Jakarta, Media Indonesia – Penemuan khasiat akar bajakah yang dianggap berpotensi sebagai antikanker masih harus diikuti dengan riset lanjutan hingga menjadi terapi yang sesuai standar.

Saat ini, penggunaan bajakah tidak bisa disebut sebagai obat kanker karena belum teruji secara klinis. Demikian disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Bedah Onkologi Indonesia dr. Walta Gautama SpB(K) Onk dalam acara Sarasehan Dwi Windu Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta, Kamis (22/8).

Penemuan obat dari tumbuhan, kata dia, harus dimulai dengan penelitian senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman tersebut. Setelah diketahui, kemudian dilakukan uji coba pada media tanam di laboratorium untuk mengetahui sejauh mana dan dengan mekanisme seperti apa aktivitas senyawa tersebut bisa mematikan sel kanker. Setelah itu diujicobakan pada binatang kecil seperti tikus dan bertahap pada binatang lebih besar, contohnya kera.

“Selain itu, harus diketahui juga efek penyerapannya di dalam darah, efek terhadap organ seperti ginjal seperti apa, dengan penyesuaian dosis. Setelah diuji coba pada binatang harus melalui uji klinis pada manusia. Jadi tidak mudah membuat obat kanker,” paparnya.

Ia mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam menyikapi berita mengenai akar Bajakah yang diklaim bisa menyembuhkan kanker payudara. dr. Walta mengingatkan pada saat buah merah ditemukan, antusiasme masyarakat terhadap buah tersebut sangat tinggi. Namun, dampak dari itu, banyak pasien kanker yang menunda pengobatan medis yang sudah terstandar, lalu mencari terapi alternatif.

“Pasien mencoba mencari terapi lain, tapi dampaknya stadiumnya lebih berat ketika datang lagi ke dokter. Yang tadinya stadium satu atau dua masih sangat ideal untuk terapi datang ke dokter stadium empat,” imbuhnya.

Pilihan penggunaan terapi selain medis, tuturnya, menjadi hak dari pasien. Meski demikian, dr. Walta sangat menyarankan agar apabila pasien kanker ingin mencoba terapi alternatif, jangan meninggalkan terapi medis. Ia juga mendorong agar pemerintah atau sektor swasta bisa memfasilitasi agar penemuan awal mengenai Bajakah bisa diteliti lebih lanjut.

“Kami sangat mengapresiasi pada para murid-murid SMA yang telah meneliti antioksidan dari Bajakah,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Gumelar menyampaikan pada komunitas penyintas kanker bahwa terapi medis tetap harus dilakukan.

Sebagai peyintas kanker payudara berdasarkan pengalamannya, Linda menyarankan apabila pasien kanker payudara ingin mencoba terapi lain seperti tanaman Bajakah, pasien sebaiknya mengonsultasikan dengan dokter agar sinkron dengan obat-obatan yang diberikan oleh dokter.

Share this post