program kegiatan sebagai media promosi dan eksitensi YKPI terhadap masyarakat, negara dan dunia

Cara Mendeteksi Kanker Payudara Sejak Dini

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mammografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mammografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker di negara berkembang di tahun 2030,” kata Linda saat menggelar pemeriksaan mammografi gratis di kediamannya, Jakarta, Jumat (2/2).

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mammografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya. Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Link Referensi: http://www.jurnas.com

Read more...

YKPI Undang Jurnalis Perempuan Lakukan Pemeriksaan Payudara

JAKARTA, ITN- KANKER payudara menempati posisi nomor satu dari 10 kanker terbanyak, lebih tinggi di atas kanker serviks. Saat ini kanker payudara dapat menyerang siapa saja, bahkan pada perempuan muda dengan faktor risiko rendah.

Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan melalui periksa payudara sendiri (Sadari) atau periksa payudara secara klinis (Sadanis) artinya periksa dengan orang yang terlatih, setelah mendapat ceritanya lalu periksa ke dokter, atau melalui pemeriksaan mamografi.

Memperingati Hari Kanker Internasional pada 4 Februari, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan pemeriksaan mamografi gratis di kediaman Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar pada Jumat (2/2/18).

“Ada banyak kegiatan yang diselenggarakan YKPI di bulan Februari, diantaranya pemeriksaan mamografi gratis, dan tahun ini kami mengundang rekan-rekan media dikarenakan ditemukan ada beberapa kasus dari rekan media yang terdiagnosa kanker payudara,” ujar Linda Agum Gumelar.

Linda mengatakan, “Saya tahu kehidupan jurnalis yang sangat padat dan berkejaran dengan waktu, mungkin tidak punya waktu melakukan pemeriksaan sehingga dengan kegiatan ini kami berharap walaupun sedikit dapat membantu kesehatan rekan-rekan jurnalis”.

“Melalui kegiatan ini sekaligus bisa sosialisasi tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara yang bisa dibantu rekan-rekan jurnalis untuk disampaikan melalui media masing-masing, juga kepada keluarga dan teman-temannya,” ungkapnya.

Kegiatan mamografi menurutnya dilakukan secara rutin setiap minggu. YKPI setiap tahunnya telah memiliki jadwal bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Puskesmas di Jakarta.

“Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu kami juga mendatangi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan dengan gratis, dan ada juga program permintaan dari swasta dan lain-lainnya yang tentunya ada biayanya namun lebih ringan dibandingkan dengan bayar pemeriksaan mamografi 50 orang pergi ke tempat pemeriksaan rumah sakit, ini jauh lebih murah,” ungkapnya.

Seluruh kegiatan mobil mamografi kami ini menurutnya bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, karena tenaga kedokterannya maupun tenaga perawatnya serta radiolognya dari rumah sakit tersebut. “Perlu waktu dua minggu paling lama untuk menunggu hasilnya,  lalu kami informasikan kepada teman-teman yang melakukan pemeriksaan langsung. Apakah ada tindak lanjut atau tidak ada masalah,” jelas Linda.

Data Mamografi UMM-YKPI menyebutkan pada Januari – Desember 2017 jumlah pasien yang diperiksa sebanyak 3.160 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 472 orang (15%) terkena tumor jinak dan 44 orang (1,4%) memiliki hasil curiga ganas.

“Di Indonesia informasi tentang Sadari masih kurang, seperti masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah kepulauan dan di daerah-daerah terpencil. Ada juga yang sudah tahu tetapi tidak melakukan, ini juga persoalan lain lagi. Mereka menganggap ini penyakit orangtua,” ungkapnya.

Lebih lanjut Linda mengatakan, “Saat ini sudah ada dokter yang bergabung dalam yayasan kami yang mendapatkan pasien di usia muda. Ada yang usianya 17 tahun, artinya  dengan perubahan gaya hidup ada kecenderungan walaupun pada umumnya masih di usia 30-an”.

Untuk pemeriksaan mamografi menurutnya di usia 36-40 tahun ke atas. “Tetapi kami memakai patokan usia 36 tahun, nanti kami akan lihat lagi dan akan dikoordinasikan kembali dengan Rumah Sakit Dharmais atau Persatuan Radiolog. Kalau usia masih muda dibawah 36 tahun cenderung jaringan payudaranya masih padat sehingga sulit untuk di deteksi secara awal dengan mamografi dimana mamografi juga pakai sinar, sebaiknya bisa dilakukan melalui Sadari, Sadanis atau melalui USG,” ujarnya.

USG menurutnya bukan alat screening, baru melihat saja. Untuk kepastiannya memang harus melalui mamografi dan ebaiknya pemeriksaan mamografi dilakukan dua tahun sekali.

YKPI merupakan yayasan nirlaba yang didirikan oleh survivors kanker payudara, dokter bedah onkology, dan relawan peduli kanker payudara, dengan visi misi Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut tahun 2030. Dideklarasikan pada seminar Nasional tahun 2015 dengan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi).

Pemeriksaan awal dilakukan oleh dokter Martha. Dilanjutkan dengan pemeriksaan mamografi di sebuah bus (Mobil Mamografi). Ternyata tidak perlu takut melakukan mamografi, prosesnya cepat, tidak sakit, dan hasilnya akurat.

Pada kesempatan yang sama dokter Martha mengatakan, “Mengapa Sadari harus dilakukan? Karena Sadari merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara. Pemeriksaan ini dilakukan sendiri oleh pasien setiap bulan. Bagi wanita yang masih haid, pemeriksaan dilakukan setelah selesai haid”.

“Bila sudah monopause Sadari dilakukan setiap tanggal tertentu yang mudah diingat, misalnya setiap tanggal 1 atau setiap tanggal kelahiran,” ujarnya lebih lanjut.

Menurutnya pada saat melakukan Sadari yang harus diperhatikan, antara lain bila terasa benjolan, penebalan kulit, perubahan ukuran dan bentuk payudara, pengerutan kulit, keluar cairan dari puting susu, nyeri, pembengkakan lengan atas, dan teraba benjolan di ketiak atau di leher.

“Jika ditemukan kelainan-kelainan seperti hal  tersebut atau terasa ada perubahan dibandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tutup dokter Martha.

Referensi: https://indonesiatripnews.com/popular/ykpi-undang-jurnalis-perempuan-lakukan-pemeriksaan-payudara/

Read more...

YKPI Sosialisasikan Deteksi Dini Bahaya Kanker Payudara Di Korem 171/PVT

Kota Sorong, 19 Februari 2018- PW: Bagi sebagian wanita yang ada di Indonesia bahkan dunia, kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang di takuti. Karena banyak pemahaman yang menyebutkan, jika seorang wanita yang terkena penyakit kanker payudara ini akan menyebabkan kematian bagi penderita. Namun sebenarnya pemahaman itu keliru, karena banyak wanita yang menderita penyakit ini dapat bertahan hidup dan sembuh dari sakit. Oleh sebab itu Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), untuk terus mensosialisasikan deteksi dini bahaya kanker payudara dan kanker servik. Bertempat di Aula Makorem 171/PVT Kota Sorong, YKPI yang di pimpin langsung Ketua yayasan Ibu Linda Agum Gumelar dan Ibu Titien Pamudji mengadakan sosialisasi deteksi dini bahaya kanker payudara.

Kegiatan sosialisasi ini hasil kerjasama antara YKPI dan Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 171 PD XVIII/Kasuari. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 171 PD XVIII/Kasuari Ibu Natalia Ignatius Yogo Triyono MA ini, dilanjutkan dengan pemaparan deteksi dini bahaya kanker oleh Dr Bob Andinata SpB(K)Onk (Spesialis Onkologi/Kanker). Para peserta nampak sangat serius mencermati setiap detail materi deteksi dini bahaya kanker yang disampaikan oleh Dr Bob. Dan dalam beberapa saat diselingi kuis, yang di pandu oleh Suster Ester. Semua peserta yang hadir Nampak ingin mengetahui lebih jauh tentang kanker payudara. Hal itu terlihat pada saat sesi tanya jawab, dimana banyak pertanyaan yang dilontarkan perwakilan peserta dari IWAPI, FKPPI, Ibu-ibu Persik KCK, Mahasiswi dan Dosen pendamping, Murid-murid SMA serta Guru pendamping.

Ibu Linda Agum Gumelar yang pernah di diagnosa terkena penyakit kanker payudara ini, menganjurkan agar setiap wanita melakukan “SADARI – Periksa Payudara Sendiri”. “Saya pernah di diagnosa kanker, tapi dengan SADARI itu dapat mengetahui ada benjolan dan langsung berkonsultasi dengan dokter. Jadi lakukan SADARI dan bila merasa ada kejanggalan, segera ke dokter”, anjur Ibu Linda. “Banyak pasien kanker yang berpikiran meninggal, namun YKPI ini ingin terus membangun semangat/ pikiran positif bagi mereka. Kami ingin mengatakan bahwa kami ada (tidak meninggal). Kenapa? Karena kami mengetahui sejak dini dan melakukan cara pengobatan yang benar berdasarkan petunjuk kedokteran”, tambah Ibu Linda.

Dr Bob dalam kesempatan lain juga menghimbau agar media-media terus mempublikasikan masalah kanker payudara ini, baik deteksi dininya sampai penanganan medisnya jika sudah ada gejala terkena kanker payudara. “Ketidaktahuan masyarakat dan banyak mitos yang menyesatkan masyarakat, sehingga masyarakat melakukan pengobatan alternatif bukan medis. Saat masyarakat menggunakan pengobatan alternatif dan tidak kunjung sembuh, mereka kemudian ke dokter. Tetapi sudah terlambat, dikarenakan waktu sudah terbuang saat melakukan pengobatan alternatif. Jadi saat datang di dokter sudah stadium tinggi dan susah di sembuhkan. Sebenarnya ini yang menyebabkan kematian (karena terlambat di tangani dokter)”, terang Dr Bob.

Menurut Dr Bob, penderita kanker payudara tidak semuanya harus di kemoterapi. “Tidak semua penderita kanker payudara harus di kemoterapi. Karena saat ini momok masyarakat adalah takut di operasi dan kemoterapi. Jadi pikiran itu harus dihilangkan dan jika pengobatan sudah bagus, dapat dipastikan angka kematian akan semakin kecil”, jelas Dr Bob. Kegiatan yang dihadiri Danrem 171/PVT Brigjen TNI Ignatius Yogo Triyono MA, Kasi Pers Korem 171/PVT Letkol Inf Rudi Andriono SIP serta Dandenkesyah/Srg Letkol Ckm Agung Sunarko, S.sos ini, dihadiri lebih dari 400 orang peserta.

Read more...

Pelatihan Pendamping Pasien Kanker Payudara, Angkatan III, 2017

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) melaksanakan Pelatihan Relawan Pedamping Pasien Kanker Payudara Angkatan III yang dilaksanakan pada tanggal 4-6 Agustus 2017 di Kampus London School of Public Relations (LSPR), Sudirman Park, Jakarta Pusat. Mengikuti Pelatihan Relawan ini menjadi idaman orang. Ini terbukti dengan kegiatan tahun ketiga yang diadakan YKPI ini pesertanya meningkat.

Dengan peningkatan peserta dari tahun ketahun bertambah dan juga peserta dari daerah yg ikut juga meningkat, di tahun ketiga ini peserta yang mengikuti pelatihan naik 20 % yaitu berjumlah 70 peserta yg berasal berasal dari berbagai daerah yaitu Jakarta, Padang, Pekalongan, Bali, Cirebon, Yogyakarta, Makasar, Palangkaraya, Surabaya, Lampung, Jember, Banjarmasin, dan Bekasi mendaftar mengikuti pelatihan bersertifikat internasional TUV Rheinland ini. “Kami terpaksa membatasi peserta, karena tidak menyangka jika ditahun sebelumnya terdapat 60 peserta, begitu pendaftaran dibuka banyak yang mendaftar namun karena kapasitas ruangan tersedia dan menjaga kualitas dari pelatihan ini, kami terpaksa membatasi jumlah peserta” ujar Linda Amalia Sari Gumelar selaku ketua YKPI.

Pelatihan ini diisi dengan sejumlah materi yang diharapkan akan berguna bagi para peserta yang mengikuti. Berbagai pilar dan pihak terkait kegiatan ini ikut serta diantaranya, perawat, dokter, relawan, penyintas maupun masyarakat umum mendaftar dan ikut serta dalam kegiatan ini.
Begitu besarnya animo peserta untuk mengikuti pelatihan ini, diuraikan faktor penyebabnya oleh ketua dan pendiri YKPI, Linda Gumelar “Karena pada pelatihan ini lebih ditekankan soal materi nya bukan secara teknis saja tapi juga apa dan bagaimana si kanker payudara itu, dan bgm mencegah kanker dengan deteksi dini”.

Dalam pelatihan ini para peserta mendapatkan teori dan penjelasan dari pakarnya, diskusi kelompok, role play hingga ujian tertulis. Peserta juga diberikan materi tentang bagaimana mereka dapat menjadi pendamping yang baik. Materi-materi yang diberikan antara lain pengetahuan dasar tentang kanker payudara, cara berkomunikasi dengan penderita kanker yang benar, dan membaca psikologi penderita kanker.
“Kalau pendamping itu, bukan berarti seperti orang yang sok tau, mentang mentang dia sudah pernah atau mantan penderita jadi sok tau gitu, tetapi harus bisa sharing atau berbagi bukan jadi sok tau”, kata dr.Walta Gautama SpB(K) Onk yang menjadi salah satu pembicara dengan materi pengetahuan tentang kanker payudara di pelatihan ini.

Ini merupakan kedua kalinya dr.Walta Gautama SpB(K) Onk menjadi pembicara di acara pelatihan ini setelah di tahun sebelumnya dia digantikan oleh dr.Bob Adinata,SpB(K) Onk dikarenakan ada tugas ke luar kota. Bahkan dr. Walta pagi itu harus berjuang melawan kantuknya setelah sebelumnya ia harus melakukan operasi hingga pukul tiga pagi, dan jam 8 paginya dokter kanker yang bertugas di RS Dharmais ini berbagi pengetahuan untuk peserta pelatihan YKPI. Beberapa narasumber yang dihadirkan YKPI untuk pelatihan ini diantaranya ibu Rini Sanyoto,MBA, dan ibu Nelly Hursepuny, S.Psi yang membahas tentang psikologi dan komunikasi dengan penderita kanker.

Koordinator Pelatihan ini, bu Ning Anhar menuturkan “Jadi kalau pada waktu pendampingan nanti ada pertanyaan dari pasien kanker, mereka bisa menjawab dengan pengetahuan dari pelatihan ini, kalau yang tidak mereka ketahui itu mereka tampung dulu, lalu ditanyakan pada dokter yang merawat pasien tersebut”
Selain itu para peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat yang bertaraf Internasional TUV Rheinland setelah dapat melewati test yang diberikan, para peserta setelah pelatihan harus memberikan laporan pendampingan pada 3 tahun mendatang untuk membuktikan bahwa para peserta menerapkan ilmu yang sudah didapatkan disini.

Dalam pelatihan ini YKPI bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, London School of Public Relations, PT. TUV Rheinlad selaku perusahaan  di bidang Testing, Inspection, Certification, Consultation and Training dan Wardah Cosmetic serta BSN Medical. Sebagai anggota Reach to Recovery Internasional (RRI) pelatihan ini sudah disesuaikan dengn Reach to Recovery Training Guidelines.

Sertifikat yang dikeluarkan dalam pelatihan ini diakui oleh Reach to Recovery International dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, setiap 3 tahun YKPI bersama TUV Rheinland akan melakukan evaluasi bagi para pendamping yang telah mendapatkan sertifikat.

Penulis: EranitaDewi/Relawan-binaan Humas YKPI

Read more...

YKPI Kunjungi Papua Untuk Menekan Angka Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyambangi Jayapura guna melakukan sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara di Papua di kota Jayapura dan Wamena,

“YKPI serius terhadap bahaya kanker Payudara, kami harus menjemput bola dengan mendatangi wilayah propinsi diluar pulau Jawa untuk memberikan sosialisasi deteksi dini kanker Payudara” ujar ibu Linda Agum Gumelar sebagai ketua YKPI.

Kunjungan selama 3 hari di Papua ini dilakukan dalam rangka memperingati bulan Oktober Payudara Internasional. YKPI menancapkan target mendatangi kota Jayapura dan Wamena. Selain pengurus, YKPI menghadirkan dokter ahli kanker payudara dari RS. Dharmais Jakarta, Dr. Walta Gautama Sp.B (k) onk ke berbagai tempat sosialisasi yang dihadiri oleh anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang xVI Kodim 1701, Dharma Wanita, PIA, KOWAD, pelajar, mahasiswi, PWKI, GOW, PKK, Badan Kerjasama Organisasi Papua dan gabungan organisasi wanita kabupaten Jaya Wijaya,

Dalam rangkaian sosialisasi yang padat tersebut, Dokter Walta juga menyempatkan diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada dokter-dokter yang bertugas di Jayapura dengan difasilitasi oleh RS Marthen Indey, Jayapura. “Ini merupakan sejarah bagi Jayapura didatangkan seorang pakar onkology untuk berbagi ilmu dan bersedia sharing bagi dokter-dokter di Papua” ujar perwakilan dokter dalam sambutannya.

Dari pengalaman yang dialami langsung oleh dokter Walta selama bekerja di RS Dharmais, dikatakan “sejak tahun 1997  ia menjadi ahli bedah, kasus kanker payudara  ternyata masih berada diatas 65 % pasien yang datang ke rumah sakit tempat ia bekerja  dan mereka datang dengan stadium lanjut, bahkan sampai 2017 tidak ada peningkatan dan tingkat penurunan angka yang datang, menurutnya pasien yang masih datang dengan stadium lanjut masih berada disekitaran 65 %”.

Dari data tersebut, YKPI meyakini jika di Jakarta saja masih banyak penderita kanker payudara yang datang dalam keadaan stadium lanjut maka di daerah-daerah luar Jakarta dan berbagai propinsi diduga berpotensi besar banyak yang tidak mengetahui cara mendeteksi dini Kanker Payudara.

Dalam kunjungannya ke Papua, ketua bidang organiasi YKPI, Titin Pamudji menyatakan “Dalam 2 hari kami berada di Papua yaitu 9-10 Oktober 2017 banyak kegiatan yang kami lakukan, sosialisasi deteksi dini di empat tempat berbeda dan pertemuan dengan dokter-dokter di Papua serta mengunjungi penderita Kanker Payudara di kota Jayapura dan Wamena”.

Dharma Pertiwi daerah H Jayapura yang diketua ibu Sandra George E. Supit yang menghadirkan 300 orang di Aula Wisma Cendrawasih pada Senin, 9 Oktober 2017 mengungkapkan rasa gembiranya dengan kehadiran tim dari YKPI yang juga menghadirkan dokter ahli kanker payudara dari Rumah Sakit Dharmais, Dr. Walta Gautama untuk memberikan pengetahuan tentang Kanker Payudara. “Saya berharap agar kita dapat mengerti dan mengambil manfaatnya, baik bagi pribadi maupun bagi keluarga dan masyarakat” ujarnya.

“Saat ini penyebab perbedaan sudut pandang tentang kanker payudara masih ada, diantaranya tingkat pengetahuan wanita tentang gejala dan tanda kanker payudara, dan menghindari hambatan memeriksa kanker payudara seperti ada anggapan jika pemeriksaan Mammografi malah akan menyebabkan kanker payudara” jelas Dr Walta yang juga sebagai wakil ketua YKPI. “untuk itu kehadiran YKPI dirasakan sangat perlu ada dan harus terus menerus melakukan sosialisasi” tambahnya.

Ketua Umum GOW Jayawijaya, Ny. Yustina Yenny Bonua, S.Ip, Msi, ikut bergembira “Saat sosialisasi saya tidak menyangka masyarakat kota Wamena begitu antusias dengan paparan dari YKPI, Andaikan waktu kehadiran pengurus YKPI cukup panjang, maka pasti banyak perempuan Wamena yang ingin bertanya langsung mengenai kanker payudara” tambahnya. Tim YKPI memang hadir di Wamena hanya sehari saja, pagi hari tiba dan sore harinya langsung kembali ke Papua. “Kami berharap YKPI hadir kembali ke Wamena dan dusun dusun di Wamena untuk memberikan sosialiasi kanker payudara ini.

Menutup perjalanannya dari Papua, ibu Linda yang juga pernah mengalami kanker Payudara ini mengatakan “Kami akan terus membantu menekan kanker payudara stadium lanjut di seluruh Indonesia, dengan melakukan sosialasasi deteksi dini kanker payudara dan memberikan kesadaran agar wanita melakukan SADARI, periksa payudara sendiri secara rutin”.

 

–               Humas YKPI –

Informasi lebih lanjut hubungi:

Ibu Endang Muniarti

0811-826 998

Read more...

YKPI turut berpartisipasi meramaikan acara Bakti Sosial dalam rangka HUT IKKT ke 52 pada tanggal 11 Juli 2017

YKPI turut berpartisipasi meramaikan acara Bakti Sosial dalam rangka HUT IKKT ke 52 pada tanggal 11 Juli 2017, dengan menghadirkan Mobil mammografi  untuk pemeriksaan mammogram. Ibu Linda Agum Gumelar selaku Ketua YKPI dan ibu Enny Trimurti selaku istri dari Bapak Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo juga turut hadir.

Semoga bertambah kesadaran masyarakat akan bahaya Kanker Payudara dan juga bisa meningkatkan kesadaran untuk secara rutin melakukan SADARI, sehingga visi YKPI dapat terwujud : Menuju Indonesia Bebas Kanker Stadium Lanjut.

www.pitapink-ykpi.or.id

#kankerpayudara #pitapink #YKPI #seminar #seminarkanker #kesehatanwanita #salingjagasalingpeduli

Read more...

Linda Gumelar : SADARI Seharusnya masuk pelajaran sekolah

Botak, kulit gosong kehitaman, kemudian meninggal. Karena gambaran yang menakutkan itu, “Penderita kanker payudara tidak mau periksa. Lebih baik tidak tahu. Kalaupun tahu, banyak yang memilih berobat ke mana-mana,” ujar Linda Gumelar Ketua YKPI di kediaman nya beberapa waktu lalu, saat acara Rumpian Beha tentang deteksi dini kanker payudara.

Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang juga penyintas kanker payudara ini gemas, sebagian besar penderita kanker datang sudah stadium lanjut. Keberhasilan pengobatan tidak terlalu baik, dan biayanya mahal, “Kalau datang lebih awal, pasien tertolong,” Ujarnya.

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) yang dipimpinnya, aktif kampanye SADARI (Periksa Payudara Sendiri). “SADARI seharusnya masuk pelajaran sekolah, sejak anak gadis mulai menstruasi, agar mereka mengerti apa makna sebenarnya dari deteksi dini dan bahaya nya dari kanker payudara”. Kampanye di sekolah, sebaiknya juga Duta yang bicara, sebab “Kalau yang ngomong nenek-nenek kayak saya, anak-anak mana mau mendengar, ha ha ha.”Maka dari hal ini YKPI menggandeng figur publik, seperti Rossa, Dhini Aminarti, Ririn Dwi Aryanti dan Raline Shah”.

Video kampanye Rumpian Beha yang tayang di youtube sejak 2015, sangat membantu kampanye SADARI, “Penyampaian nya jelas, tidak porno, nyaman karena lucu dan menarik.”

Edukasi tentang kanker perlu cara khusus, juga bila menjadi pendamping pasien kanker dan keluarganya. Linda menceritakan pengalaman nya saat jadi pasien. “Begitu pendamping pulang, saya merasa terpuruk dan sendirian, karena komunikasi nya kurang tepat,” kenang nya. YKPI memberi pelatihan bagi pendamping, Modul pelatihan mencakup pengetahuan tentang kanker payudara, komunikasi dan psikologi. Tiap tiga tahun dievaluasi,”Apakah masih patut jadi pendamping bersertifikat.”

Linda terenyuh saat berjumpa dengan 700-an penyintas kanker payudara se-Indonesia, 1 Oktober 2016. Mereka bahagia berkumpul dengan komunitas nya,”Ada Ibu yang di antar suami pakai kursi roda.”kenang Linda. Si Ibu akhirnya meninggal dunia, “Alhamdullilah bisa meninggal dengan senyum”

Sumber : OTC Digest (Nid)

Edisi : Maret 2017

Read more...

Peresmian Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI)

 

Bulan februari selalu diperingati sebagai bulan peduli Kanker sedunia, bertepatan dengan  bulan Kanker Sedunia tahun 2017 ini YKPI meresmikan Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Rumah Singgah ini merupakan impian YKPI yang sudah lama diidamkan dan baru terwujud pada tahun 2017, ini berkat dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu YKPI menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung sehingga terwujudnya Rumah Singgah YKPI.

YKPI terinspirasi mendirikan Rumah Singgah ini, karena ikut prihatin melihat banyaknya para penderita kanker payudara khususnya dari daerah yang dirujuk ke Rumah Sakit di Jakarta untuk menjalani tahapan-tahapan pengobatan  seperti radiasi, kemoterapi dll yang berasal dari keluarga yang kurang mampu sulit untuk mendapatkan akomodasi. Penderita tersebut dalam menjalankan tahapan-tahapan pengobatan  tersebut memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk tempat tinggal, transpotasi dan biaya hidup selama di Jakarta. Untuk itu YKPI ingin membantu meringankan beban para penderita kanker payudara selama mereka melakukan pengobatan di Jakarta.

Rumah Singgah YKPI diperuntukkan kepada para penderita kanker payudara rawat jalan yang masih melakukan tahapan-tahapan pengobatan yang berasal dari keluarga kurang mampu dari berbagai daerah di Indonesia.

Syarat-syarat untuk tinggal di Rumah Singgah YKPI adalah para penderita kanker payudara dari daerah yang sedang melakukan pengobatan sebagai berikut :

  1. Pasien harus mengisi formulir dan melampirkan Fotokopi KTP atau identitas lainnya.
  2. Pasien di diagnosa dengan Kanker Payudara (Ada bukti dari dokter), Stadium 1 & 2 3A
  3. Pasien dengan peserta BPJS kelas 3
  4. pasien membawa surat Keterangan Dokter
  5. Pasien menanggung sendiri biaya makan, minum dan kebutuhan pribadi lainnya.
  6. Pasien dikenakan biaya Rp. 15.000,-/per hari/per orang
  7. Pasien yang tempat tinggal jauh dari RS Kanker Dharmais dengan kriteria sbb.:                                                                                                                  – Tempat tinggal di luar DKI Jakarta (Jabotabek)                                                                                                                                                                                    – Kesulitan dalam transportasi ke Rumah Sakit                                                                                                                                                                                      – Pasien yang keadaan umum lemah dilihat dari Vital Sign dan hasil diagnostik
  8. Pasien bersedia mematuhi tata tertib di Rumah Singgah YKPI.

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dahulu dikenal sebagai Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) yang didirikan pada tanggal 19 Agustus 2003 sebagai  organisasi nir-laba yang merupakan mitra pemerintah untuk menggalakkan kegiatan  penyuluhan dan penanggulangan kanker payudara di Jakarta dan sejak bulan Januari 2015 YKPJ secara resmi diganti menjadi Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) yang diketuai oleh Ibu Linda Agum Gumelar. Diharapkan ruang lingkup YKPI ini dapat lebih luas dan menjangkau ke seluruh Indonesia. Sejak bulan September 2014 YKPI telah diterima sebagai salah satu anggota penuh (full membership) dari Reach to Recovery International (RRI).

Kampanye YKPI yang bernama PITAPINKmempunyai slogan “Saling Jaga, Saling Peduli” mempunyai program rehabilitatif, kuratif dan promotif preventif dengan visi  Indonesia Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut di Tahun 2030dan target untuk menurunkan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap kanker payudara dan menemukan kanker payudara dini.

Melalui program PITAPINK, YKPI melaksanakan berbagai kegiatan antara lain penyuluhan deteksi dini di seluruh Indonesia, seminar kesehatan, talk show, sosialisasi, penerbitan majalah, skrining massal dengan menggunakan Unit Mobil Mammografi YKPI secara gratis untuk kelompok masyarakat tertentu bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, membentuk kelompok PITAPINKsurvivors dan warriors (PPSW), pelatihan untuk pendamping pasien kanker payudara yang bersertifikasi internasional, membentuk Relawan  – YKPI dan mengelola Rumah Singgah – YKPI.

Di Indonesia, kanker payudara menduduki peringkat pertama terbanyak dikarenakan keterlambatan diagnosa sehingga ditemukan sudah pada stadium lanjut. Sebenarnya peluang pasien kanker payudara bisa mencapai kesembuhan 98% bila terdeteksi dini dan diobati secara medis. Kanker payudara merupakan jenis kanker  tertinggi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh rumah sakit dengan jumlah pasien sebanyak 12.014 orang (28,7%) menurut (data SIRS 2010). Kasus baru kanker payudara menjadi kasus kematian tertinggi di Indonesia dengan angka kematian 21,5 per 100 ribu dan 70% pasien kanker payudara pada stadium lanjut. Data juga menunjukkan bagi perempuan terdiagnosa kanker yang tertinggi adalah kanker payudara. (data Kemenkes, 2016)

Selama Januari sampai dengan Desember 2015

Jumlah pasien yang diperiksa                                         3427

Jumlah pasien dengan hasil tumor jinak                     428     ( 12,5%)

Jumlah pasien dengan hasil curiga ganas                    47       ( 1,4% )

Selama Januari sampai dengan Desember 2016

Jumlah pasien yang diperiksa                                         2515

Jumlah pasien dengan hasil tumor jinak                     370     ( 14,7%)

Jumlah pasien dengan hasil curiga ganas                    29       ( 1,2% )

Untuk mengalahkan kanker payudara dengan melakukan deteksi dini  dengan cara SADARI yaitu  PERIKSA PAYUDARA SENDIRI yang harus  dilakukan oleh setiap perempuan sebulan sekali, karena 80% benjolan di  payudara dapat diketahui oleh perempuan tersebut. Salah satu faktor dominan pengendali angka kematian akibat kanker payudara adalah deteksi dini. Sekitar 98%  pasien akan bertahan hidup lebih dari lima tahun bila kanker terdeteksi dini dan diobati secara medis. 1 dari 2 pasien kanker payudara meninggal karena telat ditangani.

Kanker Payudara bisa datang kepada perempuan mana saja, bisa perempuan yang masih remaja (telah haid), hingga yang sudah usia lanjut (diatas 70 tahun), perempuan yang menikah dan punya anak, bisa juga pada perempuan yang tidak menikah dan bisa juga terkena pada laki-laki. 

Informasi Hubungi :

Sekretariat  Yayasan Kanker Payudara Indonesia

Wijaya Grand Centre Blok H No.9, Jalan Wijaya II Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12160

Telp.021-7

2795821/021-7202484, Fax.021-7202484

Email:ykpi.sekretariat@gmail.com

www.pitapink-ykpi.or.id

http://pitapink-ykpi.or.id

twitter : ykpi_pitapink

fb : Pitapink ID

Instagram : ykpi_pitapink

 

Alamat Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI)

Jalan Anggrek Neli Murni no. A 38, Slipi, Jakarta

Hubungi : Susi  081287859513

 

Alamat Rumah Sakit Kanker Dharmais :

Jalan Letjen. S.Parman Kav. 84-86 Jakarta 11420

Telp.021-5681570 ext. 1188/11906, 021-5681578 (hunting)

www.dharmais.co.id

dharmais@dharmais.co.id

deteksi_dini@ymail.com

 

Read more...

UICC Apresiasi Pencegahan Kanker Payudara di Indonesia

YAYASAN Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dilirik oleh organisasi pengendalian kanker dunia agar masuk menjadi anggotanya. Banyak apresiasi yang diberikan dalam hal memberikan pembekalan kepada para survivor dan relawan kanker payudara yang sangat beragam.

Union for International Cancer Control (UICC) merupakan satu organisasi yang peduli sekali dengan penyakit kanker, berpusat di Switzerland didirikan tahun 1933. Tim dari UICC datang ke Indonesia untuk melihat kegiatan organisasi dari kaum wanita yang pernah menderita kanker payudara. Mereka akan merangkul YKPI dalam waktu dekat.

“YKPI merupakan organisasi di bidang kanker payudara pertama dari Indonesia yang akan bergabung dengan kami. Saya lihat organisasi ini mampu berjuang dan berbagi pengalaman dengan sesama penyandang kanker payudara,” ujar Special Advisor to the CEO Susan Henshall kepada Okezone, Senin (5/12/2016).

Pada kesempatan itu, Ketua YKPI Linda Amalia Sari Gumelar menceritakan awal mula UICC ingin menggandeng YKPI. Dia pun sangat senang dikunjungi oleh tim dari UICC yang membawa manfaat positif.

“Sebelum tahu UICC, YKPI sudah bergabung dalam organisasi Reach to Recovery. Tapi itu hanya peduli pada penyakit kanker payudara. Kebetulan tim dari UICC datang ke Jakarta untuk melihat aktivitas kami yang positif ini,” ujarnya.

Linda menambahkan, UICC tampak sangat apresiasi dengan YKPI. Karenanya, organisasi yang berpihak pada kaum wanita ini mengajarkan banyak hal.

Bentuk apresiasinya yaitu UICC tertarik dengan langkah YKPI dalam program promotif dan preventif untuk mencegah kanker payudara. Mulai dari deteksi dini dan adanya mobil mamografi yang sudah keliling untuk melakukan pemeriksaan.

“Mereka apresiasi dalam banyak hal. Seperti halnya mereka apresiasi dengan pentingnya deteksi dini agar wanita mencegah kanker payudara, serta pelatihan bersertifikat yang kami berikan kepada relawan kanker payudara,” tambahnya.

Linda juga membeberkan manfaatnya apabila UICC benar-benar menggandeng YKPI nantinya. Menurut dia, Indonesia akan terbantu banyak hal seputar penanganan penyakit kanker payudara.

“Secara internasional kita bisa hadir memberikan informasi dengan Indonesia soal kanker payudara. Juga, kalaupun ada utusan dari negara lain, ilmunya bisa diterapkan di negara kita tentang bagaimana pencegahan dan penyembuhan kanker payudara yang benar. Biasanya ini oleh dokter-dokter handal,” tutupnya.

Sumber : Okezone.com

Jurnalis : Okezone.com / Dewi Kania

http://lifestyle.okezone.com/read/2016/12/05/481/1559266/uicc-apresiasi-pencegahan-kanker-payudara-di-indonesia

Read more...