Author - admin

Penemuan Obat Kanker Butuh Uji Klinis yang Panjang

Hingga kini, masih saja riuh beredar informasi tentang tanaman bajakah di Kalimantan Tengah yang dikabarkan dapat menyembuhkan kanker payudara, menyusul penelitian oleh dua pelajar SMA di Palangka Raya.

Bajakah sebenarnya adalah sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bagian dari tanaman. Istilah tanaman bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu.

Menanggapi kabar tersebut, Ketua PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) dr. Walta Gautama, Sp.B (K) Onk, menjelaskan jika penemuan obat kanker itu tidak instan, prosesnya harus diuji secara klinis.

Hal pertama untuk dinyatakan sebagai obat kanker dikatakan spesialis onkologi tidaklah gampang, harus uji klinis dulu, ada levelnya dimulai dari diteliti obatnya mengandung apa, isinya apa serta zat yang bermanfaat apa.

“Dari situlah kita kemudian tahu zat yang bermanfaat tersebut setelah diuji coba di laboratorium akan bereaksi seperti apa terhadap sel kankernya. Mekanismenya seperti apa, lalu kita coba diterapkan mulai dari binatang yang rendah misalnya tikus, di situ dilihat efek terhadap organ gimana, ke darah gimana, ke ginjal gimana, terhadap otak gimana, perbedaanya gimana, dosinya gimana, dan seterusnya. Jadi panjang sekali prosesnya, ” papar dr Walta seraya menjelaskan uji coba selanjutnya juga perlu diterapkan kepada manusia.

Hasil temuan pelajar SMA yang dikabarkan memiliki tingkat anti oksidan tinggi tersebut, dr Walta sangat mengapresiasi prestasi mereka. Kendati begitu, kita perlu berhati-hati dengan berita yang terlalu booming.

“Masih ingat soal fantastisnya buah merah dan kemudian semua orang mencarinya. Saking boomingnya informasi soal buah merah yang dapat mengobati kanker secara instan, ada pasien kanker yang lebih memilih konsumsi buah tersebut dan menunda pengobatan, ternyata enam bulan kemudian datang ke dokter stadiumnya sudah tinggi,” tuturnya saat ditemui Jurnas di acara HUT YKPI yang ke-16, di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Contoh lainnya dikatakan dr Walta adalah penemuan daun sirsak. Sempat viral sehingga membuat pasien kanker yang semula diketahui hanya stadium 1 atau 2 setelah mengonsumsi daun sirsak dan meninggalkan pengobatan medis malah naik stadiumnya jadi 4.

“Kita tidak melarang jika pasien ingin mencoba, tapi jangan tinggalkan medis,” pungkas dokter yang praktek di RS Kanker Dharmais tersebut.

Read more...

Alasan Wanda Hamidah jadi Duta Kanker Payudara

Jakarta, Jurnas.com – Kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian, khususnya pada perempuan. Merujuk data Globocan 2018 menunjukkan bahwa kejadian kanker payudara pada perempuan di dunia menempati posisi kanker terbanyak, kurang lebih sebesar 42,1 persen dengan angka kematian karena kanker payudara sebesar 17 persen.

Karena alasan itulah menggugah publik figur Wanda Hamidah concern bergabung menjadi Duta Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Dalam kurun waktu 12 tahun Wanda merasakan betapa tak mudahnya mengajak perempuan buat aware sedari awal.

“Pada dasarnya, aku ingin perempuan Indonesia sehat dan kuat ya. Kesadaran kanker payudara bisa jadi awarness, kalau kanker payudara termasuk pembunuh nomor satu yah bagi perempuan. Alasan itulah yang bikin aku concern melakukan kampanye kesadadaran deteksi dini untuk perempuan,” ucap Wanda usai ditemui di acara Dua Windu YKPI di Perpusnas Jakarta, Kamis (22/8).

Lantas apa goalnya? Bisa sejak awal ditindaklanjuti tidak sampai stadium lebih lanjut masih bisa ditangani. Sebab, menurut Wanda masih ada kekhawatiran bagi perempuan untuk deteksi dini.

“Pertama takut kedua biaya. Takut, karena kanker payudara masih jadi momok, padahal semakin takut malah berkelanjutan dan kalau segera diatasi tidak perlu sampai kanker. Belum lagi ada rasa takut kalau sampai nanti diangkat payudaranya, sebagai salah satu alat vital,” paparnya.

Jadi, tantangannya menurut Wanda memang berat. “Karena perempuan kan banyak yah perannya, sebagai anak, ibu, istri, di lingkungan masyarakat, akan lebih rapuh kondisinya misal kalau perempuannya sakit. Masih ada pikiran buat punya keluhan kalau sakit jadi tidak penting dan lebih mendahulukan kepentingan keluarganya,” imbuhnya.

Read more...

Ulang Tahun ke-80, Ini Resep Bugar Rima Melati

Jakarta, Jurnas.com – Artis kawakan Rima Melati tampak cantik dan anggun dengan balutan merah muda, saat ditemui di sela-sela Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) ke-16, pada Kamis (22/8) kemarin, di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta.

Bertepatan dengan HUT YKPI, Rima yang terkenal lewat film ‘Kupu-Kupu Putih’ yang populer di era 80-an itu ternyata juga sedang berulang tahun ke-80 di hari yang sama.

“Iya, terima kasih atas doanya,” kata Rima kepada Jurnas.com.

Di usia ke-80, Rima masih tampak bugar. Dia tak terlihat kerepotan saat meladeni permintaan berfoto dari puluhan undangan yang hadir dalam perayaan HUT YKPI tersebut.

Ketika ditanya resep segar bugar di usia senja, Rima tersenyum. Dia mengatakan tidak ada resep khusus yang diperlukan. Satu-satunya resep jitunya hanya bersyukur kepada Tuhan.

“Kita harus selalu berterima kasih kepada Tuhan. Karena Tuhan adalah kekasih kita, yang bisa membuat segala hal yang tidak kita pikirkan menjadi terwujud,” tutur dewan pembina sekaligus pendiri YKPI tersebut.

Soal makanan pun, Rima sering kali tidak ambil pusing. Dia tidak memiliki pantangan terhadap makanan tertentu, meski tetap saja harus memperhatikan supaya tidak berlebihan.

Selain itu, di usianya ke-80 Rima mengaku masih sering hang out bersama teman sebayanya. Rutinitas silaturrahim itu dia yakini baik untuk membuat dirinya tetap bahagia.

“Itu penting, mungkin kita ada kekurangan, jadi ada koreksi dari orang lain,” ujar perempuan kelahiran 22 Agustus 1939 ini.

Read more...

YKPI: Bajakah Belum Teruji Jadi Obat Kanker

Jakarta, Media Indonesia – Penemuan khasiat akar bajakah yang dianggap berpotensi sebagai antikanker masih harus diikuti dengan riset lanjutan hingga menjadi terapi yang sesuai standar.

Saat ini, penggunaan bajakah tidak bisa disebut sebagai obat kanker karena belum teruji secara klinis. Demikian disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Bedah Onkologi Indonesia dr. Walta Gautama SpB(K) Onk dalam acara Sarasehan Dwi Windu Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta, Kamis (22/8).

Penemuan obat dari tumbuhan, kata dia, harus dimulai dengan penelitian senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman tersebut. Setelah diketahui, kemudian dilakukan uji coba pada media tanam di laboratorium untuk mengetahui sejauh mana dan dengan mekanisme seperti apa aktivitas senyawa tersebut bisa mematikan sel kanker. Setelah itu diujicobakan pada binatang kecil seperti tikus dan bertahap pada binatang lebih besar, contohnya kera.

“Selain itu, harus diketahui juga efek penyerapannya di dalam darah, efek terhadap organ seperti ginjal seperti apa, dengan penyesuaian dosis. Setelah diuji coba pada binatang harus melalui uji klinis pada manusia. Jadi tidak mudah membuat obat kanker,” paparnya.

Ia mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam menyikapi berita mengenai akar Bajakah yang diklaim bisa menyembuhkan kanker payudara. dr. Walta mengingatkan pada saat buah merah ditemukan, antusiasme masyarakat terhadap buah tersebut sangat tinggi. Namun, dampak dari itu, banyak pasien kanker yang menunda pengobatan medis yang sudah terstandar, lalu mencari terapi alternatif.

“Pasien mencoba mencari terapi lain, tapi dampaknya stadiumnya lebih berat ketika datang lagi ke dokter. Yang tadinya stadium satu atau dua masih sangat ideal untuk terapi datang ke dokter stadium empat,” imbuhnya.

Pilihan penggunaan terapi selain medis, tuturnya, menjadi hak dari pasien. Meski demikian, dr. Walta sangat menyarankan agar apabila pasien kanker ingin mencoba terapi alternatif, jangan meninggalkan terapi medis. Ia juga mendorong agar pemerintah atau sektor swasta bisa memfasilitasi agar penemuan awal mengenai Bajakah bisa diteliti lebih lanjut.

“Kami sangat mengapresiasi pada para murid-murid SMA yang telah meneliti antioksidan dari Bajakah,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Gumelar menyampaikan pada komunitas penyintas kanker bahwa terapi medis tetap harus dilakukan.

Sebagai peyintas kanker payudara berdasarkan pengalamannya, Linda menyarankan apabila pasien kanker payudara ingin mencoba terapi lain seperti tanaman Bajakah, pasien sebaiknya mengonsultasikan dengan dokter agar sinkron dengan obat-obatan yang diberikan oleh dokter.

Read more...

Ramai Soal Bajakah jadi Obat Kanker, Ini Kata YKPI

Beberapa hari terakhir, beredar informasi tentang tanaman bajakah di Kalimantan Tengah dikabarkan dapat menyembuhkan kanker payudara, yang telah diteliti oleh dua pelajar SMA di Palangka Raya.

Bajakah sebenarnya adalah sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bagian dari tanaman. Istilah tanaman bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu.

Menanggapi kabar tersebut, Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, jika YKPI memberi apresiasi kepada anak-anak sekolah yang telah menemukan tanaman Bajakah sebagai antioksidan penyakit kanker.

“Saya apresiasi anak-anak kita yang luar bisa diakui secara internasional tingkat SMA, tapi kami mengajak juga penelitian lebih lanjut agar bisa diuji secara klinis, kalau memang bisa menyembuhkan kanker payudara,” ujar Linda yang ditemui usai acara Dwi Windu YKPI di Perpusnas Jakarta, Kamis (22/8).

Jika diperhatikan secara klinis menurut Linda, pasti perlu riset bertahap, sedangkan hingga saat ini saja belum diketahui apa penyebab kanker payudara.

“Pada intinya kami mendorong agar penemuan tersebut bisa dilanjutkan dengan penelitian secara klinis,” ucapnya. Ia juga mengimbau para pihak terkait agar bisa mengontrol tanaman Bajakah yang dijul bebas di e-commerce.

Read more...

Perayaan Dwi Windu YKPI, Linda Gumelar Ajak Laki-laki Tak Malu Deteksi Dini

Memasuki usianya yang ke-16, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar,  bertekad untuk terus menyebarluaskan pentingnya deteksi dini kanker payudara hingga ke pelosok tanah air.

Linda berharap semakin tinggi tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan payudaranya akan berdampak signifikan dengan menurunnya angka pasien kanker payudara stadium lanjut di Indonesia.

“Saya harap kali ini bukan hanya perempuan saja yang melakukan deteksi dini, melainkan juga laki-laki. Karena meskipun masih jarang kasusnya, bukan berarti laki-laki tidak bisa terkena kanker payudara. Jadi mulai sekarang, laki-laki jangan malu untuk melakukan deteksi dini kanker payudara baik dengan SADARI ataupun SADANIS,” ajak Linda.

Kanker payudara pada pria memang masih terbilang langka. Kasusnya 100 kali lebih jarang dibandingkan pada perempuan. Kendati begitu, kanker payudara pada pria dikatakan Linda tidak boleh dianggap sebelah mata.

Berdasarkan data dari American Cancer Society, pada 2018 diestimasi sekitar 2.250 kasus kanker payudara pada pria ditemukan dan 480 diantaranya diperkirakan meninggal dunia.

Sementara itu merujuk pada data yang dipaparkan Kemenkes awal tahun 2019, terdapat angka kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.

Dengan upaya deteksi dini pada perempuan usia 30-50 tahun, harap Linda, penyakit kanker akan diketahui lebih dini pula, sehingga biaya terapi tidak terlalu mahal dan kemungkinan untuk sembuhnya dapat mencapai 90%.

Lebih lanjut Linda menyebutkan bahwa 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

Menyikapi hal tersebut, YKPI dikatakan Linda yang juga penyintas kanker payudara, telah menyiapkan beberapa program untuk mendukung pemerintah mengurangi angka kejadian kanker payudara stadium lanjut.

Selain sosialisasi tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara ke pelbagai kelompok masyarakat, pelajar sekolah menengah dan perguruan tinggi di pelbagai daerah Indonesia, YKPI juga menyelenggarakan TOT pada dokter, serta skrining masal secara gratis melalui unit mobil mammografi (UMM) bekerjasama dengan RSK Dharmais.

UMM YKPI adalah mobil mammografi pertama dan satu-satunya di Indonesia. Jarak tempuhnya masih sangat terbatas karena kondisi alat-alat mammografi di dalamnya yang membutuhkan perawatan khusus, sehingga hanya dapat menjangkau kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Hingga saat ini, berdasarkan data YKPI, 13.264 orang telah melakukan mamografi di UMM dengan hasil 1.982 orang diketahui memiliki tumor jinak dan 208 orang memiliki tumor ganas.

“Tentunya tim mammografi YKPI yang terdiri dari tenaga medis profesional dari RSK Dharmais akan merekomendasikan mereka yang diduga memiliki tumor baik jinak ataupun ganas untuk melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut di rumah sakit, agar kankernya dapat segera tertangani secara klinis,” sambung Linda.

Program lain YKPI adalah pelatihan pendamping pasien kanker. Belum lama ini YKPI  kembali menyelenggarakan pelatihan tersebut, tercatat total 310 pendamping selama 5 tahun pelatihan telah bersertifikat international dari TÜV Rheinland.

Para pendamping ini nantinya akan membantu pasien dan keluarganya untuk lebih memahami cara menghadapi kondisi pasien yang emosinya tidak stabil agar terus semangat melakukan rangkaian pengobatan medis.

Di tingkat Internasional, YKPI aktif sebagai anggota Reach to Recovery International (RRI) dan Union for International Cancer Control (UICC), sebuah organisasi terkemuka berbasis di Jenewa, Swiss dengan jaringan masyarakat sipil global yang mewakili hampir 2.000 organisasi di 170 negara.

YKPI menyadari upaya pencegahan dan pengendalian kanker payudara di Indonesia, perlu dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu, tambah Linda, YKPI yang didirikanya pada 19 Agustus 2003 bersama para penyintas lainnya seperti artis senior Rima Melati, Tati Hendropriyono, Andy  Endriartono Sutarto dan ahli onkologi dr Sutjipto (Alm) selalu mendukung program pemerintah dan menggandeng pelbagai pihak dalam menjalankan programnya termasuk pihak swasta.

Memasuki dwi windu YKPI berkarya untuk Indonesia, Linda berharap segera memiliki unit mobil kemoterapi, memiliki rumah singgah sendiri yang dapat menampung lebih banyak lagi pasien, dan semakin banyak masyarakat peduli akan kanker payudara sehingga tidak takut dan malu lagi melakukan deteksi dini.

“Untuk itu kami tidak akan berhenti memberikan informasi seputar kanker payudara dan sosialisasi deteksi dini, baik secara langsung ataupun melalui media sosial channel yang dikelola YKPI,” tutup mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu penuh semangat. Selamat hari ulang tahun YKPI.

Read more...

Tips Teknik Pendampingan Pasien Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Psikolog Nelly Hursepunny S.Psi mengatakan, menjadi seorang pendamping pasien kanker harus memiliki kemampuan untuk memahami perasaan atau permasalahan yang dihadapi oleh si pasien. Pasalnya, dengan mampu memahami kondisi pasien, pendamping akan mengetahui hal yang harus dilakukan untuk membantu mereka.

“Pendampingan adalah satu situasi dimana setiap orang perlu secara terus menerus dan sistematis menfasilitasi berbagai macam permasalahan yang dihadapi oleh pasien maupun keluarga atau pun komunitasnya,” ujar Nelly dalam acara pelatihan pendamping kanker yang diselenggarakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), 26-28 Juli 2019 di LSPR Jakarta.

Nelly menjelaskan ada tiga teknik pendampingan yang harus dimiliki oleh seorang pendamping. Pertama, mereka harus menjadi seorang good listener (pendengar yang baik), mendengarkan setiap permasalahan yang diceritakan si pasien.

“Karena pasti akan banyak sekali kisah permasalahan yang tengah dihadapi pasien ingin diceritakan pada pendampingnya,” ungkap Nelly.

Kedua, pendamping harus memiliki rasa empati agar mampu memahami apa yang dirasakan si pasien, seolah-olah pendamping merasakan hal yang sama dengan mereka.

“Pasien kanker umumnya akan mengalami stress, gelisah, kesedihan bahkan depresi. Oleh karena itu, mereka butuh sikap empati dari pendamping. Empati artinya pendamping berusaha mengerti dan merasakan apa yang dialaminya,” tuturnya.

Ketiga, pendamping harus memiliki teknik komunikasi yang tepat dan benar saat berinteraksi dengan pasien.

“Artinya, seorang pendamping lebih banyak menyampaikan hal yang dibutuhkan oleh pasien bukan berbicara tentang kondisi penyakit si pasien,” katanya.

lebih lanjut Nelly menjelaskan, pendamping yang baik tidak akan menempatkan dirinya menjadi seorang penasehat medis. Untuk itu, pendamping tidak boleh memberikan saran medis kepada pasien.

“Kalau memang pasien menanyakannya, pendamping harus bilang tidak tahu dan mengarahkan pasien untuk menanyakan langsung ke dokternya,” tegas Nelly.

Selain itu, kata Nelly lagi, sangatlah penting bagi pendamping dalam menjaga kerahasiaan pasien. Pendamping dilarang mengekspos keterangan yang diberikan si pasien, apalagi sampai diviralkan melalui media sosial, baik dalam bentuk foto maupun video. Bagaimana, apakah Anda sudah siap menjadi pendamping pasien kanker?

Read more...

Psikolog: Pasien Kanker Butuh Pendengar Bukan Penasehat

Jakarta, Jurnas.com – Pasien kanker tidak hanya membutuhkan pengobatan secara medis, namun juga perlu penyembuhan secara psikologis. Karenanya, menurut psikolog Cindy Dwi Utami, butuh upaya pendampingan untuk mengatasi gangguan secara psikologis yang dialami setiap pasien.

“Biasanya pasien-pasien dengan penyakit kronis seperti kanker payudara selalu menghadapi tekanan-tekanan mental atau emosi dalam menghadapi masalah-masalah yang dihadapi. Untuk itu, perlu adanya pendamping agar si pasien dapat keluar dari tekanan-tekanan tersebut,” ujar Cindy dalam acara pelatihan pendamping pasien kanker yang diselenggarakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 26-28 Juli 2019 di LSPR Jakarta.

Menurut psikolog dari London School of Public Relation (LSPR) itu, seorang pendamping harus mampu beradaptasi dengan kondisi emosi si pasien. Pasalnya, kondisi emosi setiap pasien berbeda-beda meski tekanan yang dihadapi sama yaitu terjangkit penyakit kronis seperti kanker payudara, sehingga pendamping harus bisa hadir secara fisik maupun emosional di dalam kesadaran pasien.

“Peran pendamping dalam mengdampingi si pasien yang didiagnosis kanker payudara, ya seperti namanya mendampingi artinya secara fisik maupun emosional hadir dan disadari oleh si pasien bahwa ada seseorang yang mendampingi atau menemani dia dalam perjalanannya menghadapi kanker payudara ini,” ujar Cindy.

Selain itu, kata psikolog muda itu, pendamping harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk pasien. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, seorang pendamping akan mampu belajar dan memahami apa yang dialami si pasien.

“Kemudian yang paling penting adalah mendengar, karena pada dasarnya sebenarnya pendamping bukan penasehat, bukan pemecah masalah, pendamping itu adalah seseorang yang hadir untuk berusaha belajar dan memahami apa yang dialami si pasien,” katanya.

Menurutnya, kesadaran bahwa ada orang yang berusaha mendampingi, menemani, dan berusaha mendengarkan si pasien pada dasarnya menjadi lompatan menuju penyembuhan psikologis pada diri mereka.

Cindy menambahkan, tugas seorang pendamping hanya membantu si pasien untuk menyadari potensi-potensi yang dimiliki di dalam dirinya, sehingga ia mampu mengobati tekanan-tekanan emosi yang menyelimuti tanpa bertumpu pada orang lain.

“Untuk itu, dengan membiarkan si pasien berbicara, merupakan salah satu cara membuat pasien menghadirkan kesadaran bahwa di dalam dirinya memiliki kekuatan untuk menghadapi masalah,” tambahnya.

Read more...

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Pendamping Pasien Kanker YKPI

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bekerjasama dengan PT TUV Rheinland Indonesia dan London School of Public Relation (LPSR) menyelenggarakan pelatihan pendamping pasien angkatan kelima bersertifikat Internasional pada 26-28 Juli 2019, yang terselenggara di LSPR Jakarta.

Pelatihan tersebut diikuti lebih dari 70 peserta terdiri Penyintas Kanker Payudara, Relawan YKPI, Organisasi Masyarakat, Masyarakat Umum serta Tenaga Kesehatan dari puksesmas dan rumah sakit.

Pelatihan yang dibuka oleh Linda Amalia Sari Gumelar selaku Ketua YKPI diwarnai dengan antusias para peserta mulai dari kalangan ibu-ibu, hingga beberapa peserta muda yang baru lulus kuliah. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini terasa spesial lantaran ada dua peserta dari kalangan pria.

Linda Gumelar berharap dengan adanya pelatihan tersebut, dapat dijadikan sebagai ajang untuk melatih para peserta menjadi tenaga relawan dan tenaga medis yang memiliki kemampuan membangun hubungan dan mendukung pasien kanker payudara dalam mengatasi penyakitnya.

“Kami berharap agar relawan yang lulus dalam pelatihan ini nantinya sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai relawan pendukung, dapat membangun hubungan dan berkemampuan dalam berkomunikasi dengan pasien, sehingga dapat berkomunikasi secara efektif, mengerti dampak emosional dari kanker payudara dan dapat memberikan pendapat strategis yang positif dalam mengatasi penyakitnya,” kata Linda.

Selain itu, Linda juga berpesan agar para relawan dapat membantu para pasien walau hanya dengan pendampingan tanpa melihat dimana dan siapa yang terserang kanker. Pasalnya, kegiatan pendampingan menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II, adalah suatu keharusan yang menjadi tanggung jawab para relawan.

“Yang paling penting pendampingan itu tidak harus di rumah sakit, jadi dimana pun ibu berada, bertemu dengan siapa pun yang mempunyai masalah dengan kanker atau kanker payudara ibu bisa mendampingi secara baik,” ujar Linda.

Nantinya, lanjut Linda, para peserta akan terdaftar dalam TUV Rheinland sebagai relawan pendamping, pasien resmi, bahkan tercatat secara online. “Melalui TUV Rheinland, nama-nama ibu akan terdaftar secara internasional. Kita ada disitu jadi kalau orang liat kita melakukan pendampingan, orang bisa percaya karena kita ada disitu,” lanjutnya.

Dalam pelatihan tersebut diisi dengan beberapa materi diantaranya: pengetahuan dasar kanker payudara, diagnosa dan terapi, dampak emosional akibat kanker payudara dan sensivitas budaya, teknik konseling pasien kanker payudara, serta membangun hubungan dan kemampuan berkomunikasi.

Sementara itu, Mila salah seorang peserta mengaku mendapat banyak pengalaman serta pengetahuan baru saat mengikuti pelatihan tersebut. Menurut Mila, selain nara sumber yang kompeten dalam memberikan materi, pelatihan tersebut juga membuatnya bertemu dengan orang-orang baru, sehingga bisa saling berbagi semangat untuk menjadi relawan pendamping.

“Banyak sekali hal-hal yang saya dapat dari sini selain dari nara sumber yang sangat kompeten dan bagus sekali dalam memberikan ilmu-ilmu yang sangat luar biasa yang sama sekali belum pernah saya dapat,” kata peserta perwakilan dari rumah sakit Dharmais.

“Dengan adanya acara ini saya merasa senang karena ini pengalaman baru saya berada disini bertemu dengan teman-teman yang luar biasa hebatnya juga. Ke depannya dengan selesainya acara ini Insya Allah akan berpartisipasi dalam kegiatan relawan penyintas kanker,” tambahnya.

Senada dengan Mila, Fatmawati yang juga merupakan peserta asal Kendari mengatakan, pelatihan yang digelar YKPI memberinya banyak ilmu serta meningkatkan motivasi dalam diri untuk aktif di masyarakat melakukan pendampingan dan memberikan edukasi terkait kanker, khususnya kanker payudara.

“Dengan adanya pelatihan ini, maka kami termotivasi untuk tetap bergabung dengan masyarakat, memotivasi mereka untuk tetap jaga diri, peduli untuk kesehatannya khususnya untuk kanker. Saya harapkan ke depan bisa lebih ditingkatkan lagi. Atau melanjutkan kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Read more...

Deteksi Dini Kanker Payudara Dorong Kesembuhan Lebih Cepat

Jakarta, Jurnas.com – Kanker payudara merupakan penyakit mematikan, yang umumnya menyasar perempuan. Oleh karenanya, setiap perempuan patut memerhatikan bahwa ada kondisi atau ciri-ciri perempuan tertentu yang bisa lebih berisiko terkena kanker ini.

Berdasarkan catatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Gumelar, perempuan Indonesia paling banyak yang mengidap kanker payudara. Namun sekitar 80 persen kasus kanker ini baru ditangani justru ketika sudah berada pada stadium lanjut.

Untuk itu, menurut Direktur Rumah Sakit Kanker Dharmais(RSKD), Prof. Abdul Kadir, deteksi dini kanker payudara pada wanita akan mendorong percepatan tingkat kesembuhan pasien tersebut. Selain itu, Ia menilai deteksi dini juga akan mengurangi biaya yang dikeluarkan selama masa pengobatan.

“Kita mengharapkan angka kesembuhan dari kanker payudara cukup bagus sebenarnya namun demikian tentunya, kalau dia datang dengan stadium lanjut, maka biaya pengobatan yang kita akan keluarkan jauh lebih mahal dibandingkan kalau dia datang dalam kondisi stadium awal. Juga angka kesembuhannya jika datang saat stadium awal jauh lebih baik dibanding datang dengan stadium lanjut,” ujar Kadir usai melakukan penandatanganan prasasti bangsal anak dan remaja bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia di Jakarta, Kamis (27/06).

Selama ini, lanjut Kadir, pasien kanker yang berobat ke RSKD kebanyakan ketika dalam kondisi stadium tiga atau empat (lanjut). “Terus terang untuk pasien kanker payudara itu, itu 70 persen mereka datang dengan stadium tiga dan empat. Cuman 30 persen yang datang dengan stadium awal,” katanya.

Untuk itu, Kadir menghimbau kepada masyarakat agar mampu memahami gajala-gejala awal dari kanker payudara, sehingga pengobatan dapat dilakukan dengan segera tanpa menunggu hingga masuk ke level stadium lanjut.

“Ketika ada misalnya, ibu-ibu kita atau adek-adek kita mendapatkan benjolan di payudaranya atau mungkin ada perubahan warna dari payudara atau mungkin daerah putingnya itu tertarik ke dalam atau kulit payudaranya berubah menjadi kasar atau mungkin ada cairan yang keluar bercampur darah, maka tolong hati-hati sebaiknya datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lengkap untuk membuktikan bahwa penyakit itu bukan karena payudara,” tutur Kadir.

“Seandainya memang kanker payudara maka sedapat mungkin melakukan pengobatan yang lengkap ,” tambahnya.

Pria asal Sulawesi Selatan juga mengimbau kepasa masyarakat untuk melakukan pengobatan secara tepat bukan kepada tabib-tabib atau dukun yang dikhawatirkan malah memperparah penyakit kanker payudara tersebut.

“Saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak datang kepada tabib-tabib, dukun-dukun, pengobatan-pengobatan tradisional yang justru akan menghambat pemeriksaan dan pengobatan kanker payudara itu sendiri atau menyebabkan kanker itu semakin berkembang dengan cepat,” harapnya.

Kadir menambahkan, 67 persen pasien yang dirawat di RSKD merupakan pasien pengidap kanker payudara. Namun tingkat kesembuhannya lebih banyak dibanding kanker-kanker lainnya.

“Alhamdulillah kanker payudara ini angka survivalnya itu jauh lebih bagus dibandingkan kanker-kanker yang lain karena mereka itu gampang dideteksi, sehingga sampai disini masih dalam stadium-stadium dua atau tiga,” tambahnya.

Read more...