Ucapan Anak Membuat Saya Ingin Sembuh

Saya, Maylania, kini menginjak usia 43 tahun. Saya ingat sekali di pagi hari tanggal 28 September 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun anak pertama saya, saya divonis menderita kanker payudara di bagian kanan. Masih dalam keadaan shock, saya menolak untuk percaya. Saya merasa ada keluhan di bagian kiri, kenapa payudara kanan saya yang ada pengapuran? Pasti dokternya salah. Payudara kiri saya hanya terdapat benjolan yang boleh diambil atau tidak. Saya merasa tidak mungkin. Namun, setelah saya cek di tempat lain, diagnosanya tetap sama. Saya kanker payudara bagian kanan.

Sore harinya, saya mendatangi acara ulang tahun anak saya yang ke 7 tahun. Saya hanya terduduk di pojok ruangan. Teman-teman anak saya satu per satu mulai berdatangan bersama mama-nya. Saya menangis mengingat bahwa anak saya sebentar lagi akan kehilangan saya sebagai mama-nya. Bagaimana nanti di ulang tahunnya yang ke 8 atau ke 9? Saya tidak lagi bisa hadir mendampinginya. Lalu nanti kalau temannya ulang tahun, siapa yang akan menemaninya ke acara ulang tahun temannya? Saya menatap anak saya yang sedang bahagia bersama papanya. Saya tidak tega membayangkan anak saya sedih ketika saya tidak ada nanti.Hanya semua itu yang ada di pikiran saya. Kalau kanker, ya sudah pasti akan meninggal. Tidak ada harapan untuk bisa sembuh.

Puji Tuhan, operasi saya berjalan lancar. Sebulan setelah operasi, saya menjalani kemoterapi selama 6 kali setiap seminggu sekali. Rambut saya perlahan mulai rontok. Anak saya yang selalu mengambil helai-helai rambut saya yang bertebaran di lantai. Saya menatap cermin, rambut saya mulai menipis. Saya terlihat sakit dan lemah. Daripada terus-terusan melihat rambut saya jatuh dari kepala saya, saya mengambil keputusan untuk mencukur habis semua rambut yang tumbuh di kepala saya.

Dukungan terus diberikan oleh keluarga, teman, dan tetangga. Mereka selalu memberi semangat kepada saya selama proses kemoterapi yang sangat menyiksa. Mereka juga terus mengingatkan saya untuk minum obat terapi hormon setiap hari selama sepuluh tahun. Namun, sumber kekuatan yang paling utama muncul dari anak saya yang berusia 2 tahun saat itu. Saya tidak mau makan asupan nutrisi yang dianjurkan oleh dokter. Saya harus makan makanan seperti putih telur dan sari ikan kutuk. Rasanya yangtidak enak dan baunya yang amis membuat saya mual. Tapi kala itu, ia memberikan makananannya kepada saya seraya berucap, “Ayo Ma, kita minum bareng.”

Saya pun menahannya, “Jangan, Nak. Rasanya tidak enak.” Namun anakku tetap memaksa untuk ikut makan, “Mama makan, aku juga makan. Ayo kita makan ini bersama supaya mama tidak sendirian.” Saya langsung tersentak, betapa inginnya anak saya ingin saya sembuh sampai dia ingin ikut merasakan pahitnya makanan itu. Saya langsung merasakan kekuatan untuk melawan penyakit kanker ini. Saya ingin berjuang agar bisa sembuh dan terus bisa bersama anak-anak saya.
Saat saya operasi, saya dikunjungi oleh Ibu Theresia, ketua RRS (Reach to Recovery Surabaya). Saya ikut bergabung dengan komunitas itu setelahnya. Saya ingin menularkan rasa semangat saya kepada orang lain yang juga sedang sakit atau yang sedang kemoterapi. Seperti acara yang diadakan YKPI ini, penting untuk bertemu dengan sesama survivor dan yang sedang mengalami kanker payudara. Kita bisa saling berbagi dan menguatkan diri. Saya menjadi sadar bahwa saya tidak sendiri, saya memiliki banyak saudara yang mengalami hal yang sama. Kita harus semangat dan kuat melawan kanker payudara. Kita tidak sendirian.

Penulis: Riska Lenggogini/Team PR & Media YKPI

Share this post