Author - admin

Perista Lemhanas Ajak Perempuan Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Persatuan Istri-istri Anggota (Perista) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) mengajak kepada para perempuan Indonesia, agar tidak ragu melakukan deteksi dini kanker payudara.

Pasalnya, menurut Plt Ketua Perista Lemhanas, Lisa Wieko Syofyan, perempuan dituntut senantiasa sehat dan bugar, mengingat perannya yang sangat sentral di tengah keluarga.

“Perempuan diciptakan agar bisa berperan sebagai ibu, istri, dan anak sekaligus. Karena itu, sangat penting bagi perempuan melakukan deteksi dini agar terhindar dari gangguan kesehatan,” ujar Lisa dalam kegiatan `Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara` bersama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Kantor Lemhanas, Jakarta pada Selasa (21/1) kemarin.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar. Berdasarkan data Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, dari seluruh pasien yang memeriksakan diri ke RSKD, 56 persen di antaranya mengidap kanker payudara.

Sementara 44 persen sisanya ialah penyintas kanker serviks, kanker anak, kanker nesofaring, kanker paru-paru, dan kanker tulang.

“Dan yang menyedihkan, 70 persen pasien kanker payudara, datang dalam stadium lanjut,” kata Linda.

Linda mengingatkan, kanker payudara dapat menimpa siapapun, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, kasus kanker payudara pada perempuan dalam hal ini lebih banyak.

“Tapi kalau laki-laki, sekali kena langsung ganas (kankernya),” terang dia lagi.

Karena itu, guna mengetahui kanker payudara lebih awal, ahli deteksi dini RSKD Jakarta, dr. Martha Roida Manurung mengimbau agar lekas melakukan deteksi dini kanker.

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan, yakni periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), USG, dan mammografi.

“Kalau yang ada yang punya keluhan pada payudara, silakan bisa datang ke poliklinik deteksi dini kanker, pemeriksaannya tidak sakit. Dokternya juga perempuan,” tutur Martha.

Adapun khusus untuk Sadari, tambah Martha, dapat dilakukan secara rutin di rumah. Salah satu caranya ialah dengan berdiri di depan cermin, lalu meraba payudara dari pinggir secara melingkar ke tengah, untuk memastikan ada atau tidak adanya benjolan.

“Posisi tangan juga bervariasi. Pertama di samping dada, sambil melihat ke cermin apakah ada perubahan atau tidak. Kedua, tangan di pinggang. Ketiga, tangan diangkat ke atas. Lihat apakah ada benjolan, atau ukuran payudara simetris atau tidak,” tandas dia.

Read more...

Wujudkan Indonesia Bebas Kanker Payudara 2030, YKPI Gaet Milenial

Jakarta, YKPI – Kolaborasi atau akrab dikenal dengan istilah ‘collab’ sedang marak belakangan ini dilakukan di antara para pengguna media sosial Indonesia. Tak terkecuali Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar.

Saat ditemui Jurnas.com, YKPI sedang mencoba menjajaki kolaborasi dengan sekumpulan anak muda kreatif, Gerakan Satupadu Indonesia, pada Rabu (15/1) siang di Kantor YKPI, Jakarta Selatan.

Linda mengatakan, untuk mewujudkan visi YKPI Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut pada 2030 mendatang, pihaknya harus menggandeng pelbagai pihak dalam mengkampanyekan pentingnya deteksi dini.

Hal ini dimaksudkan agar angka kejadian kanker payudara stadium lanjut dapat menurun, termasuk di kalangan anak muda, atau generasi milenial.

“Hal ini dikarenakan kanker payudara juga dapat terjadi pada anak muda,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak era Kabinet Indonesia Bersatu itu.

Linda  menuturkan, pengalaman ini didapati saat YKPI mendampingi anak muda usia 17 tahun yang harus berjuang mengalahkan kanker payudara.

Melalui kolaborasi ini, Linda berharap YKPI dan Satupadu Indonesia akan memiliki program baru, supaya anak muda Indonesia dapat mengenal langkah-langkah periksa payudara sendiri (SADARI) sejak dini.

“Selain itu, YKPI sangat berharap pemahaman tentang kanker payudara juga tersebar secara luas ke semua kalangan. Karena jika kanker payudara ditemukan pada stadium awal peluang untuk sembuhnya sangat besar, dapat mencapai 98 persen. Tentunya melalui pengobatan medis,” harap Linda.

Masalah perbedaan usia, dikatakan Nanda dari Gerakan Satupadu Indonesia tidaklah menjadi permasalahan selama mereka bisa berkolaborasi untuk perubahan.

“Dan kayaknya Satupadu dengan YKPI sudah satu frekuensi, tinggal kita memikirkan konsep kolaborasi programnya saja,” ujar mahasiswa semester akhir Program Studi Hubungan Internasional itu.

Pada kesempatan sama, YKPI menyambut baik kedatangan dan niat baik kolaborasi ini dengan harapan agar program kolaborasinya nantinya dapat  menghubungkan anak muda Indonesia dengan lebih baik bukan saja di dalam melainkan juga di luar negeri.

“Saya harap kita dapat selalu kolaborasi dan mampu memahami dan menghadapi perubahan yang terjadi. Ayo maju bersama anak muda Indonesia, masa depan Indonesia ada di tangan kalian,” tandas Linda.

Read more...

Natal di Balik Atap Rumah Singgah

Jakarta, YKPI – Empat perempuan berbaris di depan sebuah meja makan kaca. Di atasnya, satu bakul nasi dan semangkuk gulai berwarna oranye yang menggiurkan lidah berdampingan dengan aneka lauk pauk.

Keempat perempuan yang berasal dari Pontianak, Bengkulu, dan Banten itu baru saja pulang dari gereja di bilangan Slipi, Jakarta Barat, seusai merayakan Natal.

“Ada beberapa yang Kristiani dan merayakan Natal di Rumah Singgah,” ungkap pengelola Rumah Singgah YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), Nani Firmansyah pada Kamis (26/12).

Mengharukan, sudah pasti. Natal yang biasanya dirayakan bersama keluarga besar di kampung halaman, namun tidak bagi keempat perempuan tersebut.

Pengobatan kanker payudara yang sedang dijalani saat ini, mengharuskan mereka bolak-balik Rumah Singgah dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, guna menjalani perawatan.

“Kebetulan mereka tidak pulang dan saya juga ada waktu luang untuk bisa masak dengan lauk sederhana saja,” tutur Nani.

“Kami makan siang bersama setelah mereka pulang dari gereja,” lanjut dia.

Untuk diketahui, Rumah Singgah YKPI yang beralamat di Jalan Anggrek Neli Murni Nomor A38, Slipi, Jakarta Barat didirikan pada 2 Februari 2017.

Rumah singgah ini memiliki 28 tempat, yang terdiri dari 14 tempat tidur pasien, dan 14 tempat tidur bagi pendamping.

Selain tersedia fasilitas kamar mandi, dapur, dan ruangan tamu keluarga, Rumah Singgah YKPI juga hanya membebankan pasien Rp15.000 per malam untuk biaya kebersihan.

Read more...

Sempat Acuhkan Benjolan, Derma Derita Kanker Payudara Ganas

Jakarta, YKPI – Derma Boru Sagala menyesal tidak pernah melakukan deteksi dini kanker payudara, setelah mengetahui ada benjolan di payudara kanannya dan terasa panas pada pertengahan 2018 tahun lalu.

Dia kira, itu hanya benjolan biasa. Tapi lama-lama kelamaan benjolan tersebut terasa mengganggu, dan kerap kembali ketika sedang menstruasi.

“Lalu setelah bulan ke-8 saya konsultasi kepada adik-adik, kemudian memeriksakan diri ke rumah sakit. Saya dibiopsi oleh dokter, dan bulan ke-9 keluar PA-nya, ternyata mengarah ke kanker ganas,” ungkap Derma.

Derma lemas. Dia tidak menyangka dihinggapi oleh penyakit mematikan tersebut. Apalagi, perempuan asal Curug, Rejanglebong, Bengkulu itu masih memiliki dua orang anak.

“Dunia saya runtuh, dan saya tidak bisa cerita ke anak-anak saya. Saya merasa dengan timbulnya penyakit ini, saya telah dikutuk Tuhan,” kata dia.

Di tengah keputusasaan tersebut, Derma bertemu Ester, temannya yang juga mengidap kanker payudara. Kebetulan, pada akhir 2018 Ester baru pulang dari menjalani pengobatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Ester, kata Derma, saat ini menyemangatinya agar tidak putus asa. Dia diingatkan bahwa kanker payudara bukan kutukan, melainkan sudah ada potensinya di seluruh tubuh manusia.

“Jujur, waktu tante Ester bilang ke Jakarta, justru saya mikir ke dana. Karena tidak ada dana. Tapi tante Ester bilang BPJS nanggung,” ujar Derma.

Di RS Kanker Dharmais, Derma tidak hanya menjalani operasi pengangkatan payudara. Dia juga sempat menjalani operasi pengangkatan indung telur, karena kankernya sudah meresap ke organ reproduksi tersebut.

Hingga akhirnya, pada 18 Oktober 2019 dia diperkenalkan dengan salah seorang teman Ester, yakni Carolina. Dari Carolina lah Derma mengetahui Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara (YKPI) yang berlamat di Jalan Anggrek Neli Murni Nomor A38, Slipi, Jakarta Barat.

“Kami bersyukur sekali, karena biaya dari daerah itu terbatas. Adanya rumah singgah itu adanya harapan untuk lebih ke arah sehat,” ungkap Derma.

Dengan adanya Rumah Singgah YKPI, Derma kini tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk penginapan selama menjalani pengobatan. Apalagi, di Rumah Singgah dia bisa mendapatkan dukungan dan semangat dari para penyintas kanker payudara lainnya.

“Ini juga nyaman, dengan sesama juga saling support, komunikasi, memberi dukungan-dukungan. Ke rumah sakit pun dekat, bisa jalan kaki. Jadi banyak kemudahan yang kami peroleh,” tandas dia.

Read more...

Tangis Haru Japong Bisa Tinggal di Rumah Singgah

Jakarta, YKPI – Liau Jan Fang tak kuasa menahan air matanya saat ditanya soal Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), yang berlamat di Jalan Anggrek Neli Murni No. A38, Slipi, Jakarta Barat.

Perempuan asal Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) ini hanya bisa bersyukur karena tidak perlu memusingkan biaya tinggal, selama menjalani pengobatan kanker payudara di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

“Kemudahan di Rumah Singgah YKPI ini, saya ke rumah sakitnya dekat. Kalau badan saya tidak bermasalah, saya bisa jalan kaki ke Dharmais, terjangkau,” kata Jan Fang atau yang akrab dipanggil ‘Bu Japong’.

Japong merupakan salah satu penyintas kanker payudara di RS Kanker Dharmais Jakarta. Dia menceritakan, awalnya dia merasakan payudara kanannya mengeras. Padahal dia sedang tidak haid.

Setelah konsultasi ke dokter, Japong disarankan mengonsumsi obat hormon. Namun hasilnya nihil. Dia pun mencoba beragam pengobatan herbal, yang juga berakhir gagal.

“Sudah bermacam-macam herbal dicoba, seperti bajakah, itu juga sudah dicoba. Dan tetap tidak bisa,” ujar dia.

Akhirnya, Japong terbang ke Jakarta seorang diri untuk berobat ke RS Kanker Dharmais. Di hari pertamanya di ibu kota, dia menangis karena tidak memiliki sanak saudara.

“Saya bingung, saya tidak pernah ke Jakarta. Saya duduk, terus nangis. Karena saya sering menangis, saya didatangi seorang ibu, yang mana dia adalah seorang pendeta,” tutur Japong.

Berkat mengenal perempuan pendeta tersebut, Japong mendapatkan informasi mengenai Rumah Singgah YKPI. Dia pun menyanggupi tinggal di rumah singgah tersebut, selain dengan alasan berbiaya murah, juga memiliki banyak teman tinggal.

“Pokoknya saya terbantu, rumah sakitnya pun dekat,” tandas dia.

Read more...

Perempuan Belum Hamil dan Tak Menyusui Rawan Kanker Payudara

Perempuan belum hamil berpotensi mengidap kanker payudara. Hormon estrogen dalam payudara tidak tersalurkan. Menumpuk. Sehingga memicu tumbuhnya benjolan atau daging tumbuh.

Namun itu masih dugaan. Penyebab pastinya belum diketahui. Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) dr Walta Gautama SpB(K)Onk menuturkan penyebabnya berhubungan dengan hormon.

Perempuan yang tidak pernah hamil dan menyusui membuat payudara tidak beristirahat. Kelenjar payudara sendiri menghasilkan hormon estrogen setiap fase datang bulan.

“Estrogen ini dipakai oleh rahim supaya elastis ketika ada bayi. Rahim itu memakai estrogen dari payudara,” terang dr Walta pada media beberapa waktu lalu.

Tidak hamil dan menyusui, faktor risikonya menjadi bertambah.

Pengidap berusia 40-50 tahun berpotensi besar mengidap. Namun usia 20-an pun tetap rawan. Umumnya keluhan utama adalah adanya benjolan yang terasa pada payudara. Tapi benjolan tersebut ada yang nampak, ada pula yang tidak. Untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan USG dan momografi.

“Gejala awal biasanya hanya benjolan. Mau kecil atau pun besar itu sudah harus diperiksa,” tegas dr Walta.

Dokter yang praktek di RSK Dharmais Jakarta ini menjelaskan seluruh dokter onkologi tidak akan merekomendasikan penanganan hanya mengandalkan obat herbal. Lalu penanganan medis dikesampingkan. Justru potensi akan naiknya  stadium kanker payudara malah lebih besar. Harapan untuk sembuh menjadi kecil. Biaya berobat pun lebih mahal. Karena itu, kuncinya ada pada deteksi dini.

Mengobati kanker katanya jangan ditunda. Semakin ditunda penanganan medis, status stadium akan naik. Kemungkinan terburuk adalah kematian bagi si pengidap.

“Sempat viral beberapa tanaman tradisional dalam menyembuhkan kanker. Yang penting adalah jangan ditinggal pengobatan medisnya. Kalau bisa diambil benjolan,  ambil. Karena itu cara yang paling terbaik,” imbuh dr Walta.

Read more...

Ini Harapan Linda Gumelar Sambut Hari Kesehatan Nasional

Jakarta, Jurnas.com – Selain ditetapkan sebagai Hari Ayah Nasional, tanggal 12 November juga diperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Di tahun 2019, HKN menginjak tahun ke-55.

Menyambut HKN, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Agum Gumelar berharap pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin baik. Menurutnya, HKN bukan hanya sebuah peringatan melainkan ada makna yang terkandung di dalamnya.

“Kami dari yayasan kanker payudara Indonesia dan saya pribadi berharap peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus semakin baik, terutama dalam peraturan-peraturan BPJS yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Linda usai nonton bareng film “Bebas” di Jakarta, Kamis (07/11).

Selain itu, tokoh wanita Indonesia yang pernah menjabat sebagai sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabinet Indonesia Bersatu tersebut juga berharap peringatan HKN dijadikan pemicu masyarakat untuk menjaga pola hidup yang lebih baik.

“Kita juga berharap masyarakat menjaga gaya hidup yang baik, sehingga tidak menjadi penyebab dari suatu penyakit. Karena itu, lifestyle itu penting sekali. Kita ingin masyarakat sehat lahir dan batin,” ujar Linda.

Perayaan HKN pertama kali diperingati di tahun 1959. Saat itu dilakukan penyemprotan nyamuk Malaria secara simbolis oleh Presiden Soekarno.

Usai penyemprotan secara simbolis dilakukan, penyuluhan pun diberikan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan bahaya penyakit Malaria dan agar mereka lebih waspada terhadapnya.

Di tahun-tahun berikutnya, Hari Kesehatan Nasional (HKN) terus diperingati dengan tujuan memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan untuk masyarakat Indonesia.

Read more...

YKPI Gelar Nonton Bareng Film “Bebas”

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengajak para pengurus, relawan dan juga dari komunitas survivor kanker nonton bareng (nobar) film “Bebas” karya Mira Lesmana dan Riri Riza di Cinema XXI, Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (07/11).

Ketua YKPI, Linda Amalia Sari atau dikenal dengan Linda Agum Gumelar mengatakan salah satu alasan memilih film “Bebas” karena dinilai mengandung banyak pelajaran yang bisa dipetik usai menonton film tersebut.

“Film yang kami pilih adalah film bebas karena saat membaca resensi filmnya, kami melihat penggambaran semangat persahabatan yang begitu kuat, kepercayaan diri serta sifat keberanian,” ujar Linda saat ditemui usai acara nobar.

Menurut Tokoh Wanita Indonesia sekaligus istri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar, film ini bisa menjadi inspirasi bagi survivor kanker untuk terus semangat menjalani hidup meski dengan segala keadaan yang dihadapi.

“Saya kira dari judul lagu, judul film ini bisa memberi semangat kepada para survivor untuk tetap berani dan semangat menjalani segala kondisi yang ada. Sifat ini sangat penting bagi seorang perempuan terutama untuk orang-orang yang sedang mengalami ujian,” katanya.

Selain itu, Linda juga mengaku sangat tertarik dengan jalan cerita film yang dibintangi salah satu aktris ternama tanah air, Marsha Timothy tersebut. Selain menggambarkan masa-masa SMA, namun juga memperlihatkan arti persahabatan sejati.

“Filmnya menggembirakan mengingatkan masa lalu. Ceritanya juga memperlihatkan sahabat-sahabat yang memberikan semangat untuk sahabatnya yang terdiagnosa sakit. Ini saya kira support yang luar biasa,” tuturnya.

Bebas merupakan adaptasi film Korea Selatan berjudul Sunny. Dalam versi Indonesianya, latar waktu akan berada pada era 90-an. Sedangkan pada versi Sunny, latar waktu sekitar tahun 1987-an.

Bebas bercerita tentang pertemanan sejak masa sekolah. Awalnya Vina (Maizura) sekolah di salah satu SMA di kota kecil di Jawa Barat. Karena beberapa hal, dia pindah sekolah menuju Ibukota Jakarta. Pada hari pertamanya, Vina menjadi bahan lelucon teman sekolah karena logat bicaranya. Dia juga mendapat intimidasi dari salah satu cowok di sekolah. Untungnya datang sekelompok gang sekolah yang menolong Vina.

Anggota gang bernama Bebas ini yaitu Kris (Sheryl Sheinafia) sang pemimpin, Jessica (Agatha Pricilla) yang lucu dan terobsesi akan kecantikan, Gina (Zulfa Maharani) anak terkaya di grup, Suci (Luthesha) perempuan cantik dan misterius, serta Jojo (Baskara Mahendra) cowok satu-satunya.

Read more...

Tes untuk Menentukan Status HER2

Ada 4 tes untuk HER2. Hasil tes akan menunjukkan HER2 positif atau negative.

1). Tes IHK (ImunoHistoKimia- atau IHC: ImmunoHistoChemistry): menentukan protein HER2 di sel kanker terlalu banyak atau tidak. Hasil IHK untuk HER2 ditulis: 0  atau (artinya HER2 negatif); 1+  (artinya HER2 negatif); 2+ (artinya antara positif dan negatif); atau 3+ (HER2-positif, artinya ‘terlalu banyak protein  HER2 pada sel kanker’).

Kalau dengan tes IHK, HER2 hasilnya 2+ , maka perlu di tes lagi dengan salah satu dari 3 macam tes dibawah/berikut ini. (no 2 atau 3 atau 4 dibawah ini) 

2). FISH test (Fluorescence ISitu Hybridization): Menentukan salinan atau ‘copy’ gen HER2 di dalam sel kanker terlalu banyak atau tidak. Kalau terlalu banyak, hasil tes ditulis FISH positif. Ditulis ‘negatif’ kalau protein HER2 didalam sel kanker, jumlahnya normal.

3). Tes SPoTLight HER2 CISH (Subtraction Probe Technology Chromogenic ISitu Hybridization): Menentukan salinan atau ‘copy’ gen HER2 di dalam sel kanker terlalu banyak atau tidak. Kalau terlalu banyak, hasil tes ditulis SPoTLight HER2 CISH positif. Ditulis ‘negatif’ kalau protein HER2 didalam sel kanker, jumlahnya normal.

4). Tes Inform HER2 Dual ISH (Inform Dual ISitu Hybridization): Menentukan apakah di dalam sel kanker ditemukan salinan atau ‘copy’ terlalu banyak gen HER2. Kalau terlalu banyak, hasil tes ditulis Inform HER2 Dual ISH positif. Ditulis ‘negatif’ kalau protein HER2 didalam sel kanker, jumlahnya normal.

Sumber: https://www.breastcancer.org/symptoms/diagnosis/her2

Diterjemahkan (dari sumber diatas) oleh dr Inez Nimpuno MPS MA

Read more...

PERABOI & YKPI Ajak Masyarakat Tenggarong Turunkan Angka Kejadian Kanker

Seiring dengan meningkatknya angka kejadian kanker di Indonesia, PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) semakin giat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, salah satunya talkshow seputar kanker payudara dan kanker tiroid. Dipandu oleh artis sekaligus komedian kawakan Tukul Arwana, talkshow diselenggarkan di Pendopo Bupati Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Sabtu (19/10).

Ketua PERABOI dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan sejak disahkan sebagai anak organisasi dari Perhimpunan Dokter spesialis Bedah Indonesia (IKABI) dan anggota dari World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS) pada 1984, PERABOI yang terdiri dari para dokter spesialis bedah se-Indonesia itu telah melakukan pelbagai kegiatan.

“Bukan hanya untuk melestarikan pengembangan ilmu bedah onkologi dengan pertemuan-pertemuan ilmiah saja, melainkan juga turun ke masyarakat hingga ke daerah-daerah terpencil, melakukan bakti sosial atau sosialisasi tentang penyakit kanker, seperti yang dilakukan saat ini di Kabupaten Tenggarong dengan kemasan talkshow,” kata dokter yang praktek di RS Kanker Dharmais tersebut.

Hal ini, tambah dr Walta, dilakukan PERABOI untuk menyikapi kenyataan bahwa kanker telah menjadi penyakit yang  mendapat perhatian dunia. Seluruh negara di dunia ini, dilanjutkan dr Walta, tengah berupaya keras menurunkan angka kejadian kanker stadium lanjut sekaligus menurunkan angka kematian.

“Termasuk kanker payudara yang rata-rata pasiennya datang ke dokter saat stadium lanjut. Faktor inilah sebenarnya yang menyebabkan angka kematian akibat kanker menjadi tinggi. Padahal jika mereka datang ke dokter pada stadium awal kemungkinan dapat disembuhkannya tinggi sekali. Bisa mencapai 98%,” ujar dr Walta lagi.

Melihat kondisi ini, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), menanggapi dengan serius melalui program-program kerjanya. “Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan dan semakin mengusik serta memotivasi kami YKPI untuk semakin bekerja menurunkan angkat kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia,” kata Linda Agum Gumelar, Ketua sekaligus pendiri YKPI.

Lebih lanjut Linda menjelaskan pengobatan penyakit mematikan ini memang tidak murah. Melalui pelbagai program YKPI yang dipimpinnya, Linda memaparkan upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut dengan sosialisasi deteksi dini melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri) ke beberapa daerah hingga ke pelosok tanah air.

Sejak 2015, YKPI menjadi satu-satunya organisasi nirlaba di Indonesia yang fokus terhadap kanker payudara yang memiliki unit mobil mammografi. Tercatat hingga April 2019  sebanyak 13.214 orang telah melakukan mamografi dengan hasil 1.973 (14,8%) orang diketahui memiliki tumor jinak dan 203 orang  (1,5%) memiliki tumor ganas.

“Mereka yang diduga memiliki tumor langsung dirujuk melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut di rumah sakit, agar kankernya dapat segera tertangani secara klinis dan biaya pengobatannya juga tidak menjadi tinggi,” tambah mantan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kabinet Indonesia Bersatu itu.

Program lain YKPI, lanjut Linda,  adalah pengelolaan Rumah Singgah YKPI bagi pasien BPJS kelas II, di kawasan Anggrek Nelly Murni Slipi, Jakarta Barat,  dan  pelatihan pendamping pasien kanker. Di tingkat Internasional, YKPI aktif sebagai anggota Reach to Recovery International (RRI) dan Union for International Cancer Control (UICC), sebuah organisasi yang mewakili hampir 2.000 organisasi di 170 negara.

“Ke depan, YKPI berencana mewujudkan adanya mobil kemoterapi sebagai upaya jemput bola dengan cara mendatangai pasien rawat jalan yang harus melakukan kemoterapi. Dan, kita juga akan menjadi tuan rumah penyelenggaran South East Asia Breast Cancer Symphosium bagi sekitar 250 peserta dari seluruh negara di  dari dalam dan luar negeri pada Juli 2020,” pungkas Linda yang juga pernah divonis kanker payudara pada 1996.

Dengan visi menjadi organisasi profesi yang mampu membawa anggotanya menjadi  dokter sub spesialisasi  Bedah Onkologi  terkemuka di Asia, PERABOI dikatakan dr Walta akan terus berperan aktif guna meningkatkan kualitas layanan bidang onkologi dan mengedukasi masyarakat tentang kanker melalui pelbagai kanal media. “Hari ini dimulai dari masyarakat Tenggarong, ayo kenali kanker dan kita berperan aktif menurunkan angka kejadian kanker khususnya kanker stadium lanjut di Indonesia,” pungkas dr Walta diamini Linda Agum.

Read more...