Author - admin

Saran tentang Coronavirus (COVID-19) untuk Pasien Kanker yang Sedang dalam Pengobatan

Jika Anda seorang pasien kanker yang sedang dalam perawatan, apakah itu kemoterapi atau radioterapi, Anda harus terus ikut perawatan Anda kecuali Anda telah dihubungi untuk menjadwal ulang.

Jika Anda telah disarankan oleh dokter kesehatan umum bahwa Anda adalah ‘kontak dekat’ seseorang dengan coronavirus (COVID-19), hubungi unit terlebih dahulu untuk meminta saran sebelum datang.

Jika Anda khawatir tentang gejala coronavirus (batuk, sesak napas, sulit bernapas atau suhu tinggi), hubungi unit onkologi Anda sebelum datang.

Telepon dokter Anda jika Anda memiliki gejala coronavirus dan merasa kuatir.

 Kurangi risiko Anda

Beberapa perawatan kanker dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Inilah sebabnya mengapa Anda harus berhati-hati untuk mencegah infeksi jika Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Jika ada sedang dalam perawatan kanker, ikuti langkah ekstra untuk melindungi diri dari coronavirus:

  • Cuci tangan dengan benar dan sering dengan sabun dan air atau alkohol
  • Tutupi batuk Anda, buang tisu, cuci tangan Anda
  • Hindari menyentuh wajah Anda dengan tangan yang tidak bersih
  • Secara teratur membersihkan dan mendisinfeksi benda dan permukaan yang sering disentuh
  • Hindari kontak dekat dengan orang-orang – jaga jarak 2 meter (6,5 kaki) antara Anda dan orang lain
  • Hindari ruang yang penuh sesak, terutama di dalam ruangan.
  • Hindari kontak dengan siapa pun yang sakit batuk atau kesulitan bernapas
  • Hindari perjalanan yang tidak penting
  • Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda jika tangan Anda tidak bersih
  • Jangan berbagi benda yang menyentuh mulut Anda – misalnya botol, gelas.
  • Jangan berjabat tangan

Setiap orang diminta untuk menghindari perjalanan yang tidak penting dan menjauhkan diri dari satu sama lain untuk memperlambat penyebaran virus. Ini disebut social distancing.

Itu berarti menjaga jarak 2 meter (6,5 kaki) antara Anda dan orang lain. Jangan berjabat tangan atau melakukan kontak dekat jika memungkinkan.

Ini berlaku untuk Anda dan keluarga Anda juga. Tetapi ada langkah-langkah tambahan yang harus Anda ambil untuk melindungi diri sendiri. (dikutip dari www.cancer.ie)

(photo: freepik)

Read more...

HUT ke-74, Persit KCK Gelar Mammografi Gratis

Jakarta, YKPI – Bekerja sama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Persatuan Istri Prajurit Kartika Chandra Kirana (Persit KCK) menggelar pemeriksaan mammografi gratis, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 pada Rabu (11/3) lalu.

Ketum Persit KCK, Hetty Andhika Perkasa mengatakan, kegiatan yang berlangsung di Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Mabes TNI AD) Jakarta itu bertujuan untuk mendorong pemeriksaan kanker payudara sejak dini.

“Nanti ketika diperiksa, kalau ada hasil kurang baik jangan berkecil hati, jangan takut. Ini yang datang (periksa) gratis. Kalau ibu periksa ke rumah sakit, mungkin satu orang bisa lebih dari Rp300 ribu,” kata Hetty dalam kesempatan tersebut.

Dia menuturkan bahwa kanker payudara pada umumnya dipicu oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal. Faktor internal ialah berdasarkan garis keturunan, di mana seorang anak berisiko terkena kanker payudara dari ibu yang memiliki kanker payudara.

“Kalau eksternal itu soal gaya hidup. Makanya gaya hidup dan pola makan itu harus diubah. Karena internal tidak sampai 40 persen,” terang dia.

Hal senada juga disampaikan oleh spesialis bedah dan onkologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dr. Agus Sutarman Sp. B (Onk). Menurut dia, membiasakan pola hidup sehat dapat meminimalisasi risiko kanker payudara.

Dia juga menekankan bahwa kanker payudara dapat disembuhkan, manakala diperiksakan ke dokter saat masih stadium awal.

“Lalu kenapa angkanya sangat tinggi? Karena pasien yang datang ke rumah sakit sudah memasuki stadium lanjut,” ujar Agus.

Ketua Umum YKPI Linda Agum Gumelar menjelaskan, guna mengetahui kanker payudara sejak stadium awal, maka perlu dibiasakan untuk mempraktikkan periksa payudara sendiri (Sadari) setiap bulannya.

Selain tanpa biaya, cara ini juga dinilai mudah dan sederhana yakni dengan meraba payudara untuk mengetahui ada atau tidaknya tanda-tanda kanker payudara.

“Tapi jangan dianggap kanker payudara hanya dialami perempuan. Laki-laki juga. Biasanya kalau pada laki-laki lebih ganas,” tandas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Read more...

Rayakan Ultah ke-72, Shinta Nuriyah Ingatkan Perempuan Tak Malu Periksa Kesehatan

Jakarta, YKPI – Berbicara di hadapan ratusan ibu-ibu dalam acara perayaan ulang tahunnya ke-72, istri Presiden Republik Indonesia ke-4 Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengimbau kepada perempuan Indonesia untuk tidak takut apalagi malu untuk memeriksa kesehatan, khususnya kesehatan payudara.

“Jangan merasa takut, jangan merasa malu karena itu adalah kebaikan untuk ibu-ibu sekalian,” ujar Shinta di acara pemeriksaan papsmear dan mammography gratis dalam rangka Hari Perempuan Internasional dan ulang tahunnya yang ke-72, yang bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Ciganjur, Senin (09/03).

Menurut Istri almarhum Abdurrahman Wahid (Gusdur) itu m, perempuan harus selalu menjaga kesehatannya lantaran telah diberi amanah oleh Sang Pencipta untuk melakukan tugas yang sangat mulia yaitu meneruskan keberadaan anak manusia di muka bumi.

“Kalau tugas ibu meneruskan anak manusia yaitu dengan hamil. Kan nggak ada laki-laki yang hamil. Setelah hamil ibu-ibu harus melahirkan. Setelah melahirkan harus menyusui kemudian merawat hingga dewasa. Itu butuh energi jadi ibu harus selalu sehat,” katanya.

Selain itu, lanjut Shinta, ibu juga merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak, karena ibulah yang mengajari semuanya. Untuk itu, perlu bagi ibu-ibu menjaga kesehatan agar mampu melayani anak dan suami.

“Siapa yang mengajari makan, yang nyuapin siapa, itu semua dilakukan ibu. Dengan begitu ibu harus dalam keadaan sehat. Jika ibunya sakit, siapa yang akan ngurusi anak dan suaminya,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan agar perempuan di semua umur untuk tidak menunda melakukan pemeriksaan karena penyakit tidak pernah memandang usia.

“Walaupun sudah tua, masih harus periksa karena penyakit itu tidak pandang usia,”pesannya.

Shinta juga berharap dengan adanya program pemeriksaan payudara melalui mammografi, para peserta dapat turut mendukung program pemerintah dalam mengurangi angka kejadian kanker payudara stadium lanjut sesuai dengan visi YKPI.

“Mudah-mudahan dengan adanya acara seperti ini, ibu-ibu sehat dan kuat tidak hanya dalam melayani suami, tapi juga bangsa dan negara,” pungkasnya.

Read more...

YKPI Batal Gelar SEABCS gegara Virus Corona

Jakarta, YKPI – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) membatalkan pelaksanaan South East Asia Breast Cancer Symposium (SEABCS) 2020, di tengah kekhawatiran wabah virus corona baru atau Covid-19 di Indonesia.

Keputusan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum YKPI Linda Agum Gumelar, pada Senin (9/3) sore, setelah melalui banyak pertimbangan.

“Beberapa hal telan kami pertimbangkan sebelum memutuskan pembatalan ini termasuk merujuk pada pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia, serta kebijakanw izin penyelenggaraan kegiatan skala besar oleh pemerintah setempat,” kata Linda dalam pernyataannya di Jakarta.

Lebih lanjut, Linda mengatakan YKPI juga tidak bisa memastikan penyelenggaraan SEABCS aman dari penyebaran dan penularan Covid-19 terhadap para narasumber, peserta, maupun mitra YKPI.

“Keselamatan, kesehatan, serta kesejahteraan para delegasi dan mitra adalah prioritas Yayasan Kanker Payudara Indonesia,” tandas dia seraya mengucapkan terima kasih dan apresiasi pada seluruh nara sumber yang akan hadir dan steering committee yang telah bekerja keras selama ini.

Untuk diketahui, iven simposium kanker payudara se-Asia Tenggara atau SEABCS rencananya akan digelar pada 17-19 Juli 2020 di The Double Tree by Hilton, Jakarta.

The Southeast Asia Breast Cancer Symposium (SEABCS) atau Simposium Kanker Payudara yang diikuti negara-negara ASEAN adalah forum internasioanal dimana para profesional medis kanker payudara bertemu dan membahas metode canggih dalam diagnosis, operasi, perawatan untuk kanker payudara.

SEABCS bertujuan untuk sharing informasi terbaru tentang pengetahuan & inovasi mengenai kanker payudara tentunya dalam meningkatkan kemampuan menangani kanker payudara & pasienya dengan lebih baik.

Selain Tim medis profesional, peserta simposium juga dapat berasal dari kalangan penyintas kanker, komunitas, pendukung pasien dan juga dari lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah.

Read more...

Deteksi Dini dan Dukungan Keluarga, Kanker Dapat Disembuhkan

Peringatan Hari Kanker Sedunia setiap 4 Februari adalah wujud ajakan kepada seluruh masyarakat dunia untuk waspada terhadap kanker. Berdasarkan laporan yang dimuat di jurnal The Lancet, penyakit kanker kini menjadi penyebab kematian terbanyak nomor dua di dunia setelah jantung.

Laporan terbaru yang dirilis International Agency for Research on Cancer WHO memerkirakan ada 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian yang terjadi setiap tahun. Itu artinya setiap menit ada 17 orang di dunia meninggal karena kanker. Hasil laporan ini didapat setelah peneliti menganalisa data dari 185 negara di dunia, dengan melihat lebih dalam pada 36 jenis kanker.

Kondisi ini membuat kanker bakal menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk meningkatkan harapan hidup. Dan, bukan mustahil akan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia.

Lantas siapa saja yang rentan terkena kanker? Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TM) Kemenkes RI, dr Cut Putri Arianie mengatakan, faktor risikonya pun beraneka ragam.Mulai dari aktivitas merokok, jarang berolahraga, obesitas, kecanduan alkohol, infeksi, polusi lingkungan, paparan zat karsinogen, dan radiasi.

“Jadi paling menentukan adalah gaya hidup. Kalau gaya hidupnya tidak baik, maka meski tidak ada faktor keturunan kanker akan datng,” ujar Cut.

Pentingnya Dukungan Keluarga

Dalam penganganan kanker, dukungan keluarga sangat berperan. Semangat dan keyakinan akan sembuh, menjadi ‘obat’ paling mujarab yang berhak diterima pasien.

“Dari sini kami berharap makin terbukan kesadaran masyarakat, khususnya keluarga sebagai bagian penting kesembuhan pasien kanker, dapat berperan aktif memperfcepat kesembuhan. Upayakan skrining secara teratur supaya kanker terdeteksi dini dan lebih mudah disembuhkan,” kata Cut.

Saat ini, 70 persen pasien kanker datang pada stadium lanjut. Karena itu, hampir 35 persen diantaranya meninggal dalam kurun waktu 2 tahun.

“Tentu saja adengan mengetahui lebih awal keberadaan kanker, maka akan lekas ditangani,” kata Cut lagi.

Read more...

Keren! Komunitas Kanker Payudara Tangerang Punya SK Bupati

Jakarta, YKPI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten punya cara sendiri untuk menekan tingginya angka kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia.

Melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 411.1/Kep.1229-Huk/2019 yang diteken oleh Bupati A. Zaki Iskandar, Pemkab Tangerang resmi mendirikan Komunitas Peduli Kanker Payudara pada 9 Desember 2019 lalu.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tangerang, Tri Hesti Yulianti Zaki Iskandar di sela-sela kegiatan `Training of Trainer (ToT) dan Sosialisasi Periksa Payudara Sendiri (Sadari)` di Aula Pendopo Kabupaten Tangerang pada Senin (2/3).

“Sebagai kabupaten dengan tim PKK yang selalu menjadi juara tingkat nasional dan sudah enam kali, tentunya kami sangat peduli dengan meningkatnya penderita kanker di Kabupaten Tangerang,” kata Yuli.

“Berdasarkan data RSUD tingginya angka kejadian angka kanker payudara ini, dikarenakan kurangnya kepedulian dan informasi tentang kanker payudara selain juga maraknya pengobatan tradisional dan alternatif,” imbuh dia.

Karena itu, lanjut Yuli, dia berharap dengan keberadaan Komunitas Peduli Kanker Payudara ini, masyarakat bisa memperoleh edukasi mengenai deteksi dini kanker payudara, alih-alih baru memeriksakan kanker payudara ketika sudah memasuki stadium lanjut.

“Makin dini terdeteksi, makin mudah untuk sembuh,” ujar istri Bupati Tangerang tersebut.

Wakil Direktur Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang, Dr. dr. Shirley Ivonne Moningkey menuturkan, komunitas ini awalnya dibentuk tanpa ada perencanaan khusus sebelumnya.

Kala itu Oktober 2019, Bupati Zaki dan Yuli berkunjung ke RSUD Tangerang. Di sana, para dokter mengusulkan pembentukan komunitas kanker payudara, dengan pertimbangan untuk menekan tingginya angka kanker payudara.

“Langsung kita bikin sosialisasi kanker payudara November 2019, mengundang PKK kecamatan. Banyak sekali yang hadir. Setelah selesai sosialisasi, kita langsung membentuk komunitas ini di akhir acara, dengan Ibu Yuli sebagai ketua dan seterusnya membentuk kepengurusan,” papar Shirley.

Ke depannya, ahli onkologi RSUD Tangerang, dr. Abdul Rachman Sp.(B) Onk berharap upaya menekan angka kejadian kanker payudara tidak hanya dilakukan oleh Kabupaten Tangerang, melainkan juga didukung oleh pemerintah Provinsi Banten.

“Mudah-mudahan ke depan lebih baik, masyarakat kita datang di stadium awal,” harap dr. Abdul.

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Agum Gumelar, yang hadir dalam kegiatan ini menyampaikan apresiasinya terhadap Pemkab Tangerang yang sejalan dengan cita-cita Indonesia Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut 2030.

Menurut dia, Komunitas Peduli Kanker Payudara yang didukung langsung oleh pemerintah melalui SK Bupati, merupakan sebuah langkah yang bisa menjadi percontohan bagi daerah lain.

Apalagi, saat ini kanker payudara masih menjadi jenis kanker nomor satu dengan jumlah terbanyak, berdasarkan data Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta.

“Banyak komunitas di seluruh Indonesia tapi berjalan dan dibentuk sendiri, tak seperti di Tangerang yang langsung diketuai ibu bupati dengan SK Bupati,” kata Linda.

Dalam SK Bupati Tangerang Nomor 411.1/Kep.1229-Huk/2019, Komunitas Peduli Kanker Payudara mempunyai lima tugas, antara lain melaksanakan penyebaran informasi ke masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya; memberikan rekomendasi dalam penanganan masalah penanggulangan kanker dan pembuatan kebijakan terkait dengan penanggulangan kanker payudara; meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap kanker; menemukan kanker payudara dini; dan menurunkan angka kanker payudara stadium lanjut.

Read more...

YKPI Luncurkan Mobil Kemoterapi dan Terapi Sistemik Pertama di Indonesia

Jakarta, YKPI – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menghibahkan satu Unit Mobil Kemoterapi dan Terapi Sistemik pertama di Indonesia, kepada Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, pada Rabu (26/2) pagi.

Ini merupakan bagian dari upaya YKPI untuk mewujudkan ‘Indonesia Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut 2030’, setelah sebelumnya sukses dengan Unit Mobil Mammografi.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, kemoterapi merupakan tahapan yang harus dilalui pasien kanker selama pengobatan, guna menunjang tingkat keberhasilan penyembuhan.

Namun di lapangan, banyak pasien kanker payudara, khususnya para peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang harus antri panjang untuk menjalani kemoterapi.

Padahal, lanjut Linda, di sisi lain kanker merupakan penyakit yang harus ditangani secara klinis dengan cepat, karena berkejaran dengan waktu.

Karena itu, dengan kehadiran Mobil Kemoterapi dan Terapi Sistemik, Linda berharap YKPI dapat menjemput bola dalam memberikan pemeriksaan kemoterapi bagi pasien kanker di luar RK Kanker Dharmais.

“Selanjutnya seluruh kegiatan, prosedur operasional dan pengelolaan administrasi dan lain-lain menjadi tanggung jawab RS. Kanker Dharmais,” kata Linda dalam sambutannya.

Linda menambahkan, saat ini, 67 persen pasien kanker yang berobat di RS Kanker Dharmais, merupakan pasien kanker payudara.

Dan mirisnya, lanjut Linda, sekitar 70 persen pasien kanker payudara yang memeriksakan diri ke RSDK Jakarta, sudah berada dalam stadium lanjut. Padahal, bila ditangani lebih dini, tingkat kesembuhannya tinggi.

Sementara Plt Direktur Utama RS Kanker Dharmais, Dr.dr.Iwan Dakota,Sp.JP(K), berharap adanya mobil kemoterapi ini dapat meminimalisir antrian pasien di rawat inap dan rawat jalan.

Juga, mensosialisasikan kemoterapi untuk pasien kanker khususnya pasien kanker payudara secara tepat waktu dan tepat sasaran, serta mempermudah akses untuk mendapatkan pengobatan kemoterapi.

“Selain itu diharapkan para pasien yang belum tertampung antrian kemoterapi dari RSKD maupun RS Jejaring atau binaan RSKD dapat terfasilitasi dengan adanya pelayanan mobil kemoterapi dan terapi sistemik ini,” ujar Iwan.

Selanjutnya ia juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua YKPI yang telah membantu mewujudkan mimpi RS Kanker Dharmais, dan kepada Dirut RS Kanker Dharmais sebelumnya, Prof. Abdul Kadir karena telah menginiasi program ini.

Senada dengan Iwan, Kepala Badan PPSDM Kemenkes RI yang menjabat sebagai Direktur Utama RS Kanker Dharmais sebelumnya Prof. dr. Abdul Kadir juga mengucapkan terimakasih atas dukungan YKPI.

Lembaga non-profit tersebut dianggap telah peduli terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam hal penanggulangan kanker.

“Dan sekali lagi saya juga mengucapkan selamat kepada RS Kanker Dharmais atas Unit Mobil Kemoterapi dan terapi sistemik nya, semoga dapat bermanfaat bagi pengembangan pelayanan rumah sakit dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tandas Abdul Kadir.

Read more...

Hari Kanker Sedunia, YKPI Kembali Serukan Pentingnya Deteksi Dini

Jakarta – Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap 4 Februari, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) kembali menyerukan kepada masyarakat mengenai pentingnya melakukan deteksi dini kanker.

Menurut Ketua YKPI Linda Agum Gumelar, selama ini kerap dijumpai pasien kanker baru memeriksakan diri setelah berada di stadium lanjut. Akibatnya, risiko kesembuhan menjadi lebih rendah.

“Jika pasien kanker payudara ditemukan pada stadium awal, maka angka harapan hidup (kualitas hidup) pasien akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien yang terdiagnosa sudah pada stadium lanjut,” kata Linda pada Selasa (4/2) di Jakarta.

Linda mengutip laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mengungkapkan bahwa saat ini setiap menit terdapat 17 orang meninggal dunia karena kanker.

Faktor risikonya pun beraneka ragam, mulai dari aktivitas merokok, jarang berolahraga, obesitas, kecanduan alkohol, infeksi, polusi lingkungan, paparan zat karsinogen, dan radiasi.

“Karena itu tema ‘I Am and I Will’ selaras dengan komitmen setiap individu untuk bertindak dalam menghadapi ancaman kanker di dunia,” tegas Linda.

Linda menambahkan, pencegahan kanker dengan melakukan deteksi dini juga merupakan bagian dari visi YKPI ‘Indonesia Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut Tahun 2030’, yang diwujudkan melalui lima program kerja.

Beberapa cara deteksi dini antara lain dengan melakukan periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), USG, dan mammografi.

Untuk diketahui, YKPI yang akan menjadi tuan rumah Southeast Asia Breast Cancer Symposium (SEABCS) pada 17-19 Juli 2020, merupakan anggota Reach to Recovery International (RRI) sejak September 2014, dan Union of International Cancer Control (UICC) sejak November 2016.

Pada 2020 ini, YKPI akan menghibahkan unit mobil kemoterapi dan terapi sistemik pertama di Indonesia, untuk dikelola Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta.

Pada tahun yang sama juga YKPI memulai program kerja melalui tiga pilarnya, yakni Pita Pink Survivor Warrior YKPI, Pilar Pendukung YKPI, dan Pilar Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara di RSKD Jakarta.

“YKPI senantiasa akan selalu mendukung program pemerintah dalam upaya menurunkan angka penyintas kanker payudara stadium lanjut di Indonesia,” terang dia.

Selain itu, imbuh Linda, seluruh pengurus YKPI merupakan individu relawan yang memberikan perhatian lebih dengan memberikan kontribusi dan dukungan kemanusiaan di bidang kesehatan khususnya kanker payudara. Sebagian besar dari mereka juga merupakan penyintas kanker payudara.

“Dari YKPI untuk Indonesia bebas kanker stadium lanjut 2030,” tandas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) era Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut.

Read more...

Perista Lemhanas Ajak Perempuan Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta, YKPI – Persatuan Istri-istri Anggota (Perista) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) mengajak kepada para perempuan Indonesia, agar tidak ragu melakukan deteksi dini kanker payudara.

Pasalnya, menurut Plt Ketua Perista Lemhanas, Lisa Wieko Syofyan, perempuan dituntut senantiasa sehat dan bugar, mengingat perannya yang sangat sentral di tengah keluarga.

“Perempuan diciptakan agar bisa berperan sebagai ibu, istri, dan anak sekaligus. Karena itu, sangat penting bagi perempuan melakukan deteksi dini agar terhindar dari gangguan kesehatan,” ujar Lisa dalam kegiatan `Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara` bersama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Kantor Lemhanas, Jakarta pada Selasa (21/1) kemarin.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar. Berdasarkan data Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, dari seluruh pasien yang memeriksakan diri ke RSKD, 56 persen di antaranya mengidap kanker payudara.

Sementara 44 persen sisanya ialah penyintas kanker serviks, kanker anak, kanker nesofaring, kanker paru-paru, dan kanker tulang.

“Dan yang menyedihkan, 70 persen pasien kanker payudara, datang dalam stadium lanjut,” kata Linda.

Linda mengingatkan, kanker payudara dapat menimpa siapapun, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, kasus kanker payudara pada perempuan dalam hal ini lebih banyak.

“Tapi kalau laki-laki, sekali kena langsung ganas (kankernya),” terang dia lagi.

Karena itu, guna mengetahui kanker payudara lebih awal, ahli deteksi dini RSKD Jakarta, dr. Martha Roida Manurung mengimbau agar lekas melakukan deteksi dini kanker.

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan, yakni periksa payudara sendiri (Sadari), periksa payudara secara klinis (Sadanis), USG, dan mammografi.

“Kalau yang ada yang punya keluhan pada payudara, silakan bisa datang ke poliklinik deteksi dini kanker, pemeriksaannya tidak sakit. Dokternya juga perempuan,” tutur Martha.

Adapun khusus untuk Sadari, tambah Martha, dapat dilakukan secara rutin di rumah. Salah satu caranya ialah dengan berdiri di depan cermin, lalu meraba payudara dari pinggir secara melingkar ke tengah, untuk memastikan ada atau tidak adanya benjolan.

“Posisi tangan juga bervariasi. Pertama di samping dada, sambil melihat ke cermin apakah ada perubahan atau tidak. Kedua, tangan di pinggang. Ketiga, tangan diangkat ke atas. Lihat apakah ada benjolan, atau ukuran payudara simetris atau tidak,” tandas dia.

Read more...

Wujudkan Indonesia Bebas Kanker Payudara 2030, YKPI Gaet Milenial

Jakarta, YKPI – Kolaborasi atau akrab dikenal dengan istilah ‘collab’ sedang marak belakangan ini dilakukan di antara para pengguna media sosial Indonesia. Tak terkecuali Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar.

Saat ditemui Jurnas.com, YKPI sedang mencoba menjajaki kolaborasi dengan sekumpulan anak muda kreatif, Gerakan Satupadu Indonesia, pada Rabu (15/1) siang di Kantor YKPI, Jakarta Selatan.

Linda mengatakan, untuk mewujudkan visi YKPI Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut pada 2030 mendatang, pihaknya harus menggandeng pelbagai pihak dalam mengkampanyekan pentingnya deteksi dini.

Hal ini dimaksudkan agar angka kejadian kanker payudara stadium lanjut dapat menurun, termasuk di kalangan anak muda, atau generasi milenial.

“Hal ini dikarenakan kanker payudara juga dapat terjadi pada anak muda,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak era Kabinet Indonesia Bersatu itu.

Linda  menuturkan, pengalaman ini didapati saat YKPI mendampingi anak muda usia 17 tahun yang harus berjuang mengalahkan kanker payudara.

Melalui kolaborasi ini, Linda berharap YKPI dan Satupadu Indonesia akan memiliki program baru, supaya anak muda Indonesia dapat mengenal langkah-langkah periksa payudara sendiri (SADARI) sejak dini.

“Selain itu, YKPI sangat berharap pemahaman tentang kanker payudara juga tersebar secara luas ke semua kalangan. Karena jika kanker payudara ditemukan pada stadium awal peluang untuk sembuhnya sangat besar, dapat mencapai 98 persen. Tentunya melalui pengobatan medis,” harap Linda.

Masalah perbedaan usia, dikatakan Nanda dari Gerakan Satupadu Indonesia tidaklah menjadi permasalahan selama mereka bisa berkolaborasi untuk perubahan.

“Dan kayaknya Satupadu dengan YKPI sudah satu frekuensi, tinggal kita memikirkan konsep kolaborasi programnya saja,” ujar mahasiswa semester akhir Program Studi Hubungan Internasional itu.

Pada kesempatan sama, YKPI menyambut baik kedatangan dan niat baik kolaborasi ini dengan harapan agar program kolaborasinya nantinya dapat  menghubungkan anak muda Indonesia dengan lebih baik bukan saja di dalam melainkan juga di luar negeri.

“Saya harap kita dapat selalu kolaborasi dan mampu memahami dan menghadapi perubahan yang terjadi. Ayo maju bersama anak muda Indonesia, masa depan Indonesia ada di tangan kalian,” tandas Linda.

Read more...