Author - admin

Penderita Kanker Payudara Tertinggi di Indonesia

Jakarta – Kanker leher rahim dan payudara merupakan tertinggi yang diderita perempuan Indonesia akibat rendahnya kesadaran deteksi dini kanker payudara.

Demikiaan disampaikan Ketua Umum Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YPKI), Linda Agum Gumelar di sela-sela kegiatan jalan santai memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara Internasional di kawasan Car Free Day, Sudirman, Jakarta, Minggu (7/10).

“Padahal  perkembangan teknologi informasi saat ini, pengetahuan masyarakat, khususnya perempuan mengenai kanker payudara sebetulnya sudah lebih baik. Apalagi dengan hadirnya program JKN-KIS sekarang ini, masyarakat lebih gampang akses pelayanan di fasilitas kesehatan”ujar Linda.

Meskipun demikian, kesadaran untuk memeriksakan diri atau deteksi dini masih sangat rendah. Buktinya sebagian besar dari para penderita yang memeriksakan diri ke dokter sudah dalam kondisi stadium lanjut. Padahal, bila ditemukan sejak dini, maka peluang untuk sembuh lebih besar.

“Ada sebagian perempuan yang takut atau belum siap apabila didiagnosa menderita kanker payudara. Itulah sebabnya meskipun mereka sudah merasakan keganjalan di payudara, tapi menunda pemeriksaan.”

Selain itu, kata Linda masih bayak pasien kanker payudara yang memilih pengobatan alternatif atau herbal. Umumnya mereka memilih pengobatan herbal karena dinilai lebih murah dan tidak memiliki efek samping, seperti tanpa operasi atau kemoterapi dengan segala efek sampingnya. Padahal, banyak kasus yang menunjukkan, alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi kanker payudara makin memburuk.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Akibatnya, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di era Kabinet Indonesia Bersatu ini.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal, pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

Menurut Linda, kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara bisa dipastikan ganas. Meski jarang ditemukan kanker payudara pada pria, tapi risiko itu tetap ada. (Kedaulatan Rakyat)

Read more...

Linda Agum Ajak Masyarakat Lakukan SADARI

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengajak masyarakat untuk rajin melakukan periksa payudara sendiri (SADARI). Sadari , berguna untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.

“Sadari ini cara paling sederhana tapi penting untuk mencegah kanker payudara lepas dari pantauan kita,” kata Linda dalam kegiatan FunWalk 2018 di FX Senayan, Jakarta pada Minggu (7/10) pagi.

Saat melakukan Sadari, bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain: Benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting, maka sebaiknya segera menghubungi dokter.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembap, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” kata Linda.

Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara, menurut Linda, hingga saat ini juga masih lemah. Terbukti, 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas,” ujar Linda.

Memang, lanjut Linda, laki-laki pengidap kanker payudara di Indonesia masih jarang. Bahkan menilik program unit mobil mammografi (UMM) YKPI, para peserta yang melakukan mammografi gratis didominasi oleh perempuan.

Linda juga mengingatkan agar pasien kanker payudara tidak menempuh pengobatan herbal, bila telah mengetahui sedang mengidap kanker payudara. Pasalnya, selama ini alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi payudara makin memburuk.

Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Walhasil, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” jelas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Sejak 2015, YKPI sendiri sudah memeriksa 10.356 orang. Dari jumlah tersebut, 1.511 orang atau 14,7 persen menderita tumor jinak. Sedangkan yang menderita tumor ganas sebanyak 50 peserta atas 1,5 persen.

“Angka itu, terus mengalami kenaikan setiap tahun,” kata Linda. (WASPADA).

Read more...

Yuk, Periksa Payudara Sendiri Untuk Deteksi Dini Kanker!

Jakarta – Bulan Oktober adalah bulan Peduli Kanker. Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI)  selalu mengadakan berbagai kegiatan memperingati bulan peduli kanker  payudara internasional (breast cancer awareness month). Tujuannya , mengajak seluruh masyarakat berjuang melawan penyakit kanker payudara.

Pada bulan Oktober tahun 2018 , penandaan bulan peduli ini dilakukan dengan “pinkifying” Jembatan Susun Semanggi, bekerja sama dengan Pemprov DKI. “Melalui simbol warna pink di Jembatan Susun Semanggi, saya mengajak masyarakat lebih peduli tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara dan jangan menyerah untuk terus memberikan dukungan kepada para penyintas kanker payudara”, ujar Pimpinan YKPI Linda Agum Gumelarnya ketika ditemui disela-sela kegiatan Fun Walk – di kawasan FX Senayan, Jakarta, Minggu (7/10).

Linda menjelaskan, kegiatan Fun Walk yang diikuti lebih dari 200 penyintas kanker buah dada ini. Dia berharap kegiatan ini dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk peduli terhadap dirinya. Caranya,  dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).  Linda juga menyaran  jangan menunda memeriksakan ke dokter jika merasakan kejanggalan di payudaranya atau merasakan sakit.

Selama bulan Oktober ini,  YKPI juga akan menyelenggarakan Temu Penyitas Kanker Payudara Se-Indonesia yang III dengan tema “Kamu Bisa , Kita Bisa !” ,

Selain itu, ada juga  Program Pendampingan Pasien  Kanker di Rumah Sakit, Sosialisasi Deteksi Dini Kanker tersebut dan dilanjutkan dengan pemeriksaan mammografi di Puskesmas-puskesmas di DKI Jakarta.

YKPI juga memberikan pelayanan optimal bagi penderita kanker payudara kurang mampu yang tengah berobat di RS Dharmais. Mereka  bisa  singgah sementara di Rumah Singgah YKPI,  di jalan Anggrek Nelly Murni No. A38, Slipi, Jakarta, selama pengobatan berlangsung.

Mari bersama-sama menyebarkan semangat berjuang kepada teman-teman untuk melawan kanker .  Tidak seharusnya para pejuang kanker menghadapi hal ini seorang diri,” pungkasnya.

Read more...

YKPI: Pengobatan Herbal Perparah Kondisi Pasien Kanker Payudara

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Gumelar mengatakan pengobatan herbal bagi pasien kanker payudara justru memperparah kondisi pasien tersebut.

“Selama ini, alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi pasien kanker payudara makin memburuk,” ujar Linda di Jakarta, Rabu.

Untuk itu, Linda mengingatkan pasien kanker payudara agar tidak menempuh pengobatan herbal jika diketahui mengidap kanker payudara. Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Setelah kondisinya stadium lanjut, mereka baru ke dokter, sehingga sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, maka tentu peluang sehat lebih besar,” tambah dia.

Hal ini dibuktikan sebanyak 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut. Penyebab karena rendahnya kesadaran dalam memeriksa kanker payudara dan diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas”.

Linda mengajak masyarakat untuk melakukan pendeteksian secara dini kondisi payudara. Cara ini, menurut Linda, sangat penting agar kanker payudara segera mendapatkan tindakan medis bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembab, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” imbuh Linda. (Antara)

Read more...

SADARI, Cara Mudah Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengimbau masyarakat melakukan periksa payudara sendiri (SADARI), yang berguna untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.

Cara ini, menurut Linda, sangat penting agar kanker payudara segera mendapatkan tindakan medis bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain: Benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembap, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” kata Linda dalam kegiatan FunWalk 2018 yang didukung Double Tree dari Hilton Hotel, di FX Senayan, Jakarta pada Minggu (7/10) pagi.

Linda mengingatkan agar pasien kanker payudara tidak menempuh pengobatan herbal, bila telah mengetahui sedang mengidap kanker payudara. Pasalnya, selama ini alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi payudara makin memburuk.

Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Walhasil, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” jelas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara, menurut Linda, hingga saat ini juga masih lemah. Terbukti, 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas,” ujar Linda.

Memang, lanjut Linda, laki-laki pengidap kanker payudara di Indonesia masih jarang. Bahkan menilik program unit mobil mammografi (UMM) YKPI, para peserta yang melakukan mammografi gratis didominasi oleh perempuan.

Dia memaparkan, sejak 2015 hingga Mei 2018 UMM YKPI sudah memeriksa 10.356 orang. Dari jumlah tersebut, 1.511 orang atau 14,7 persen menderita tumor jinak.

“Sehingga mereka (yang menderita tumor jinak, Red) harus melakukan pemeriksaan lanjutan,” tuturnya.

Sedangkan yang menderita tumor ganas sebanyak 50 peserta atas 1,5 persen. Angka itu, kata Linda, terus mengalami kenaikan setiap tahun.

Read more...

200 Penyintas Kanker Padati Fun Walk 2018

Jakarta – Sebanyak 200 penyintas kanker payudara memadati kegiatan Fun Walk Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Car Free Day Senayan, Jakarta, pada Minggu (7/1) pagi.

Kegiatan tersebut bertujuan mengajak seluruh masyarakat berjuang melawan penyakit kanker payudara, juga memperingati bulan peduli kanker payudara internasional.

“Saya mengajak masyarakat lebih peduli tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara, dan jangan menyerah untuk terus memberikan dukungan kepada para penyintas kanker payudara,” kata Ketua YKPI Linda Agum Gumelar.

Fun Walk 2018, yang mengulang kesukesan tahun lalu, juga diharapkan memberikan kesadaran kepada masyarakat, bahwa deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan periksa payudara sendiri (SADARI), dan jangan menunda memeriksakan diri ke dokter, jika merasa ada kejanggalan di payudara.

“SADARI dilakukan dengan menggunakan tangan dan penglihatan untuk memeriksa apakah ada perubahan fisik pada payudara,” jelas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini.

“Proses ini dilakukan agar semua perubahan yang mengarah pada kondisi yang lebih serius dapat segera ditangani. Jika ada yang merasa aneh langsung periksakan ke dokter,” imbuhnya.

Dalam rangka bulan peduli kanker payudara Internasional, selama Oktober ini YKPI juga akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan, di antaranya Temu Penyitas Kanker Payudara se-Indonesia ke-3dengan tema `Kamu Bisa , Kita Bisa !`; Program Pendampingan Pasien Kanker Payudara di Rumah Sakit, Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan mammografi di Puskesmas-puskesmas di DKI Jakarta; Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara di berbagai daerah, dan sosialisasi lewat media.

YKPI juga memberikan pelayanan optimal bagi penderita kanker payudara kurang mampu yang tengah berobat di RS Dharmais, Untuk singgah sementara di Rumah Singgah YKPI, di jalan Anggrek Nelly Murni No. A38, Slipi, Jakarta, selama pengobatan berlangsung.

“Mari bersama-sama menyebarkan semangat berjuang kepada teman-teman untuk melawan kanker payudara. Tidak seharusnya para pejuang kanker menghadapi hal ini seorang diri,” tutup Linda.

Read more...

YKPI Dorong Pemerintah Tekan Angka Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mendorong pemerintah menekan jumlah pengidap kanker payudara stadium lanjut di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar di sela-sela Fun Walk 2018, dalam rangka memperingati bulan peduli kanker payudara internasional, di Car Free Day Senayan, Jakarta, Minggu (7/10).

Kepada awak media, Linda menjelaskan bahwa saat ini jumlah pengidap kanker payudara rata-rata 125 dari 100.000 penduduk. Sementara hasil penelitian di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dari seluruh pasien kanker, 40 persen di antaranya kanker payudara.

“Kanker payudara itu paling banyak pasiennya di Indonesia. Dan 70 persen datang dari stadium lanjut,” kata Linda dalam kegiatan yang didukung oleh Double Tree dari Hilton Hotel tersebut.

Tren kanker payudara di Indonesia semakin tahun juga semakin mengalami peningkatan. Sepanjang pemeriksaan yang dilakukan oleh Unit Mobil Mammografi (UMM) YKPI periode 2016-2018, 1,4 persen penderita kanker payudara dicurigai ganas.

“Dari 1,2 persen dan sekarang sudah memeriksa 10.000 lebih. Kini 1,4 persen dicurigai ganas,” terangnya.

Penyebab kanker payudara, lanjut Linda, tak bisa dipastikan secara sahih. Namun pemicunya bisa berasal dari makanan berlemak, jarang berolahraga, stres, polusi, dan peningkatan hormon estrogen.

Usai penderita pun beragam. Meski umumnya menyerang perempuan di atas 40 tahun, namun banyak pula kasus yang terjadi, di mana penderita kanker berasal dari usia yang relatif dini.

“Malah ada 15 tahun dan 17 tahun. Makanya kami dorong pelajaran kesehatan reproduksi masuk di pelajaran sekolah,” tandasnya.

Sementara General Manager Double Tree by Hilton Jakarta Nils-Arne Schroeder menyampaikan, ini merupakan dukungan untuk YKPI kedua kalinya, dalam rangka memperingati bulan peduli kanker payudara.

Sebanyak 2.500 boneka beruang pink yang dibagikan untuk penyintas, artis, pejabat, dan influencer, diharapkan menjadi media untuk mengampanyekan kepedulian terhadap kanker payudara di Indonesia.

“Nanti pada 22 Oktober, kami akan melakukan charity night untuk disumbangkan kepada YKPI. Ini merupakan kepedulian Double Tree by Hilton Hotel,” jelas Arne.

Read more...

Usai Bertemu Istri Indro Warkop, Linda Gumelar Kirim Pesan Menyentuh

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyimpan kesan khusus usai menjenguk istri komedian Indro Warkop, Nita Octobijanthy pada Senin (1/10) kemarin.

Kepada Jurnas.com, Linda mengaku kagum dengan semangat Nita, yang telah divonis oleh dokter terkena kanker paru-paru stadium empat.

“Saya kagum dan hormat dengan semangatmu, sahabatku,” kata Linda pada Selasa (2/10) lewat pesan singkat.

Tak hanya kagum, Linda yang pernah mengidap kanker payudara pada 1996 lalu itu juga memberikan dukungan kepada Nita.

Menurutnya, dukungan dari orang-orang terdekat dan tercinta, merupakan energi positif yang sangat berarti bagi penderita kanker, seperti yang dahulu dia rasakan.

“Jangan menyerah. Saya juga bilang ke anaknya, Hada, agar terus mendukung mamanya,” ujar mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Sebelumnya, Linda mengunjungi Nita di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan. Tampak dalam postingan Instagram Indro Warkop, Linda bersama sang suami, Agum Gumelar datang memenuhi keinginan Nita.

“Sebuah kehormatan bagi keluarga kami, karena keinginan istriku tercinta untuk bertemu Bapak dan Ibu Agum Gumelar tercapai dalam waktu sangat singkat,” tulis Indro.

“Istriku mau sampaikan bahwa anak-anak pejuang kanker perlu diperhatikan, dan itu disanggupi oleh bapak dan ibu dengan penuh keyakinan,” imbuhnya.

Read more...

YKPI Hadiri World Cancer Leaders’ Summit Meeting di Malaysia

Jakarta – Ketua YKPI Linda Agum – diwakili Ning Anhar – menghadiri World Cancer Leaders’ Summit Meeting bertema “Cancer Treatment For All”, bersamaan dengan World Cancer Congress/UICC2018 di Kuala Lumpur, Malaysia, 1 – 4 Okt 2018.

Dengan pengobatan kanker untuk semua sebagai topik, World Cancer Leaders’ Summit Meeting 2018 yang berlangsung hari ini (1/10) bertujuan untuk memusatkan perhatian pada kebutuhan merencanakan dan menerapkan rencana pengendalian kanker nasional dalam mengembangkan infrastruktur inti yang diperlukan untuk keberhasilan pengobatan dan penyembuhan populasi pasien kanker yang terus bertambah.

Hasil dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk melanjutkan komitmen para pimpinan kanker sedunia tentang deklarasi dan kampanye “Cancer Treatment for All” yang dicanangkan pada tahun 2017 di Mexico City.

Di Kuala Lumpur. Bu Ning akan memaparkan kegiatan YKPI di Patient Group Pavillion WCC/UICC 2018 yg berjudul Improving Breast Cancer Care, Leveraging Patients Voices. Sekitar 350 pemimpin global dan influencer dalam pengendalian kanker dan kesehatan masyarakat akan hadir. (sumber uicc.org)

Read more...

Hati-hati Gunakan Kallimat “Apa Kabar” untuk Pasien Kanker

Jakarta – Bagi seorang pendamping pasien kanker payudara, pemilihan kata dan kalimat dinilai sangat penting. Selain guna menghindari salah persepsi, juga agar memberikan kesan bahwa seorang pendamping sedang berempati, bukan bersimpati.

Psikolog Klinis Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Kanker Dharmais Nelly Hursepuny, M.Psi mengatakan, salah satu kalimat yang perlu dihindari yakni ‘Apa Kabar’. Meski sepele, rupanya kalimat ini dapat menciptakan kesan negatif, bila ditanyakan saat pertama kali bertemu pasien.

“Usahakan tidak menggunakan kalimat tersebut, apalagi memang belum pernah mengenal pasien,” kata Nelly usai acara Resertifikasi TUV Rheinland ‘Optimalisasi Peran Pendamping Pasien Kanker Payudara’ Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar, pada Sabtu (22/9).

“Pasien akan bertanya-tanya, memang sudah sejauh apa pendamping mengenal dia. Itu kesannya terlalu basa-basi,” imbuhnya.

Dari pada menggunakan pertanyaan ‘Apa Kabar’, Nelly menyarankan bagi pendamping memakai pertanyaan lainnya yang bernada netral, atau lebih baik memperkenalkan diri terlebih dahulu, supaya pasien mengenal si pendamping.

“Kesan pertama itu 3-7 menit, membuka peluang sejauh mana pasien menerima Anda sebagai pendampingnya,” ujar Nelly.

Nelly menambahkan, selain pendamping dari kalangan relawan, keluarga juga memiliki peran sangat sentral dalam memberikan dukungan terhadap pasien.

Seperti diungkapkan Nelly, pasien kanker payudara membutuhkan dukungan moral dan sosial, guna mengatasi tekanan psikologis pasca vonis dokter.

“Mereka mengalami kondisi psikologis seperti rasa takut, cemas, dan khawatir berlebihan. Mereka butuh dukungan emosional dari teman terdekat, baik keluarga maupun pendamping,” tandasnya.

Read more...