Author - admin

YKPI: Perempuan Sehat Jangan Malas Deteksi Dini

Jakarta, Jurnas.com – Ketua sekaligus Pendiri YKPI Linda Agum Gumelar berpesan agar perempuan Indonesia tidak malas melakukan deteksi dini. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang merasa sehat.

“Jadi bagi mereka yang sehat, ingatlah dalam 1 jam ada 6 kasus kanker payudara baru. Jika Anda tidak ingin menjadi bagian dari kasus baru itu lakukan deteksi dini dengan SADARI,” tegas Linda ketika menjadi pembicara di salah satu webinar yang diselenggarakan Radio Sonora Surabaya, pada Selasa (27/10).

Webinar yang dipandu Goorda Girlandia itu diselenggarakan dalam rangka bulan peduli kanker payudara internasional, dengn tema ‘Langkah Tepat yang Perlu Diketahui Pasian Kanker Payudara’. Bersama Linda, hadir pula dr Ario Djatmiko FICS, sebagai nara sumber.

Selain memaparkan program YKPI, Linda juga berpesan untuk tidak takut dan jangan pernah menunda pemeriksaan medis jika ditemukan benjolan atau kejanggalan pada payudara dan sekitarnya untuk mengetahui apakah benjolan tersebut kanker atau bukan.

Hal ini diamini oleh dr Ario yang menguatkan statemen Linda, jika tidak semua benjolan pada payudara itu pasti merupakan kanker.

“Tetapi tetap harus diperiksakan dulu sejak awal agar dapat diketahui sejak dini juga, apakah itu hanya tumor atau kanker. Intinya jangan menunda pemeriksaan,” lanjut dr Ario.

Pendiri RS Onkologi Surabaya ini menggarisbawahi bahwa Kecepatan pasien datang dan ketepatan tindakan menentukan kesembuhan pasien.

“Kecepatan letaknya di masyarakat. Tapi kalau toh pengobatan datangnya terlambat hasilnya sering seperti yang tidak diharapkan,” ujar dr Ario lagi.

Linda menambahkan para penyintas kanker payudara itu butuh diberikan dukungan. “Berikan dukungan pada penyintas, yang mereka butuhkan hanya semangat, senyuman, sisanya mereka yang akan menghadapi pengobatan semua,” imbau Linda.

Sedangkan untuk para penyintas sendiri, Linda yang juga penyintas kanker payudara, meminta agar mereka terus semangat berikhtiar, selalu optimis dan jangan lupa berdoa.

Mantan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak itu juga mengajak agar para penyintas tak segan bergabung dengan komunitas penyintas kanker payudara untuk saling berbagi, saling menguatkan agar merasa lebih percaya diri dan semangat dalam melakukan pengobatan.

“Sehingga kita akan senang dan menikmati kehidupan ini dengan lebih positif. Ini akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh kita dalam proses pengobatan itu. Jadi saya berharap pada para penyintas, ayolah bergabung dengan komunitas yang ada dimana kita merasa nyaman di dalamnya. Biasanya di dalam komunitas didampingi dokter untuk konsultasi atau ada penyintas yang juga dokter untuk berbagi informasi. Jangan pernah merasa sendiri,” saran Linda.

Sumber: Jurnas.com

Read more...

Yuk, Rutin Periksa Payudara Sendiri Sebulan Sekali

KOMPAS.com – Periksa Payudara Sendiri ( SADARI) adalah langkah penting yang perlu dilakukan secara rutin untuk mengetahui kelainan pada payudara, termasuk mengenali kanker payudara agar bisa dicegah sejak dini.

Meski sepele, namun masih banyak perempuan yang belum mempraktikannya secara rutin, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Pemeriksaan payudara dapat dimulai sejak 12 tahun dan dilakukan setiap bulan.

Koordinator program mobil Mammografi Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dr. Hardina Sabrida, MARS menjelaskan, pemeriksaan dilakukan satu kali setiap bulannya karena adanya hubungan dengan hormon estrogen perempuan.

Perabaan payudara dilakukan di saat kadar estrogen menurun di hari ketujuh hingga 10, dihitung dari hari pertama haid.

“Saat itu adalah paling baik melakukan SADARI, di mana pada saat itu payudara kita tidak kencang, sehingga tidak sakit bila diraba,” ungkapnya kepada Kompas.com.

Bagi perempuan yang sudah menopause, SADARI bisa dilakukan setiap tanggal tertentu yang mudah diingat, misalnya setiap tanggal satu atau tanggal kelahiran.

Beberapa tahapan melakukan SADARI, antara lain:

  1. Berdiri di depan cermin dan angkat tangan Saat melakukan langkah ini, pastikan bahu lulur sejajar. Setelah itu, letakan tangan pada pinggang. Cermati kedua payudara apakah simetris atau tidak, adakah perubahan bentuk atau warna, pembengkakan dan atau perubahan pada puting. Kelainan yang mungkin ditemukan adalah benjolan, kerutan, posisi puting tidak normal, struktur kulit, atau kemerahan.
  2. Angkat kedua lengan di belakang kepala dan dorong siku ke depan Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada kelainan pada payudara. Payudara yang normal, keduanya akan terangkat secara bersamaan.
  3. Gunakan ujung jari dan tekan secara perlahan permukaan payudara Rasakan apakah ada benjolan pada payudara atau tidak. Raba setiap permukaan payudara dengan beberapa pola, seperti melingkar, kanan ke kiri, atas ke bawah, tengah ke samping atau hingga ketiak.
  4. Peras puting dengan perlahan Amati apakah ada cairan yang keluar atau tidak. Cairan yang keluar biasanya berwarna putih, kuning atau darah. Hal tersebut menunjukan payudara yang tidak normal.
  5. Bungkukan badan dan lihat pada depan cermin Amati dan raba apakah ada perubahan tertentu pada payudara Anda atau tidak.
  6. Periksa payudara dengan keadaan berbaring Beri bantalan pada sisi payudara yang akan diperiksa. Letakan tangan pada belakang kepala. Setelah itu, gunakan ujung jari untuk melakukan pemeriksaan. Lakukan pemeriksaan secara menyeluruh, bila menemukan salah satu dari gejala yang disebutkan di atas, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter.

“Pastikan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Payudara dibagi empat kuadran, semuanya harus diperiksa. Ini dilakukan setiap bulan, paling nggak 7-15 hari dari hari haid,” ucapnya.

Keadaan yang perlu diwaspadai Setelah melakukan SADARI, kamu mungkin sudah bisa mengenali apakah ada yang berbeda dari payudaramu. Beberapa kondisi yang perlu menjadi perhatian, antara lain: Teraba benjolan. Penebalan kulit. Perubahan ukuran dan bentuk payudara. Pengerutan kulit. Keluar cairan dari puting susu. Nyeri. Pembengkakan lengan atas, dan Teraba benjolan di ketiak atau di leher.

Jika ditemukan kelainan-kelainan seperti di atas atau terasa ada perubahan dibandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Nantinya, dokter akan menentukan apakah benjolan tersebut berbahaya atau tidak.

“Prinsipnya, dalam keadaan normal tidak ada benjolan di area tersebut,” kata dr. Hardina.

Penyintas Kanker Payudara Peduli kanker payudara

Seperti diketahui, Oktober adalah bulan kesadaran terhadap kanker payudara. Berkaitan dengan itu, pada Oktober 2020, merek botol air minum Corkcicle mendukung YKPI lewat program donasi 5 persen dari hasil penjualan selama bulan Oktober terhadap produk berwarna Rose Quartz, yang dikaitkan dengan simbol peringatan Kanker Payudara, yakni Pita Pink.

Produk Rose Quartz sendiri terdiri dari beberapa varian, seperti Stemless 12 oz Classic Rose Quartz, Canteen 9oz Classic Rose Quartz, Tumbler 16oz Classic Rose Quartz, dan Canteen 16oz Classic Rose Quartz. Dalam program ini Corkcicle bersama dengan YKPI juga mengingatkan pentingnya mengenali kanker payudara Indonesia lewat SADARI.

 

Sumber: Kompas.com

Read more...

Nitta: Kanker Payudara Bukan Akhir Segalanya

Jakarta, YKPI – Nyaris sempurna. Demikian kalimat pendek yang dibayangkan Nitta Suzanna sebelum kanker payudara menghampirinya pada suatu pagi di bulan November 2015.

Benjolan kecil yang teraba di payudara kanannya membuat Nitta cemas, khawatir, gundah-gulana, hingga akhirnya bingung. Dia mencoba tegar, namun apa daya hati berkata lain.

“Hati saya bersiap, tapi tidak untuk cobaan sebesar ini. Namun kehidupan harus dihadapi,” kata Nitta.

Di tengah kegundahan, Nitta mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi dari internet. Hasil dari pencarian itu membuatnya membulatkan tekad untuk mendatangi spesialis bedah onkologi.

“Saya tidak mau benjolan itu ada di tubuh saya. Lakukan apa pun yang diperlukan agar saya bisa sembuh,” ujar Nitta menirukan ucapannya kepada dokter waktu itu.

Lima hari setelah pemeriksaan, operasi pembedahan lumpektomi dilakukan. Hasilnya, kanker payudara dengan ER dan PR positif, dan HER2 negatif. Buruknya lagi, kankernya sudah masuk stadium 2A grade 3.

“Saya syok, sedih, marah, stres dan frustrasi. Semua perasaan jadi satu. Membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi,” kenangnya.

Tak mau menyerah dengan keadaan, Nitta mencoba tetap kuat. Dukungan keluarga menjadi obat bagi dirinya untuk sembuh dari penyakit dengan angka kematian nomor satu di Indonesia tersebut.

“Ada anak yang menjadi motivasi terbesar saya. Saya tidak boleh patah semangat,” tutur Nitta.

Perawatan berlanjut dengan enam sesi kemoterapi, 25 kali radioterapi, dan terapi hormon selama lima hingga 10 tahun. Setahun sekali, perempuan 42 tahun itu masih harus rutin melakukan PET scan dan mammografi, untuk memastikan dirinya bersih dari sel-sel kanker.

“Menjaga pola makan, tidur cukup, menghindari stres, rajin berolahraga dan menjalani hidup sehat adalah prioritas saya. Supaya saya sehat secara fisik maupun mental,” kata pemilik hobi menyanyi itu.

“Kanker payudara bukan akhir segalanya. Tidak untuk saya , tidak juga untuk kamu. Let’s keep on fighting, do our best and let God do the rest,” tutup Nitta.

Read more...

Rahasia Onna Tetap Aktif Meski Idap Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Februari menjadi bulan yang tak terlupakan untuk Onna Rawung. Empat tahun lalu, tepatnya pertengahan Februari 2016, dokter memvonisnya terkena kanker payudara.

Onna sempat merutuki dirinya sendiri. Betapa tidak, perempuan tersebut tidak pernah abai dengan kesehatan payudaranya. Termasuk selalu melakukan operasi setiap kali menemukan benjolan.

“Tahun 2006 melakukan operasi tumor jinak. Tahun 2012 ada lagi tumor jinak, diangkat lagi tumornya. Jadi setiap ada benjolan langsung diangkat,” tutur Onna saat dihubungi Jurnas.com.

Pada November 2015, benjolan yang sama muncul lagi di payudaranya. Namun kali ini benjolan tersebut menetap. Berbeda dari pengalaman Onna sebelumnya. Padahal kala itu dia sedang bersiap menghadapi perayaan Natal.

Akhirnya pada Februari 2016, Onna kembali memeriksakan diri ke dokter. Dia disarankan melakukan USG, dan hasilnya ternyata ganas.

Tapi seminggu kemudian, Onna kembali melakukan biopsi kedua. Kali ini, hasilnya berbeda. Tumor di payudara Onna dinyatakan jinak. “Ya sudah operasi biasa,” kata Onna.

Setelah operasi, hasilnya pun terlihat solid. Kabar buruk baru muncul setelah hasil tes patologi anatomi (PA) keluar. Tumornya divonis ganas alias kanker payudara.

“Pastinya kaget, diam, ke dokter tapi diam, seminggu gak keramas, keluarga pun enggak ada yang saya kasih tahu selain suami. Seminggu banyak diam,” kenang Onna.

Satu minggu pertama menjadi momok bagi Onna, mengingat dirinya memiliki satu orang anak yang masih SMP. Di sisi lain, dia juga memiliki 250 rekan tim yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Onna pun memutuskan untuk melawan penyakit tersebut. Sebisa mungkin, Onna tampil aktif dan sehat, untuk meyakinkan orang sekitarnya bahwa dirinya sedang baik-baik saja.

“Di kantor pun, saya cuma ngomong ke general manager dan HRD. Ke tim, saya tidak cerita, hanya ke sekretaris saya saja,” ujar Onna.

Untuk menyiasati waktu, Onna biasanya datang ke rumah sakit pukul enam pagi untuk melakukan radiasi, agar mendapat antrian pertama. Dan biasanya jam setengah sembilan dirinya sudah ada di kantor.

“Semua saya buat terkesan tidak ada apa-apa. Iya saya terkena kanker, tapi itu jadi momok cuma satu minggu pertama. Setelah itu saya harus bangkit,” tutur Onna.

“Awal itu memang mandiri banget, saya tidak mau terlihat lemah. Poinnya, ini dijalani dan ini bukan merupakan hal yang harus disesali,” sambung Onna.

Selain menguatkan dirinya sendiri, Onna juga mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Alih-alih minta dikasihani, Onna justru selalu mengingatkan keluarganya agar tetap menjaga pola hidup sehat, dan rutin melakukan deteksi dini.

“Kanker itu bukan akhir segalanya, tapi suatu awal untuk kita bangkit. Ini sesuatu yang bisa kita lawan dalam arti semua akan baik-baik saja kalau kita melakukan treatmen dengan baik dan terkontrol,” tutup Onna.

Read more...

Rentan Tertular Covid-19, Penyintas Kanker Diimbau Patuhi Protokol Kesehatan

Ahli bedah onkologi Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, SpB.K.Onk MARS MEpid mengimbau para penyintas kanker untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Pasalnya, penyintas maupun pasien yang saat ini sedang menjalani pengobatan kanker, rentan tertular virus korona baru (Covid-19) yang sedang mewabah di seluruh dunia.

“Penyakit ini (Covid-19) mudah menular, dan ada beberapa (kelompok) orang yang rentan tertular di antaranya pasien kanker,” terang dr. Sonar melalui video singkatnya dalam rangka Bulan Peduli Kanker Payudara yang diperingati setiap Oktober.

“Walau demikian berbagai protokol sudah disiapkan di fasilitas kesehatan. Sehingga walau ada risiko akan menjadi lebih kecil,” sambung dr. Sonar.

Kendati berada di tengah pandemi Covid-19, dr. Sonar menyarankan para penyintas dan pasien tetap melanjutkan pengobatan di rumah sakit.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut mengatakan penundaan pengobatan justru mengakibatkan kondisi kanker semakin memburuk.

“Jadi kita harus terus melanjutkan pengobatan kanker, mematuhi protokol kesehatan. Insya allah semuanya akan berjalan dengan baik,” tutupnya.

Read more...

Deteksi Dini Tingkatkan Peluang Sembuh dari Kanker Payudara

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyebut deteksi dini meningkatkan tingkat kesembuhan pasien kanker payudara.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan `Breast Cancer Awareness Month: Care and Cure` pada Jumat (23/10) lalu, yang digelar oleh @America.

Disampaikan dalam acara tersebut, deteksi dini merupakan salah satu hal yang paling penting dilakukan untuk menemukan stadium awal kanker payudara.

“Artinya itu ada sesuatu kan, padahal kalau ditemukan pada stadium awal bisa sehat. Makanya kampanye mengenai deteksi kanker payudara ini harus terus dilakukan dengan tepat,” terang Linda.

Linda menambahkan, berdasarkan data Globocan pada 2018 bahwa ada sekitar satu kasus baru kanker payudara di setiap sembilan menit, dan sebagian besar dari kanker payudara baru itu berada di stadium lanjut.

Hal senada disampaikan CEO Brem Foundation, Andrea Wolf. Pada kanker payudara stadium awal, angka harapan hidup dan kualitas hidupnya jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang baru mengetahuinya saat sudah berada di stadium lanjut.

“Sebenarnya kanker payudara itu tidak menakutkan malahan bisa sembuh apabila di stadium awal, tetapi masih sedikit orang yang tahu. Untuk itu, makanya kami dari Brem Foundation berusaha untuk memberitahu hal tersebut,” tutur Wolf.

Selain deteksi dini, lanjut Wolf, mengetahui faktor risiko juga perlu dilakukan. Seperti semisalnya apakah ada riwayat keluarga yang memiliki kanker payudara atau tidak.

“Untuk siapapun di usia berapapun, cari tahu mengenai faktor risiko. Tidak ada ruginya juga melakukan deteksi dini mandiri karena nanti kita jadi tahu apabila ada yang aneh di payudara kita,” tambah Wolf.

Carmen Marshall, seorang penyintas kanker payudara asal Amerika Serikat juga mengatakan pentingnya melakukan deteksi dini.

Dia diketahui memiliki kanker payudara sekitar 17 tahun lalu, dan beruntungnya ketika kanker payudara masih berada di stadium awal.

“Deteksi dini penting sekali karena bisa menyelamatkan hidup. Bertahan hidup itu dengan menemukan kanker sejak dini,” terang dia.

Deteksi dini kanker payudara bisa dilakukan dengan banyak cara. Mulai dari mencari tahu faktor risiko seperti misalnya dari riwayat kesehatan keluarga, melakukan sadari, sadanis hingga mammografi. Tetapi untuk mammografi sendiri dianjurkan untuk perempuan yang berusia 40 tahun ke atas.

Read more...

Komitmen Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia Jaga Protokol Kesehatan

Jakarta, YKPI – Ada yang berbeda dari kegiatan Temu Penyintas Kanker Payudara yang digelar Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tahun ini, pada Sabtu (24/10).

Tidak hanya dilaksanakan secara virtual, ajang tahun ke-IV yang diikuti hampir 500 penyintas kanker payudara se-Indonesia ini juga menyertakan pernyataan bersama, yang dibacakan oleh perwakila penyintas dari Sabang sampai Merauke.

Satu dari lima poin pernyataan bersama tersebut berisi komitmen penyintas kanker payudara untuk tetap menjaga protokol kesehatan, di tengah pandemi Covid-19 di Tanah Air.

“Melakukan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan protokol kesehatan: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” demikian salah satu isi pernyataan bersama tersebut.

Selain itu, para penyintas juga menyatakan siap untuk: Senantiasa menjaga kesehatan diri sesuai anjuran dokter; saling mendukung dan menguatkan sesama pejuang dan penyintas untuk melawan kanker payudara; dan tetap semangat, optimis, dan selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

“Senantiasa melakukan kampanye deteksi dini kanker payudara dengan Sadari (Periksa Payudara Sendiri),” tutup pernyataan tersebut.

Mengambil tajuk ‘Tetap Optimis Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru di Masa Pandemi Covid-19, Kamu Bisa Kita Bisa!’, YKPI mendorong penyintas menyesuaikan diri dengan masalah yang tengah melanda dunia, yaitu pandemi Covid-19.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan pandemi yang berlangsung sejak Maret lalu, membuat semua pihak gagap termasuk YKPI.

“Tapi kami kemudian mencoba untuk menyesuaikan diri karena kita gak boleh lagi kan sosialisasi dengan tatap muka, jadi kami mengambil langkah untuk memodifikasi program dengan bentuk-bentuk virtual yang banyak melibatkan pihak di seluruh Indonesia,” tutur Linda dalam sambutannya.

Read more...

Pernyataan Bersama Peserta Temu Penyintas Kanker Payudara Se Indonesia Tahun Ke-IV

Pernyatan Bersama ini dibacakan oleh perwakilan para penyintas kanker payudara se-Indonesia, pada acara Virtual Temu Penyintas yang diselenggarakan YKPI, Sabtu (24/10).

Kami, pejuang dan penyintas kanker payudara menyatakan:

  1. Senantiasa menjaga kesehatan diri sesuai anjuran dokter.
  2. Saling mendukung dan menguatkan sesama pejuang dan penyintas untuk melawan kanker payudara.
  3. Tetap semangat, optimis, dan selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
  4. Senantiasa melakukan kampanye deteksi dini kanker payudara dengan SADARI.
  5. Melakukan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan protokol kesehatan: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan

Kamu bisa !! kita bisa !!

Read more...

Digelar Virtual, Temu Penyintas Kanker Payudara YKPI Tetap Meriah

Jakarta, YKPI – Agenda rutin yang dilakukan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tahun ini, Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia dilakukan dengan format yang cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu secara virtual.

Meskipun begitu, acara yang digelar Sabtu 24 Oktober 2020 tersebut tetap berlangsung dengan meriah dihadiri oleh hampir 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Mengambil tajuk “Tetap Optimis Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru di Masa Pandemi Covid-19, Kamu Bisa Kita Bisa!”, hal ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan masalah yang tengah melanda dunia, yaitu pandemi Covid-19.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan kita semua mengalami pandemi sejak Maret lalu, semuanya juga gagap termasuk YKPI.

“Tapi kami kemudian mencoba untuk menyesuaikan diri karena kita gak boleh lagi kan sosialisasi dengan tatap muka, jadi kami mengambil langkah untuk memodifikasi program dengan bentuk-bentuk virtual yang banyak melibatkan pihak di seluruh Indonesia,” tutur Linda dalam sambutannya.

Ia melanjutkan, agar penyintas payudara agar tetap melakukan pengobatan dengan selalu memperhatikan protokol kesehatan yang ada.

Dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B-Onk, M.Epid, Pembina YKPI pun menjelaskan bahwa karena Covid-19 masih terbilang baru jadi hingga saat ini belum ada penanganan Covid-19 yang terstandar.

Tetapi, penularannya yang begitu mudah terjadi khususnya pada orang-orang yang rentan, seperti penderita kanker harus diwaspadai.

“Tetapi bukan berarti pengobatan kanker harus ditunda, itu malah akan memperburuk perkembangan penyakitnya sendiri. Jadi kita harus terus melanjutkan pengobatan kanker di tengah pandemi dengan mematuhi protokol kesehatan dengan tetap optimis dan semangat,” papar Dr. Sonar.

Di acara temu penyintas ini, tak lupa para penyintas kanker payudara pun berkomitmen dengan senantiasa menjaga kesehatan diri sesuai anjuran dokter, saling mendukung dan menguatkan sesama penyintas dalam melawan kanker payudara, tetap semangat, optimis dan selalu berdoa dan melakukan kampanye deteksi dini dengan Sadari dan melakukan adaptasi kebiasaan baru sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku, yakni memakai masker, menjaga jarak dan rutin mencuci tangan.

Read more...

Kemenkes Apresiasi Kampanye Deteksi Dini YKPI

Jakarta, YKPI – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan apresiasi terhadap Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), atas upaya lembaga nirlaba tersebut dalam mengampanyekan deteksi dini kanker payudara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes. mengatakan, dukungan YKPI merupakan bentuk kerja sama dalam pengendalian dan pencegahan kanker, khususnya kanker payudara.

“Kami apresiasi YKPI mendukung kemenkes dalam upaya pencegahan bc dengan terus mengampanyekan pentingnya deteksi dini kepada masyarakat,” kata dr. Cut dalam sebuah sambutan video pada Jumat (23/10).

Misi pengendalian dan pencegahan kanker, lanjut dr. Cut, tidak bisa hanya dilakukan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, melainkan membutuhkan bantuan dari berbagai sektor.

“Butuh dukungan multisektor dan multi disiplin. Kerja sama dengan YKPI adalah bentuk konkrit dan dukungan yang dibutuhkan kemenkes dalam pengendalian dan pencegahan kanker,” sambung dia.

Lebih lanjut dr. Cut menambahkan, pandemi Covid-19 telah berpengaruh terhadap layanan penanggulangan kanker di Indonesia, mengingat prioritas pemerintah pada saat ini ialah penanggulangan Covid-19.

Kendati demikian, mengingat prevalensi penyakit penyerta dengan angka kematian cukup tinggi dapat mempengaruhi progresivitas penderita Covid-19, pelayanan terhadap penyakit yang menjadi comorbid tetap harus diupayakan.

“Pelayanan terhadap penyakit yang menjadi komorbid tetap harus diupayakan tanpa mengabaikan pencegahan pada faktor risiko penyakit,” tandas dia.

Read more...