70-80% Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Berisiko Metastasis

70-80% Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Berisiko Metastasis

Pasien kanker payudara stadium lanjut berisiko mengalami penyebaran sel-sel kanker (metastasis) ke tulang. Menurut dokter spesialis bedah onkologi , dr Walta Gautama berdasarkan data pada 2017 menunjukkan sekitar 70-80 persen pasien kanker payudara stadium lanjut 2B ke atas berisiko mengalami penyebaran sel kanker ke tulang.

Lebih lanjut Walta memaparkan bahwa tulang merupakan jaringan yang disukai sel-sel kanker untuk tumbuh. Awalnya, sel-sel kanker dari payudara ini menyebar lewat pembuluh darah lalu masuk ke jaringan tulang. Kemudian, jaringan tulang akan merespons dengan mengeluarkan zat-zat yang mendukung pertumbuhan sel-sel kanker.

“Begitu sel kanker dari payudara itu masuk ke tulang akan membuat sel-sel kanker aktif lagi,” katanya ketika ditemui Jurnas.Com seusai presentasi masalah Limfoma di Temu Penyintas Kanker Payudara YKPI belum lama ini.

Walta juga menjelaskan jika Mestasis ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan struktur tulang. Salah satu gejala adanya sel kanker di tulang, tambah dokter yang prakter di RS Dharmais ini adalah timbulnya rasa nyeri terus-menerus bahkan patah tulang. “Biasanya target yang disasar sering terjadi di tulang punggung baru disusul dengan rusuk, panggul, dan tulang-tulang panjang,” kata Walta lagi.

Itulah sebabnya, penyintas kanker payudara asal Medan, Hilmasari harus menjalani kemoterapi pada bagian tulangnya setelah menjalani pengobatan total pada kanker payudaranya. “Saya terdekteksi kanker payudara pada 2011. Langsung stadium 2. Waktu itu kalau dapat haid nyeri terus pas diraba kok ada benjolan,” kenangnya.

Perempuan aktif yang saat pertama kali divonis kanker saat usia 40 tahun ini akhirnya memutuskan untuk mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Lima tahun kemudian, Hilmasari tak menyangka jika kankernya mestasis ke bagian tulang belakangnya. “Setelah bersih kanker payudara saya kemo lagi untuk tulang di tahun 2016. Sakitnya luar biasa, saya gak bisa solat, makan juga gak bisa bisa masuk mulut. Sangat menderita,” jelas Himasari lagi yang mengaku pernah berada di posisi terendah dalam hidupnya akibat kesakitan.

Jika saja tidak ada dukungan dari keluarga atau teman kerja, Hilmasari mengungkapkan dirinya pasti sudah menyerah. “Tapi saya berusaha untuk yakin kalau penyakitnya akan sembuh, dan kematian itu soal waktu dari Tuhan bukan karena penyakit,” tegasnya berapi-api.

Kini, Hilmasari terus berupaya agar tidak ditemukan lagi sel kanker  menghindari stress, berpola hidup sehat dan selalu berpikiran positif. “Jangan stress, hindari makanan yang mengandung penyedap rasa, pewarna atau pengawet dan pastikan selalu happy. Pokoknya jangan stress. Semangat ya teman-teman sependeritaan,” pungkasnya menyemangati para penyintas yang ditemuinya agar tidak bernasib sama denganya.

Share this post