Author - admin

Ini Harapan Linda Gumelar Sambut Hari Kesehatan Nasional

Jakarta, Jurnas.com – Selain ditetapkan sebagai Hari Ayah Nasional, tanggal 12 November juga diperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Di tahun 2019, HKN menginjak tahun ke-55.

Menyambut HKN, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Agum Gumelar berharap pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin baik. Menurutnya, HKN bukan hanya sebuah peringatan melainkan ada makna yang terkandung di dalamnya.

“Kami dari yayasan kanker payudara Indonesia dan saya pribadi berharap peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus semakin baik, terutama dalam peraturan-peraturan BPJS yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Linda usai nonton bareng film “Bebas” di Jakarta, Kamis (07/11).

Selain itu, tokoh wanita Indonesia yang pernah menjabat sebagai sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabinet Indonesia Bersatu tersebut juga berharap peringatan HKN dijadikan pemicu masyarakat untuk menjaga pola hidup yang lebih baik.

“Kita juga berharap masyarakat menjaga gaya hidup yang baik, sehingga tidak menjadi penyebab dari suatu penyakit. Karena itu, lifestyle itu penting sekali. Kita ingin masyarakat sehat lahir dan batin,” ujar Linda.

Perayaan HKN pertama kali diperingati di tahun 1959. Saat itu dilakukan penyemprotan nyamuk Malaria secara simbolis oleh Presiden Soekarno.

Usai penyemprotan secara simbolis dilakukan, penyuluhan pun diberikan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan bahaya penyakit Malaria dan agar mereka lebih waspada terhadapnya.

Di tahun-tahun berikutnya, Hari Kesehatan Nasional (HKN) terus diperingati dengan tujuan memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan untuk masyarakat Indonesia.

Read more...

YKPI Gelar Nonton Bareng Film “Bebas”

Jakarta, Jurnas.com – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengajak para pengurus, relawan dan juga dari komunitas survivor kanker nonton bareng (nobar) film “Bebas” karya Mira Lesmana dan Riri Riza di Cinema XXI, Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (07/11).

Ketua YKPI, Linda Amalia Sari atau dikenal dengan Linda Agum Gumelar mengatakan salah satu alasan memilih film “Bebas” karena dinilai mengandung banyak pelajaran yang bisa dipetik usai menonton film tersebut.

“Film yang kami pilih adalah film bebas karena saat membaca resensi filmnya, kami melihat penggambaran semangat persahabatan yang begitu kuat, kepercayaan diri serta sifat keberanian,” ujar Linda saat ditemui usai acara nobar.

Menurut Tokoh Wanita Indonesia sekaligus istri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar, film ini bisa menjadi inspirasi bagi survivor kanker untuk terus semangat menjalani hidup meski dengan segala keadaan yang dihadapi.

“Saya kira dari judul lagu, judul film ini bisa memberi semangat kepada para survivor untuk tetap berani dan semangat menjalani segala kondisi yang ada. Sifat ini sangat penting bagi seorang perempuan terutama untuk orang-orang yang sedang mengalami ujian,” katanya.

Selain itu, Linda juga mengaku sangat tertarik dengan jalan cerita film yang dibintangi salah satu aktris ternama tanah air, Marsha Timothy tersebut. Selain menggambarkan masa-masa SMA, namun juga memperlihatkan arti persahabatan sejati.

“Filmnya menggembirakan mengingatkan masa lalu. Ceritanya juga memperlihatkan sahabat-sahabat yang memberikan semangat untuk sahabatnya yang terdiagnosa sakit. Ini saya kira support yang luar biasa,” tuturnya.

Bebas merupakan adaptasi film Korea Selatan berjudul Sunny. Dalam versi Indonesianya, latar waktu akan berada pada era 90-an. Sedangkan pada versi Sunny, latar waktu sekitar tahun 1987-an.

Bebas bercerita tentang pertemanan sejak masa sekolah. Awalnya Vina (Maizura) sekolah di salah satu SMA di kota kecil di Jawa Barat. Karena beberapa hal, dia pindah sekolah menuju Ibukota Jakarta. Pada hari pertamanya, Vina menjadi bahan lelucon teman sekolah karena logat bicaranya. Dia juga mendapat intimidasi dari salah satu cowok di sekolah. Untungnya datang sekelompok gang sekolah yang menolong Vina.

Anggota gang bernama Bebas ini yaitu Kris (Sheryl Sheinafia) sang pemimpin, Jessica (Agatha Pricilla) yang lucu dan terobsesi akan kecantikan, Gina (Zulfa Maharani) anak terkaya di grup, Suci (Luthesha) perempuan cantik dan misterius, serta Jojo (Baskara Mahendra) cowok satu-satunya.

Read more...

Tes untuk Menentukan Status HER2

Ada 4 tes untuk HER2. Hasil tes akan menunjukkan HER2 positif atau negative.

1). Tes IHK (ImunoHistoKimia- atau IHC: ImmunoHistoChemistry): menentukan protein HER2 di sel kanker terlalu banyak atau tidak. Hasil IHK untuk HER2 ditulis: 0  atau (artinya HER2 negatif); 1+  (artinya HER2 negatif); 2+ (artinya antara positif dan negatif); atau 3+ (HER2-positif, artinya ‘terlalu banyak protein  HER2 pada sel kanker’).

Kalau dengan tes IHK, HER2 hasilnya 2+ , maka perlu di tes lagi dengan salah satu dari 3 macam tes dibawah/berikut ini. (no 2 atau 3 atau 4 dibawah ini) 

2). FISH test (Fluorescence ISitu Hybridization): Menentukan salinan atau ‘copy’ gen HER2 di dalam sel kanker terlalu banyak atau tidak. Kalau terlalu banyak, hasil tes ditulis FISH positif. Ditulis ‘negatif’ kalau protein HER2 didalam sel kanker, jumlahnya normal.

3). Tes SPoTLight HER2 CISH (Subtraction Probe Technology Chromogenic ISitu Hybridization): Menentukan salinan atau ‘copy’ gen HER2 di dalam sel kanker terlalu banyak atau tidak. Kalau terlalu banyak, hasil tes ditulis SPoTLight HER2 CISH positif. Ditulis ‘negatif’ kalau protein HER2 didalam sel kanker, jumlahnya normal.

4). Tes Inform HER2 Dual ISH (Inform Dual ISitu Hybridization): Menentukan apakah di dalam sel kanker ditemukan salinan atau ‘copy’ terlalu banyak gen HER2. Kalau terlalu banyak, hasil tes ditulis Inform HER2 Dual ISH positif. Ditulis ‘negatif’ kalau protein HER2 didalam sel kanker, jumlahnya normal.

Sumber: https://www.breastcancer.org/symptoms/diagnosis/her2

Diterjemahkan (dari sumber diatas) oleh dr Inez Nimpuno MPS MA

Read more...

PERABOI & YKPI Ajak Masyarakat Tenggarong Turunkan Angka Kejadian Kanker

Seiring dengan meningkatknya angka kejadian kanker di Indonesia, PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) semakin giat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, salah satunya talkshow seputar kanker payudara dan kanker tiroid. Dipandu oleh artis sekaligus komedian kawakan Tukul Arwana, talkshow diselenggarkan di Pendopo Bupati Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Sabtu (19/10).

Ketua PERABOI dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan sejak disahkan sebagai anak organisasi dari Perhimpunan Dokter spesialis Bedah Indonesia (IKABI) dan anggota dari World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS) pada 1984, PERABOI yang terdiri dari para dokter spesialis bedah se-Indonesia itu telah melakukan pelbagai kegiatan.

“Bukan hanya untuk melestarikan pengembangan ilmu bedah onkologi dengan pertemuan-pertemuan ilmiah saja, melainkan juga turun ke masyarakat hingga ke daerah-daerah terpencil, melakukan bakti sosial atau sosialisasi tentang penyakit kanker, seperti yang dilakukan saat ini di Kabupaten Tenggarong dengan kemasan talkshow,” kata dokter yang praktek di RS Kanker Dharmais tersebut.

Hal ini, tambah dr Walta, dilakukan PERABOI untuk menyikapi kenyataan bahwa kanker telah menjadi penyakit yang  mendapat perhatian dunia. Seluruh negara di dunia ini, dilanjutkan dr Walta, tengah berupaya keras menurunkan angka kejadian kanker stadium lanjut sekaligus menurunkan angka kematian.

“Termasuk kanker payudara yang rata-rata pasiennya datang ke dokter saat stadium lanjut. Faktor inilah sebenarnya yang menyebabkan angka kematian akibat kanker menjadi tinggi. Padahal jika mereka datang ke dokter pada stadium awal kemungkinan dapat disembuhkannya tinggi sekali. Bisa mencapai 98%,” ujar dr Walta lagi.

Melihat kondisi ini, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), menanggapi dengan serius melalui program-program kerjanya. “Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan dan semakin mengusik serta memotivasi kami YKPI untuk semakin bekerja menurunkan angkat kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia,” kata Linda Agum Gumelar, Ketua sekaligus pendiri YKPI.

Lebih lanjut Linda menjelaskan pengobatan penyakit mematikan ini memang tidak murah. Melalui pelbagai program YKPI yang dipimpinnya, Linda memaparkan upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut dengan sosialisasi deteksi dini melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri) ke beberapa daerah hingga ke pelosok tanah air.

Sejak 2015, YKPI menjadi satu-satunya organisasi nirlaba di Indonesia yang fokus terhadap kanker payudara yang memiliki unit mobil mammografi. Tercatat hingga April 2019  sebanyak 13.214 orang telah melakukan mamografi dengan hasil 1.973 (14,8%) orang diketahui memiliki tumor jinak dan 203 orang  (1,5%) memiliki tumor ganas.

“Mereka yang diduga memiliki tumor langsung dirujuk melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut di rumah sakit, agar kankernya dapat segera tertangani secara klinis dan biaya pengobatannya juga tidak menjadi tinggi,” tambah mantan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kabinet Indonesia Bersatu itu.

Program lain YKPI, lanjut Linda,  adalah pengelolaan Rumah Singgah YKPI bagi pasien BPJS kelas II, di kawasan Anggrek Nelly Murni Slipi, Jakarta Barat,  dan  pelatihan pendamping pasien kanker. Di tingkat Internasional, YKPI aktif sebagai anggota Reach to Recovery International (RRI) dan Union for International Cancer Control (UICC), sebuah organisasi yang mewakili hampir 2.000 organisasi di 170 negara.

“Ke depan, YKPI berencana mewujudkan adanya mobil kemoterapi sebagai upaya jemput bola dengan cara mendatangai pasien rawat jalan yang harus melakukan kemoterapi. Dan, kita juga akan menjadi tuan rumah penyelenggaran South East Asia Breast Cancer Symphosium bagi sekitar 250 peserta dari seluruh negara di  dari dalam dan luar negeri pada Juli 2020,” pungkas Linda yang juga pernah divonis kanker payudara pada 1996.

Dengan visi menjadi organisasi profesi yang mampu membawa anggotanya menjadi  dokter sub spesialisasi  Bedah Onkologi  terkemuka di Asia, PERABOI dikatakan dr Walta akan terus berperan aktif guna meningkatkan kualitas layanan bidang onkologi dan mengedukasi masyarakat tentang kanker melalui pelbagai kanal media. “Hari ini dimulai dari masyarakat Tenggarong, ayo kenali kanker dan kita berperan aktif menurunkan angka kejadian kanker khususnya kanker stadium lanjut di Indonesia,” pungkas dr Walta diamini Linda Agum.

Read more...

Operasi Masal Kanker Pertama di Indonesia

Sebanyak 52 pasien kanker  dioperasi secara masal oleh dokter onkologi yang tergabung dalam PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia), di Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Minggu (20/10). Operasi kanker masal ini merupakan yang pertama dan terbesar di Indonesia.

Ketua PERABOI, dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan operasi  dilakukan di dua tempat. “Operasi mayor terhadap 7 pasien dilakukan di RSUD AM Parikesit Tenggarong. Sedangkan 45 orang lainnya melakukan operasi minor di pendopo Bupati,” tambah dr Walta.    Lebih lanjut dr Walta menjelaskan operasi yang dilakukan pihaknya tersebut meliputi kanker kulit, lymphedema, kanker tiroid, kanker payudara serta kanker wajah tanpa dipungut biaya.

“Ini merupakan kegiatan bakti sosial PERABOI sebagai wujud pengabdian kami pada masyarakat,” sambung dr Walta.  Kata onkologi dikatakan dr Walta acapkali masih terasa asing di telinga. Ia berharap istilah yang berasal dari Bahasa Yunani ini tidak ditakuti dan akrab di masyarakat. Onkolgi, sambung dr Walta, adalah cabang ilmu kedokteran yang mengkhususkan pada diagnosis dan pengobatan kanker. “Jadi Onkologi adalah bidang ilmu kesehatan khususppenanganan kanker, mulai dari pemeriksaan kanker sampai perawatan paliatif,” ujar dr Walta lagi.

Lebih lanjut dr Walta menjelaskan seorang ahli onkologi bertanggung jawab untuk mendiagnosis kanker, menentukan rencana pengobatan yang tepat, mengatur dan mengawasi jalannya pengobatan, serta tindakan pencegahan dari kekambuhan kanker itu sendiri.

Sejak tahun 1984, para ahli onkologi di Indonesia membentuk PERABOI. “Selama ini, banyak orang beranggapan PERABOI imejnya adalah hanya menangani kanker payudara. Tapi sebenarnya PERABOI menangani kanker secara meyeluruh diantaranya kanker tiroid, kanker kepala leher, kanker kulit, kanker jaringan lunak seperti otot dan jaringan di bawah kulit, mulai dari deteksi dini, Diagnostik, terapi termasuk rekonstruksi pasca pengangkatan tumor, tindakan kemoterapi dan terapi terhadap beberapa komplikasi pasca bedah,” ungkap dr Walta.

Di usia PERABOI yang ke 35 tahun, dr Walta berharap agar masyarakat yang tidak terlayani dengan BPJS atau mereka yang kurang mampu mendapatkan akses terapi medis yang tepat dari awal dapat menikmati layanan bedah dari ahlinya tersbut. “Ke depan tentunya ini akan memotivasi kesiapan dan ketersediaan ahli bedah onkologi yang mumpuni di setiap daerah di Indonesia, sehingga pasien kanker dapat berobat di tempat asalnya tanpa perlu harus ke Jakarta atau kota besar lainnya,” jelasnya.

PERABOI, dilanjutkan dokter yang memiliki banyak pasien kanker payudara itu,  tentunya memerlukan wadah untuk kerjasama agar lebih dapat memperkenalkan apa yang menjadi domain penanganan kanker dari PERABOI.

“Bersama Yayasan Kanker Payudara Indonesia atau YKPI pimpinan Bu Linda Gumelar,  kita bekerjasama dalam memberikan sosialisasi dan pelatihan penyintas kanker payudara yang bersertifikasi. YKPI sangat banyak membantu PERABOI. Ke depan tentunya PERABOI terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi atau institusi dalam penanganan kanker lainnya. Selain berkolaborasi dengan YKPI dan melakukan bakti sosial, selama 3 hari ini PERABOI juga menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT),” imbuh dia.

Secara terpisah,  dr Zainal Abidin SpB(K)Onk, ketua panita PIT ke-25 mengatakan dengan adanya pertemuan ini masyarakat diharapkan akan lebih mengenal kanker lebih jauh lagi dan jangan takut berobat ke dokter.

“Peraboi juga berharap dari pertemuan ini masyarakat akan lebih tahu lagi bagaimana temuan-temuan kedepan tentang pengobatan kanker terkini. Karena saat ini penanganan kanker tidak hanya sebatas operasi atau kemoterapi, tetapi juga bisa dilakukan rekonstruksi yang hampir sempurna bahkan operasi mikro dan super mikro juga dapat dilakukan. Dengan pertemuan ini PERABOI juga diharapkan dapat menjadi leader dalam penanganan kanker secara multi disiplin. Agar dari awal atau sejak dini hingga kanker stadium akhir dapat kita tangani,” terang dr Zainal.

Ditanya soal jenis kanker dengan jumlah pasien terbanyak, dr Zainal mengungkapkan angka kejadian kanker payudara adalah yang tertinggi. Hal ini senada dengan upaya YKPI dalam menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut dengan salah satu faktornya adalah delay pengobatan pasien dari daerah ke Jakarta.

“Banyak sekali pasien asal daerah yang kini tinggal di rumah singgah YKPI di kawasan Slipi Jakarta itu datang ke Jakarta sudah dalam kondis stadium lanjut, karena selain takut dan malu untuk berobat juga karena tidak adanya ketersediaan sarana pengobatan di daerah  asalnya,” kata Ketua YKPI Linda Gumelar yang menyambut antusias upaya PERABOI dalam penanganan kanker hingga ke daerah-daerah.

Hal senada dikatakan dr Zainal perihal kendala penanganan kanker di daerah atau wilayah terpencil yang dijadikan tantangan tersendiri bagi PERABOI melalui program-programnya. Salah satunya dengan bakti sosial operasi minor dan mayor yang dilakukan di Kabupaten Tenggarong.

“Kami tentunya berharap operasi tersebut  berdampak pada masyarakat dalam penangan kanker, sehingga masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya, tidak lagi berobat jauh-jauh karena di daerah sendiri sekarang fasilitasnya sudah  sangat mendukung, pemerintahan juga sangat mendukung dan sumber manusia juga sudah tersedia,” lanjut dokter bedah onkologi yang praktek di RSUD Abdul Wahab Sjahrani, Samarinda,  Kalimantan Timur.

Read more...

PERABOI, YKPI, dan KODIM 0906 Tenggarong Buka Klinik Baca di Taman Ulin

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Agum gumelar meresmikan klinik baca PERABOI Kodim 0906/Tenggarong dalam rangka HUT TNI ke – 74 di Taman Ulin, Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Sabtu (19/10).

Kegiatan yang diinisiasi Kodim 0906/Tenggarong ini merupakan rangkaian kegiatan sosialisasi deteksi dini kanker payudara dan ToT Sadari yang dilakukan PERABOI dan YKPI. “YKPI sudah sering berkolaborasi dengan  perhimpunan dokter ahli bedah onkolosi se Indonesia, PERABOI. Kedatangan kami  di Kabupaten Kukar ini dalam rangka bulan peduli kanker payudara internasional. Kami tentunya menyambut baik inisiatif Kodim 0906. Karena dengan membuka klinik baca akan banyak masyarakat yang gemar membaca dan kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang tahu informasi seputar kanker,” kata Linda.

Dalam sambutannya Dandim 0906/Tgr Letkol Inf. Charles Alling menyampaikan “Kita membuat satu paradigma baru kalau membaca itu harus ada setting kreatif sehingga menjadi daya tarik tersendiri, kalau kita masih menggunakan paradigma yang lama menempatkan klinik-klinik baca ataupun perpustakaan mini di tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak terlihat maka tidak bisa langsung dilihat oleh masyarakat kita,” jelas Charles.

Di tempat sama Ketua PERABOI, dr Walta Gautama SpB(K)Onk mengatakan dengan adanya klinik baca ini diharapkan akan menambah peningkatan kualitas sumber daya manusia salah satunya  adalah memalui metode suka membaca yang diperuntukkan untuk semua kalangan baik itu anak-anak , para remaja maupun orang dewasa.

Tampak hadir pada acara peresmian Bupati Kutai Kartanegara  Drs.Edi Damansyah MSi, Pjs Direktur RSU Aji Muhammad Parikesit dr. Martina. Sp. Op. Finamis, Mars, Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 091 PD VI/ Mulawarman, Persit Kartika Candra Kirana Cabang XVlll, Bayangkari Polres Kukar dan komedian kondang Tukul Arwana. Mulai hari ini, masyarakat sudah dapat menikmati klinik baca tanpa dipungun biaya.

Read more...

Jangan Takut Ke Dokter, Mari SADARI

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kendati sudah divonis kanker payudara dan rela kehilangan satu payudaranya di meja operasi, tak menghalangi dua srikandi asal  Kab. Tenggarong Sri (43) dan Kartini (56) mendalami SADARI (Periksa Payudara Sendiri).

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Saya sekarang mau bawel ke ibu-ibu. Jangan takut ke dokter, mari kita SADARI,” ujar Sri yang menjabat Ibu RT itu penuh semangat saat mengikuti sosialisasi deteksi dini kanker payudara dan ToT SADARI di RSUD AM Parikesit Tenggarong, Kalimantan Timur.

Sri yang juga membuka warung di kediamanya itu mengaku sempat takut jika ada perawat atau dokter yang belanja ke warungnya. “Apalagi rumah saya dekat puskesmas. Kalau lihat mereka saya pasti kabur, lemes dan deg-degan. Saya takut karena pernah divonis dokter usianya hanya tersisa 3 bulan karena kanker payudara,” ujar Sri diamini Kartini yang senasib harus dimastektomi satu payudaranya.

Kini, Sri dan Kartini malah rajin mengajak ibu-ibu yang sakit kanker payudara untuk tidak menunda pemeriksaan medis. “Karena berobat ke alternatif gak sembuh, malah uang habis banyak, ujung-ujungnya ke dokter juga. Dulu kita takut banget sama dokter, sekarang kita jadi sahabat dokter,” tambah Kartini.

Bersama sekitar 100 peserta sosialisasi deteksi dini kanker payudara dan TOT SADARI yang diselenggarakan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) bekerjasama dengan PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia), Sri dan Kartini mengaku sosialisasi dini kanker payudara penting dan berkomitmen akan disebarluaskan pada anggota keluarga dan warga sekitar.

Sementara itu Vira (20) dan Wida (20), keduanya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kaltim,  mewakili peserta dari kalangan anak muda mengaku senang sekali dapat dilibatkan dalam TOT.

“Ini pertama kalinya kami ikut TOT SADARI. Senang sekali karena tahu lebih awal soal kanker payudara, pentingnya deteksi dini dan praktek bagaimana cara SADARI,” kata Vira disambut Wida dengan semangat.

Selain aktif sebagai pelajar, Vira dan Wida tergabung dalam komunitas Support Kanker  Samarinda. Hadir juga sekitar 30 gabungan organisasi wanita lainnya selain  Dharma Wanita, Dharma Pertiwi dan tentunya ibu-ibu PKK Kab Tenggarong pimpinan Ibu Bupati Maslianawati.

“Saya menyambut baik kegiatan ini, sangat luar biasa. Sangat bermanfaat dan semoga makin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya deteksi dini,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Tenggarong.

Dalam kesempatan ini, dr Abdul Rachman SpB(K)Onk, mewakili PERABOI mengatakan angka kejadian kanker payudara masih yang tertinggi pada perempuan di Indonesia.

“Untuk itu sosialisasi ini sangat penting guna menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Saat ini berdasarkan data dari RS Kanker Dharmais (RSKD) sebagai Pusat Rujukan Kanker Nasional, diketahui bahwa 56% pasien yang ditangani oleh RSKD adalah pasien kanker payudara. Dimana 70%-nya diketahui dalam kondisi stadium lanjut,” ujar dr Abdul yang sehari-harinya praktek di RSUD Kab. Tangerang.

Menanggapi hal ini, YKPI diwakili Titien Pamudji mengimbau agar pasien kanker payudara bersifat terbuka dan tidak takut memeriksakan dirinya ke dokter.

“Pasien kanker payudara hendaknya jangan menutup diri. Saya seorang survivor, Ketua YKPI Ibu Linda Agum juga survivor, tapi kami bisa sehat sampai sekarang dan masih beraktivitas. Karena kami memeriksakan diri dari awal. Tidak menundanya. Saya harap ibu-ibu juga demikian,” seru Titien yang kini masih berjuang mengalahkan kankernya.

TOT SADARI yang dipimpin oleh dr Hardinah Sabrida MARS ini disambut antusias peserta. Sebelumnya, dr Hardinah menerangkan seputar kanker payudara, penyebab hingga faktor risikonya.

“Jika setiap bulan kita rutin melakukan SADARI kita akan mengetahui ada tidaknya kelainan di payudara kita.  Kelainan di payudara itu belum tentu kanker. Jangan panik dan segera periksakan diri ke dokter,” ujar dr Hardinah lagi.

Read more...

Angka Kesembuhan Kanker Payudara Capai 90%, YKPI & PERABOI Serukan Deteksi Dini

Jumlah pasien  kanker di seluruh dunia terus meningkat signifikan. Penambahan jumlah ini seiring dengan populasi warga dunia yang juga kian bertambah.  Angka kematian karena kanker juga terlihat masih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 185 negara dengan melihat lebih dalam pada 36 jenis kanker, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kanker akan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia pada akhir abad ini jika dibandingkan dengan stroke atau jantung yang di banyak negara semakin menurun.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018  menunjukkan peningkatan prevalensi kanker dan tumor yakni 1,79 per 1000 penduduk dibandingkan tahun 2013 yaitu 1,4 per 1000 penduduk. Angka kejadian kanker di Indonesia terjadi pada 136,6 per 100.000 penduduk, berada pada urutan ke-8 se-Asia Tenggara dan ke-23 di Asia. Untuk jenis kanker yang paling banyak menyerang masyarakat Indonesia berbeda pada tiap jenis kelamin. Untuk laki-laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk.

Kemudian diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk. Sementara angka kejadian perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yakni 42,1 per 100.000 penduduk dan kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk.

Ketua PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) dr Walta Gautama SpB(K)Onk menegaskan kendati angka kejadian kanker payudara tinggi, tapi tingkat kesembuhannya juga tinggi. Bahkan bisa mencapai 90%.

“Tentunya angka kesembuhan itu didapat jika pasien datang berobat pada stadium nol. Semakin tinggi stadiumnya maka semakin banyak pula modalitas terapi yang dibutuhkan dan semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan,” tambah dr Walta, pada acara sosialisasi dini kanker payudara, di ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim,  Samarinda, Jumat (18/10).

Menyikapi hal ini, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) semakin termotivasi untuk lebih giat berupaya mendukung program pemerintah dalam menurunkan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia melalui program kerjanya. Ketua sekaligus pendiri YKPI, Linda Agum Gumelar, mengatakan pihaknya akan terus melakukan sosialisasi pentingnya deteksi dini hingga pelosok tanah air.

Bertepatan dengan Oktober sebagai bulan peduli kanker payudara internasional, lanjut Linda, YKPI menjemput bola kegiatan pengabdian masyarakat dari PERABOI yang dilakukan di Samarinda dan Tenggarong untuk membangun kesadaran masyarakat atas kejadian kanker payudara stadium lanjut.

“Sekaligus mendukung mereka yang tengah berjuang mengalahkan kanker payudara agar tetap semangat dan optimis,” tambah Linda mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu itu penuh semangat.

Linda mengungkapkan kepedulian masyarakat dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Hal ini dirasakan sendiri oleh Linda yang sempat berjuang melawan kanker payudaranya.

“Saya pernah divonis menderita kanker payudara tahun 1996. Tentunya saat itu saya tidak bisa menerima, sedih, marah karena hanya kematian yang terbayang.  Namun, dukungan,  semangat dan rasa sayang  dari keluarga, teman, dan semua orang yang peduli  ternyata dapat menjadi obat paling ampuh dalam menemani masa-masa sulit berjuang melawan kanker dan menjalani semua tahapan pengobatan dokter. Tanpa itu semua, saya tidak akan berada di sini,” kata Linda lagi.

Sejak didirikan pada 19 Agustus 2003, YKPI menurut Linda lebih fokus pada upaya-upaya preventif, salah satunya dengan cara sosialisasi pentingnya deteksi dini kanker payudara melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan mengoperasikan satu-satunya Unit Mobil Mammografi di Indoensia, didukung oleh Tim Medis RS Kanker Dharmais sejak 2015.

Linda menyadari penyebaran informasi tentang kanker payudara di Indonesia belum merata, bahkan masih ada mitos-mitos di kelompok masyarakat yang mendorong maraknya pengobatan non medis. Ada juga sekelompok orang yang masih merasa malu divonis kanker payudara meski baru stadium awal dan memilih mengurung dirinya serta menunda pengobatan medis.

“Hal inilah yang juga memicu angka kejadian kanker payudara stadium lanjut tinggi. Untuk itu ayo lakukan SADARI di rumah secara rutin, caranya bisa dilihat di website atau sosial media YKPI seperti Instagram atau facebook. Dan, segera periksakan ke dokter jika ada kelainan pada payudara. Misalnya terasa ada benjolan atau perubahan pada puting. Karena kanker ini tidak ada gejala dan kita tidak akan merasakan sakit pada awalnya, jadi deteksi dini itu penting,” imbau Linda.

Sebelumnya di RSUD Aji Muhammad Parikesit di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, diselenggarakan pula sosialisasi deteksi kanker payudara dan TOT SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Ketua pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat dr Abdul Rachman SpB(K)Onk mengatakan acara sosialisasi tersebut akan dihadiri 100 peserta perwakilan organisasi dan institusi wanita di Tenggarong.

“PERABOI bekerjasama dengan YKPI berharap agar kegiatan ini nantinya akan terus berlanjut, ditularkan pada ibu-ibu dan organisasi lainnya sehingga informasi tentang kanker payudara akan merata,” ujar ketua bidang pengabdian masyarakat PERABOI tersebut.

Read more...

YKPI Ajak Masyarakat Lebih Peduli Deteksi Dini

Jakarta, – Bulan peduli kanker payudara diperingati di seluruh dunia setiap bulan Oktober. Sebagai organisasi nirlaba, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) memperingatinya dengan pelbagai kegiatan. Salah satunya menggelar Pita Pink Fun Walk di kawasan car free day Sudirman Jakarta (Minggu, 13/10).

Kegiatan  ini dikatakan Ketua sekaligus Pendiri YKPI Linda Agum Gumelar, bertujuan untuk meningkatkan perhatian dan dukungan akan kesadaran pentingnya deteksi dini kanker payudara, utamakan pengobatan serta perawatan paliatif, sekaligus wujud dukungan kepada para pejuang kanker payudara yang tengah melakukan pengobatan agar terus bersemangat mengalahkan kanker.

“Saya mengajak masyarakat lebih peduli tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara. Jangan menyerah untuk terus memberikan dukungan kepada para penyintas kanker payudara. Mari bersama-sama menyebarkan semangat berjuang kepada teman-teman untuk melawan kanker payudara. Tidak seharusnya para pejuang kanker menghadapi hal ini seorang diri,” kata Linda yang pernah divonis kanker payudara pada 1996.

Ancaman kanker di Indonesia semakin meningkat seiiring dengan perubahan pola hidup masyarakat. Menurut organisasi  kesehatan dunia (WHO) setiap tahunya sekitar 1,7 juta kasus kanker baru dilaporkan terjadi di kawasan Asia Tenggara dengan angka kematian  Sekitar 1,1 juta orang. Kendati demikian kanker dapat dicegah dengan gaya hidup dan pola makan yang benar. Bahkan kanker seperti kanker payudara dapat disembuhkan jika terdeteksi secara dini dan dirawat secara memadai.

Untuk itu, dikatakan Linda, YKPI akan terus berupaya melakukan program sosialisasi pentingnya deteksi dini hingga pelosok tanah air, melalui SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis), bukan hanya untuk kaum perempuan melainkan juga lelaki.

SADARI tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu itu dapat dilakukan di rumah secara rutin, hanya dengan menggunakan tangan dan penglihatan untuk memeriksa apakah ada perubahan fisik pada payudara. Proses ini dilakukan agar semua perubahan yang mengarah pada kondisi yang lebih serius dapat segera ditangani. “Jika ada yang merasa aneh langsung periksakan ke dokter, jangan menunda pengobatan klinis, jangan menunda stadium lanjut untuk berobat, agar kemungkinan sembuhnya besar,” tambah Linda.

Melalui kegiatan Fun Walk yang diikuti ratusan penyintas kanker payudara ini, diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk peduli terhadap dirinya, keluarganya dan lingkungannya  dengan melakukan SADARI. “Yuk ajak keluarga kita, teman, kerabat dan orang-orang di lingkungan terdekat kita untuk SADARI.  Caranya mudah, sudah sering kita sosialisasikan di media sosial YKPI seperti facebook, Instagram atau website.  Dan jangan menunda periksa ke dokter jika merasakan kejanggalan seperti ada benjolan di payudara atau merasakan sakit,” ajak Linda lagi.

Sementara itu berdasarkan data dari RS Kanker Dharmais (RSKD) sebagai pusat rujukan kanker nasional mencatat 56% pasien kanker yang ditangani adalah pasien kanker payudara. Lebih lanjut  ahli bedah onkologi RSKD dr Walta Gautama Sp.B (K) Onk, mengungkapkan banyak sekali pasien yang datang berobat saat  stadium kanker payudaranya sudah mencapai stadium 3 atau 4.

“Banyak faktor kenapa pasien kanker payudara telat berobat. Selain pengetahuan soal deteksi dini yang masih belum merata, mereka mayoritas mengaku tidak merasakan apa-apa meskipun ada benjolan yang kecil sehingga menunda pengobatan. Memang tidak akan merasa sakit pada awalnya. Tapi bukan berarti harus ke dokter saat sakit.  Kebanyakan dari mereka juga merasa takut atau malu jika terdiagnosis kanker payudara. Dan, masalah ekonomi juga, karena pengobatan kanker tidaklah murah,” ujar dr Walta yang juga Ketua PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia).

Arena Car Free Day di bilangan Sudirman itu juga dimeriahkan dengan aksi gemas penyintas kanker payudara memeluk boneka beruang pink sumbangan dari Double Tree By Hilton Jakarta. Dikatakan Nils-Arne Schroeder, GM Double Tree by Hilton Hotel, boneka beruang pink itu simbol kepedulian dan simpati akan para pejuang kanker payudara di Indonesia. “Sebagai salah satu perusahaan perhotelan terbesar di dunia, kami selalu bertujuan memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekitar. Dalam bulan kanker payudara ini, penting bagi kami untuk berperan dalam menaikkan kesadaran masyarakat melalui serangkaian aksi sosial. Dengan mendedikasikan waktu dan energi kami untuk berbagai kegiatan dan mengumpulkan Tim Member serta masyarakat untuk tujuan bersama, hal ini merupakan bentuk dukungan kami untuk para penyitas dan pasien kanker payudara,” sambung Niels.

Niels juga mengajak masyarakat menunjukkan kepeduliannya dengan posting momen bersama Boneka Beruang Pink ke akun instagram, facebook atau media sosial lainnya dengan menggunakan tagar #DoubleTreePinkMonth dan #DoubleTreexYKPI.

Read more...

Bangun Kesadaran Masyarakat Kurangi Kejadian Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta – Untuk ketiga kalinya Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pimpinan Linda Agum Gumelar bekerjasama dengan Double Tree Hotel by Hilton Jakarta menyelenggarakan Pink Ribbon Gala Dinner, Kamis (10/10). Kegiatan dalam rangka bulan peduli kanker payudara internasional ini bertujuan untuk mendukung mereka yang tengah berjuang mengalahkan kanker payudara dan pentingnya membangun kesadaran masyarakat atas kejadian kanker payudara stadium lanjut.

Linda menegaskan kepedulian masyarakat dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Berdasarkan data dari RS Kanker Dharmais (RSKD) sebagai Pusat Rujukan Kanker Nasional diketahui bahwa 56% pasien yang ditangani oleh RSKD adalah pasien kanker payudara. “Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan dan semakin mengusik serta memotivasi kami YKPI untuk semakin bekerja menurunkan angkat kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia,” kata Linda penuh semangat.

YKPI, ditambahkan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu itu, kini  fokus pada upaya-upaya preventif. Menurutnya jika pasien kanker payudara ditemukan pada stadium awal maka angka harapan hidupnya akan lebih tinggi jika dibangdingkan dengan pasien yang didiagnosis stadium lanjut.

Lebih lanjut Linda menjelaskan pengobatan penyakit mematikan ini memang tidak murah. Melalui pelbagai program YKPI yang dipimpinnya, Linda memaparkan upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut dengan sosialisasi deteksi dini melalui SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) ke beberapa daerah hingga ke pelosok tanah air. “Ternyata penyebaran informasi tentang kanker payudara di Indonesia belum merata, bahkan masih ada mitos-mitos di kelompok masyarakat yang mendorong maraknya pengobatan non medis. Ada juga sekelompok orang yang masih merasa malu divonis kanker payudara meski baru stadium awal dan memilih menunda pengobatan medis,” ungkap Linda.

Sebagai organisasi nirlaba, dikatakan Linda, YKPI harus bekerja keras untuk dapat memenuhi biaya operasional program-programnya. Sejak tahun 2015 YKPI juga mengoperasikan Unit Mobl Mammografi (UMM) didukung oleh Tim Medis RSKD. UMM YKPI ini adalah mobil mammografi pertama dan satu-satunya di Indonesia. Hingga April 2019 sebanyak 13.214 orang telah melakukan mamografi di UMM dengan hasil 1.973 (14,8%) orang diketahui memiliki tumor jinak dan 203 orang  (1,5%) memiliki tumor ganas. Mereka yang diduga memiliki tumor langsung dirujuk melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut di rumah sakit, agar kankernya dapat segera tertangani secara klinis.

Program lain YKPI adalah pengelolaan Rumah Singgah YKPI bagi pasien BPJS kelas II, di kawasan Anggrek Nelly Murni Slipi, Jakarta Barat,  dan  pelatihan pendamping pasien kanker. Belum lama ini YKPI  kembali menyelenggarakan pelatihan tersebut, tercatat total 310 pendamping selama 5 tahun pelatihan  telah bersertifikat international dari TÜV Rheinland. Para pendamping ini nantinya akan membantu pasien dan keluarganya untuk lebih memahami cara menghadapi kondisi pasien yang emosinya tidak stabil agar terus semangat melakukan rangkaian pengobatan medis.

Di tingkat Internasional, YKPI aktif sebagai anggota Reach to Recovery International (RRI) dan Union for International Cancer Control (UICC), sebuah organisasi terkemuka berbasis di Jenewa, Swiss dengan jaringan masyarakat sipil global yang mewakili hampir 2.000 organisasi di 170 negara.

Kedepan, YKPI berencana mewujudkan adanya mobil kemoterapi sebagai upaya jemput bola dengan cara mendatangai pasien rawat jalan yang harus melakukan kemoterapi. Mobil kemoterapi ini diharapkan dapat mengoptimalkan pelayanan guna mempersingkat antrean, mengingat per harinya terdapat sekitar 150-200 pasien yang dikemoterapi. Tentunya SOP mobil kemoterapi ini akan diatur oleh tim medis RSKD.  Sebagai informasi tambahan pada Juli 2020, YKPI akan bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaran South East Asia Breast Cancer Symphosium yang akan diikuti sekitar 250 peserta dari seluruh negara di  dari dalam dan luar negeri.

YKPI menyadari upaya pencegahan dan pengendalian kanker payudara di Indonesia, perlu dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu, tambah Linda, YKPI yang didirikanya pada 19 Agustus 2003 bersama para penyintas lainnya seperti artis senior Rima Melati, Tati Hendropriyono, Andy  Endriartono Sutarto dan ahli onkologi dr Sutjipto (Alm) selalu mendukung program pemerintah dan menggandeng pelbagai pihak dalam menjalankan programnya termasuk pihak swasta.

Acara yang dimeriahkan oleh penyanyi Gleen Fredly ini dihadiri dari pelbagai kalangan yang berpartisipasi dalam donasi untuk program YKPI termasuk penyintas kanker payudara. “Saya dan beberapa teman yang hadir disini adalah bagian dari survivors kanker payudara. Tahun 1996 saya pernah divonis menderita kanker payudara. Tentunya saat itu saya tidak bisa menerima, sedih, marah karena hanya kematian yang terbayang.  Namun, dukungan,  semangat dan rasa sayang  dari keluarga, teman, dan semua orang yang peduli  ternyata dapat menjadi obat paling ampuh dalam menemani masa-masa sulit berjuang melawan kanker dan menjalani semua tahapan pengobatan dokter. Tanpa itu semua, saya tidak akan berada di sini malam ini,” kata Linda lagi seraya berterima kasih untuk semua bentuk kepedulian dan donasi yang diberikan melalui YKPI.

“Uluran bantuan Bapak Ibu sungguh sangat bermanfaat bagi upaya menekan kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia yang artinya juga turut menyelamatkan nyawa banyak orang khususnya kaum perempuan, dan juga laki-laki yang didiagnosis kanker payudara,”  tambah Linda lagi.

Hal senada juga dikatakan Nils-Arne Schroeder, regional general manager of Indonesia & Timor Leste and general manager, DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro mengatakan dalam bulan kanker payudara ini, penting bagi jajarannya untuk berperan dalam menaikkan kesadaran masyarakat melalui serangkaian aksi sosial. “Dengan mendedikasikan waktu dan energi kami untuk kegiatan dan mengumpulkan Tim Member serta masyarakat untuk tujuan bersama, hal ini merupakan bentuk dukungan kami untuk para penyitas dan pasien kanker payudara,” Katanya.

Read more...