya ditambakan Lisnawati tidaklah murah. Untungnya, kata Lisnawati lagi, ia ditolong Askes atau sekarang orang lebih mengenal dengan BPJS. “Askes menanggung pengobatan saya sekitar 85%,” imbuhnya,

Lisnawati yang selalu ceria dan semangat ini kini mengisi hari-harinya dengan memberikan motivasi pada sesame penyintas. Baru-baru ini, ia pun mengikuti pelatihan pendamping kanker payudara yang diselenggarakan YKPI di Jakarta. “Saya yakinkan mereka jalan medis adalah jalan terbaik. Jangan coba-coba alternatif. Tak perlu takut dan ragu. Kita berjuang, jangan lari ke alternatif, datang ke dokter. Saya adalah contoh nyata,” seru Lisnawati penuh semangat.

Read more...

Irianti: Khawatir Kanker Payudara Menurun Pada Anak Perempuanya

Kanker payudara pada dasarnya dapat menyerang siapapun. Kanker payudara bisa menyerang tanpa memandang usia, status ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.

Penelitian menunjukkan munculnya kasus kanker payudara  5-10 persen  berhubungan dengan faktor genetik. Namun apakah benar kanker payudara itu bersifat menurun? Jika ibunya terdiagnosis, maka anak perempuanya akan otomatis akan terkena.

Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri dari seorang penyintas kanker payudara asal Surabaya, Irianti, yang memiliki anak perempuan. Irianti paham benar jika ada banyak hal yang dapat menimbulkan risiko terkena kanker payudara.

Pola hidup tak sehat, jarang berolahraga, hingga konsumsi makanan berlemak masuk dalam list penyebabnya. Tapi tetap saja, Irianti harus lebih waspada pada segala kemungkinan terburuk. Ia tidak mau anak perempuanya mengalami hal sama dengannya.

Kekuatiran Irianti diperkuat dengan pernyataan dr. Zora Revina yang pernah diulas Jurnas.Com pada berita  Juli lalu. Dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) ini mengatakan faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu pemicu risiko kanker payudara.

Karena itu, kata dr. Zora, bagi keluarga yang memiliki riwayat terkena penyakit ini, harus memeriksakan diri sebelum terlambat.

“Kalau ibunya menderita kanker payudara, maka anaknya yang perempuan bisa jadi ada risiko terkena kanker payudara. Untuk memastikan hal itu, nanti ada screening-nya untuk menghitung presentase si anak terkena kanker,” ujar dr. Zora kala itu.

Kendati begitu,  dr. Zola menggarisbawahi, meski faktor keturunan bisa memicu risiko kanker payudara, tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan terkena kanker payudara.

Ia menambahkan berkembangnya ilmu dan teknologi di bidang bedah payudara saat ini, serta penanganan secara professional dari tim medis menjadikan kanker payudara dapat didiagnosis sedini mungkin sehingga penderita dapat menjalani operasi dengan berbagai macam pilihan tehnik terkini sesuai dengan standar dan protokol internasional.

Irianti kemudian mengenang asal mula dirinya divonis kanker payudara. Tahun 2015, ia begitu yakin akan terkena kanker ketika puting susunya masuk ke dalam meski tanpa rasa sakit. “Lalu ada benjolan 2 CM, saya deg-degan, tapi saya bertekat harus segera memeriksakan diri ke dokter. Cek medis. Karena puting saya juga tambah masuk,” katanya.

Perkembangan kankernya, ditambahkan Irianti, sangatlah cepat. Tapi ia bersyukur karena tidak menunda melakukan cek medis dan tidak berlari ke pengobatan alternatif. “Saya enam kali kemo, minum obat dan langsung operasi,” ujar Irianti yang sempat melakukan rekonstruksi payudaranya pasca operasi dengan mengambil lemak dari perut.

“Bagi penderita kanker yang masih muda, jangan terlalu risau dengan penampian payudara kita, karena payudara bisa digantikan dari lemak bagian tubuh lain,” semangatnya untuk memotivasi penyintas yang lebih muda.

Ya, semangat itu bagai obat kedua selain tindakan medis. Irianti mengatakan selalu mengajak suami dan anaknya selama mengikuti pengobatan. “Kita harus punya semangat untuk saling menyemangati agar hati selalu gembira dan bahagia. Sebagai penyintas kita punya kewajiban moral untuk memberikan dampingan pada sesama penyintas. Kita tidak sendiri. Kita bersama lawan penyakit ini,” seru Irianti lagi.

Read more...

70-80% Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Berisiko Metastasis

Pasien kanker payudara stadium lanjut berisiko mengalami penyebaran sel-sel kanker (metastasis) ke tulang. Menurut dokter spesialis bedah onkologi , dr Walta Gautama berdasarkan data pada 2017 menunjukkan sekitar 70-80 persen pasien kanker payudara stadium lanjut 2B ke atas berisiko mengalami penyebaran sel kanker ke tulang.

Lebih lanjut Walta memaparkan bahwa tulang merupakan jaringan yang disukai sel-sel kanker untuk tumbuh. Awalnya, sel-sel kanker dari payudara ini menyebar lewat pembuluh darah lalu masuk ke jaringan tulang. Kemudian, jaringan tulang akan merespons dengan mengeluarkan zat-zat yang mendukung pertumbuhan sel-sel kanker.

“Begitu sel kanker dari payudara itu masuk ke tulang akan membuat sel-sel kanker aktif lagi,” katanya ketika ditemui Jurnas.Com seusai presentasi masalah Limfoma di Temu Penyintas Kanker Payudara YKPI belum lama ini.

Walta juga menjelaskan jika Mestasis ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan struktur tulang. Salah satu gejala adanya sel kanker di tulang, tambah dokter yang prakter di RS Dharmais ini adalah timbulnya rasa nyeri terus-menerus bahkan patah tulang. “Biasanya target yang disasar sering terjadi di tulang punggung baru disusul dengan rusuk, panggul, dan tulang-tulang panjang,” kata Walta lagi.

Itulah sebabnya, penyintas kanker payudara asal Medan, Hilmasari harus menjalani kemoterapi pada bagian tulangnya setelah menjalani pengobatan total pada kanker payudaranya. “Saya terdekteksi kanker payudara pada 2011. Langsung stadium 2. Waktu itu kalau dapat haid nyeri terus pas diraba kok ada benjolan,” kenangnya.

Perempuan aktif yang saat pertama kali divonis kanker saat usia 40 tahun ini akhirnya memutuskan untuk mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Lima tahun kemudian, Hilmasari tak menyangka jika kankernya mestasis ke bagian tulang belakangnya. “Setelah bersih kanker payudara saya kemo lagi untuk tulang di tahun 2016. Sakitnya luar biasa, saya gak bisa solat, makan juga gak bisa bisa masuk mulut. Sangat menderita,” jelas Himasari lagi yang mengaku pernah berada di posisi terendah dalam hidupnya akibat kesakitan.

Jika saja tidak ada dukungan dari keluarga atau teman kerja, Hilmasari mengungkapkan dirinya pasti sudah menyerah. “Tapi saya berusaha untuk yakin kalau penyakitnya akan sembuh, dan kematian itu soal waktu dari Tuhan bukan karena penyakit,” tegasnya berapi-api.

Kini, Hilmasari terus berupaya agar tidak ditemukan lagi sel kanker  menghindari stress, berpola hidup sehat dan selalu berpikiran positif. “Jangan stress, hindari makanan yang mengandung penyedap rasa, pewarna atau pengawet dan pastikan selalu happy. Pokoknya jangan stress. Semangat ya teman-teman sependeritaan,” pungkasnya menyemangati para penyintas yang ditemuinya agar tidak bernasib sama denganya.

Read more...

Ketika Dua “Mahkota” Fithriani Direnggut di Meja Operasi

Jakarta – Payudara dan rahim adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada perempuan. Tak sedikit perempuan yang merogoh kocek ratusan juga untuk menjaga dan merawat kedua mahkota itu dengan perawatan istimewa.

Tak ada satu pun perempuan yang rela kehilangan salah satu  mahkotanya. Tapi bagaimana jadinya jika perempuan harus merelakan kedua mahkota itu direnggut di meja operasi. Butuh berbagai alasan dan keberanian kuat untuk merelakan semua itu. Tapi tidak bagi seorang ibu. Ia akan rela dan tak gentar menjalaninya demi anak-anaknya.

Kejadian itu benar-benar dialami Fithriani sepuluh tahun lalu. Hebatnya, Fithriani menghadapainya dengan rasa syukur karena masih bisa bernapas hingga detik ini.

Kepada Jurnas.com, perempuan asal Padang yang berulangtahun setiap 14 November ini menceritakan perjuangan beratnya melawan dua penyakit mematikan. Kanker payudara dan kanker rahim.

Kedua kanker itu berawal ketika Fithriani masih berusia 33 tahun. Kala itu, tidurnya terusik. Ia kaget ketika meraba payudara kirinya ada semacam benjolan asing. Tak sakit tapi cukup membuat jantungnya berdegup kencang. Ia takut terkena kanker payudara sementara ia masih memberikan ASI pada anaknya.

Setelah berdiskusi sesaat, Fithriani dan suami sepakat membiarkan benjolan itu hingga satu tahun ke depan, sampai anak keduanya diberikan ASI cukup. Dua tahun kemudian, benjolan di payudara kiri ibu dua anak ini belum juga hilang. Akhirnya, diantar suaminya, Fithriani memutuskan memeriksakan benjolan tersebut ke dokter.

Pada pemeriksaan pertama, Fithriani divonis memiliki Fibroadenoma alias FAM, yang selama ini umum dikenal sebagai tumor jinak di payudara. Solusinya, Fithriani hanya disarankan melakukan operasi pengangkatan benjolan. “Dokter meyakinkan saya bahwa benjolan saya adalah FAM dan diangkat pada 24 Desember 2010,” yakin perempuan bernama lengkap Fithriani Amin ini.

Tapi, di tengah proses operasi, dokter mencurigai benjolan di payudara kirinya bukan hanya FAM. Fithriani pun harus melakukan analisis patologi anatomi jaringan. Hasilnya, dokter memvonis  Fithriani menderita kanker payudara stadium 2B ductal carcinoma invasif.

Fithriani menjelaskan saat itu ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya karena memikirkan kedua buah hatinya yang masih balita. “Bukan main hancurnya perasaan saya,” kenangnya.

Di tengah kesedihan, Fithriani tetap bersyukur. Suami dan orang tuanya terus memberikan dukungan tanpa henti. Dia dan suami pun ikhlas untuk menjalani operasi pengangkatan payudara pada 8 Januari 2011. Namun, operasi itu bukanlah operasi terakhirnya. Saat menjalani kemoterapi Fithriani mengalami menstruasi hebat. Hal ini bertolak belakang dengan proses kemoterapi. “Akhirnya saya dirujuk untuk periksa rahim,” katanya lirih.

Pasca diperiksa, dokter menemukan adanya penebalan di dinding rahim Fithriani. Jika dibiarkan, penebalan ini akan berubah menjadi kanker rahim, yang berisiko tinggi merenggut nyawanya. Dokter pun menyarankan Fithriani menjalani operasi pengangkatan rahim.

“Sokongan dan keridhoan suami mendamaikan saya. Akhirnya, saya pun melakukan operasi angkat rahim,” tutur Fithriani.

Kini, tujuh tahun sudah perjuangan itu berlalu. Fithriani bersyukur, di usianya yang beranjak 43 tahun, dia masih diberikan kesempatan melanjutkan hidup, setelah melewati dua penyakit ganas semasa hidupnya meski harus kehilangan dua mahkotanya.

Read more...

Anisah: Ternyata Obat Kanker itu Ikhlas

Jakarta – Siapapun yang divonis kanker pasti akan merasa selalu dihantui kematian. Tak terkecuali Anisah. Perempuan berusia 51 tahun asal Cilegon ini tak pernah menyangka ketika pertama kali melakukan pemeriksaan kankernya sudah dalam level ganas.

Berawal saat 2015, ketika Anisah merasakan ada benjolan yang diikuti penebalan pada kulit di sekitar payudaranya. “Saat itu kebetulan tidak ada dokter Onkologi yang memeriksa tapi bedah umum,” ingat karyawan anak perusahaan Krakatau Steel ini.

Hingga 2016, Anisah merasakan sakit  karena benjolan dan penebalan itu tidak kunjung reda dan semakin menjadi. Ia pun akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke RS Dharmais Jakarta, berbekal rekap medis dan hasil USG dari RS di kotanya.

“Dokter di Dharmais bilang benjolan saya sudah ganas,” katanya lagi pada Jurnas.com di sela-sela Temu Penyintas Kanker Payudara se Indonesia beberapa waktu lalu.

Tak ada yang bisa dilakukan Anisah kecuali menangis. Ia tidak pernah mengira pemeriksaan awal yang menyatakan tidak ada masalah berarti menjadikanya seorang penderita kanker. Bagi perempuan dimanapun, kanker payudara adalah mimpi buruk yang meruntuhkan kepercayaan dirinya.

Untunglah Anisah memiliki suami yang mendukungnya dan selalu memberinya semangat untuk hidup demi keluarganya. Serangkaian pemeriksaan ia lalui didampingi sang suami tercinta. Perasaan sedih, putus asa dan hancur dikatakan Anisah sudah tak dapat lagi terbendung. Apalagi, ia harus mengikuti serangkaian terapi medis dari dokter. Mulai dari radiasi, kemoterapi dan operasi pengangkatan benjoan di payudaranya.

“Sebelum operasi, dokter memutuskan semua benjolan harus diangkat. Tentu awalnya ada sedikit hambatan, tapi alhamdulillah saya bisa melalui semua itu, bisa beraktivitas lagi dan  bisa ada di sini sekarang,” ujar Anisah lagi seraya mengatakan kanker membawa berkah bagi hidupnya kini.

Kanker menurut Anisah bukan lagi identik dengan kematian tapi peringatan dari tuhan. “Penyakit ini seperti pembersih dosa, ini adalah anugrah sekaligus peringatan bagi saya untuk hidup lebih baik. Kematian adalah rahasia tuhan, kapanpun dan dimanapun bisa terjadi,” tandasnya.

Anisah pun berpesan untuk tidak menunda  melakukan deteksi dini.  Selain tentunya tetap harus menjaga pola hidup dan pikiran yang sehat. Di luar itu semua, dikatakan Anisah lagi, ternyata berserah diri dengan ikhlas adalah obat hati paling mujarab.

”Jangan dipikir berobat itu gampang dan tidak sakit. Kepikiran biaya juga, urusan rumah dan kerjaan. Belum lagi harus bolak-balik rumah sakit sampai rambut botak,” serunya mengenang kembali saat-saat sulit itu. Namun Anisah beruntung, karena kantornya mendukung pengobatan dan masa pemulihanya. Keluarganya pun selalu mendampinginya dengan penuh kasih.

“Jika saja saya tidak ikhlas dan terus mengeluh, entah akan seperti apa saya sekarang,” tutupnya mengajak semua penyintas kanker payudara untuk tetap semangat dan ikhlas melakukan semua tindakan medis. Ah, ternyata ikhlas obat kanker versi Anisah.

Read more...

Janji Yanti Saat Divonis Kanker Payudara

Mengidap kanker bukan satu-satunya mimpi buruk bagi Yanti Setiawadi, namun ia juga harus menghadapi penderitaan lain akibat kemoterapi. Survivor kanker payudara asal Bandung ini pernah merasakan kematian sudah sangat dekat saat anak-anaknya masih kecil. Itu terjadi padsa 2007 ketika dokter memvonisnya mengidap kanker payudara.

Yanti sempat mengabaikan benjolan di payudaranya, meski ia merasakan sakit luar biasa saat mengetahui benjolan di payudaranya sudah berbentuk segiempat pada 2006. Namun ia mengabaikan rasa itu akibat pengaruh teman-temanya yang menganggap benjolan di payudaranya bukan hal yang membahayakan.

“Saat itu saya marah ke Tuhan, kenapa harus saya. Saya sampai meninggalkan kebiasaan saya membaca renungan dan alkitab,’ kata Yanti yang akhirnya memutuskan operasi di 2007.

Yanti mengatakan setelah operasi pada 2007 itu ia harus menjalani 6 kali kemoterapi. Salah satu prosedur pengobatan yang menggunakan bahan kimia sangat kuat untuk menghentikan sekaligus menghambat pertumbuhan sel kanker ini bukanlah perjuangan yang mudah bagi Yanti. “Rasanya nano-nano. Di saat kemo ketiga saya mulai merasa gak kuat. Tapi saya harus yakin sama Tuhan. Di situ saya berjanji pada Tuhan untuk memberi saya kekuatan. Kalau saya kuat menjalani kemo ini, saya berjanji akan mendirikan grup kanker,” cerita Yanti penuh emosi yang mengulang janji itu di kemonya yang kelima dan keenam.

Dia tidak mengucap janji sama di kemonya yang keempat, karena saat itu ibunya mengalami stroke. Pukulan emosional baru bagi Yanti yang harus menahan rasa sakit akibat kemo. Seusai kemo Yanti sempat merasakan kembali beraktivitas seperti semula, meski kepalanya masih botak. Tapi itu hanya sesaat ia rasakah, karena usus buntu menyerangnya. “Teguran lagi dari Tuhan. Tapi saya gak mau operasi. Eh, malah rahim saya kata dokter turun dan akhirnya saya operasi pengangkatan rahim pada Oktober 2007,” kata Yanti lagi menceritakan semua yang ia anggap teguran tuhan padanya.

“Tuhan kenapa di tahun yg sama saya harus kehilangan dua organ yang menjadi ciri khas seorang wanita, kenapa di awal tahun saya kehilangan payudara dan diakhir tahun saya kehilangan rahim,” protes Yanti kala itu.

Yanti pun tersadar akan tiga kali janjinya untuk mendirikan grup peduli kanker payudara di Bandung. Akhirnya seminggu sebelum operasi pengangkatan rahim, Yanti mendirikanya dibantu dua temanya. Perkumpulan itu ia namai Bandung Cancer Society (BSC). Dibantu

“Tuhan punya cara sendiri menguji umatnya. Apapun yg terjadi, itu pasti yang terbaik dari Tuhan. Kanker bukan akhir segalanya, move on and be a winner,” ujarnya lagi penuh syukur saat ditumui Jurnas.Com pada acara yang digelar YKPI beberapa waktu lalu.

Sekilas Bandung Cancer Society (BCS)

BCS didirikan pada 2 desember 2007 dengan tujuan meningkatkan kepedulian terhadap pasien kanker, khususnya di Bandung dan sekitarnya dengan cara memberi bantuan secara moril. Dibantu oleh dokter penasihat berpengalaman di Bandung, program kerja BCS meliputi kunjungan ke pasien kanker yang sedasng atau akan menjalani pengobatan, mengadakan seminar-seminat dengan mengundang pembicara ahli serta mengelola rumah singgah kanker ‘KASIH” untuk menbantu pasien kanker dari luar kota dengan menggunakan BPJS kelas 3.

Read more...

Cerita Inspiratif Linda Gumelar Lawan Kanker Payudara

Jakarta (VIVA) – Divonis kanker payudara di usia yang masih cukup produktif, tak membuat aktivis sekaligus mantan menteri Linda Gumelar patah semangat. Istri dari Agum Gumelar ini mulai mengganti gaya hidupnya menjadi lebih baik.

Linda yang merupakan survivor kanker payudara mengatakan bahwa kepedulian masyarakat dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Sebab jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal, maka kemungkinan untuk bisa mencapai harapan hidup yang lebih lama mencapai sekitar 98 persen.

“Dulu di usia 46 tahun, kanker payudara saya ditemukan di stadium 0 tapi jenis ganas dan di kedua payudara. Itu saya temukan melalui deteksi dini. Makanya saya mendorong untuk deteksi dini pada masyarakat,” ujar Linda saat ditemui dalam acara Yayasan Kanker Payudara Indonesia di kawasan Gatot Subroto beberapa waktu lalu.

Kini, wanita 66 tahun itu menuturkan bahwa selain deteksi dini, gaya hidup yang lebih seimbang sangat dibutuhkan untuk mencegah kanker. Salah satunya dengan berpikir positif.

“Dulu saya selalu perfeksionis, buat saya stres. Sekarang saya upayakan seimbang dengan banyak istirahat dan rileks, tidak memikirkan banyak hal juga saat tidur,” jelasnya.

Linda juga mengatakan mulai senang mendengar musik serta berolahraga meski hanya jenis yang paling sederhana yaitu jalan pagi maupun berenang. Keseimbangan makanan juga diperlukan seperti menghindari lemak dan perbanyak sayur mayur.

“Dulu makannya daging dan dibakar, sekarang banyakin sayur,” kata dia.

Read more...

Cerita Rima Melati Idap Kanker Payudara Stadium Akhir

Jakarta – Aktris senior Rima Melati masih tak habis pikir pernah mengidap kanker payudara stadium akhir pada akhir 1989 silam. Pyasalnya, informasi itu baru dia dapatkan setelah beberapa tahun pulih dari pembunuh nomor dua di Indonesia tersebut.

Saat ditemui di sela-sela kesibukannnya, Rima mengaku sempat kaget saat divonis dokter menderita kanker payudara, kendati saat itu dokter tak memberi tahu stadium kanker yang dia idap. Satu hal yang mengganggu pikiran Rima, anak-anaknya.

“Saya pikir, aduh, siapa yang mau besarkan anak-anak saya? Saya mohon kepada Tuhan, dokter di atas segala dokter, saya ingin anak-anak saya tetap sehat, jangan ada yang seperti saya,” tutur bintang film Intan Berduri itu beberapa waktu lalu.

Tahun ini, genap 29 tahun Rima sembuh dari kanker payudara. Dia ingat, anak-anak dan mendiang suaminya (Frans Tumbuan) selalu mendukungnya agar tetap berjuang lolos dari penyakit tersebut.

Kesetiaan dan kesabaran sang suami pula lah yang membuat Rima sempat drop bertahun-tahun pasca sembuh, ketika Frans meninggal dunia pada 2015 akibat diabetes.

“Saya menangis berlarut-larut karena ditinggal sama suami. Drop sekali waktu itu. Beruntung ada anak-anak yang selalu meyakinkan bahwa suami saya sudah mendapatkan tempat di surga,” terangnya.

Dan sekarang, seolah tak ingin orang lain merasakan penyakit yang pernah dia derita, Rima kini aktif di Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Harapannya, dia bisa membantu para penyintas, dan menyosialisasikan hidup sehat kepada masyarakat.

“Pokoknya satu, serahkan kepada dokter di atas segala dokter, Tuhan yang Maha Kuasa. Pola hidup sehat. Dan terakhir bantu orang-orang di sekitar kita, baik laki-laki maupun perempuan agar terhindar dari penyakit itu,” tandasnya.

Read more...

Anak – Anakku Berlutut dan Menangis

Saat divonis kanker payudara stadium 2A di akhir tahun 2012, sebagai seorang Ibu Tunggal, yang terbayang hanya wajah anak-anakku yang pada saat itu masih berusia 14 dan 12 tahun.

Setelah berdoa berkonsultasi ke medis dan non medis. Akhirnya saya memberitahu anak-anak saya bahwa saya terkena kanker payudara.

Dengan setenang mungkin saya sampaikan kepada mereka “mama kena kanker payudara”.

Walau hanya beberapa saat mereka terdiam lesu, saya merasakan betapa hancur hati mereka mendengar hal itu. Dalam hati saya berteriak “ya Tuhan tolong kuatkan mereka”.

Perlahan mereka berlutut dan kemudian anak pertama saya perlahan memegang tangan saya dan dengan lirih berkata ,”bagaimana dengan kami kalau tidak ada mama lagi?” dan mereka berdua langsung menangis.

Mendengar itu saya baru merasa dunia runtuh, jantung saya terasa berhenti dan hati saya terasa hancur.

Sambil menangis, dalam hati saya berteriak pada Tuhan ,”Tuhan Yesus berikan hikmat agar saya bisa mengerti bagaimana cara menjawab dan menghadapi hal ini.”

Tuhan memang luar biasa baik. Dalam beberapa detik saya merasa mendapatkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa.

Saya berkata kepada mereka “jangan menangis sayang, kan mama belum kenapa-kenapa sekarang. Dengarkan mama, Mama tidak bisa berjanji mama pasti sembuh, karna hanya Tuhan yang punya kuasa menyembuhkan. Tapi mama berjanji mama akan berjuang keras sampai akhir untuk perang dengan kanker supaya bisa terus bersama-sama dengan kalian. Kita berjuang sama2 ya”. Kami bertiga berpelukan sambil menangis.

Janji itu yang membuat mereka mempunyai harapan, janji itu juga memberikan semangat kepada saya, bahwa “saya harus hidup”

Saya menjalani biopsy, operasi, 24 kali kemoterapi, 30 kali radiasi, treatment tulang dan obat lainnya.

Proses penyembuhan kanker itu memang sakit dan perjuangan yang panjang. Bukan hanya kepala botak, kuku hitam, muka menjadi seperti plastik, kehilangan rasa di bagian tubuh dll, akan tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana kita tetap positif dan tetap semangat berjuang.

Ditambah lagi masih harus bekerja untuk biaya medis, hidup dan anak-anak.

Akan tetapi saya sadar bahwa penyebab kanker saya adalah stress dan kepahitan, karna itu saya juga belajar merubah gaya hidup dan belajar merelakan. Mencoba lebih mengisi waktu untuk kegiatan positif, kegiatan sosial dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan saya, Tuhan sudah menyediakan jalan keluar dan bantuan. Dengan support dari keluarga, anak-anak dan orang mencintai saya pada akhirnya melalui perjuangan 1,5 tahun melawan kanker saya dinyatakan “clear” di tahun 2014.

Pelajaran terpenting yang saya dapatkan adalah waktu menunggu antrian dokter bersama puluhan pasien lainnya. Ada suara dalam hati yang bertanya “apa yang pasien-pasien ini harapkan dari dokter?Kesembuhan?”

Lama saya terdiam sampai saya menyadari bahwa jawaban yang benar adalah “mereka mengharapkan tambahan waktu”.

Waktu itu adalah berkat yang sangat berharga dan banyak kali tanpa sadar kita membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk orang-orang yang kita sayangi, selalu memandang kehidupan ini dari sisi positif dan menjalaninya dengan hati yang selalu bersyukur.

Bergabung dengan YKPI sekitar 1,5 tahun yang lalu, Grace merasakan persaudaraan dan bahkan anak-anak Grace juga sering berpartisipasi dalam acara YKPI dan mereka bisa merasa Bapak dan Ibu Agum Gumelar dengan sangat tulus menyayangi mereka. Grace bisa belajar banyak dari sesama survivor yang ternyata melalui proses yang lebih berat dan panjang. Sungguh wanita-wanita pejuang yang luar biasa. Terutama Ibu Linda Agum Gumelar dan keluarga dan seluruh pengurus YKPI yang tanpa mengenal lelah, penuh pengorbanan dan tanpa pamrih sangat berdedikasi untuk memberikan yang terbaik untuk survivors.

Read more...

Anugerah Dibalik Musibah

Anugerah dan musibah yang hadir dalam hidup tidak dapat kita pungkiri. Keduanya datang untuk menjadikan kita sebagai manusia yang lebih bersyukur atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Ketika keduanya datang beriringan, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan rasa syukur.

Inilah yang dihadapi Yolla Anggia. Ketika ia sedang menanti-nantikan kelahiran buah hatinya yang ketiga, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ada kanker stadium 0 dalam dirinya. Meski masih dalam stadium awal, namun dunia serasa runtuh di depan mata wanita berusia 35 tahun ini.

“Saya berasa seperti dunia runtuh, mikirnya sudah kemana-mana. Tapi karena anak-anak masih kecil jadi saya harus bisa menerima ini. Saya merasa ini memang takdir yang harus saya jalani,” ungkap ibu 3 anak ini.

Berawal saat menyusui anak pertama, wanita yang akrab disapa Yolla ini merasakan payudaranya lecet, tepatnya dibagian putingnya. Keadaan tersebut berlanjut saat menyusui anak kedua hingga ke kehamilan anak ketiga dan lecetnya tidak kunjung mengering. Lebih parahnya lagi hingga keluar darah.

Yolla kemudian dirujuk ke dokter onkologi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Karena saat itu posisinya sedang hamil jadi biopsinya direncanakan setelah melahirkan. Namun saat USG ada cairan di saluran ASI sehingga ASI-nya tidak bisa keluar jadi solusinya dibiopsi saat itu juga,” cerita Yolla mengenai kondisinya saat itu.

Kala itu usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan dan waktu baginya untuk mengambil keputusan semakin sempit. Ia didiagnosa mengidap paget’s disease stadium 0. “Biasanya kan ada benjolan, kalau saya di saluran susunya ada cairan. Katanya kalau paget’s disease ini dari saluran susu ke puting sehingga putingnya luka dan tidak kunjung sembuh,” jelas Yolla.

Maka diusia kehamilan 7 bulan, ia memutuskan untuk melakukan mastektomi. “Kalau lumpektomi, belum tahu nanti jaringan kankernya masih ada lagi atau tidak dan nantinya masih harus menjalani terapi. Sedangkan mastektomi langsung diangkat semuanya dan tidak usah melakukan terapi jadi saya memilih mastektomi,” kata Yolla.

Keputusan yang diambil pun didukung penuh oleh suami yang selalu menemaninya. “Suami saya mendukung keputusan saya, yang paling penting saya dan bayi sehat,” ujar Yolla. Ia juga mengatakan bahwa sebelum dilakukan mastektomi, dokter yang akan melakukan operasi tersebut sudah mengkonfirmasi dengan dokter kandungannya. Menurut mereka bahwa langkah yang diambil aman dan tidak memiliki dampak pada kandungannya sehingga ia bersedia untuk melakukan tindakan itu.

Kini setelah berjuang melawan kanker payudara, ia ingin menjaga kondisi kesehatannya sendiri dan keluarganya. Salah satunya dengan menambah pengetahuan mengenai kanker dengan mengikuti beragam acara seperti Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang diadakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 1 Oktober 2016 lalu. Ia berharap bahwa dengan mengikuti acara seperti ini bisa menambah pengetahuannya mengenai kanker itu sendiri, cara penanganannya, dan pola hidup sehat. “Saya ingin tahu makanan dietnya seperti apa, apa yang harus dihindari, karena pengetahuan saya mengenai hal ini masih minim,” tutupnya.

Read more...