YKPI Undang Jurnalis Perempuan Lakukan Pemeriksaan Payudara

YKPI Undang Jurnalis Perempuan Lakukan Pemeriksaan Payudara

JAKARTA, ITN- KANKER payudara menempati posisi nomor satu dari 10 kanker terbanyak, lebih tinggi di atas kanker serviks. Saat ini kanker payudara dapat menyerang siapa saja, bahkan pada perempuan muda dengan faktor risiko rendah.

Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan melalui periksa payudara sendiri (Sadari) atau periksa payudara secara klinis (Sadanis) artinya periksa dengan orang yang terlatih, setelah mendapat ceritanya lalu periksa ke dokter, atau melalui pemeriksaan mamografi.

Memperingati Hari Kanker Internasional pada 4 Februari, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan pemeriksaan mamografi gratis di kediaman Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar pada Jumat (2/2/18).

“Ada banyak kegiatan yang diselenggarakan YKPI di bulan Februari, diantaranya pemeriksaan mamografi gratis, dan tahun ini kami mengundang rekan-rekan media dikarenakan ditemukan ada beberapa kasus dari rekan media yang terdiagnosa kanker payudara,” ujar Linda Agum Gumelar.

Linda mengatakan, “Saya tahu kehidupan jurnalis yang sangat padat dan berkejaran dengan waktu, mungkin tidak punya waktu melakukan pemeriksaan sehingga dengan kegiatan ini kami berharap walaupun sedikit dapat membantu kesehatan rekan-rekan jurnalis”.

“Melalui kegiatan ini sekaligus bisa sosialisasi tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara yang bisa dibantu rekan-rekan jurnalis untuk disampaikan melalui media masing-masing, juga kepada keluarga dan teman-temannya,” ungkapnya.

Kegiatan mamografi menurutnya dilakukan secara rutin setiap minggu. YKPI setiap tahunnya telah memiliki jadwal bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Puskesmas di Jakarta.

“Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu kami juga mendatangi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan dengan gratis, dan ada juga program permintaan dari swasta dan lain-lainnya yang tentunya ada biayanya namun lebih ringan dibandingkan dengan bayar pemeriksaan mamografi 50 orang pergi ke tempat pemeriksaan rumah sakit, ini jauh lebih murah,” ungkapnya.

Seluruh kegiatan mobil mamografi kami ini menurutnya bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, karena tenaga kedokterannya maupun tenaga perawatnya serta radiolognya dari rumah sakit tersebut. “Perlu waktu dua minggu paling lama untuk menunggu hasilnya,  lalu kami informasikan kepada teman-teman yang melakukan pemeriksaan langsung. Apakah ada tindak lanjut atau tidak ada masalah,” jelas Linda.

Data Mamografi UMM-YKPI menyebutkan pada Januari – Desember 2017 jumlah pasien yang diperiksa sebanyak 3.160 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 472 orang (15%) terkena tumor jinak dan 44 orang (1,4%) memiliki hasil curiga ganas.

“Di Indonesia informasi tentang Sadari masih kurang, seperti masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah kepulauan dan di daerah-daerah terpencil. Ada juga yang sudah tahu tetapi tidak melakukan, ini juga persoalan lain lagi. Mereka menganggap ini penyakit orangtua,” ungkapnya.

Lebih lanjut Linda mengatakan, “Saat ini sudah ada dokter yang bergabung dalam yayasan kami yang mendapatkan pasien di usia muda. Ada yang usianya 17 tahun, artinya  dengan perubahan gaya hidup ada kecenderungan walaupun pada umumnya masih di usia 30-an”.

Untuk pemeriksaan mamografi menurutnya di usia 36-40 tahun ke atas. “Tetapi kami memakai patokan usia 36 tahun, nanti kami akan lihat lagi dan akan dikoordinasikan kembali dengan Rumah Sakit Dharmais atau Persatuan Radiolog. Kalau usia masih muda dibawah 36 tahun cenderung jaringan payudaranya masih padat sehingga sulit untuk di deteksi secara awal dengan mamografi dimana mamografi juga pakai sinar, sebaiknya bisa dilakukan melalui Sadari, Sadanis atau melalui USG,” ujarnya.

USG menurutnya bukan alat screening, baru melihat saja. Untuk kepastiannya memang harus melalui mamografi dan ebaiknya pemeriksaan mamografi dilakukan dua tahun sekali.

YKPI merupakan yayasan nirlaba yang didirikan oleh survivors kanker payudara, dokter bedah onkology, dan relawan peduli kanker payudara, dengan visi misi Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut tahun 2030. Dideklarasikan pada seminar Nasional tahun 2015 dengan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi).

Pemeriksaan awal dilakukan oleh dokter Martha. Dilanjutkan dengan pemeriksaan mamografi di sebuah bus (Mobil Mamografi). Ternyata tidak perlu takut melakukan mamografi, prosesnya cepat, tidak sakit, dan hasilnya akurat.

Pada kesempatan yang sama dokter Martha mengatakan, “Mengapa Sadari harus dilakukan? Karena Sadari merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara. Pemeriksaan ini dilakukan sendiri oleh pasien setiap bulan. Bagi wanita yang masih haid, pemeriksaan dilakukan setelah selesai haid”.

“Bila sudah monopause Sadari dilakukan setiap tanggal tertentu yang mudah diingat, misalnya setiap tanggal 1 atau setiap tanggal kelahiran,” ujarnya lebih lanjut.

Menurutnya pada saat melakukan Sadari yang harus diperhatikan, antara lain bila terasa benjolan, penebalan kulit, perubahan ukuran dan bentuk payudara, pengerutan kulit, keluar cairan dari puting susu, nyeri, pembengkakan lengan atas, dan teraba benjolan di ketiak atau di leher.

“Jika ditemukan kelainan-kelainan seperti hal  tersebut atau terasa ada perubahan dibandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tutup dokter Martha.

Referensi: https://indonesiatripnews.com/popular/ykpi-undang-jurnalis-perempuan-lakukan-pemeriksaan-payudara/

Share this post