Author - admin

Pentingnya Self-Healing bagi Pasien Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Tubuh manusia dirancang sedemikian rupa memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri (self-healing). Demikian disampaikan oleh spesialis urologi Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Rachmat Budi Santoso, Sp.U.

Kendati mampu melalukan self-healing, dr. Santo menyebut pasien kanker juga tetap membutuhkan tindakan pengobatan mengatasi kelainan fisik.

“Kalau benar obat-obatan yang menyembuhkan, maka semua orang yang mendapatkan obat yang sama harusnya mendapatkan kesembuhan. Tapi kenyataannya tidak semua,” kata dr. Santo dalam webinar ‘Smart Healing: Tips dan Teknik Healing bagi Pasien Kanker’ pada Jumat (7/8).

“Sebagian pasien yang ke dokter ada yang sembuh, ada pula yang tidak. Di sinilah pentingnya Smart Healing,” sambung alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.

Untuk menerapkan self-healing ini, lanjut dr. Santo, terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan. Pertama ialah kesadaran bahwa tidak ada penyakit yang datang tiba-tiba.

“Tidak ada namanya serangan jantung mendadak, karena enam bulan sebelum serangan jantung, tubuh memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres, entah berupa nyeri atau rasa tidak nyaman. Kita harus belajar agar tubuh memberi sinyal-sinyal tersebut,” terang dr. Santo.

Kedua ialah meyakini bahwa tubuh dan pikiran merupakan satu kesatuannya. Karenanya saat melakukan pengobatan, pasien harus mampu mengendalikan emosi, dan menjauhkan diri dari stres.

“Saat stres, metabolisme biokimia di dalam tubuh pasien akan berubah sama sekali dari orang normal. Maka obat yang harusnya efektif, akan berkurang karena yang diobati mengalami stres atau emosional,” papar dr. Santo.

Terakhir ialah menjaga sistem imun agar tetap kuat. Pasalnya, sistem imunlah yang menjadi benteng yang bisa menyembuhkan seseorang dari penyakit.

“Sistem ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga kita dari penyakit, namun juga membantu sembuh dari penyakit,” tandas dr. Santo.

Kegiatan webinar hasil kerja sama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan Rumah Sakit Kanker Dharmais ini diikuti oleh 300 peserta dari seluruh Indonesia.

Webinar dibuka langsung oleh Ketua Umum YKPI Linda Agum Gumelar, yang berharap materi self-healing ini dapat membantu pasien kanker melakukan pengendalian emosi.

Read more...

Ini Perbedaan Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Skrining dan deteksi dini merupakan dua istilah yang sering kali digunakan dalam kasus kanker payudara. Meski keduanya sama-sama bertujuan sebagai langkah pencegahan kanker payudara, skrining dan deteksi dini punya perbedaan yang signifikan.

Ahli bedah onkologi Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, SpB.K.Onk MARS MEpid mengatakan terdapat enam tahap perjalanan kanker payudara, mulai dari sel sehat hingga berujung kematian.

Keenam tahap tersebut ialah healthy cells (sel sehat), abnormal cells (sel abnormal), pre-invasive cancer (kanker pra-invasif), invasive cancer (kanker invasif), cancer spread (penyebaran kanker), dan death (kematian).

Yang disebut skrining (screening), lanjut dr. Sonar, ialah pemeriksaan yang dilakukan sebelum ada keluhan. Atau dalam proses tersebut mengetahui kanker payudara saat masih di tahap sel sehat, sel abnormal, atau kanker pra-invasif.

Adapun sebaliknya, deteksi dini merupakan pemeriksaan setelah ada keluhan dan biasanya ukuran kanker sudah di atas satu sentimeter.

“Idealnya, kalau kita bisa mendeteksi di daerah sel yang masih sehat itu hebat sekali. Bisa memperkirakan seseorang bisa menjadi kanker. Pemeriksaan ini sedang dikembangkan. USD payudara dan mamografi yang sudah standar kita gunakan baru bisa mendeteksi kanker berukuran di atas 1 CM,” terang dr. Sonar dalam kegiatan ‘Webinar Kanker Payudara: Seberapa Dini Penanganan Kanker Payudara?’ pada Jumat (24/7) yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia, dan diikuti oleh 500 peserta dari seluruh Indonesia.

“Yang sekarang kita punya dengan USG dan mammografi baru sampai di tahap invasive cancer ke kanan. Makanya ada istilah early diagnosis atau deteksi dini,”

Lebih lanjut dr. Sonar menjelaskan, deteksi dini adalah jenis pencegahan sekunder. Adapun pencegahan primer kanker payudara ialah dengan menghindari faktor risiko.

Di antara faktor risiko kanker antara lain obesitas, kurang berolahraga, alkohol, penggunaan obat hormon, tidak menyusui, genetik, dan peningkatan usia.

Namun pada praktiknya, menghindari faktor risiko itu kerap kali sulit dilakukan. Padahal menurut dr. Sonar, hal itu sangat efektif untuk mencegah kanker payudara.

“Misalnya untuk faktor genetik, kalau kita bisa menemukan gen ini, kita bisa mencegah hampir 85 persen kanker payudara. Cuma masalahnya, bahwa gen yang disebut BRCA ini tidak banyak. Biasanya di populasi wanita itu cuma 5-10 persen,” tandas mantan Dirut Rumah Sakit Kanker Dharmais tersebut.

Sementara Ketua YKPI Linda Agum Gumelar menegaskan bahwa upaya pencegahan kanker payudara sangat penting dilakukan. Pasalnya, hingga saat ini jumlah kasus kanker payudara menjadi nomor dua di Indonesia setelah kanker paru-paru.

“Pada umumnya mereka baru datang ke dokter 70 persen ketika sudah berada dalam stadium lanjut. Padahal apabila diketahui sejak awal, angka harapan hidupnya bisa lebih tinggi,” kata Linda.

Read more...

Kanker Payudara Butuh Puluhan Tahun sebelum Jadi Ganas

Jakarta, YKPI – Ahli bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, SpB.K.Onk MARS MEpid mengatakan bahwa kanker payudara tidak terjadi secara spontan.

dr. Sonar menerangkan kanker payudara membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun sebelum akhirnya mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel ganas.

“Bahkan sel kanker payudara untuk mencapai ukuran 1 sentimeter itu butuh waktu tiga sampai lima tahun. Makanya, tidak ada kanker payudara yang tiba-tiba,” kata dr. Sonar dalam kegiatan ‘Webinar Kanker Payudara: Seberapa Dini Penanganan Kanker Payudara?’ yang dilaksanakan oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia bekerja sama dengan para dokter RSKD Jakarta, pada Jumat (24/7), dan diikuti oleh 500 peserta dari seluruh Indonesia.

Perjalanan sel Kanker itu membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun, oleh karenanya dr. Sonar mengimbau masyarakat Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker payudara.

Metode deteksi Dini ini ada berbagai macam, mulai dari periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), Mammografi, MRI, USG, CT Scan, hingga PET.

“Yang paling bagus itu MRI. Tapi kekurangannya pemeriksaan memakan waktu sampai satu jam, biayanya mahal, dan ketersediaannya terbatas,” terang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.

Kalau boleh memiliih dikatakan dr Sonar silakan pakai Mammografi dan USG. “Pertanyaannya, seberapa efektif? Memang belum 100 persen, tapi tetap masih lebih bila dibandingkan dengan periksa sendiri,” sambung dr. Sonar.

DR. Sonar menambahkan bila kanker payudara dapat ditemukan pada stadium 0 maupun 1 berpeluang sembuh lebih besar.

“Selain angka ketahanan tinggi juga ada keuntungan lain. Untuk stadium 0 atau 1 hampir tidak harus melakukan penyinaran atau kemoterapi. Dan kalau tidak menyebar ke getah bening, maka tidak perlu dilakukan pengambilan kelenjar getah bening, sehingga mengurangi kemungkinan limfedema,” tandas dr. Sonar.

Read more...

Kanker Payudara akibat Keturunan Bukan Cuma Mitos

Jakarta, YKPI – Ahli onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk menyebut terdapat banyak faktor risiko kanker payudara. Salah satunya ialah faktor genetik atau keturunan (familial).

Faktor keturunan ini, lanjut dr. Bob, menyumbang 15-20 persen dari seluruh kasus kanker payudara. Dan umumnya terjadi di bawah usia 50 tahun.

“Indikatornya memiliki satu atau lebih anggota keluarga terkena kanker payudara pada generasi pertama atau kedua, didiagnosis di bawah usia 50 tahun, bersifat triple negative, dan terkenanya di payudara kiri dan kanan,” terang dr. Bob dalam webinar `Kanker Payudara akibat Keturunan: Mitos atau Fakta?` pada Jumat (17/7).

Webinar hasil kerja sama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan para dokter RS Kanker Dharmais tersebut dibuka langsung oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar, dan diikuti oleh lebih dari 200 peserta.

Dr. Bob melanjutkan, tidak ada perbedaan penanganan (treatment) antara pasien kanker payudara familial dengan kanker payudara seporadik. Penanganan selama ini hanya berdasarkan pada tingkat stadium pasien.

Kendati demikian, anak-anak dari keluarga yang mengidap kanker payudara, disarankan lebih berhati-hati dengan cara melakukan pemeriksaan dan deteksi dini payudara secara lebih intens.

Deteksi dini tersebut dapat berupa periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), mammografi, USG, maupun MRI.

“Sebab diperkirakan anak-anak ini beberapa tahun yang akan datang akan terkena kanker payudara,” ujar dr. Bob.

“Seandainya memang anak-anak itu setelah diperiksa dengan BRCA1 dan BRCA2 lalu hasilnya positif, maka kita diskusi apa yang akan kita lakukan, seberapa persen risikonya, serta apakah harus diangkat kedua payudaranya, atau indung telurnya,” imbuh dr. Bob.

Untuk melakukan pemeriksaan BRCA1 dan BRCA2 ini pun, sambung dr. Bob, membutuhkan sejumlah syarat. Syaratnya ialah mereka yang masuk kategori pasien familial, memiliki anak, dan memiliki risiko tinggi terhadap kanker payudara.

Dr. Bob menambahkan, faktor risiko genetik atau keturunan ini termasuk faktor risiko yang tidak bisa dikendalikan. Karenanya deteksi dini dan pemeriksaan rutin menjadi hal yang penting dilakukan.

“Adapun faktor risiko yang bisa dikendalikan itu misalnya wanita karir di usia 30 tahun masih mau bekerja dan tidak mau menikah, atau ketika menikah tidak punya anak, atau ketika punya anak tidak mau menyusui,” tandas Kepala Instalasi Deteksi Dini dan Promosi Kesehatan RS Kanker Dharmais tersebut.

Sementara Plh Direktur Utama RS Kanker Dharmais, Dr. dr. Nina Kemala Sari, Sp.PD-KGER mengapresiasi pelaksanaan serial webinar kanker payudara YKPI.

Menurut dr. Nina, kegiatan ini dapat memberikan edukasi terhadap masyarakat mengenai deteksi dini kanker payudara.

Sebab, lanjut dr. Nina, sebagian besar pasien kanker payudara yang berobat ke RS Kanker Dharmais sudah berada di stadium lanjut. Tentu kondisi ini penyembuhannya lebih sulit ketimbang berobat ketika masih stadium awal.

“Masih banyak masyarakat kita yang takut melakukan deteksi dini. Artinya pemahaman belum sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Maka kegiatan ini penting untuk berkali-kali diadakan,” tutup dr. Nina.

 

Sumber: Jurnas.com

Read more...

YKPI Luncurkan Kampanye Penerapan Protokol Kesehatan “YKPI Peduli”

Jakarta, YKPI – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) meluncurkan kampanye penerapan protokol kesehatan bertajuk ‘YKPI Peduli’, pada Jumat (17/7) di sela-sela kegiatan serial webinar kanker payudara.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar menjelaskan, kampanye berupa video dan poster ini merupakan bentuk partisipasi aktif YKPI dalam mengampanyekan protokol kesehatan Covid-19, sekaligus sebagai wujud keprihatinan YKPI akan perkembangan penyebaran virus ini, baik di Indonesia ataupun dunia

“YKPI berupaya menjadi bagian untuk terus mengkampanyekan pentingnya mengimplementasikan protokol kesehatan sehingga kita tetap bisa produktif dengan tetap mencegah terjangkit virus corona,” kata Linda dalam webinar ‘Kanker Payudara akibat Keturunan: Mitos atau Fakta?’ pada Jumat (17/7).

Lebih lanjut, Linda yang merupakan survivor kanker payudara ini mengatakan bahwa YKPI meyakini dalam rangka memasuki tatanan kehidupan baru pasca pandemi, akan berjalan efektif jika semua menaati tanpa paksaan, serta konsisten dengan protokol kesehatan yang ada.

Bila hal tersebut dilakukan, imbuh Linda, maka masyarakat dapat tetap beraktivitas secara normal, dan terhindar dari penyebaran Covid-19 yang merupakan virus mematikan.

“YKPI tetap memperhatikan situasi dan kondisi dalam melaksanakan aktivitasnya, dan mengoptimalkan sejauh mana kegiatan daring (online) bisa didahulukan daripada luring (offline). Saya harap melalui kampanye ini, kita semua dapat memutus rantai penyebaran Covid-19,” terang Linda.

Sementara itu, melalui kampanye terbuka ini Linda juga mengajak masyarakat mengimplementasikan protokol kesehatan, yakni menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker ketika keluar rumah, menjaga jarak, dan menjaga kesehatan dengan asupan gizi dan berolahraga.

“YKPI mengajak masyarakat luas terutama followers medsos YKPI melakukan hal sama dengan hastag #kampanyeykpipeduli #salingjagasalingpeduli, dan seluruh video serta poster yang diposting akan mention ke IG YKPI @ykpi_pitapink,” tandas Linda.

Untuk diketahui, kampanye ‘YKPI Peduli’ yang diluncurkan pada Jumat (17/7) akan mulai berlangsung pada 18-31 Juli 2020.

 

Sumber: Jurnas.com

Read more...

Efektivitas Stoking Kompresi untuk Cegah Limfedema

Jakarta, Jurnas.com – Bagi penderita limfedema, istilah terapi kompresi sudah bukan merupakan hal yang baru. Menurut dr. Bayu Brahma dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, terapi kompresi lengan dapat menjadi bagian dari terapi dekongestif lengkap, maupun terapi tunggal. Akan tetapi, berbagai panduan yang ada merekomendasikan terapi dekongestif lengkap.

“Tujuan dari terapi kompresi adalah untuk memberikan tekanan pada jaringan dan meningkatkan kontraksi otot sehingga meningkatkan aliran kelenjar getah bening/limfatik. Terapi ini terbagi 2 fase yaitu, fase dekongestif dan fase pemeliharaan,” kata dr. Bayu.

Dokter yang pernah mengenyam pendidikan khusus bedah supermikro pada limfedema di National Center for Global Health and Medicine Hospital, Tokyo, Jepang ini menjelaskan pada fase dekongestif, terapi kompresi dilakukan dengan menggunakan elastik verban yang digunakan sepanjang hari.

“Lama fase dekongestif bergantung pada respon terhadap terapi. Setelah fase dekongestif, dilanjutkan dengan fase pemeliharaan yang umumnya menggunakan compression garment/stocking yang dipakai rutin terutama saat melakukan aktivitas sehari-hari,” lanjut dr. Bayu seraya mengimbau agar pasien berkonsultasi pada dokter bedah onkologi atau dokter rehabilitasi medis sebelum memulai terapi kompresi.

Penanganan limfedema bersifat individual dan bergantung pada tingkat keparahan serta respon terhadap terapi yang telah diberikan. Pada fase pemeliharaan, tambah dr. Bayu, sebaiknya stocking tetap digunakan saat melakukan aktivitas.

Sementara pada stadium awal, ujar dr. Bayu, penanganan limfedema dapat dengan terapi konservatif atau pembedahan mikro/supermikro.

“Saat ini berbagai penelitian yang ada lebih difokuskan pada efektivitas penggunaan stocking sebagai penanganan limfedema. Apabila belum terjadi limfedema, penggunaan stoking mungkin belum diperlukan,” imbuhnya.

Melalui paparannya pada virtual webinar kanker payudara yang diselenggarakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dr Bayu membawa angin segar pembedahan mikro dengan pintas limfatik-vena (LVA).

“Ini merupakan harapan baru bagi penanganan dan pencegahan progresivitas limfedema, tapi tetap mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk itu lakukan upaya pencegahan di antaranya dengan menjaga berat badan ideal, menghindari hal–hal yang dapat memicu infeksi, tetap melakukan aktivitas fisik secara bertahap dan jangan tunda periksakan ke dokter jika terasa sakit,” tandas dr. Bayu.

 

(Foto: Haibunda.com)

Read more...

Limfedema Berpeluang Muncul Meski Puluhan Tahun Jadi Survivor

Jakarta, YKPI – Ahli onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bayu Brahma, SpB(K)Onk menyebut peluang terkena Limfedema tetap ada pasca 20 tahun menjalani operasi kanker payudara.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan `Serial Webinar Kanker Payudara YKPI: Harapan Baru pada Pencegahan dan Penanganan Lengan Bengkak (Limdefema) Kanker Payudara` pada Jumat (10/7), yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan para dokter RS Kanker Dharmais.

Menurut dr. Bayu, umumnya Limfedema muncul satu hingga dua tahun pertama pasca menjalani operasi kanker payudara. Namun secara teori, Limfedema tetap berpeluang muncul puluhan tahun kemudian.

“Paling sering terjadi di 1-2 tahun pertama. Tapi pertanyaan mungkin tidak limfedema ini bisa terjadi katakanlah lebih dari 20 tahun, secara teori mungkin saja. Bisa,” terang dr. Bayu.

Lebih lanjut dr. Bayu menjelaskan kondisi ini memang jarang terjadi. Namun bukan berarti tidak mungkin. Spesialis dari Departemen Bedah Onkologi RS Kanker Dharmais ini menuturkan pernah mendapati survivor 10 tahun dengan gejala Limfedema.

“Saya ada pasien yang kurang lebih sudah 10 tahun datang dengan tanda radang di tangan yang kita sebut dengan limfangitis. Jadi jarang sebetulnya. Kemungkinan munculnya berkurang, tapi harus selalu dijaga karena secara teori kondisi itu mungkin terjadi,” papar dr. Bayu.

Dalam kesempatan itu, dr. Bayu juga menjawab pertanyaan para peserta webinar tentang cara pencegahan limfedema pada pasien kanker payudara.

“Yang paling penting jaga agar berat badan kita tetap ideal, menghindari hal-hal yang dapat memicu infeksi serta awasi tanda infeksi,” lanjut dr Bayu.

Selain itu, dr. Bayu juga menambahkan agar pasien kanker payudara selalu menjaga kelembaban dan kebersihan kulit, tetap melakukan aktivitas fisik secara bertahap, menghindari pengukuran tekanan darah dan tusukan jarum di lengan yang berisiko mengalami limfedema serta rutin melakukan skrinning.

Bila pembengkakan terjadi segera konsultasikan ke Dokter, jangan tunda. Lebih awal periksa ke dokter ditegaskan dr. Bayu harapan untuk disembuhkan lebih tinggi.

“Ada pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan untuk mengukur lebih dini adanya gejala limfedema. Yaitu dengan mengukur lingkar lengan. Jika terdapat perbedaan lebih dari 2 cm pada lengan yang dilakukan operasi maka harus diwaspadai adanya limfedema. Teknologi kedokteran saat ini dapat mendeteksi tanda awal limfedema seperti limfosintigrafi dan Indocyanine Green Lymphography,” tambah dr. Bayu.

Read more...

Lengan Bengkak pasca Operasi Kanker? Waspada Limfedema

Jakarta, YKPI – Kasus Limfedema atau lengan bengkak kerap kali menimpa pasien kanker payudara, pasca menjalani operasi maupun radiasi. Namun penyakit yang menyerang sistem kelenjar getah bening tersebut sering terlambat ditangani.

Demikian disampaikan oleh ahli onkologi dari Departemn Bedah Onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bayu Brahma, SpB(K)Onk, dalam kegiatan ‘Serial Webinar Kanker Payudara: Harapan Baru pada Pencegahan dan Penanganan Lengan Bengkak (Limdefema) Kanker Payudara’ pada Jumat (10/7).

Kegiatan yang terselenggara berkat kerja sama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan para dokter RS Kanker Dharmais itu diikuti oleh sekitar 200 peserta dari seluruh Indonesia, serta dibuka langsung oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar.

Dr. Bayu menerangkan, secara umum terdapat dua penyebab terjadinya Limfedema, yakni primer dan sekunder. Sebab primer ialah karena kelainan bawaan. Namun sebab ini jarang ditemukan. Sementara lainnya ialah sebab sekunder.

“Sebab sekunder ini yang paling sering ditemukan, karena terjadi akibat permasalahan kanker. Karena operasi untuk kanker juga dilakukan pada sistem kelenjar getah bening, atau bisa juga karena proses radiasi,” terang dr. Bayu.

Adapun khusus pada kanker payudara, lanjut dr. Bayu, faktor risiko Limfedema ialah adanya tindakan operasi pengambilan kelenjaran getak bening area aksila (ketiak), radiasi di daerah aksila dan sekitarnya, obesitas, dan kemoterapi.

“Jadi dari studi yang kami lakukan, kami melihat bahwa pasien yang terjadi limfedema ini lebih sering pada kelompok yang berat badannya tinggi atau obesitas. Ini penting untuk mengatur pola hidup yang ideal,” ujar dr. Bayu.

Bagaimana cara menghitungnya, dikatakan dr Bayu mengacu pada indeks massa tubuh, berat badan dibagi tinggi badan pangkat dua. “Lihat angkanya, kalau sudah dekat-dekat 25 harus hati-hati,” sambung dr Bayu.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyebutkan setidaknya 30-40 persen pasien tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami limfedema di gejala awal. Pasien umumnya baru menyadari limfedema ketika lengannya sudah mulai membengkak.

Karena itu, untuk mengenalinya, dr. Bayu mengatakan terdapat empat derajat atau stadium Limfedema. Pada stadium nol, tangan belum terlihat bengkak. Keluhan yang muncul pun masih bersifat subjektif. Lalu naik ke stadium pertama, tangan mulai bengkak, namun hilang seiring dengan pengangkatan tangan. Ketika naik ke stadium kedua, lengan terlihat bengkak dan tidak hilang dengan pengangkatan tangan.

“Yang paling khas dari stadium kedua ini adalah pitting edema, kalau kita lakukan penekanan di kulit maka akan terlihat cekungan yang butuh waktu agak lama untuk kembali normal. Ini tanda yang khas,” papar dr. Bayu.

Sedangkan stadium ketiga ialah ketika kulit sudah berisi banyak cairan di jaringan kulit yang bersifat iritatif. Cairan tersebut mengubah struktur kulit menjadi keras.

“Kalau sudah parah, timbul kelainan di kulit, salah satunya cairan getah bening keluar dari kulit,” kata dr. Bayu.

Lalu bagaimana tindak pencegahan Limfedema?

Untuk kanker payudara, maka pencegahan paling efektif ialah dengan melakukan deteksi dini. Sebab bila kanker payudara ditemukan pada stadium awal, maka kanker belum menyebar ke kelenjar aksila.

Adapun dalam kaitannya dengan operasi, tindak pencegahan Limfedema ialah dengan melakukan operasi kelenjar getah bening sentinel.

“Kalau kelenjar sentinel itu tidak terindikasi (terpapar kanker), maka jangan dilakukan biopsi. Kalau diambil, maka terjadi peningkatan risiko Limfedema tadi,” ujar dr. Bayu.

Sementara Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan Limfedema menjadi penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh para pasien kanker payudara, pasca menjalani operasi, radiasi, maupun kemoterapi.

Karena itu, Linda yang juga penyintas kanker payudara ini menilai pengetahuan mengenai Limfedema selalu dicari-cari oleh para pasien maupun penyintas, dalam rangka mengatasi penyakit tersebut.

“Kami menganggap pengetahuan dan informasi mengenai Limpfedema ini sangat penting, karena cukup sering ditemukan pada pasien, tapi kasus ini sering diabaikan. Gejalanya sering tidak disadari, seiring bejalan ada pembengkakan lengan dan jari, yang berat atau kaku,” tandas Linda.

Read more...

Masyarakat Berisiko Covid-19 Sebaiknya Tunda Mammografi

Jakarta, YKPI – Masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap Covid-19, atau berada di lingkungan keluarga pengidap Covid-19, disarankan untuk menunda pemeriksaan deteksi dini kanker payudara dengan metode mammografi.

Hal ini disampaikan oleh spesialis radiologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, Dr. Kardinah, Sp.RAD dalam kegiatan ‘Serial Webinar Kanker Payudara di era Pandemi Covid-19: Apakah Deteksi Dini Kanker Payudara Masih Dapat Dilakukan?’, yang dipandu oleh penyintas kanker payudara Aya Sophia, pada Jumat (26/6).

“Untuk kegiatan yang sifatnya berkumpul tetap harus mengikuti protokol Covid-19. Dan mobil mammografi YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) juga akan melakukan pengurangan jumlah peserta mammografi nantinya jika sudah beroperasi kembali,” kata dr Kardinah.

Alih-alih melakukan mammografi yang rentan mengakibatkan kontak fisik, masyarakat yang hendak melakukan deteksi dini kanker payudara diimbau menjalankan praktik Periksa Payudara Sendiri (Sadari) di rumah masing-masing.

Praktik ini, lanjut alumnus Universitas Indonesia tersebut, juga menjadi bentuk perhatian perempuan terhadap kesehatan payudaranya.

“Kita harus buat prioritas. Lakukan sadari kalau kondisi payudara tidak mengkhawatirkan, jadi mammografi bisa kita tunda. Dan kalau risiko tinggi Covid-19 juga bisa kita tunda. Kecuali memang kondisinya sangat mendesak dan ada kecurigaan seperti benjolan keras atau keluar cairan dari dalam payudara,” sambung dr. Kardinah.

Kepala Komite Medis RS Kanker Dharmais Jakarta itu menambahkan, kalau dilihat dari skala prioritas maka deteksi dini tidak masuk kedalamnya. Namun untuk kasus tertentu yang memerlukan tindakan medis maka mammografi bisa dilakukan.

Lebih lanjut dr. Kardinah mengatakan mammografi biasanya dianjurkan dilakukan mulai usia 40 tahun, cukup dua tahun sekali. Namun jika selama durasi itu jika teraba ada benjolan maka sebaiknya dilakukan pemeriksan lanjut.

Kanker adalah penyakit yang berasal dari sel tubuh sendiri. Secara pasti apakah ada upaya pencegahan yang berhasil mencegah penyakit kanker, saat ini dikatakan dr Kardinah belum ada.

Tetapi ada beberapa faktor risiko berdasarkan hasil penelitian dapat memicu kanker, seperti mereka yang mendapatkan haid di bawah 12 tahun dan menopause di atas 55 tahun.

“Umur 12–55 tahun dianggap normal untuk faktor hormonal mempengaruhi payudara, indung telur dan endometrium. Tetapi bila lebih lama maka akan memicu sel-sel dalam tubuh kita menjadi berubah sifat ke arah kanker,” lanjut dr Kardinah.

Ada lagi yang dikhawatirkan bagi mereka yang melakukan terapi hormonal, tanpa ada indikasi yang jelas yang dapat secara aktif merangsang sel-sel di payudara.

“Sedangkan faktor lainnya tentu saja dari nutrisi karena bisa memicu penyakit tidak menular lainnya. Tidak hanya kanker melainkan penyakit tidak menular lainnya dapat kita cegah pula,” kata dr. Kardinah.

Read more...

Sadari Cara Terbaik Deteksi Dini Kanker Payudara saat Covid-19

Jakarta, YKPI – Spesialis radiologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, Dr. Kardinah, Sp.RAD menyebut Periksa Payudara Sendiri (Sadari) menjadi cara terbaik melakukan deteksi kanker payudara di era Covid-19.

Selain dapat mencegah kemungkinan kanker payudara stadium lanjut, praktik Sadari yang dapat dilakukan di rumah masing-masing juga menjadi bentuk perhatian perempuan terhadap kesehatan payudaranya.

“Sebab bila memeriksakan ke rumah sakit kita harus jaga jarak, dan pemeriksaan akan dilakukan menggunakan protokol Covid-19, baik di ruang tunggu maupun saat dihadapan petugas medis,” kata Kardinah dalam kegiatan ‘Serial Webinar Kanker Payudara di era Pandemi Covid-19: Apakah Deteksi Dini Kanker Payudara Masih Dapat Dilakukan?’.

“Karena itu saya sarankan perempuan tetap melakukan deteksi dini, khususnya Sadari. Dengan begitu kita sudah aware dengan kesehatan payudara kita,” lanjut Kardinah dalam kegiatan hasil kerja sama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dengan para dokter RS Kanker Dharmais tersebut.

Untuk praktik Sadari, lanjut Kardinah, sebaiknya dilakukan secara teratur setelah melewati masa haid, yang bertujuan agar tidak terasa nyeri pada payudara.

Dan terdapat tiga cara yang dianjurkan, yaitu; berdiri menghadap ke kaca dengan posisi tangan ke atas; melakukan perabaan saat sedang mandi; atau berbaring dengan tangan berada di belakang kepala.

“Caranya ialah memutar tangan searah jarum jam, serta jangan lupa menekan puting susu. Karena ada juga kanker payudara yang keluar cairan dari puting berwarna merah,” terang Kepala Komite Medis RS Kanker Dharmais Jakarta ini.

Sementara Ketua Umum YKPI Linda Agum Gumelar kembali menegaskan bahwa YKPI memiliki visi Indonesia Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut 2030.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) era Kabinet Indonesia Bersatu itu mengatakan, target tersebut hanya bisa terpenuhi bila kesadaran diri masyarakat melakukan deteksi dini terus tumbuh, baik dengan cara Sadari maupun Sadanis (Periksa Payudara Klinis) rutin satu bulan sekali.

“70% Pasien Kanker Payudara Yang datang ke rumah sakit atau berobat ke dokter sudah dalam keadaan stadium lanjut sehingga angka harapan hidupnya jadi kecil. lakukan sadari karena sadari dapat mencegah kanker stadium lanjut,” tutup linda

Read more...