Tuhan Memberikan Kado Terindah Dalam Hidup Ku

Tetap mengucap syukur pada Tuhan atas apa yg terjadi dalam kehidupanku…

Pravita tidak pernah menyangka pada hari ulang tahun ada kado terindah yang diterimamya, yaitu bahwa ia terdiagnosa kanker payudara. Kaget, sedih, kecewa,senang, bersyukur semua perasaan bercampur jadi satu. Kaget karena ia tidak pernah menyangka Tuhan memberikan kado ini saat berulang tahun. Sedih karena sebagai manusia ia mempunyai perasaan mengapa Tuhan memilihnya untuk menerima penyakit ini yg konon kata banyak orang penyakit yang menyeramkan. Kecewa karena teman-teman pergi menjauh. Senang karena orang terdekat menjadi semakin perhatian. Bersyukur karena dibalik penyakit ini, Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah.
Usai didiagnosa kanker payudara, wanita yang akrab disapa Vita ini langsung memulai pengobatan dan kemoterapi. Setelah kemoterapi pertama dan kedua, ia merasa rambutnya mulai rontok sedikit demi sedikit. “Awalnya rontoknya sedikit, sekali kita pegang ya rontoknya lumayan juga. Tapi karena banyak anak-anak jadi saya gundulin saja langsung benar-benar botak, dan jujur, saya tidak merasa malu ataupun terkucilkan” ungkap wanita 4 anak ini kepada tim PR YKPI.

Menjalani kemoterapi memang sakit tetapi sakit itu akan tergantikan dengan semangat kita melihat orang yang kita sayangi tersenyum.  Anak-anak yang masih kecil menjadi pemicu semangatnya untuk sembuh dari rasa sakit itu. Ia masih punya tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya, apalagi kala itu anaknya yang terkecil, si kembar Aiko dan Eiko baru berusia dua tahun. Mereka belum mengerti mengenai penyakit ini, mengenai apa kanker itu sebenarnya. “Si kembar masih dua tahun jadi dia cuma bilang ‘ih mama botak’, dia masih belum tau sakit atau apa. Tapi anak saya yang paling besar mungkin sudah tau, dan di sekolahnya menjadi bahan pembicaraan teman-temannya” cerita Vita. Dan kemudian ia menjawab “Biarkan saja orang berbicara apa tentang mama yang terpenting adalah apapun yg terjadi pada mama, kamu tetap anak mama dan mama tetap mama kamu, nak.”.

Lima bulan berselang, tepatnya bulan Januari 2015 Vita dioperasi di salah satu rumah sakit di Malaysia. Awalnya ia sempat shock  karena mendengar bahwa payudaranya akan diangkat semuanya. Namun dokter meyakinkannya bahwa dengan enam kali kemoterapi yang sudah dilakukan, benjolan tersebut dibuat mengecil terlebih dahulu kemudian diangkat. Dukungan suami pun memberikan kekuatan bagi Vita untuk menjalankan operasi. “Suami terus support, yang penting bisa sembuh, bisa tetap mengurus anak-anak, dan bisa berkarya,” ujar wanita kelahiran 8 Agustus 1983 ini.

Bergabung dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada Oktober 2015, Vita ingin mengajak semua orang, khususnya wanita-wanita yang didiagnosa kanker payudara, untuk mau membuka diri. Walaupun mengidap kanker, mereka juga layak untuk bergabung dengan orang-orang sehat. Kanker bukan penyakit menular, justru dengan semangat hidup yang luar biasa, kanker itu bisa hilang. Jangan pernah menutup diri dan merasa malu. “Tidak masalah, namanya semua orang hidup itu pasti ada sakit ada senang ada susah. Jadi kalau orang mau bilang apa kita biarkan saja, cuek saja mereka mau berbicara apa. Justru ketika kita sudah fight, sudah sembuh, mereka akan melihat bahwa ternyata kanker itu  bisa diobati,” kata Vita.

Di acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia pada 1 Oktober 2016 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Vita hadir didampingi lengkap dengan suami dan keempat anaknya. Bahkan alunan lagu dari anaknya sikembar yang dipersembahkan untuk mama dan para Penyintas membuat banyak orang yang hadir larut terharu bangga akan keharmonisan keluarga Vita.
Pengalaman yang ia rasakan meskipun terlihat sebagai wanita yang penuh semangat, sebagai manusia biasa ada kalanya Vita merasa terpuruk. Terutama ketika saat di kamar sendiri ia kerap bertanya ‘Kenapa harus saya, Tuhan? Saya salah apa?’ dan teman-teman mulai menjauh. “Justru kita tau mana sobat yang baik dan tidak, peran orang terdekat dan keluarga juga sangat penting disitu, harus bisa memahami dan mengerti betul. Terutama usai kemoterapi jadi sangat sensitif seperti anak kecil yang ingin diperhatikan,” aku Vita.

“Saat obat kemo diinjeksikan dari kulit terluar masuk ke dalam terasa dingin dan  menjalar dari tangan kanan saya naik sampai ke daerah kepala dan turun ke ke daerah perut sampai disitulah saya langsung merasa tidak nyaman gelisah, mual, dan saya pun meneteskan air mata untuk menahan ketidak nyamanan itu.  Namun demikian, tidak usah takut dengan kemo karena itu hanya efek sementara di dalam tubuh. Tetap berdoa dan meminta kekuatan kepada Tuhan mungkin ada rencana baik yang diberikan Tuhan dibalik penyakit yang saya derita,” tambah Vita sembari mengenang saat-saat ia berjuang melawan penyakitnya.

Vita juga mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami masa kritis usai kemoterapi ketiga. Suhu tubuhnya mencapai 41 derajat celcius, jumlah sel darah merah dan sel darah putihnya juga menurun hingga dilakukan transfusi darah. “Kuasa Tuhan bekerja dalam diri saya, dan kini saatnya saya untuk membantu dan men-support teman-teman lainnya lewat sharing pengalaman supaya mereka terus berjuang. Fight!” tegas Vita.

Penulis: Mathilda Liliana P/Team PR & Media YKPI

Share this post