Author - admin

Digelar Virtual, Temu Penyintas Kanker Payudara YKPI Tetap Meriah

Jakarta, YKPI – Agenda rutin yang dilakukan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tahun ini, Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia dilakukan dengan format yang cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu secara virtual.

Meskipun begitu, acara yang digelar Sabtu 24 Oktober 2020 tersebut tetap berlangsung dengan meriah dihadiri oleh hampir 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Mengambil tajuk “Tetap Optimis Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru di Masa Pandemi Covid-19, Kamu Bisa Kita Bisa!”, hal ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan masalah yang tengah melanda dunia, yaitu pandemi Covid-19.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan kita semua mengalami pandemi sejak Maret lalu, semuanya juga gagap termasuk YKPI.

“Tapi kami kemudian mencoba untuk menyesuaikan diri karena kita gak boleh lagi kan sosialisasi dengan tatap muka, jadi kami mengambil langkah untuk memodifikasi program dengan bentuk-bentuk virtual yang banyak melibatkan pihak di seluruh Indonesia,” tutur Linda dalam sambutannya.

Ia melanjutkan, agar penyintas payudara agar tetap melakukan pengobatan dengan selalu memperhatikan protokol kesehatan yang ada.

Dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B-Onk, M.Epid, Pembina YKPI pun menjelaskan bahwa karena Covid-19 masih terbilang baru jadi hingga saat ini belum ada penanganan Covid-19 yang terstandar.

Tetapi, penularannya yang begitu mudah terjadi khususnya pada orang-orang yang rentan, seperti penderita kanker harus diwaspadai.

“Tetapi bukan berarti pengobatan kanker harus ditunda, itu malah akan memperburuk perkembangan penyakitnya sendiri. Jadi kita harus terus melanjutkan pengobatan kanker di tengah pandemi dengan mematuhi protokol kesehatan dengan tetap optimis dan semangat,” papar Dr. Sonar.

Di acara temu penyintas ini, tak lupa para penyintas kanker payudara pun berkomitmen dengan senantiasa menjaga kesehatan diri sesuai anjuran dokter, saling mendukung dan menguatkan sesama penyintas dalam melawan kanker payudara, tetap semangat, optimis dan selalu berdoa dan melakukan kampanye deteksi dini dengan Sadari dan melakukan adaptasi kebiasaan baru sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku, yakni memakai masker, menjaga jarak dan rutin mencuci tangan.

Read more...

Kemenkes Apresiasi Kampanye Deteksi Dini YKPI

Jakarta, YKPI – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan apresiasi terhadap Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), atas upaya lembaga nirlaba tersebut dalam mengampanyekan deteksi dini kanker payudara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes. mengatakan, dukungan YKPI merupakan bentuk kerja sama dalam pengendalian dan pencegahan kanker, khususnya kanker payudara.

“Kami apresiasi YKPI mendukung kemenkes dalam upaya pencegahan bc dengan terus mengampanyekan pentingnya deteksi dini kepada masyarakat,” kata dr. Cut dalam sebuah sambutan video pada Jumat (23/10).

Misi pengendalian dan pencegahan kanker, lanjut dr. Cut, tidak bisa hanya dilakukan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, melainkan membutuhkan bantuan dari berbagai sektor.

“Butuh dukungan multisektor dan multi disiplin. Kerja sama dengan YKPI adalah bentuk konkrit dan dukungan yang dibutuhkan kemenkes dalam pengendalian dan pencegahan kanker,” sambung dia.

Lebih lanjut dr. Cut menambahkan, pandemi Covid-19 telah berpengaruh terhadap layanan penanggulangan kanker di Indonesia, mengingat prioritas pemerintah pada saat ini ialah penanggulangan Covid-19.

Kendati demikian, mengingat prevalensi penyakit penyerta dengan angka kematian cukup tinggi dapat mempengaruhi progresivitas penderita Covid-19, pelayanan terhadap penyakit yang menjadi comorbid tetap harus diupayakan.

“Pelayanan terhadap penyakit yang menjadi komorbid tetap harus diupayakan tanpa mengabaikan pencegahan pada faktor risiko penyakit,” tandas dia.

Read more...

Dua Cara Mudah Lakukan “Sadari” Kanker Payudara

Spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk mengatakan terdapat dua cara mudah melakukan periksa payudara sendiri (Sadari).

Sadari merupakan salah satu bentuk pemeriksaan deteksi dini kanker payudara yang dapat dilakukan sendiri di rumah, yang dilakukan setiap bulan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid.

Terdapat beberapa cara untuk melakukan Sadari, yaitu bisa dengan mengangkat tangan dan memeriksa apakah ada kemerahan atau bengkak pada payudara. Kemudian letakan tangan di pinggan dan periksa kembali payudara. Setelahnya, tekan payudara dari atas dan ke bawah untuk merasakan apakah ada benjolan.

Tekan payudara secara melingkar untuk memeriksa adanya benjolan. Tekan payudara ke arah puting untuk melihat apakah ada cairan yang keluar. Lalu, kedua ialah dalam posisi berbaring, dengan cara tekan payudara secara melingkar.

Apabila terdapat benjolan di payudara, patut diwaspadai kalau itu adalah tumor atau kanker. Namun, pembedanya adalah pada kanker payudara umumnya benjolan tersebut tidak terasa nyeri.

Berdasarkan data Globocan 2018, insiden angka kejadian kanker payudara di Indonesia adalah 16,7 persen. Artinya, ada sekitar 159,6 kasus kanker payudara baru per harinya dan 6,6 kasus baru setiap jam.

Sementara itu, kanker payudara menduduki angka kematian akibat kanker tertinggi kedua di Indonesia, setelah kanker paru. Padahal, sebenarnya angka harapan hidup kanker payudara bisa tinggi apabila dideteksi sejak dini. Pada stadium I, angka harapan hidup kanker payudara mencapai 90 persen.

“Pada stadium II, angka tersebut menurun menjadi sekitar 60 persen, begitu pun pada stadium III yag hanya mencapai 40 persen. Sedangkan pada pasien stadium IV, angka harapan hidupnya kurang dari 10 persen,” terang dr. Bob dalam Virtual Sosialisasi Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bertajuk `Seberapa Penting Pemeriksaan Deteksi Dini Untuk Masyarakat Awam` pada Jumat (16/10).

Sementara data dari British Journal of Cancer juga menyebut angka harapan hidup mereka yang melakukan deteksi dini jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak melakukan deteksi dini kanker payudara.

Selain Sadari, lanjut dr. Bob, terdapat langkah lainnya yakni Sadanis. Sadanis merupakan pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan, dengan cara yang sama seperti Sadari.

Untuk perempuan berusia di atas 40 tahun, melakukan pemeriksaan mammografi dan USG lebih dianjurkan agar hasilnya lebih akurat.

Read more...

Saling Sapa Jadi Kunci Pencegahan Kanker Payudara

Dalam rangka bulan peduli kanker payudara internasional, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) kembali menyelenggarakan virtual sosialisasi deteksi dini kanker payudara.

Acara yang digelar Jumat (16/10) tersebut bertajuk `Seberapa Penting Pemeriksaan Deteksi Dini Untuk Masyarakat Awam`.

Kegiatan ini dilakukan mengingat angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia cukup tinggi, yaitu di urutan kedua setelah kanker paru.

Padahal, kanker payudara memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan jenis kanker lainnya, apabila sudah terdeteksi sejak dini.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) cabang D.I. Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas mengatakan, sosialisasi mengenai kanker payudara perlu sangat dilakukan agar bisa saling melindungi.

Ratu Hemas menyebut sudah saatnya untuk saling menyapa dan mengingatkan mengenai deteksi dini payudara ke sesama perempuan.

“Sudah waktunya pikirkan budaya saling mengingatkan atau menyapa, apakah sudah lakukan Sadari atau belum, karena sapaan bisa menjadi motivasi,” kata Ratu Hemas dalam paparannya.

Selain itu, deteksi dini juga bisa menekan biaya pengobatan kanker yang terbilang cukup tinggi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. “Untuk itu harus sering lakukan sosialisasi karena banyak masyarakat yang belum paham apa itu kanker payudara,” timpalnya.

Ketua Umum BKOW Jawa Tengah (Jateng) Nawal Arafah Yasin yang hadir dalam kegiatan itu mengungkapkan banyak penderita kanker di Jateng yang tidak tertolong, akibat diketahui sudah stadium lanjut hingga menyebabkan kanker dianggap sebagai penyakit yang mengkhawatirkan bagi masyarakat.

“Untuk itu, sosialisasi memang sangat diperlukan dan secara masif, karena kanker bisa dicegah,” jelas Nawal.

Dari hasil screening Sadanis 2020 pada triwulan kedua di Jateng pun ditemukan, pada golongan usia di bawah 30 tahun terdapat 185 kasus tumor, 17 kasus curiga kanker dan 16 kelainan payudara.

“Karenanya kesadaran masyarakat dengan gejala dan tanda-tanda kanker harus dilakukan dengan edukasi mengenai Sadari, lalu lanjut lakukan USG dan kalau sudah di atas 40 tahun periksa dengan mamografi agar bisa melakukan penemuan dini,” ujar Nawal.

Sementara itu Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengapresiasi tindakan yang sudah dilakukan oleh Jateng untuk melakukan screening dini, dengan harapan angka kanker payudara stadium lanjut bisa ditekan, sehingga angka harapan hidup bisa lebih panjang.

Linda juga mendukung ide saling menyapa Sadari yang disampaikan Ratu Hemas. Hal ini menurutnya bisa menjadi motivasi kepada para perempuan untuk setiap bulan memeriksakan payudara mereka sendiri.

“Memang program pemerintah saat ini ke kanker serviks, tetapi kanker payudara secara data lebih tinggi dan belum ada vaksin juga. Karena itu, ini kerja keras bersama kita untuk membantu pemerintaha untuk menekan angka kanker payudara stadium lanjut,” papar Linda.

Read more...

Pandemi Bukan Alasan Tunda Pengobatan Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS menyarankan pasien kanker payudara tetap menjalankan pengobatan yang dianjurkan, meski berada di tengah pandemi Covid-19.

Dan guna meminimalisasi kekhawatiran terhadap penularan Covid-19, dr. Soeko mengatakan rumah sakit saat ini telah dilengkapi fasilitas tambahan, antara lain sarana cuci tangan, menyediakan masker, hingga mengharuskan jaga jarak dalam antrian.

“Bagi yang sudah terdiagnosis kanker payudara, ikuti anjuran dokter. Pengobatan jangan ditunda karena pengobatan yang sesuai anjuran akan memberikan hasil yang lebih baik,” kata dr. Soeko dalam pesan video yang diterima oleh Jurnas.com pada Minggu (11/10).

Menurut dr. Soeko, kanker payudara merupakan kasus kanker terbanyak baik di Indonesia maupun dunia. Begitu pula di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta yang banyak merawat pasien kanker payudara mulai dari stadium awal hingga lanjut.

Karena itu, sebagai langkah pencegahan, dr. Soeko menganjurkan masyarakat untuk rutin melakukan deteksi dini kanker payudara melalui periksa payudara sendiri (Sadari) maupun periksa payudara secara klinis (Sadanis).

dr. Soeko menyebut dengan melakukan Sadari, maka tindak lanjut terhadap kanker payudara akan lebih mudah dan lebih murah, dibandingkan datang ketika sudah berada pada stadium lanjut.

“Tentu pengobatannya menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan hasilnya lebih baik yang stadiumnya stadium awal,” tandas dr. Soeko.

Read more...

Hati-hati, Ini Faktor Penyebab Kanker Payudara Kambuh Lagi

Jakarta, YKPI – Kekambuhan menjadi momok menakutkan bagi para survivor atau mantan penyintas kanker payudara. Karena pada dasarnya, kanker payudara tidak akan benar-benar hilang, melainkan hanya berubah menjadi sel-sel tidur (dormant) di dalam aliran darah.

Demikian disampaikan oleh spesialis bedah dan onkologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dr. Agus Sutarman Sp. B (Onk), dalam kegiatan Temu Sapa Virtual Survivor Kanker Payudara-Kartika (SKP-Kartika) bertajuk ‘Cara Bijak Pasien Kanker Payudara dengan Hidup Sehat di Masa Pandemi Covid-19’ pada Senin (12/10).

Kegiatan yang diselenggarakan berkat kerja sama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) itu dihadiri oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar, Ketua Persit KCK Hetty Andika Perkasa, dewan pembina YKPI, dan ratusan anggota Persit KCK seluruh Indonesia.

“Pada pasien kanker payudara, sel-sel kankernya masih ada di aliran darah, kondisinya sedang tidur (dormant), dalam kondisi tertidur. Dia sewaktui-waktu bisa bangun atau aktif,” kata dr. Agus dalam paparannya.

Adapun faktor utama yang menyebabkan kambuhnya kanker payudara ialah imunitas tubuh yang menurun. Dokter bedah onkologi RSPAD itu menjelaskan, imunitas merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus, mikroorganisme, maupun penyakit dari luar tubuh.

“Kenapa seseorang bisa terinfeksi Covid-19? Karena imunitas menurun. Karena banyak juga yang terpapar Covid-19 tapi tidak bermanifestasi klinis atau tidak menunjukkan gejala sakit, dan tidak ada keluhan. Itu karena imunitas tubuh baik,” ujar dr. Agus.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan imunitas tubuh menurun, antara lain makanan yang kurang bergizi, kurang beristirahat, hingga kurangnya kemampuan melakukan manajemen stres.

“Jadi, makanan harus bergizi, sehat, diolah dengan baik dengan sehat, tidak lebih, secukupnya. Kalau asupan makanan kurang, maka daya tahan tubuh akan berkurang. Manajemen stres juga perlu dikelola dengan baik,” terang dr. Agus.

dr. Agus menambahkan, terdapat dua jenis imunitas di dalam tubuh manusia, yakni imunitas spesifik dan imunitas nonspesifik.

Imunitas spesifik merupakan pertahanan tubuh yang memiliki tugas khusus, atau yang kerap kali disebut antibodi.

“Sedangkan imunitas nonspesifik adalah daya tahan tubuh yang dibawa sejak lahir. Contohnya kulit tubuh, itu juga semacam jaringan imunitas supaya tubuh tidak dimasuki oleh kuman,” papar dr. Agus.

Sementara Ketua Persit KCK Hetty Andika Perkasa dalam sambutannya menyampaikan dibentuknya komunitas SPK-Kartika adalah dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan informasi valid mengenai kanker payudara.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi mengenai deteksi dini kanker payudara, guna menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut.

“Kami memutuskan untuk mempercayakan program pendampingan kanker payudara ini kepada YKPI, dan saya beserta teman-teman di sini mengucapkan terima kasih banyak kepada YKPI yang sudah berkenan,” ucap Hetty.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar menyambut positif program pendampingan kanker payudara Persit KCK. Menurut Linda, ini merupakan tantangan tersendiri, karena YKPI belum pernah mendampingi komunitas dalam skala besar.

“Kami menganggap ini sebagai tantangan, karena kami belum pernah mendampingi suatu komunitas sebesar ini terus-menerus bersama mereka. Yang ada, komunitas datang atau mendaftar ke dalam komunitas YKPI,” kata Linda.

“Jadi kami langsung membentuk satu tim dengan tujuh orang, tim kecil yang memegang pilot project,” sambung Linda.

Sumber: Jurnas.com

Read more...

Deteksi Dini Kanker Payudara, Yuk Rutinkan Sadari

Jakarta, YKPI – Memperingati bulan kanker payudara internasional, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menggelar virtual sosialisasi deteksi dini kanker payudara untuk wilayah Indonesia Tengah pada Selasa (6/10).
Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB, Siti Rohmi Djalilah, Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) NTT, Kristifora, Ketua Umum BKOW Bali, Tjok Putri Hariyani, Ketua YKPI Linda Agum Gumelar dan Ketua PERABOI Pusat, dr. Walta Gautama, SpB(K)Onk.

Dalam sambutannya, Ketua YKPI mengimbau pentingnya deteksi dini kanker payudara. Berdasarkan data global 2018, kanker payudara adalah jenis kanker tertinggi untuk pasien kanker di Indonesia.

Tingkat kematiannya pun berada di urutan nomor dua, setelah kanker paru. Di Indonesia sendiri, 30,9 persen dari seluruh kasus baru kanker untuk perempuan ditempati oleh kanker payudara. Sedangkan kanker serviks berada di urutan kedua dengan 17 persen.

“Ada perbedaan yang cukup banyak antara kanker payudara dan serviks. Sangat memprihatinkan. Padahal kanker itu bukan kematian sepanjang diketahui sejak stadium awal dan adanya pengobatan klinis,” kata Linda dalam acara talkshow virtual bertajuk Deteksi Dini Kanker Payudara, Bolehkah Ditunda?

Untuk itu, ia meminta agar peserta yang hadir dapat senantiasa menggaungkan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) untuk bisa menekan angka kanker payudara stadium lanjut. Karena angka kesembuhan di stadium awal lebih tinggi.

“Jadi bisa terus mendorong deteksi dini kanker payudara agar lebih baik dan banyak dan bermanfaat, agar bisa menekan angka kanker payudara stadium lanjut. Karena sulit bagi kami semua, juga dokter apabila terjadi keterlambatan,” ungkap Linda.

Wagub NTB, Siti Rohmi Djalilah yang hadir dalam acara tersebut juga menyampaikan kalau saat ini telah mendorong posyandu di NTB untuk melakukan penyuluhan dan edukasi seputar kesehatan reproduksi secara berkala.

“Posyandu keluarga, termasuk para ibu dan perempuan yang tengah produktif, diadakan penyuluhan dan edukasi secara berkala. Untuk remaja, kami berikan pengetahuan kesehatan reproduksi termasuk pada perempuan,” ucapnya.

Kemudian Ketua BKOW NTT, Kristifora ikut menimpali kalau pengetahuan kesehatan reproduksi merupakan hal yang penting. Bahkan menurutnya, Sadari adalah suatu kewajiban untuk anak perempuan yang sudah beranjak remaja untuk mendeteksi lebih awal kanker payudara.

“Setelah itu baru dilanjutkan dengan Sadanis (Periksa Payudara Klinis), tetapi masih prihatin dengan lebih banyak yang memilih pengobatan herbal ketimbang medis,” ujarnya.

Begitu pula dengan Tjok Putri Hariyani sebagai Ketua Umum BKOW Bali pun berharap, YKPI Pusat bisa membantu untuk memberikan sosialisasi terkait deteksi dini dan bahayanya kanker payudara sejalan dengan yang mereka sudah lakukan sekarang ini.

Read more...

Takut, Penyebab Terbesar Tertundanya Pemeriksaan dan Pengobatan Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang diderita oleh banyak orang. Bahkan berdasarkan data global 2018, kanker payudara menjadi jenis kanker tertinggi untuk pasien kanker di Indonesia.

Tingkat kematiannya pun berada di urutan nomor dua, setelah kanker paru. Padahal sebenarnya kanker payudara dapat disembuhkan dengan syarat, datang ke dokter sejak stadium awal dan tidak menunda pemeriksaan dan pengobatan.

Menurut dr. Walta Gautama, SpB(K).Onk, Ketua PERABOI Pusat, ada banyak penyebab perempuan menunda pemeriksaan dan pengobatan kanker payudara. Tetapi, yang paling banyak dialami oleh perempuan adalah perasaan takut.

“Perempuan menunda untuk periksa kelainan payudara sebagian besar karena takut banyak hal, takut diagnostik, takut jalani pengobatan, takut dioperasi, takut ini yang mendominasi,” tuturnya dalam virtual sosialisasi deteksi kanker payudara untuk wilayah Indonesia Tengah oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI).

dr. Walta juga menyebut, bahkan ada sebuah jurnal yang memaparkan sebagian besar perempuan takut operasi kanker payudara. Sementara perempuan yang menolak pembedahan berisiko dua kali lebih besar meninggal karena kanker ketimbang mereka yang mau dioperasi.

“Takut pengobatan karena katanya kemoterapi itu obat sintetik, membahayakan ginjal, berbahaya untuk sel normal. Padahal kemoterapi itu karena obatnya menghantam sel yang cepat membelah seperti rambut, area mulut makanya ada sariawan,” jelasnya.

Padahal apabila tidak menerima pengobatan, kondisinya bisa bertambah buruk. Karena berbeda dengan penyakit jantung atau diabetes, pada pasien kanker payudara apabila tidak menjalankan pengobatan maka stadium kankernya bisa naik dan terapi yang dilakukan pun harus bertambah.

“Ada penelitian angka survival lima tahun untuk stadium 3 dan 4 kalau tanpa medis hanya 46,2 persen saja yang mampu bertahan. Kalau ia menjalankan terapi medis hingga 84,7 persen yang bertahan hidup hingga lima tahun. Jadi ketakutan pada kemoterapi itu sebenarnya tidak berdasar,” ungkap dr. Walta.

Salah satu yang menjadi tantangan juga adanya tawaran dari terapi alternatif, mengingat masih ada beberapa daerah yang memiliki kepercayaan tertentu terhadap pengobatan sehingga mengakibatkan seseorang terlambat berobat.

Tetapi alternatif tersebut biasanya memberikan janji-janji yang ditakuti oleh perempuan, seperti mereka yang takut operasi, takut hilang payudaranya, takut terapi dan seakan yang dilakukannya telah berhasil. “Terus ada juga obat yang bisa untuk semua kanker, seperti leukemia, prostat dan itu harganya gak murah,” katanya.

Untuk itu, dr. Walta menyarankan agar masyarakat untuk perbanyak pengetahuan mengenai kanker agar tidak takut. Cari tahu lebih lanjut mengenai faktor risiko, gejala dan terapi pengobatan kanker seperti apa pada sumber yang terpercaya agar tidak mendapatkan informasi yang salah.

Read more...

70 Persen Pasien Kanker Payudara Berada di Stadium Lanjut

Jakarta, YKPI – Berdasarkan studi Globocan 2018, kanker payudara menduduki grafik tertinggi dari seluruh pengidap kanker yang ada di Indonesia kemudian disusul oleh kanker serviks dan lainnya.

Ketua Umum Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Agum Gumelar mengatakan berdasarkan grafik itu juga bisa dilihat angka kematian pun tertinggi kedua setelah kanker paru secara umum.

Masih merujuk pada data yang sama khusus untuk perempuan bahwa kasus baru kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi atau sebesar 30,9 persen atau 58.256 dari total 188.231 kasus baru di Indonesia.

“Dan yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan karena kematian nomer 2 perempuan yakni kanker payudara, bahwa 70 persen pasien sudah berada di tingkat lanjut,” ungkapnya.

Melihat data tersebut Linda berharap perempuan Indonesia menjaga kesehatan secara rutin selama satu bulan sekali. “Jika ditemukan benjolan maka perlu dilakukan periksa payudara sendiri secara klinis atau memeriksakan diri ke dokter,” ucapnya.

Untuk memperingati bulan peduli Kanker Payudara ini YKPI berharap kepada masyarakat luas agar memberikan dukungan pada para sahabat atau pengidap kanker untuk memberikan semangat, motivasi dan kasih sayang agar mereka.

Read more...

Sambut Bulan Kanker Payudara, YKPI Gelar Acara Menarik

Jakarta, YKPI  – Bulan peduli kanker payudara diperingati di seluruh dunia setiap bulan Oktober. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk membantu meningkatkan perhatian dan dukungan akan kesadaran, deteksi dini dan pengobatan perawatan paliatif kanker payudara.

Ketua Umum Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan apabila tahun lalu situasi sangat padat, namun tahun ini karena efek pandemi Covid-19 maka banyak kegiatan dilakukan secara virtual.

Sejak 19 September lalu YKPI telah membuka dengan rangkaian acara yakni melakukan kegiatan secara virtual temu alumni pelatihan pendamping pasien kanker payudara angkatan 1-5 sudah diadakan selama 5 tahun.

“Mereka diberikan materi baru berupa pelatihan paliatif. Acara berjalan dengan baik dan mendapatkan respon positif dari alumni yang bermanfaat untuk mendampingi para pasien,” ucapnya pada Kamis (1/10).

Selanjutnya, YKPI mengadakan sosialisasi deteksi dini kanker payudara bekerjasama dengan Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) di Indonesia Tengah yakni BKOW NTT dan NTB.

Kemudian pada 12 dan 17 Oktober 2020 melakukan deteksi dini kanker payudara untuk komunitas agama dan yang satu lagi ialah dengan cara mendukung organisasi atau komunitas. “Jadi mereka ini adalah anggapan organisasi dan terkena kanker payudara maka kami akan melakukan pendampingan untuk mereka,” ucapnya.

Satu kegiatan yang menarik lainnya ialah yang selalu kami lakukan setiap tahun secara tatap muka yakni temu penyintas kanker payudara se-Indonesia yang dilakukan secara virtual. Rencana diadakan pada 24 Oktober mendatang.

Selain akan dihadiri Dokter Onkologi yang akan menyampaikan pesan khusus dan motivasi, peserta juga akan dihibur pula Tika dan Udjo dari Project Pop dan ada pula Lea Simanjuntak yang akan menghibur para penyintas. “Tahun lalu kami bisa menghadirkan 500-1000 peserta, kami berharap tetap bisa melakukan bersama para penyintas walau melalui virtual,” ucapnya.

Kemudian YKPI akan mengusulkan pihak Pemda DKI untuk memasang lampu jalan warna pink di beberapa ruas jalan misalnya di Monas atau Jembatan Semanggi yang semoga bisa diwujudkan seperti tahun lalu. Selain kegiatan tersebut, YKPI juga akan mengikuti General Assembly pada 6 Oktober 2020.

“Akhirnya, sebagai organisasi nirlaba, kami tidak bisa menjalankan program tanpa dukungan pihak swasta. Terima kasih untuk dukungannya selama ini,” tandas Linda.

Read more...