Kisah Pejuang

daftar para pejuang kanker yang berhasil melewati masa kelamnya

Selamat Jalan, Yesaya

Jakarta, YKPI – Yesaya bukan nama seorang artis, bukan pula pejabat publik. Tapi semangat juang melawan kanker membuat perempuan kelahiran Lampung, 1 Agustus 1980 ini layak mendapatkan perhatian.

Yesaya Fermindi Hohu, begitu nama lengkapnya. Perempuan tangguh mantan pengemudi taksi online itu kini sudah terbaring tenang di balik nisan dan gundukan tanah, semenjak enam tahun lalu divonis menderita kanker payudara stadium 4.

Kala itu, dokter menyebut kanker yang Yesaya alami sudah mengalami metastasis atau penyebaran, hingga ke tulang belakang, rahim, kelenjar getah bening, paru-paru, bahkan otak.

Namun alih-alih menyerah dengan keadaan, Yesaya malah tampil layaknya orang sehat. Dia tak jarang menghibur para penyintas kanker payudara untuk tetap menumbuhkan asa agar sembuh dari penyakit mematikan tersebut.

Bahkan, perempuan murah senyum ini sempat menulis sebuah buku berjudul ‘It’s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker’, yang berisi pengalaman hidupnya melawan kanker sejak Maret 2014 silam.

Yesaya juga aktif menjadi narasumber di berbagai kegiatan seminar atau program televisi, yang menginspirasi pejuang untuk tetap semangat mengalahkan kanker payudara.

Selain mengabdikan dirinya untuk menjadi penyemangat para penyintas kanker, mendiang Yesaya juga mengisi sela-sela harinya dengan berjualan kacamata dan aksesoris kendaraan bermotor.

Hampir setiap hari ketika tidak sedang menjalani pengobatan, Yesaya memarkir mobilnya di bahu jalan untuk menawarkan kaca mata. Bentuk dan warnanya beragam, mulai dari yang polos hingga kacamata unik dengan bingkai menarik.

Uang hasil berjualan tidak Yesaya nikmati sendiri. Dia memberikan sebagian pendapatannya untuk membantu penyintas kanker yang membutuhkan uluran tangan. Dan semua itu dilakukan untuk satu alasan, menumbuhkan kebahagiaan.

11 September 2020 Yesaya menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, setelah berjuang melawan rasa sakit akibat kanker payudara selama enam tahun.

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan Yesaya merupakan sosok luar biasa. Dalam kondisinya, Yesaya tidak pernah mengeluh sedikitpun.

Ditambahkan Linda, sebagai anggota komunitas penyintas kanker payudara YKPI Pita Pink Survivors and Warriors, Yessa dikenal sebagai pribadi sosial dermawan, yang tidak hanya membantu sesama penyintas melainkan juga menyekolahkan anak-anak yang kurang mampu.

“Tentunya banyak yang merasa kehilangan sosok Yessa karena Yessa adalah pejuang yang luar biasa. Dalam kondisi terburuk pun Yessa tak pernah mengeluh dan terus memberi semangat kepada teman-teman sesama pejuang kanker. Selamat jalan sahabat. Semoga keikhlasanmu dalam membangkitkan semangat para pejuang kanker payudara akan menjadi tambahan amal ibadahmu di hadapan Allah. Perjuanganmu yang tanpa lelah akan terus dikenang,” kata Linda pada Senin (14/9).

 

Sumber: Jurnas.com

Read more...

Sempat Acuhkan Benjolan, Derma Derita Kanker Payudara Ganas

Jakarta, YKPI – Derma Boru Sagala menyesal tidak pernah melakukan deteksi dini kanker payudara, setelah mengetahui ada benjolan di payudara kanannya dan terasa panas pada pertengahan 2018 tahun lalu.

Dia kira, itu hanya benjolan biasa. Tapi lama-lama kelamaan benjolan tersebut terasa mengganggu, dan kerap kembali ketika sedang menstruasi.

“Lalu setelah bulan ke-8 saya konsultasi kepada adik-adik, kemudian memeriksakan diri ke rumah sakit. Saya dibiopsi oleh dokter, dan bulan ke-9 keluar PA-nya, ternyata mengarah ke kanker ganas,” ungkap Derma.

Derma lemas. Dia tidak menyangka dihinggapi oleh penyakit mematikan tersebut. Apalagi, perempuan asal Curug, Rejanglebong, Bengkulu itu masih memiliki dua orang anak.

“Dunia saya runtuh, dan saya tidak bisa cerita ke anak-anak saya. Saya merasa dengan timbulnya penyakit ini, saya telah dikutuk Tuhan,” kata dia.

Di tengah keputusasaan tersebut, Derma bertemu Ester, temannya yang juga mengidap kanker payudara. Kebetulan, pada akhir 2018 Ester baru pulang dari menjalani pengobatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Ester, kata Derma, saat ini menyemangatinya agar tidak putus asa. Dia diingatkan bahwa kanker payudara bukan kutukan, melainkan sudah ada potensinya di seluruh tubuh manusia.

“Jujur, waktu tante Ester bilang ke Jakarta, justru saya mikir ke dana. Karena tidak ada dana. Tapi tante Ester bilang BPJS nanggung,” ujar Derma.

Di RS Kanker Dharmais, Derma tidak hanya menjalani operasi pengangkatan payudara. Dia juga sempat menjalani operasi pengangkatan indung telur, karena kankernya sudah meresap ke organ reproduksi tersebut.

Hingga akhirnya, pada 18 Oktober 2019 dia diperkenalkan dengan salah seorang teman Ester, yakni Carolina. Dari Carolina lah Derma mengetahui Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara (YKPI) yang berlamat di Jalan Anggrek Neli Murni Nomor A38, Slipi, Jakarta Barat.

“Kami bersyukur sekali, karena biaya dari daerah itu terbatas. Adanya rumah singgah itu adanya harapan untuk lebih ke arah sehat,” ungkap Derma.

Dengan adanya Rumah Singgah YKPI, Derma kini tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk penginapan selama menjalani pengobatan. Apalagi, di Rumah Singgah dia bisa mendapatkan dukungan dan semangat dari para penyintas kanker payudara lainnya.

“Ini juga nyaman, dengan sesama juga saling support, komunikasi, memberi dukungan-dukungan. Ke rumah sakit pun dekat, bisa jalan kaki. Jadi banyak kemudahan yang kami peroleh,” tandas dia.

Read more...

Tangis Haru Japong Bisa Tinggal di Rumah Singgah

Jakarta, YKPI – Liau Jan Fang tak kuasa menahan air matanya saat ditanya soal Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), yang berlamat di Jalan Anggrek Neli Murni No. A38, Slipi, Jakarta Barat.

Perempuan asal Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) ini hanya bisa bersyukur karena tidak perlu memusingkan biaya tinggal, selama menjalani pengobatan kanker payudara di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

“Kemudahan di Rumah Singgah YKPI ini, saya ke rumah sakitnya dekat. Kalau badan saya tidak bermasalah, saya bisa jalan kaki ke Dharmais, terjangkau,” kata Jan Fang atau yang akrab dipanggil ‘Bu Japong’.

Japong merupakan salah satu penyintas kanker payudara di RS Kanker Dharmais Jakarta. Dia menceritakan, awalnya dia merasakan payudara kanannya mengeras. Padahal dia sedang tidak haid.

Setelah konsultasi ke dokter, Japong disarankan mengonsumsi obat hormon. Namun hasilnya nihil. Dia pun mencoba beragam pengobatan herbal, yang juga berakhir gagal.

“Sudah bermacam-macam herbal dicoba, seperti bajakah, itu juga sudah dicoba. Dan tetap tidak bisa,” ujar dia.

Akhirnya, Japong terbang ke Jakarta seorang diri untuk berobat ke RS Kanker Dharmais. Di hari pertamanya di ibu kota, dia menangis karena tidak memiliki sanak saudara.

“Saya bingung, saya tidak pernah ke Jakarta. Saya duduk, terus nangis. Karena saya sering menangis, saya didatangi seorang ibu, yang mana dia adalah seorang pendeta,” tutur Japong.

Berkat mengenal perempuan pendeta tersebut, Japong mendapatkan informasi mengenai Rumah Singgah YKPI. Dia pun menyanggupi tinggal di rumah singgah tersebut, selain dengan alasan berbiaya murah, juga memiliki banyak teman tinggal.

“Pokoknya saya terbantu, rumah sakitnya pun dekat,” tandas dia.

Read more...

Yesaya, Ketika Kanker Payudara Jadi Tak Menyeramkan

Jakarta – Yesaya Fernindi Hohu tak pernah membayangkan sebelumnya kanker payudara akan membuatnya bolak-balik ke meja operasi.

Namun karena enggan terpuruk dalam kepahitan, Yesa memilih mengabadikan pengalamannya lewat sebuah buku, bertajuk It’s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker.

Saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu, Yesa berulang kali menekankan pentingnya mencegah sejak dini. Hal itu dia lakukan bukan tanpa alasan. Pasalnya perempuan asal Cilacap Jawa Tengah ini sedang berjuang melawan kanker payudara stadium empat.

Sembari menjawab pertanyaan tim, nafas Yesa sempat beberapa kali terengah. Dia tak bisa lama-lama berdiri, sesekali ia memegang bagian kanan bawah ketiaknya, yang baru saja menjalani operasi ke-sembilan.

Saat itu tak ada pilihan lain selain pengobatan. Yesa pun mulai intens menjalani Kemoterapi sebanyak 18 kali, kemo untuk hepar 6 kali, kemo untuk tulang 5 kali, dan radiasi mulai per 25 Oktober, sampai usai operasi ke-sembilan akan diadakan radiasi ulang untuk kelenjar getah bening.

Selama obrolan, Yesa kerap disapa teman-teman yang menanyakan kondisinya usai operasi. Dengan suara renyahnya Yesa menjawab: Aku gak apa-apa kok, siapa yang sakit?

Kekuatan yang dialami Yesa tak serta merta ada, sebab ia pernah mengalami fase terpuruk manakala vonis menghampiri. Saat itu ia banyak merenung, dialog dengan Tuhan melalui salat seraya meyakinkan diri bahwa ia mampu melalui meski sudah lumpuh. Ia tak lagi berpikir kalau kanker itu menyeramkan tapi bagaimana berjuang menghadapinya.

Tak hanya itu, perempuan yang lahir di Lampung ini juga mengisi masa-masa pengobatan dengan menulis catatan-catatan pengalaman hidupnya melalui sosial media.

Aktif menulis hingga seorang kawan pun terketuk ingin bantu menerbitkan kisahnya, sampai kemudian terbit buku bertajuk “It`s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker”.

Buku yang terbit rupanya makin melecutkan semangat sembuh Yesa. Melalui buku itu ia juga menyampaikan betapa deteksi dini itu sangat penting, lewat periksa payudara sendiri (Sadari) dan periksa payudara klinis (Sadanis).

Menulis menjadi terapi bagi Yesa. Dengan menulis, ia tak lagi stres, ditambah dukungan dari keluarga dan teman yang tak ada habis-habisnya.

Read more...

Neni Ismail, Merajut Payudara Artifisial untuk Penyintas

Jakarta – Hidup dengan satu payudara tak jarang membuat perempuan merasa minder. Namun tidak bagi Neni Ismail, yang telah kehilangan satu payudaranya akibat terkena kanker payudara.

Alih-alih berputus asa, Neni yang terkena Ca Mammae (istilah untuk kanker payudara) pada awal 2018, mengalihkan kesedihannya dengan merajut knokers atau payudara artifisial. Knokers hasil buatanya, dia bagikan secara cuma-cuma ke sesama penyintas yang sudah memasuki tahap mastektomi.

Kepada Jurnas.com, Neni menceritakan awalnya memang tak pernah menyangka akan terjangkit kanker payudara. Pasalnya, perempuan ini rutin mempraktikkan pola hidup sehat, mulai dari berenang, lari, hingga makanan bergizi.

Namun kecurigaan Neni muncul pada Februari lalu, saat payudaranya terasa seperti kesetrum ketika disentuh. Semakin lama, rasa kesetrum semakin sering, dan anehnya hanya di satu titik.

Ketika diraba pun Neni tidak merasakan apa-apa, hingga suatu saat dia diperiksa di Puskesmas, dan dokter menemukan benjolan sebesar 2-3,5 cm, yang letaknya agak di dalam.

Untuk memastikan hal itu, Neni dirujuk ke dokter bedah. Dokter pun menyarankan benjolan di payudara Neni supaya diangkat dan dibiopsi eksisi.

Pada akhir Februari, benjolan di payudara Neni diangkat. Dan secara hampir bersamaan, hasil patologi anatominya keluar. Dia dinyatakan menderita kanker payudara, dengan kecurigaan awal ganas.

Dua minggu setelah menjalani patologi anatomi, pemeriksaan imunohistokimia atau IHK Neni juga keluar. Neni diminta untuk merujuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, untuk proses pengangkatan seluruh payudaranya.

“Seluruh payudara saya harus diangkat, karena ada tulisan tepian tidak bersih dianggap ada sisa sel kankernya,” lirih Neni.

Sebelum operasi pengangkatan, Neni sempat diberikan dua pilihan oleh dokter. Pertama, payudara diangkat lebih besar namun tidak seluruhnya, dan kedua diambil seluruhnya.

Jika Neni mempertahankan sisa payudaranya, maka selanjutnya dia harus menjalani proses kemoterapi dan radiasi. Sementara jika dimastektomi, proses tersebut tidak diperlukan.

“Akhirnya mastektomi, ternyata efek kelenjar getah bening ikut diangkat, dan dokter bilang tidak boleh mengangkat beban berat,” tuturnya.

Kepada Neni, dokter mengatakan operasi kanker payudara dalam beberapa kasus, juga ikut mengangkat kelenjar getah bening. Adapun setiap orang berbeda jumlah kelenjar getah bening yang diangkat.

“Progresnya setelah ada pemeriksaan lagi ternyata jaringan saya tidak ada, tidak tahu kenapa hilang jaringannya,” lanjut Neni.

Tak hanya Mastektomi, Neni juga juga menjalani operasi pengangkatan indung telur oleh dokter kandungan. Saat itu usianya sudah menginjak 48 tahun. Sementara jika indung telur diangkat, dia dipastikan tidak bisa hamil lagi.

“Kalau di usia itu tidak ada rencana hamil mending angkat rahim dan serviks, supaya menyebar,” kata Neni.

Akhirnya, Neni menyimpulkan bahwa setiap perempuan wajib melakukan deteiksi dini. Dan jika hasil deteksi dini juga harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis.

“Meski saya sudah menjalankan hidup sehat, berenang, lari, dan makan sehat ternyata bisa juga kena,” kenangnya.

Meski kini ia menjalani hidup dengan satu payudara, namun Neni tetap semangat. Energinya dipakai untuk merajut knokers dari benang wol yang dimasukkan dalam bra.

“Awalnya saya sendiri, lama-lama banyak yang nyumbang benang dan saya bikin banyak, kami bikin grup enam orang kita bagi-bagi. Ukurannya ada yang besar dan kecil sesuai keinginan,” tandasnya.

Read more...

Kanker Payudara “Dekatkan” Nurul dengan Tuhan

Jakarta – Saat pertama kali mendengar vonis kanker payudara, Nurul Hidayah lemas tak berdaya. Perasaan sedih dan hancur campur aduk. Namun siapa sangka, justru penyakit itu membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.

Kisah itu dialami pada awal 2015 silam. Sebab merasa ada benjolan di payudara kirinya, Nurul datang ke dokter. Namun tak dinyana, dokter langsung memvonisnya kanker ganas stadium awal, dan berpotensi meletus jika tak segera ditangani.

“Walaupun masih kecil benjolannya, belum ada tiga sentimeter namun hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan untuk payudara saya meletus,” ucap Nurul kepada Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Nurul patah arang. Kenyataan itu bahkan sempat membuat perempuan kelahiran 2 Juni 1973 ini menyalahkan Tuhan atas penyakitnya.

“Kenapa ya Allah? Waktu itu saya hanya butuh untuk sendiri dan merenung. Jujur saja saya tidak tahu harus ke mana atau berbuat apa,” lirihnya.

Di tengah kesedihannya, Nurul memutusan berjalan kaki ke luar rumah tanpa tujuan. Sepanjang jalan, vonis dokter terngiang-ngiang di kepalanya. Beribu pertanyaan mengapa yang muncul, pada akhirnya berujung tanpa jawaban.

Sibuk mencari jawaban, Nurul tanpa sadar bahwa dia telah berjalan terlalu jauh dari rumah. Sudah 15 kilometer dia lalui tanpa kelelahan, karena dirundung kesedihan yang teramat sangat.

Akhirnya, dengan hati mantap Nurul mengambil keputusan penting kala itu. Dia akan hadapi sesakit dan sesulit apapun, kanker yang menggerogoti payudaranya.

“Karena ternyata baru saya sadari bahwa saya punya keluarga dan teman-teman yang peduli dan sayang pada saya. Apalagi saya punya empat anak yang amazing, saya ingin berjuang lebih lama untuk hidup mendampingi mereka juga mengajarkan mereka untuk lebih dekat pada Tuhan dan mengantar mereka ke masa depan,” tutur ibu empat anak ini.

Sejak keputusan besar itu ia kukuhkan, Nurul kembali menemui dokter lagi dan menyatakan bersedia untuk operasi Mastektomi.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski dokter jadwalkan kemoterapi sebanyak delapan kali yang sangat menyiksa, namun ternyata bila kita resapi dan lakukan dengan ikhlas semua itu terasa nikmat karena dengan sakit ini dosa-dosa kita berguguran,” ucapnya penuh haru.

Nurul pun konsisten menjalani semua perintah dokter, ia yakin dan percaya tetap pada Allah bahwa hidup dan mati rahasia-Nya, bukan karena masalah kanker.

Sekarang telah hampir 4 tahun berlalu, Nurul merasa sehat dan ia berharap akan selalu sehat. Tidak muluk-muluk ia selalu positif thinking dan selalu menjaga pola hidup juga pola makan. Nurul percaya kita bisa bila berusaha dan jangan pernah lari dari kenyataan.

“Hikmahnya karena ini semua saya jadi lebih dekat pada Allah, lebih religius, lebih tahu artinya ikhlas dan memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda dari sebelum saya divonis kanker. Tidak boleh lari dan takut pasrah kepada tuhan setelah berusaha semaksimal mungkin,” ucapnya.

Kini Nurul tetap menjalankan aktivitasnya meski banyak berubah karena ia tak boleh terlalu lelah. Sebelum kanker menyerangnya, Nurul kerja di konveksi sekarang di rumah sambil terima pesanan sprei atau apapun yang bisa ia jahit.

“Saya suka banget menjahit dan masak kue atau masakan apa saja, asyik di dapur saya. Sering juga ada yang datang mijitin bayi kerumah karena saya belajar fisioterapi juga untuk baby sejak saya punya anak pertama. Saya menyukai semua yang saya lakukan,” pungkasnya.

Read more...

Keinginan Rachmawati yang 10 Tahun Jadi Penyintas Kanker Payudara

Jakarta – Rahmawati masih ingat betul saat pertama kali dokter menjatuhkan vonis kanker payudara stadium 3B kepadanya. Di tengah rasa putus asa, nyawanya bahkan nyaris berakhir di meja pengobatan alternatif.

Wati, demikian nama panggilan perempuan asal Jakarta ini, menuturkan pertama kali merasakan ada benjolan di payudara kanannya pada awal 2008. Alih-alih ke dokter, Wati memilih mendiamkan benjolan tersebut.

“Baru setelah makin terasa aku datang ke dokter,” kata Wati saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Setelah memutuskan datang ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta beberapa bulan kemudian, Wati mulai menjalani biopsi. Hasilnya, benjolan itu dinyatakan kanker payudara stadium 3B.

Bak disampar petir di siang bolong, Wati shock. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Hendak berobat ke medis, keuangannya jauh dari kata cukup.

“Akhirnya aku diam saja,” lirih Wati.

Wati tak benar-benar diam. Sembari merutuki nasibnya, Wati mencoba pengobatan alternatif. Namun tak dinyana, alih-alih sembuh, kankernya makin menjadi-jadi.

Karena itu pula, Wati akhirnya berhenti melakukan pengobatan. Tiga tahun dia membiarkan kanker yang menggerogoti payudaranya itu tanpa satu pengobatan pun.

“Setelah berobat alternatif tidak keman-mana, sampai koma, dan tidak bisa apa-apa, berat badan jadi 30 kilogram, rasanya kena kanker itu sangat menggerogoti,” kenangnya.

Setelah sedemikian parah, Wati dan sang suami akhirnya Kartu Jakarta Sehat (KJS), dengan maksud agar bisa mendaftar ke BPJS, dan kembali memulai pengobatan medis.

“Aku pun dimarahi dokter lantaran benjolan sudah pecah lalu kena ke jantung, paru-paru juga terendam cairan, jadi langkah awal proses membereskan itu dulu,” imbuh Wati.

Keinginan sembuh begitu kuat Wati rasakan. Setelah proses pembersihan cairan, ia menjalani Mastektomi, yakni pengangkatan payudara di tahun 2014.

Tak terasa, kini sudah 10 tahun Wati berjuang. Payudaranya sudah terangkat, dan ia tetap konsisten menjalani perawatan.

“Sekarang aku rajin kontrol dan minum obat Femara setiap bulan sampai lima tahun ke depan,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Wati belajar bahwa ketika ada benjolan meski tidak merasakan sakit, harus segerala melakukan periksa payudara sendiri (Sadari).

“Jangan diam, begitu ada yang tidak beres langsung periksa, kanker tidak bisa menunggu karena cepat sekali menyebar tahu-tahu sudah stadium lanjut,” imbau Wati.

Ia selalu memberi semangat positif pada diri sendiri, apapun yang dokter minta dilakukan, ia percaya upayanya adalah satu keniscayaan. “Pelan-pelan kita pasti sehat, masalah umur Allah yang mengatur. Kita harus happy,” ujarnya sumringah.

Untuk membuat dirinya bahagia, ia mengisi waktu dengan menyibukkan diri membuat aneka kerajinan tangan dari decopage yang bisa bantu menambah keuangan keluarga.

Read more...

Hasta Sanders Berjuang Lawan Pengobatan Alternatif

Jakarta – Praktik pengobatan alternatif untuk kanker payudara masih menjamur. Padahal selama ini belum ada fakta sahih yang membuktikan bahwa metode non-medis tersebut mampu menyembuhkan kanker payudara.

Hal inilah yang dirasakan oleh Hasta Sanders. Sebagai penasihat Bali Pink Ribbon Foundation, Hasta prihatin banyak penyintas yang lebih memilih pengobatan alternatif, ketimbang berobat langsung ke dokter.

Bahkan, sang kakak tercinta juga berpulang akibat kanker payudara, setelah menjalani pengobatan alternatif. Pengalaman itu membuatnya membulatkan tekad menjadi seorang pendamping kanker payudara, sekaligus mengenalkannya pertama kali dengan aktivis Bali Pink Ribbon.

Hasta sadar tingkat prevalensi kanker payudara di Bali cukup tinggi, yakni 1.233 penderita pada 2013. Dan pola pikir sebagian besar penyintas untuk berobat lewat alternatif, menjadi sebuah tantangan khusus.

“Belum lagi sebagian besar dari mereka sangat meyakini jika sakit adalah karma atau akibat ilmu hitam, sehingga tak mudah untuk diajak berobat,” tutur Hasta saat ditemui di acara Temu Penyintas Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta.

Pengobatan medis, lanjut Hasta, dulunya belum jadi pilihan utama. Malah, kebanyakan penderita kanker payudara datang ke rumah sakit, setelah memasuki stadium lanjut.

Kendati demikian, Hasta tidak menyerah dengan kondisi di tahah kelahirannya. Meski belum bisa mengubah pola pikir yang sudah mengakar terkait pengobatan alternatif secara menyeluruh, setidaknya dia sudah melakukan upaya maksimal.

Dan sekarang, lima tahun terakhir semenjak dia mulai menggelorakan pengobatan medis lewat sosial media, kesadaran perlahan tumbuh. Hingga suatu saat, kata Ellen, Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, sempat kebanjiran pasien kanker payudara.

Sebagai seorang penasihat, Hasta berharap kelak bersama Bali Pink Ribbon ia akan lebih banyak menyuarakan kewaspadaan dan pentingnya deteksi dini.

Tentang Bali Pink Ribbon

Bali Pink Ribbon didirikan oleh Gaye Warren, seorang penderita kanker payudara Inggris yang telah tinggal di Jakarta selama lebih dari dua puluh tahun. Setelah perawatannya sendiri untuk kanker payudara dan suaminya pensiun, mereka pindah dari Jakarta ke Bali.

Tak lama setelah itu, Gaye menemukan bahwa infrastruktur di Bali untuk membuat perempuan sadar akan kanker payudara hampir tidak ada, meskipun keahlian medis profesional tersedia di pulau itu dengan setidaknya dua rumah sakit menawarkan perawatan kanker payudara kepada pasien.

Sebagai anggota Asosiasi Perempuan Internasional Bali, Gaye dan dua temannya membujuk Ketua Umum BIWA untuk memulai kampanye penggalangan dana untuk kesadaran kanker payudara di Bali.

Dari benih kecil itu, mereka berempat mengembangkan prototipe Pita Pink Walk untuk Bali, berdasarkan pengalaman Gaye tentang Pita Merah Muda Berjalan di Inggris.

Read more...

Efek Kemoterapi Ubah Hidup Ellen Oltarina

Jakarta – Bagi sebagian besar penderita kanker payudara, mimpi buruk bukan hanya bayangan kematian saja. Lebih dari itu, proses penyembuhan melalui kemoterapi juga sama mengerikannya.

Seperti disampaikan oleh Ellen Oltarina. Dia sempat mengeluh, karena efek pasca kemoterapi sangat menyiksanya. Namun beruntung, kesabaran dan keikhlasan mengantarkannya melewati fase tersebut.

Cerita Ellen berawal dari 2010 lalu, ketika dia mengetahui ada benjolan kecil. Sebab curiga, dia lalu mulai melakukan mammografi dan USG. Akan tapi kata dokter, hasilnya tidak mengkhawatirkan, sehingga tidak perlu menjalani operasi.

Setahun berlalu. Ellen yang sempat melanjutkan pemeriksaan melalui biopsi, tidak menemukan perubahan yang signifikan. Karena itu dia santai.

“Nah di tahun 2014 itulah, tiba-tiba benjolan menjadi aneh, membesar begitu cepat dan keras hingga payudara saya tidak bisa digerakkan atau remas seperti layaknya payudara normal,” tutur Ellen kepada Jurnas.com.

Awalnya, Ellen mengira payudaranya mengeras karena akan kedatangan tamu bulanan (menstruasi, red). Namun karena terasa aneh, dia memilih pergi ke dokter.

“Pikiran saya langsung menduga kalau ini Ca Mamae,” sambungnya.

Dokter pun kembali melakukan biopsi, dan hasilnya seperti apa yang dia pikirkan. Ellen mengidap kanker payudara stadium 2A, Her 2 positif.

“Karena saat itu usia saya 52 tahun dan menstruasi masih lancar normal, kata dokter harus diberhentikan dulu. Akhirnya target Mastektomi tiga bulan, dan saya harus jadwal kemo preop tiga kali per tiga minggu, ditambah setiap malam hari minum Femara,” ujar ibu dua anak ini.

Ada hal unik yang dirasakan perempuan asal Cirebon ini, waktu kali pertama divonis kanker payudara. Karena sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk, ia pun tetap ngobrol dengan dokter layaknya perempuan sehat.

“Tapi entah mengapa air mata menetes sendiri satu demi satu, bulir turun perlahan, rasanya tidak sopan banget terlihat biasa tapi menangis, mungkin denial kali ya, padahal ekspresi biasa sambil ngobrol gitu. Begitu sampai di rumah baru saya menangis, tapi Alhamdulillaah saya tipe yang semangat mungkin karena saya biasa bekerja ya jadi ada pengalihan,” tuturnya.

Sebelum menjalani proses kemoterapi, hasil patologi anatomi menyatakan kanker Ellen sudah sampai stadium 3B. Dia memilih tak reaktif, karena sebelumnya sudah banyak membaca banyak referensi soal kanker.

“Saya sudah sering mendengar kisah orang-orang yang menjalani kemo,” ungkap pegawai Bank milik BUMN ini.

Singkat cerita, Ellen menjalani kemoterapi. Dari tiga kali kemoterapi, Ellen mengakui situasi paling berat yakni pascakemo ketiga, yang dia rasakan luar biasa efeknya. Padahal kemoterapi sebelumnya, ia mengakui masih bisa santai jalan-jalan ke mal.

Tapi kali ini Ellen merasa pusing. Perutnya terasa mual dan mulai malas makan, perasan tidak karuan, seluruh badan linu, nyeri luar biasa terutama kaki tangan. Penderitaan itu ditambah dengan perut seringkali membesar dan seolah mau meletus.

“Seluruh sisi mulut saya sariawan, lidah putih menebal rasanya benar-benar tidak nyaman, karena pengaruh steroid tangan bengkak besar sekali, muka, tangan, dan kaki menghitam, ditambah muka bulat moon face,” ungkap Ellen lagi.

Ellen menceritakan, selama masa kemoterapi, ia diberi obat Mycostatin oleh dokter. Setiap pagi pun ia harus membersihkan lidahnya dengan alat kerok lidah.

Namun sampai habis dua botol obat, putih di lidah Ellen tak kunjung hilang. Perempuan ini juga merasa susah makan, sementara badannya terus bertambah gemuk hingga naik 16 kilogram.

Rasa kebas dan kesemutan seakan sudah menjadi langganan. Hingga akhirnya dia mengalami paru-paru basah pada suatu waktu.

“Alhamdulillah belum perlu disedot bisa dengan terapi, ketika bengkak sempat dirujuk ke dokter bedah vaskuler, beberapa bulan saya dikasih obat pengencer darah Xarelto,” tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ. Efek meminum obat pengencer darah membuat kuku kakinya copot tanpa terasa. “Sampai pernah sempat kesenggol sepeda sedikit  tidak merasa apa-apa, tiba-tiba banyak darah segar di bawah saya kaget, ini darah apa ya ternyata darah dari kaki saya,” ucapnya.

Belum pula hilang efek kemoterapi, Ellen dihampiri oleh penyakit limfedema, yakni pembengkakan yang umumnya terjadi pada salah satu atau kedua lengan dan tungkai,yang disebabkan oleh penghambatan atau gangguan pada sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem imun dalam tubuh.

Umumnya, limfedema terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan atau terapi kanker payudara. Berkat penyakit tersebut, Ellen harus menambah jadwal berobatnya di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

“Saya sempat terapi setiap hari senin hingga jumat selama kurang lebih dua bulan,” lanjutnya.

Waktu pun berlalu. Kini Ellen dinyatakan tidak perlu berobat. Namun dokter tetap memintanya rutin kontrol ke dokter selama tiga bulan sekali, rutin periksa CA153 dan CEA tiap enam bulan sekali, dan petscan.

Sampai pada di titik ini, Ellen menekankan bahwa kuncinya ialah kesabaran, ikhlas dan semangat yang tinggi. Dia yakin semua butuh proses, semangat juang harus selalu ekstra tinggi, sabar, dan ikhlas menjalani semua perawatan.

Ellen pernah membaca sebuah buku yang menyebut bahwa penyintas harus berdamai dengan penyakit dalam tubuhnya. Dan itu lalu ia praktikkan.

“Ternyata benar banget manfaatnya terasa, apapun selalu dibuat happy meski tidak sesuai harapan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Ellen coba mengambil makna postif dari proses yang ia jalani, hidup jadi lebih sehat dan makan yang mengandung gizi.

“Kunci utama terltak pada ikhlas yang membuat saya selalu besyukur dan pasrah pada semua upaya juga tidak mengeluh. Jika saya masih sering mengeluh berarti saya belum ikhlas dan harus dikoreksi lagi , perbaiki lagi dan belajar lagi, begitu seterusnya,” pungkas Ellen

Read more...

Rini: Selama Ada Obatnya, Yakinlah Kanker Akan Sembuh

Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar kemampuan manusia ciptaanya. Sebesar dan sesering apapun cobaan itu, jika kita mampu melampauinya meski berulang, tugas manusia hanya menjalankanya dengan ikhlas. Inilah yang dilalui Rini (49), penyintas kanker payudara dari Komunitas Srikandi Jakarta.

Betapa tidak, hampir setiap dua tahun sekali sejak 2011, Rini harus melakukan puluhan kali kemoterapi dan radiasi. Padahal dokter sempat memvonisnya sudah sehat dan tubuhnya sudah bersih dari semua sel kanker. “Tapi ya gitu, dicek normal, terus ada lagi. Padahal saya sudah menjalani pola hidup sehat. Saya juga gak tau kenapa ini bisa terjadi. Mungkin cobaan dari Tuhan, ya harus saya lalui dengan sabar,” lirih perempuan berhijab saat ditemui Jurnas.com di acara Temu Penyintas Kanker Payudara yang diselenggarakan YKPI.

Rini mengawali ceritanya saat menemukan benjoan pada payudaranya di tahun 2011 itu. Tak percaya pada pemeriksaan pertama, ia kemudian mencari second opinion dari dokter lain di rumah sakit lain, hingga akhirnya ia harus pasrah menerima keputusan mengerikan itu.

“Ketika ada benjolan kecil, saya gak percaya kalau itu bahaya. Ditemani suami periksa lagi ke dokter lain. Sampai akhirnya  kata dokter harus operasi karena kanker payudara saya  sudah stadium 2B,” ujarnya. Suaranya berat mengingat betapa sulitnya masa itu karena ia adalah perempuan aktif yang bekerja kantoran. Rini mengaku sangat “down”, sedih dan marah akan nasibnya,

Rini menambahkan setelah operasi itu ia melakukan enam kali kemoterapi dan puluhan kali radiasi. “Lalu saya dinyatakan sehat dan hidup normal lagi. Pokoknya payudara saya bersih, sudah tidak ada kanker lagi,” kata Rini yang memutuskan untuk berpola hidup sehat.

Namun, siapa yang menyangka jika pada 2014, Rini yang kala itu kerap mengalami batuk-batuk hebat  didiagnosis jika sel kankernya sudah menyebar ke paru-paru. Ia pun kembali harus mencium khasnya obat-obatan rumah sakit dengan melakukan kemoterapi dan puluhan radiasi lagi. Selang dua tahun kemudian, tepatnya di 2016,  ia pun mengalami hal sama dan harus kembali dikemoterapi dan radiasi.

“Sekarangpun saya masih harus kemo dan radiasi lagi. Rasanya ingin tidak mempercayai semua ini, tapi ya saya harus menjalani hidup. Saya punya suami dan anak, berusaha normal saja. Bersama-sama mengupayakan agar saya bisa sehat terus demi mereka,” tambah Rini lagi.

Rini bersyukur karena keluarganya begitu mendukungnya untuk sehat. Pun demikian dengan teman-teman di kantornya. Ia sangat yakin selama ada obatnya, penyakit kankernya akan sembuh. “Selama ada obatnya, semangat aja deh. Saya juga masih beraktivitas DAB bekerja. Karena saya punya motivasi tinggi untuk melanjutkan hidup. Saya juga ingin semua perempuan yang bernasib sama jangan menyerah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita,” tutupnya.

Read more...