Banyak Perempuan Abaikan Gejala Kanker Payudara

Banyak Perempuan Abaikan Gejala Kanker Payudara

Jakarta, Jurnas.com – Masih banyak perempuan yang abai dengan gejala kanker payudara. Padahal bila diperiksakan ke dokter sejak awal, peluang untuk sembuh lebih tinggi dibandingkan sudah memasuki stadium lanjut.

Demikian disampaikan oleh Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar, saat mengisi kegiatan ‘Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan ToT Periksa Payudara Sendiri (Sadari)’ di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (3/10), dalam rangka menyambut Bulan Peduli Kanker Payudara Sedunia yang jatuh setiap Oktober.

Fenomena perempuan kurang peduli untuk melakukan deteksi dini kanker payudara itu, lanjut Linda, terjadi karena minimnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi (kespro) di masyarakat.

Apalagi di jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA, tidak ada mata pelajaran (mapel) khusus yang membahas kespro. Sehingga muncul anggapan bahwa deteksi dini kanker payudara dianggap tidak diperlukan.

“Banyak sekali ketika kami pergi ke sekolah atau universitas, mereka tahu tapi tidak mengerjakan (Sadari, Red). Mereka anggap kanker payudara itu penyakit orang tua. Padahal sekarang usia 15 tahun pun sudah ada yang mengidap,” ujar Linda di hadapan ratusan perempuan ketua organisasi se-Kabupaten Bogor.

Faktor lain yang menjadi alasan perempuan kerap kali terlambat memeriksakan diri ke dokter ialah, benjolan pada kanker payudara yang tidak terasa sakit. Ketika benjolan itu diabaikan, kanker payudara sudah dengan cepat berkembang dari stadium nol menjadi stadium lanjut.

“Memang kalau sekarang sudah ada BPJS. Tapi ada beberapa pengobatan kanker payudara yang tidak ditanggung oleh BPJS. Makanya penting untuk periksa sejak awal,” kata dia.

Karena itu, Linda mengimbau kepada para perempuan supaya melakukan Sadari rutin setiap bulan. Selain berguna untuk mendeteksi dini kanker payudara, cara ini juga tergolong mudah.

“Kalau jadwalnya, Sadari itu dilakukan hari ke-7 sampai hari ke-10 yang dihitung sejak hari pertama haid. Selain Sadari juga bisa Sadanis (periksa payudara secara klinis, Red),” tandas dia.

Sementara Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin menyebut sosialisasi deteksi kanker payudara di wilayahnya sebelumnya sudah berjalan. Karena itu, dia berharap melalui kegiatan ini para perempuan makin gencar menularkan semangat deteksi dini kepada perempuan lainnya.

“Hari dilakukan TOT untuk para perempuan yang ketua-ketua organisasi. Diharapkan mereka dapat memberikan ilmunya kepada teman dan anggotanya untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker,” tutur Ade.

Senada dengan Linda, Ade juga mengimbau para perempuan di seluruh Indonesia untuk melakukan sadari. Selain itu, lanjut dia, perempuan maupun laki-laki dituntut melakoni gaya hidup sehat, mengingat faktor risiko kanker salah satunya dari pola makan yang tidak sehat.

“Jadi jangan sembarangan makan juga. Karena makanan itu juga salah satu faktor risiko kanker,” tandas dia.

Share this post