daftar para pejuang kanker yang berhasil melewati masa kelamnya

Cerita Inspiratif Linda Gumelar Lawan Kanker Payudara

Jakarta (VIVA) – Divonis kanker payudara di usia yang masih cukup produktif, tak membuat aktivis sekaligus mantan menteri Linda Gumelar patah semangat. Istri dari Agum Gumelar ini mulai mengganti gaya hidupnya menjadi lebih baik.

Linda yang merupakan survivor kanker payudara mengatakan bahwa kepedulian masyarakat dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Sebab jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal, maka kemungkinan untuk bisa mencapai harapan hidup yang lebih lama mencapai sekitar 98 persen.

“Dulu di usia 46 tahun, kanker payudara saya ditemukan di stadium 0 tapi jenis ganas dan di kedua payudara. Itu saya temukan melalui deteksi dini. Makanya saya mendorong untuk deteksi dini pada masyarakat,” ujar Linda saat ditemui dalam acara Yayasan Kanker Payudara Indonesia di kawasan Gatot Subroto beberapa waktu lalu.

Kini, wanita 66 tahun itu menuturkan bahwa selain deteksi dini, gaya hidup yang lebih seimbang sangat dibutuhkan untuk mencegah kanker. Salah satunya dengan berpikir positif.

“Dulu saya selalu perfeksionis, buat saya stres. Sekarang saya upayakan seimbang dengan banyak istirahat dan rileks, tidak memikirkan banyak hal juga saat tidur,” jelasnya.

Linda juga mengatakan mulai senang mendengar musik serta berolahraga meski hanya jenis yang paling sederhana yaitu jalan pagi maupun berenang. Keseimbangan makanan juga diperlukan seperti menghindari lemak dan perbanyak sayur mayur.

“Dulu makannya daging dan dibakar, sekarang banyakin sayur,” kata dia.

Read more...

Cerita Rima Melati Idap Kanker Payudara Stadium Akhir

Jakarta – Aktris senior Rima Melati masih tak habis pikir pernah mengidap kanker payudara stadium akhir pada akhir 1989 silam. Pyasalnya, informasi itu baru dia dapatkan setelah beberapa tahun pulih dari pembunuh nomor dua di Indonesia tersebut.

Saat ditemui di sela-sela kesibukannnya, Rima mengaku sempat kaget saat divonis dokter menderita kanker payudara, kendati saat itu dokter tak memberi tahu stadium kanker yang dia idap. Satu hal yang mengganggu pikiran Rima, anak-anaknya.

“Saya pikir, aduh, siapa yang mau besarkan anak-anak saya? Saya mohon kepada Tuhan, dokter di atas segala dokter, saya ingin anak-anak saya tetap sehat, jangan ada yang seperti saya,” tutur bintang film Intan Berduri itu beberapa waktu lalu.

Tahun ini, genap 29 tahun Rima sembuh dari kanker payudara. Dia ingat, anak-anak dan mendiang suaminya (Frans Tumbuan) selalu mendukungnya agar tetap berjuang lolos dari penyakit tersebut.

Kesetiaan dan kesabaran sang suami pula lah yang membuat Rima sempat drop bertahun-tahun pasca sembuh, ketika Frans meninggal dunia pada 2015 akibat diabetes.

“Saya menangis berlarut-larut karena ditinggal sama suami. Drop sekali waktu itu. Beruntung ada anak-anak yang selalu meyakinkan bahwa suami saya sudah mendapatkan tempat di surga,” terangnya.

Dan sekarang, seolah tak ingin orang lain merasakan penyakit yang pernah dia derita, Rima kini aktif di Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Harapannya, dia bisa membantu para penyintas, dan menyosialisasikan hidup sehat kepada masyarakat.

“Pokoknya satu, serahkan kepada dokter di atas segala dokter, Tuhan yang Maha Kuasa. Pola hidup sehat. Dan terakhir bantu orang-orang di sekitar kita, baik laki-laki maupun perempuan agar terhindar dari penyakit itu,” tandasnya.

Read more...

Anak – Anakku Berlutut dan Menangis

Saat divonis kanker payudara stadium 2A di akhir tahun 2012, sebagai seorang Ibu Tunggal, yang terbayang hanya wajah anak-anakku yang pada saat itu masih berusia 14 dan 12 tahun.

Setelah berdoa berkonsultasi ke medis dan non medis. Akhirnya saya memberitahu anak-anak saya bahwa saya terkena kanker payudara.

Dengan setenang mungkin saya sampaikan kepada mereka “mama kena kanker payudara”.

Walau hanya beberapa saat mereka terdiam lesu, saya merasakan betapa hancur hati mereka mendengar hal itu. Dalam hati saya berteriak “ya Tuhan tolong kuatkan mereka”.

Perlahan mereka berlutut dan kemudian anak pertama saya perlahan memegang tangan saya dan dengan lirih berkata ,”bagaimana dengan kami kalau tidak ada mama lagi?” dan mereka berdua langsung menangis.

Mendengar itu saya baru merasa dunia runtuh, jantung saya terasa berhenti dan hati saya terasa hancur.

Sambil menangis, dalam hati saya berteriak pada Tuhan ,”Tuhan Yesus berikan hikmat agar saya bisa mengerti bagaimana cara menjawab dan menghadapi hal ini.”

Tuhan memang luar biasa baik. Dalam beberapa detik saya merasa mendapatkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa.

Saya berkata kepada mereka “jangan menangis sayang, kan mama belum kenapa-kenapa sekarang. Dengarkan mama, Mama tidak bisa berjanji mama pasti sembuh, karna hanya Tuhan yang punya kuasa menyembuhkan. Tapi mama berjanji mama akan berjuang keras sampai akhir untuk perang dengan kanker supaya bisa terus bersama-sama dengan kalian. Kita berjuang sama2 ya”. Kami bertiga berpelukan sambil menangis.

Janji itu yang membuat mereka mempunyai harapan, janji itu juga memberikan semangat kepada saya, bahwa “saya harus hidup”

Saya menjalani biopsy, operasi, 24 kali kemoterapi, 30 kali radiasi, treatment tulang dan obat lainnya.

Proses penyembuhan kanker itu memang sakit dan perjuangan yang panjang. Bukan hanya kepala botak, kuku hitam, muka menjadi seperti plastik, kehilangan rasa di bagian tubuh dll, akan tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana kita tetap positif dan tetap semangat berjuang.

Ditambah lagi masih harus bekerja untuk biaya medis, hidup dan anak-anak.

Akan tetapi saya sadar bahwa penyebab kanker saya adalah stress dan kepahitan, karna itu saya juga belajar merubah gaya hidup dan belajar merelakan. Mencoba lebih mengisi waktu untuk kegiatan positif, kegiatan sosial dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan saya, Tuhan sudah menyediakan jalan keluar dan bantuan. Dengan support dari keluarga, anak-anak dan orang mencintai saya pada akhirnya melalui perjuangan 1,5 tahun melawan kanker saya dinyatakan “clear” di tahun 2014.

Pelajaran terpenting yang saya dapatkan adalah waktu menunggu antrian dokter bersama puluhan pasien lainnya. Ada suara dalam hati yang bertanya “apa yang pasien-pasien ini harapkan dari dokter?Kesembuhan?”

Lama saya terdiam sampai saya menyadari bahwa jawaban yang benar adalah “mereka mengharapkan tambahan waktu”.

Waktu itu adalah berkat yang sangat berharga dan banyak kali tanpa sadar kita membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk orang-orang yang kita sayangi, selalu memandang kehidupan ini dari sisi positif dan menjalaninya dengan hati yang selalu bersyukur.

Bergabung dengan YKPI sekitar 1,5 tahun yang lalu, Grace merasakan persaudaraan dan bahkan anak-anak Grace juga sering berpartisipasi dalam acara YKPI dan mereka bisa merasa Bapak dan Ibu Agum Gumelar dengan sangat tulus menyayangi mereka. Grace bisa belajar banyak dari sesama survivor yang ternyata melalui proses yang lebih berat dan panjang. Sungguh wanita-wanita pejuang yang luar biasa. Terutama Ibu Linda Agum Gumelar dan keluarga dan seluruh pengurus YKPI yang tanpa mengenal lelah, penuh pengorbanan dan tanpa pamrih sangat berdedikasi untuk memberikan yang terbaik untuk survivors.

Read more...

Anugerah Dibalik Musibah

Anugerah dan musibah yang hadir dalam hidup tidak dapat kita pungkiri. Keduanya datang untuk menjadikan kita sebagai manusia yang lebih bersyukur atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Ketika keduanya datang beriringan, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan rasa syukur.

Inilah yang dihadapi Yolla Anggia. Ketika ia sedang menanti-nantikan kelahiran buah hatinya yang ketiga, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ada kanker stadium 0 dalam dirinya. Meski masih dalam stadium awal, namun dunia serasa runtuh di depan mata wanita berusia 35 tahun ini.

“Saya berasa seperti dunia runtuh, mikirnya sudah kemana-mana. Tapi karena anak-anak masih kecil jadi saya harus bisa menerima ini. Saya merasa ini memang takdir yang harus saya jalani,” ungkap ibu 3 anak ini.

Berawal saat menyusui anak pertama, wanita yang akrab disapa Yolla ini merasakan payudaranya lecet, tepatnya dibagian putingnya. Keadaan tersebut berlanjut saat menyusui anak kedua hingga ke kehamilan anak ketiga dan lecetnya tidak kunjung mengering. Lebih parahnya lagi hingga keluar darah.

Yolla kemudian dirujuk ke dokter onkologi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Karena saat itu posisinya sedang hamil jadi biopsinya direncanakan setelah melahirkan. Namun saat USG ada cairan di saluran ASI sehingga ASI-nya tidak bisa keluar jadi solusinya dibiopsi saat itu juga,” cerita Yolla mengenai kondisinya saat itu.

Kala itu usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan dan waktu baginya untuk mengambil keputusan semakin sempit. Ia didiagnosa mengidap paget’s disease stadium 0. “Biasanya kan ada benjolan, kalau saya di saluran susunya ada cairan. Katanya kalau paget’s disease ini dari saluran susu ke puting sehingga putingnya luka dan tidak kunjung sembuh,” jelas Yolla.

Maka diusia kehamilan 7 bulan, ia memutuskan untuk melakukan mastektomi. “Kalau lumpektomi, belum tahu nanti jaringan kankernya masih ada lagi atau tidak dan nantinya masih harus menjalani terapi. Sedangkan mastektomi langsung diangkat semuanya dan tidak usah melakukan terapi jadi saya memilih mastektomi,” kata Yolla.

Keputusan yang diambil pun didukung penuh oleh suami yang selalu menemaninya. “Suami saya mendukung keputusan saya, yang paling penting saya dan bayi sehat,” ujar Yolla. Ia juga mengatakan bahwa sebelum dilakukan mastektomi, dokter yang akan melakukan operasi tersebut sudah mengkonfirmasi dengan dokter kandungannya. Menurut mereka bahwa langkah yang diambil aman dan tidak memiliki dampak pada kandungannya sehingga ia bersedia untuk melakukan tindakan itu.

Kini setelah berjuang melawan kanker payudara, ia ingin menjaga kondisi kesehatannya sendiri dan keluarganya. Salah satunya dengan menambah pengetahuan mengenai kanker dengan mengikuti beragam acara seperti Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang diadakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 1 Oktober 2016 lalu. Ia berharap bahwa dengan mengikuti acara seperti ini bisa menambah pengetahuannya mengenai kanker itu sendiri, cara penanganannya, dan pola hidup sehat. “Saya ingin tahu makanan dietnya seperti apa, apa yang harus dihindari, karena pengetahuan saya mengenai hal ini masih minim,” tutupnya.

Read more...

Kanker, Ini adalah Anugerah

Pola hidup sehat dengan tidak merokok, minum jus setiap pagi dan menjaga pola makan sehat merupakan rutinitas yang aku lakukan dua tahun belakangan ini. Bukan karena aku sok sehat, bukan karena aku bergaya mengikuti tren yang ada di jaman sekarang, dan bukan juga untuk menyombongkan diriku di hadapan orang lain. Ya, aku mejalani semua itu karena aku memang harus menjalaninya, karena aku ingin sembuh, hanya itu.

Kenalkan, namaku Jane Odorlina Sitompul, panggil aku Jane, wanita berambut pendek yang selalu aktif. Aku senang menjalani hidupku seperti ini, tidak memikirkan apa kata orang lain, menikmati setiap detik yang ada di dalam hidupku, dan juga menikmati waktu kebersamaanku bersama keluarga ku.

Hingga aku menerima anugerah terindah itu, yang diberikan Tuhan untuk diriku. Tuhan memberikan kado spesial di akhir Mei 2015, tepatnya 28 Mei 2015. Ya, anugrah Tuhan adalah kanker yang ada dalam tubuhku.

28 Mei 2015 adalah hari dimana dokter memberikanku hasil dari pemeriksaan, penelitian, USG dan pemeriksaan lainnya yang menyatakan bahwa aku positif mengidap penyakit yang semua orang tahu menakutkan. Ya, orang-orang menilai kanker adalah penyakit yang sangat menakutkan.  Aku hanya bisa menangis mendengar apa yang dokter katakan kepadaku. Aku takut, sama seperti wanita lainnya yang sangat takut dengan apa yang ada dalam tubuhku. Dengan hangat, dokter memeluk diriku, memberikanku sedikit kekuatan untuk menerima apa yang terjadi.

Dengan dukungan yang diberikan keluarga, masukkan dari pihak dokter, dan juga keinginanku untuk sembuh, aku memutuskan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui apakah penyakit ini sudah menyebar luas di dalam tubuhku atau tidak.

Tuhan memang baik, penyakit mengerikan ini belum menyebar ke bagian tubuhku yang lain, dan dokter mengatakan aku harus langsung melakukan tindakan operasi untuk menghindari penyebarannya ke bagian tubuh yang lain.

Aku yakin akan sembuh. Aku yakin bisa menikmati hidup seperti sebelumnya. Akhirnya, pada tanggal 6 Juli 2015 aku melakukan operasi pertamaku. Setelah tindakan operasi dilaksanakan, aku mengikuti saran dokter untuk melajutkan ke tahap radiasi dan juga kemoterapi. Semua ini aku lakukan dengan hati yang ikhlas, semua ini ku lakukan dengan sukacita.

Setelah serangkaian pengobatan yang aku jalani, aku dikenalkan oleh Lisa, temanku, untuk ikut bergabung dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). YKPI sangat memiliki peranan penting bagi diriku. Di sana ak bertemu dengan orang-orang yang bernasib sama dengan diriku. Aku tidak sendiri lagi, aku memiliki teman yang memiliki satu tujuan, yaitu menikmati hidup usai berjuang melawan kanker payudara. YKPI memberikanku wawasan yang lebih luas, memberikanku pengalaman lebih, dan memberikanku hidup yang lebih bewarna.

Kanker dengan stadium rendah yang bersarang dalam diriku, aku masih sangat bersyukur. Banyak dari teman-temaku yang mengidap kanker payudara dengan stadium tinggi dibandingkan diriku, dan mereka bisa menikmati hidup. Jika mereka maka bisa akupun bisa.

Aku yakin dokter adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk diriku. Karena aku yakin, Tuhan masih sangat sayang kepadaku. Terima kasih Tuhan untuk anugerah yang Engkau berikan kepada ku

 

Penulis: Fatin Hamamah Zain/Team PR & Media YKPI

 

Read more...

Energi Positif Mengubah Sesuatu Jadi Lebih Semangat

Bulan Mei 19 tahun yang lalu, Rusmeini Subronto divonis oleh dokter menderita kanker payudara. Berdasar pada pengalaman sahabatnya yang terkena kanker payudara memberikan peringatan tersendiri kepada Rusmeini untuk peka terhadap kesehatannya. “Sahabat saya mengingatkan untuk sering meraba payudara, apakah ada benjolan atau tidak. Ketika saya raba, kok di sebelah kiri saya ada benjolan?” ujar wanita yang akrab disapa Ibu Rus ini.

Kemudian pada bulan Oktober 1997, rutinitas check up tahunan dari perusahaan tempatnya bekerja membawanya untuk kembali memeriksakan diri dan melakukan konsultasi lebih lanjut pada dokter mengenai benjolan yang ada pada payudaranya itu. Dokter menyimpulkan bahwa ada kanker stadium satu yang bersarang di payudaranya. Kemudian Rusmeini terbang ke Singapura untuk kembali memeriksakan dirinya di rumah sakit Mount Elizabeth.

“Hari Minggu saya tiba, Seninnya dilakukan needle biopsy. Dokter mengatakan bahwa benjolan itu harus diangkat kemudian dilakukan frozen section, untuk melihat CA (cancer antigen) itu ada di  tingkat berapa. Ketika dilihat ternyata sudah ganas jadi malam itu juga langsung diadakan operasi pengangkatan,” cerita Ibu Rus.

Menjalani proses dari terdiagnosa hingga operasi yang begitu cepat tidak memberikan dampak signifikan bagi Rusmeini untuk terpuruk atas kondisi kesehatannya. Ia mengemukakan bahwa tidak menunda-nunda dan cepat mengambil keputusan, bahkan dalam keadaan mendesak sekalipun, adalah kunci baginya untuk terus survive menghadapi penyakit ini.

Usai operasi dilakukan, ibu berusia 63 tahun ini  harus menjalani serangkaian kemoterapi. Awalnya kemoterapi tersebut dilakukan setiap hari.  Walau sudah lupa detailnya, akan tetapi pada saat itu ia diharuskan bermukim selama dua minggu di Singapura berkaitan dengan tindakan paska operasi tersebut. Kemudian intensitasnya dikurangi menjadi sebulan sekali dan tiga bulan sekali. Setelah itu, ia disarankan melakukan check up dari tiga bulan, enam bulan hingga setahun sekali hingga saat ini.

“Saya waktu itu sempat down saat dokter bilang saya harus dikemo. Tahun 98 lagi krisis dan kemo itu mahal sekali tapi atasan saya bilang untuk tetap lanjutin saja,” ujar wanita yang hingga saat ini masih bekerja di Matari Advertising. Rusmeini juga mengaku tidak pernah terbayangkan kemoterapi itu seperti apa dan bagaimana. Ibu dua anak ini berpikir bahwa sebaiknya tidak mengetahui kemoterapi itu seperti apa dan memilih untuk menjalaninya saja.

Lima tahun berselang, Rusmeini kembali didiagnosa menderita kanker, namun kali ini paru-paru menjadi sarangnya. Awalnya dokter menyarankan untuk dilakukan kemoterapi agar sel kanker dibuat mengecil namun setelah beberapa kali kemoterapi dilakukan, operasi pengangkatan cancer antigen tersebut tak terhindarkan. Setelah operasi dilakukan, ia kembali harus menjalani kemoterapi dan radiasi.

Usai berjuang melawan kanker payudara dan paru-paru, Rusmeini kini menjadi tempat curahan hati para penderita kanker lainnya, karena baginya sharing memiliki peranan penting untuk mengurangi beban penyakit yang diderita. Ia menambahkan bahwa seseorang yang pernah berjuang melawan penyakit tersebut adalah tempat yang cocok untuk berbagi. “Orang yang kena CA, kalau tidak punya tempat untuk diskusi, akan punya pemikiran sendiri yang menggerogoti hati dan pikirannya. Kalau kamu sakit dan yang memberi saran adalah orang yang pernah mengalami, mereka akan merasa lebih nyaman karena sama-sama pernah merasakan,” ungkap ibu dua anak ini.

Rusmeini menekankan bahwa peranan lain untuk tetap bertahan melawan penyakit adalah dengan mengikuti apa yang dikatakan dokter, menjalani kegiatan yang disukai, dan tidak memikirkan sesuatu yang kita tidak bisa ambil keputusannya. Ia hanya memikirkan apa yang bisa ia ubah. “Seperti apa yang Stephen Covey bilang, circle of influence atau circle of concern. Kalau kita tidak bisa ubah ya concern aja. Tapi kalau kita bisa ubah berarti masuk ke circle of influence. Energi kalau positif bisa mengubah sesuatu jadi lebih semangat,” jelasnya. “Dan tentu saja tidak lupa selalu berdoa kepada Allah SWT,” tambah Rusmeini

Walau baru beberapa bulan bergabung di grup whatsapp Pita Pink-YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), Rusmeini merasakan energi positif yang dibagikan kepada para penyintas kanker payudara melalui program-program YKPI yang dijalankan bagi para penyintas. “Highly appreciated untuk YKPI, terutama untuk ibu Agum Gumelar dan timnya yang telah bekerja keras dan dengan network-nya yang oke banget. Ada line dance, fitness bareng, nonton bareng. Luar biasa,” tutup Rusmeini. Hal ini memberikan pelajaran tersendiri bahwa penyakit yang diderita harus dilawan dan bukan menjadi penghalang untuk tetap menikmati hidup selama kita selalu menanamkan energi positif.

Penulis: Mathilde Liliana P/Team PR & Media YKPI

Read more...

Ucapan Anak Membuat Saya Ingin Sembuh

Saya, Maylania, kini menginjak usia 43 tahun. Saya ingat sekali di pagi hari tanggal 28 September 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun anak pertama saya, saya divonis menderita kanker payudara di bagian kanan. Masih dalam keadaan shock, saya menolak untuk percaya. Saya merasa ada keluhan di bagian kiri, kenapa payudara kanan saya yang ada pengapuran? Pasti dokternya salah. Payudara kiri saya hanya terdapat benjolan yang boleh diambil atau tidak. Saya merasa tidak mungkin. Namun, setelah saya cek di tempat lain, diagnosanya tetap sama. Saya kanker payudara bagian kanan.

Sore harinya, saya mendatangi acara ulang tahun anak saya yang ke 7 tahun. Saya hanya terduduk di pojok ruangan. Teman-teman anak saya satu per satu mulai berdatangan bersama mama-nya. Saya menangis mengingat bahwa anak saya sebentar lagi akan kehilangan saya sebagai mama-nya. Bagaimana nanti di ulang tahunnya yang ke 8 atau ke 9? Saya tidak lagi bisa hadir mendampinginya. Lalu nanti kalau temannya ulang tahun, siapa yang akan menemaninya ke acara ulang tahun temannya? Saya menatap anak saya yang sedang bahagia bersama papanya. Saya tidak tega membayangkan anak saya sedih ketika saya tidak ada nanti.Hanya semua itu yang ada di pikiran saya. Kalau kanker, ya sudah pasti akan meninggal. Tidak ada harapan untuk bisa sembuh.

Puji Tuhan, operasi saya berjalan lancar. Sebulan setelah operasi, saya menjalani kemoterapi selama 6 kali setiap seminggu sekali. Rambut saya perlahan mulai rontok. Anak saya yang selalu mengambil helai-helai rambut saya yang bertebaran di lantai. Saya menatap cermin, rambut saya mulai menipis. Saya terlihat sakit dan lemah. Daripada terus-terusan melihat rambut saya jatuh dari kepala saya, saya mengambil keputusan untuk mencukur habis semua rambut yang tumbuh di kepala saya.

Dukungan terus diberikan oleh keluarga, teman, dan tetangga. Mereka selalu memberi semangat kepada saya selama proses kemoterapi yang sangat menyiksa. Mereka juga terus mengingatkan saya untuk minum obat terapi hormon setiap hari selama sepuluh tahun. Namun, sumber kekuatan yang paling utama muncul dari anak saya yang berusia 2 tahun saat itu. Saya tidak mau makan asupan nutrisi yang dianjurkan oleh dokter. Saya harus makan makanan seperti putih telur dan sari ikan kutuk. Rasanya yangtidak enak dan baunya yang amis membuat saya mual. Tapi kala itu, ia memberikan makananannya kepada saya seraya berucap, “Ayo Ma, kita minum bareng.”

Saya pun menahannya, “Jangan, Nak. Rasanya tidak enak.” Namun anakku tetap memaksa untuk ikut makan, “Mama makan, aku juga makan. Ayo kita makan ini bersama supaya mama tidak sendirian.” Saya langsung tersentak, betapa inginnya anak saya ingin saya sembuh sampai dia ingin ikut merasakan pahitnya makanan itu. Saya langsung merasakan kekuatan untuk melawan penyakit kanker ini. Saya ingin berjuang agar bisa sembuh dan terus bisa bersama anak-anak saya.
Saat saya operasi, saya dikunjungi oleh Ibu Theresia, ketua RRS (Reach to Recovery Surabaya). Saya ikut bergabung dengan komunitas itu setelahnya. Saya ingin menularkan rasa semangat saya kepada orang lain yang juga sedang sakit atau yang sedang kemoterapi. Seperti acara yang diadakan YKPI ini, penting untuk bertemu dengan sesama survivor dan yang sedang mengalami kanker payudara. Kita bisa saling berbagi dan menguatkan diri. Saya menjadi sadar bahwa saya tidak sendiri, saya memiliki banyak saudara yang mengalami hal yang sama. Kita harus semangat dan kuat melawan kanker payudara. Kita tidak sendirian.

Penulis: Riska Lenggogini/Team PR & Media YKPI

Read more...

Melawan Kanker dengan Semangat Hidup

Ada yang berbeda di bulan puasa tahun 2016 ini, saya, Zartini, melakukan tadarusan di rumah seperti biasa ketika saya merasa nyeri di payudara saya. Rasa sakit ini terasa lain dan serius. Saya langsung teringat kata-kata teman saya yang meninggal karena kanker payudara 8 tahun lalu, rasa nyerinya sampai tembus ke punggung belakang. Saya langsung meraba payudara dan ada benjolan yang muncul. Saya kaget karena saya sudah tiga kali mammografi, dan tidak pernah ada apa-apa. Terakhir saya mammografi adalah dua tahun lalu yang hasilnya negatif.

Suami langsung menyarankan saya segera ke dokter. Dokter Didit di Rumah Sakit Rawamangun mengatakan,  kalau 2 tahun yang lalu belum muncul dan sekarang ada benjolan, kemungkinan adalah kanker ganas. Saya menolak percaya karena saya merasa bahwa ini tidak mungkin ganas. Saya sering kontrol kok. Saya pun meminta untuk menunda operasi sampai habis lebaran. Namun, dokter menyarankan untuk mengambil langkah segera. Tiga hari kemudian, saya menjalani operasi. Ternyata Dokter Didit benar, kanker yang tumbuh adalah kanker ganas sehingga payudara saya harus diangkat.

Kanker itu berat. Tidak mudah bagi saya yang kini memasuki usia 52 tahun menjalani semuanya. Dunia saya terasa runtuh. Saya selalu merasa bahwa kematian itu nyata berada di depan saya. Saya selalu merasa gelisah setiap kali saya mencoba tidur. Perasaan saya sakit, seperti ada beban besar di hati saya yang membuat saya tercekat. Saya menangis sambil menggumam dalam hati, “Besok saya masih bisa bangun tidak ya?”

Setiap malam, selalu kata-kata itu yang saya ucapkan. Ketika terbangun di besok paginya, saya selalu mengucap syukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk terus menghembuskan napas. Saya masih bertahan untuk bisa terus hidup.

Proses kemoterapi juga tidak kalah beratnya. Makan yang adalah hal paling esensial bagi makhluk hidup menjadi musuh berat saya. Saya selalu keringatan setiap kali akan makan. Perut saya mual. Mulut dan lidah saya penuh dengan sariawan. Makanan sulit sekali untuk masuk ke mulut saya. Saya selalu merasa kelaparan, tapi makanan tetap saja susah untuk dikonsumsi. Saya merasa frustrasi. Dokter menyarankan saya makan saja semuanya, tapi saya selalu ketakutan. Apa boleh saya makan ini? Memangnya kalau saya makan itu tidak akan berpengaruh pada kanker saya? Saya parno dengan semua yang akan saya makan.

Saya down. Saya hanya terbaring di kasur, sambil terus mengaji dan dzikir. Saya tidak semangat untuk melakukan aktivitas lain.  Lalu kemudian, semua itu berubah ketika ponsel saya berdering dari ibu Enita dari YKPI. Dia menelepon saya sampai malam hari, menyemangati saya agar tetap teguh dan kuat. Saya diajak untuk ikut YKPI dimana banyak orang-orang yang menderita hal sama seperti saya.

Benar saja, setelah itu saya merasa bahwa kanker yang saya lawan itu ya sama dengan perempuan-perempuan ini. Keluhan yang dirasakan sama. Penderitaan yang dijalani juga tidak ada bedanya dengan saya. Saya langsung bertanya-tanya dengan sesama penderita tentang pengalaman mereka selama kemoterapi. Mereka bilang bahwa saya harus tetap makan supaya tidak kekurangan nutrisi. Justru sehabis kemoterapi, makan itu hal yang wajib dan sangat diperlukan. Saya pun percaya pada mereka. Mereka sudah melewati itu semua kok, berarti saya juga bisa.

Keluarga juga memberi dukungan yang besar. Suami saya rela mengambil pensiun dini untuk mengurus saya padahal dia masih memiliki waktu kerja hingga 7 bulan lagi. Saya juga selalu terbayang anak saya Rizky, karena dia penyandang autism yang tentu sangat membutuhkan saya. Hal yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya adalah kata-kata mereka yang berkata, “Mama yang kuat ya, kita masih ingin selalu bersama Mama. Kita sangat membutuhkan Mama” Semangat dan dukungan darisuami beserta keluarga memang sangat dibutuhkan untuk melawan kanker pada saat kita benar-benar down.

Baru-baru ini saya menjalani kemoterapi yang ketiga. YKPI selalu menyemangati saya selama masa kemoterapi ini. Mereka selalu bilang, kenapa harus takut dengan kanker anggap saja seperti sakit pusing biasa. Dengan dukungan dan semangat dari teman-teman, saya sekarang semangat. Saya sudah mulai senang melakukan aktivitas dan ikut acara-acara.

Paling terpenting dalam menjalani kemoterapi adalah harus adanya semangat untuk sembuh dan semangat untuk makan. Harus ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Kalau mual ya harus dipaksa. Lawan kemoterapi dengan terus makan. Memang berat, saya mengakuinya, tapi jika ingin sembuh kita harus lawan kemoterapi. Lawan kanker. Jika ada semangat dan kemauan, dan tidak lupa juga untuk terus berdoa, Insya Allah kita akan sembuh.

Penulis: Riska Lenggogini/Team PR dan Media YKPI

Read more...

Anak Jadi Penyemangatku Melawan Kanker Payudara

Kehadiran anak dalam keluarga adalah salah satu karunia terindah yang diberikan Tuhan, terkhusus bagi seorang Ibu. Begitu pula dengan Nitta Suzanna, baginya sang anak adalah segalanya. Nitta sangat beruntung dimana saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya, disaat itu pula sang anak hadir memberikan semangat yang begitu amat besar padanya. Ya, pada Oktober 2015 silam wanita 38 tahun ini harus menerima kenyataan pahit bahwa ia divonis menderita kanker payudara stadium 2 grade 3. Dunia seakaan runtuh pada saat itu, hatinya ciut seketika. Namun sang anak, Farrel hadir sebagai motivator dalam kehidupannya.

“Kamu hebat, mommy…”

“Kamu cantik, mommy…”

“Kamu harus ada buat aku ya…”

“Kamu pasti sembuh…”

Kata-kata inilah yang selalu terlontar dari sang anak. Bocah 11 tahun ini begitu memberikan kekuatan dan semangat pada Nitta untuk bangkit dan sembuh dari kanker payudara. Ditambah lagi dukungan dari keluarga besar yang selalu berlimpah untuk Nitta.

“Saya pasti bisa sembuh…” ucap Nitta kala itu. Ia ingin semangat yang sang anak dan keluarga telah berikan kepada dirinya tidak berakhir sia-sia hanya karena kesedihan dan kepasrahan semata akan penyakit ini (kanker payudara).

Akhirnya awal November 2015, Nitta menjalani operasi Lampektomi di Rumah Sakit Pondok Indah. Lampektomi sendiri adalah operasi pengangkatan sel atau jaringan kanker payudara tanpa perlu mengangkat payudara. Pengobatan berlanjut, Januari 2016 hingga April 2016 Nitta menjalani kemoterapi sebanyak enak kali (setiap 3 minggu sekali).

Menjalani kemotarapi bukanlah hal yang mudah, rasa sakit kerap ia rasakan setelah menjalani ritual yang satu ini. Tubuh lemah, diare, mual, dan masalah kerontokan rambut. Hal inilah yang terus menerus Nitta rasakan setiap selesai menjalani kemoterapi. Kesabarannya membuahkan hasil, tepat dihari ulang tahunnya yang jatuh pada 29 April 2016 ia dinyatakan bersih. Hasil PET scan menunjuka bahwa tidak ada penyebaran jaringan kanker payudara. “Ini merupakan kado ulang tahun terindah sepanjang hidup saya…” ungkapnya bahagia. Sejak itu, Nitta mulai menjalani radiasi sebanyak 25 kali dan mulai menjalani terapi hormon dengan tamofen untuk 5 tahun kedepan.

Nitta menyadari bahwa ia tidak bisa melawan takdir Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk dirinya. Nitta bertekad untuk mengalahkan kanker payudara dengan selalu berfikir positif. Tekadnya untuk melawan kanker payudara pun ia buktikan dengan bergabung bersama YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia). Bergabungnya ia dengan YKPI pun dirasa sudah menjadi jalan Tuhan. Sebab tepat 8 bulan sebelum Nitta divonis mengidap kanker payudara, ia telah memutuskan untuk menjadi volunteer di sebuah lembaga yayasan. “Pada saat itu saya berfikir, sudah saatnya saya memberikan kontribusi untuk masyarakat” ujarnya. Namun tidak ada lembaga yayasan yang memberikan respon hingga akhirnya YKPI merespon niat baiknya tersebut. Nitta ingin menginspirasi dan mengajak wanita-wanita di Indonesia untuk melakukan deteksi dini payudara. “Semakin cepat terdeteksi, semakin kecil risikonya. Dihimbau untuk melakukan yang telah dokter sarankan dan untuk tidak melakukan pengobatan secara alternatif” pesannya kepada para wanita.

Penulis: Azizah Nadilla Syahna/Team PR & Media YKPI

Read more...

Kemoterapi Pertama Jadi Kado Ulang Tahun

Endang Widyastuti masih tampak bugar di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh. Jika kita melihat sekilas, tidak terlihat tanda-tanda bahwa wanita berusia 69 tahun ini adalah seorang survivor kanker payudara. Berawal dari tahun 2000 ketika ia menemukan benjolan di payudara kirinya karena rabaan. Benjolan itu tidak terasa sakit, namun karena perasaan curiga yang muncul, ibu yang akrab disapa Endang ini langsung memeriksakan diri ke Rumah Sakit Pertamina. Setelah dilakukan mamografi dan pemeriksaan darah, tidak ditemukan indikasi CA (cancer antigen).

Dua tahun berselang ketika ada beban kerja yang berat dan Jakarta dilanda bencana banjir besar, Ibu Endang yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial PemProv DKI Jakarta memiliki tanggung jawab yang besar atas pekerjaannya dan mulai kurang beristirahat. Efeknya, benjolan itu kemudian mulai berdenyut terasa sakit dan terkadang mengeluarkan cairan. “Rasanya seperti bengkak ketika kita mau menyusui anak namun saat dilihat justru biasa saja, tidak bengkak,” jelas Ibu Endang.

Selain benjolan pada payudara, terdapat benjolan lainnya dibagian leher Ibu Endang yang jika diraba terasa masif sehingga ia memutuskan untuk kembali memeriksakan diri ke dokter umum di Rumah Sakit Pertamina. Dokter umum menyarankannya ke dokter bedah dan kemudian dilakukan pemeriksaan darah, mamografi, dan beberapa pemeriksaan lainnya. Saat melihat hasil pemeriksaan itu dokter mengatakan, “Ya, ini harus dioperasi.”

Dari hasil rabaan dokter pada kedua benjolan itu, diperkirakan ada tiroid di leher dan di payudara hanya benjolan biasa. Namun ketika di atas meja operasi ternyata ada cancer antigen di payudara. Kemudian dengan persetujuan suaminya, tiroid dan payudara Ibu Endang diangkat. Setelah itu, dimulailah 6 kali kemoterapi dan 25 kali sinar, baik di leher maupun payudara. “Jadi, tepat ulang tahun saya ke-55 hadiahnya adalah kemoterapi pertama. Saya ingat sekali,” ujar wanita kelahiran 25 April 1947. Selain itu juga ia harus taat minum obat selama 5 tahun.

Ibu Endang mengaku tidak merasakan apa-apa sampai selesai dioperasi. Namun usai operasi dilakukan, ada dokter, suami, serta anak-anak berkumpul dan mengatakan bahwa payudaranya sudah diambil. “Kata anak-anak ‘Sudah diambil, Ma,’ artinya payudara ini sudah diambil semua. Saya juga tidak terlalu merasakan apa-apa karena masih dalam suasana banyak orang yang menjenguk, begitu sudah tiga hari baru saya menyadari, ‘Oh iya ya, penyakit saya serius, payudara saya sudah tidak ada,’ kemudian saya melihat kepada suami, dia dengan ikhlas sekali membuat saya tidak down.”

“Ketika saya menyadari itu, kemudian saya meminta suami memeluk saya erat-erat untuk memberikan kekuatan pada saya. Disitu suami berkata, ‘Sebetulnya semenjak kamu keluar dari kamar operasi, disitu saya sudah mau peluk kamu tapi banyak sekali selang-selang bergantungan jadi tidak bisa,’” cerita Ibu Endang dengan mata berkaca-kaca.

Kehadiran suami dan kedua anaknya yang setia menemani beserta dukungan sanak saudara dan rekan kerja yang menjenguknya memberikan Ibu Endang kekuatan tersendiri. “Kuat atau tidak sebetulnya ada pada diri kita sendiri untuk menghadapinya. Memang ketika kita sadar maka kita akan bersandar pada sekeliling kita, yang dekat dengan kita, terutama suami. Suami saya support dan tegar, ya saya jadi kuat juga. Begitu juga dengan anak-anak,” tutur wanita dua anak ini.

Sebagai seorang survivor yang sudah terbebas dari kanker payudara selama 14 tahun, Ibu Endang mengungkapkan bahwa ia selalu menuruti nasihat yang diberikan dokter. Dokter mengingatkannya untuk tidak makan makanan berlemak dan jangan lupa beristirahat dengan teratur. Selain itu, melupakan stres berkepanjangan juga menjadi salah satu kuncinya untuk bisa survive hingga sekarang. “Kita harus pintar membuang stres karena stres juga memicu segala penyakit apalagi kalau kita sudah ada indikasi kanker,” pesan Ibu Endang.

Kita tidak pernah menyangka ketika sakit menghampiri. Namun ketika sakit itu sudah ada pada diri kita, yang bisa kita lakukan hanyalah kembalikan kepada Tuhan kemudian berusaha untuk sembuh. Ibu Endang juga menambahkan bahwa penyakit itu ada pemicunya. Pemicunya itu ada dalam pikiran, pola hidup, dan pola makan kita. “Jadi yang saya jaga sekarang adalah pola makan, pola istirahat, dan kemudian yang juga saya jaga adalah perasaan diri. Jadi segala sesuatu jangan dibawa stres, jangan dimasukkan ke hati. Rasional saja semua bisa diselesaikan dan berdoa, pasrah kepada Tuhan,” tutup Ibu Endang.
Penulis: Mathilde Liliana P/Team PR & Media YKPI

Read more...