“Tuhan, kenapa harus kakakku?”

“Tuhan, kenapa harus kakakku?”

Aku sadar kami hanyalah makhluk kecil dimatamu tuhan..

Aku sadar kami hanya manusia tak berdaya dihadapmu Tuhan..

Tapi kenapa ini menimpa keluarga kami?Kenapa harus kakakku yang kau titipi penyakit seberat ini?

Inilah aku, Harty Triasfasta Hohu yang akan menceritakan kisah kakakku yang kuat…

Yesa, nama itu terdengar indah ditelingaku, bagiku nama panggilan dari kakaku yang bernama lengkap Yesaya Fermindi Hohu itu adalah nama malaikat yang ada dihidupku. Yesa, ya dia adalah kakaku yang dilahirkan di Lampung pada 1 Agustus 1980 adalah seorang yang kuat, tegar dan tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.Seperti biasa, kami hidup layaknya keluarga lain, bahagia seperti adanya.Tidak ada kata sedih, tidak ada tangis, dan juga tidak ada rasa cemas hinggap dikeluarga kami.

Hingga akhirnya 2 tahun lalu, Yesa kakaku yang paling kusayang tiba-tiba merasakan sakit yang teramat dibagian pinggangnya. Kami tidak menaruh curiga akan sakit yang dirasakan oleh kakakku. “Ka, kaka baik baik saja?” tanyakku kepada Yesa. Dengan senyuman khas nya dia hanya mengaku kalau itu hanya sakit biasa, dan dia berpesan agar tidak menghawatirkan dirinya.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya sakit yang pernah dirasakannya itu muncul kembali, dan ini lebih parah dibandingkan sakit yang dirasakan sebelumnya. Kakaku tidak bisa jalan! Kenapa ini Tuhan?Apa yang terjadi oleh kakakku?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak  kakaku Yesa untuk menggunakan cara tradisional untuk pergi ke ahli pijat karena kami beranggapan bahwa ini hanya sakit yang muncul dari syarafnya, akan tetapi perhitungan kami salah, sepulangnya dari tempat itu bukan sembuh yang dirasakan, akan tetapi bertambah parah, kakaku merasakan sakit yang berlebih. Karena itu kakaku memutuskan untuk membuat kartu kesehatan dan berencana untuk memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit di daerah Tangerang.

Dan pada hari itu kami pun berangkat ke Rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kami tidak mengerti apa yang dikatakan dokter terhadap kondisi Yesa, Dokter berkata kenapa Yesa datang dalam keadaan “penuh” yang sesungguhnya kami tidak tahu arti dari kata yang dikatakan oleh dokter.

Akhirnya Yesa memberanikan diri untuk bertanya ke Dokter apa yang dimaksudkan dengan ”Penuh” ? Maksud Dokter apa?” Tanya Yesa dalam keadaan bingung.Tanpa menjelaskan lebih, Dokter hanya berkata bahwa kami harus datang besok pagi dalam keadaan Yesa sedang berpuasa untuk melakukan Biopsi.

Kami orang awam, kami bukan lulusan Dokter, kami bingung untuk apa tindakan Biopsi yang dilakukan oleh Dokter untuk kakakku Yesa. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan juga memutuskan untuk datang lagi ke Rumah Sakit sesuai dengan apa yang dikatakan Dokter kepada kami.

Keesokan harinya operasi pun dilakukan oleh tim dokter untuk Yesa, Dokter pun keluar dari kamar Operasi. Akupun bertanya kepada dokter bagaimana hasil dari operasi yang telah dilakukan, apakah berhasil? Dengan senyum dokter hanya berkata, “operasi hari ini lancar, akan tetapi belum terangkat semua”. “Terangkat semua?” aku semakin tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi, sakit apa yang diindap oleh kakakku Yesa sehingga dokter mengatakan ini belum semua keangkat?. Setelah itu dokter memberikanku sebuah plastik dan berkata untuk membawa bungkusan itu ke Rumah sakit Umum Tangerang untuk diperiksa lebih lanjut. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung bergegas menuju Rumah Sakit Tangerang, sesampainya disana pihak Rumah Sakit mengatakan bahwa hasilnya akan keluar 14 hari kemudian.

Empat belas hari kemudian, hasil dari Rumah Sakit pun keluar, hasil yang diberikan langsung aku bawa ke pihak Dokter yang mengoperasi Yesa 2 minggu lalu. Dan hari ini pun tiba! Aku dan Yesa mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Dokter, mendengarkan sesungguhnya apa yang terjadi. Dokter tanpa basa basi mengatakan bahwa penyakit yang diindap kakakku Yesa adalah kanker, kanker ganas yang sudah menggerogoti sebagian dari badannya.Kanker? Kanker apa? Ya aku tau kanker! Tapi, Bukankah kanker itu penyakit yang mematikan? Kanker itu ada didalam tubuh kakakku? Kenapa harus Yesa? Kenapa harus ada didalam tubuh yang kuat itu? Kenapa Tuhan, kenapa?..

Aku terkejut! Dan aku tahu kalo Yesa juga tekejut..

Aku sedih! Dan aku tahu Yesa juga sedih..

Aku tahu Yesa berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan rasa sedih dan pedihnya mendengar apa yang dikatakan Dokter. Melihat Yesa berusaha untuk menutup kesedihannya, aku pun berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihku.Aku sadar mataku sudah penuh dengan air mata yang bisa jatuh kapan saja.Tapi aku sadar, aku harus kuat, aku tidak ingin menambah kesedihan untuk kakakku Yesa, aku tidak ingin menjadi beban untuk kakakku Yesa.

Akhirnya kami memutuskan untuk terus mengobati penyakit ganas itu, kami memutuskan untuk melawan kanker itu.Sebulan penuh kami terus memeriksakan keadaan Yesa ke RUmah Sakit Darmais Jakarta.

Aku bangga terhadap kakakku Yesa, aku tahu dia tahu bahwa penyakitnya sudah menggerogoti dirinya. Dengan keadaan kanker payudara stadium tiga grade 3 Yesa masih mampu mengendarai kendaraan beroda dua untuk berangkat kerumah sakit.

Sepertinya hanya Yesa lah yang mampu melakukan itu. Berangkat pukul tiga pagi dan pulang disaat matahari tenggelam menjadi rutinitas kami dikala itu.

Hingga pada suatu saat, alat dirumah sakit yang sering kami datangi mengalami kerusakan pada alatnya, dan pihak rumah sakit mengatakan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit, yang sesungguhnya alat itu hanya tersedia di tiga rumah sakit di Jakarta. Pada rumah sakit pertama, pihak rumah sakit mengatakan bahwa laboratorium untuk alat tersebut tutup karena menjelang hari raya Idul Fitri, tanpa menunggu waktu lama aku langsung mencari rumah sakit lain. Dan akhirnya, rumah sakit tersebut masih beroperasi.

Aku langsung memberitahu Yesa untuk berangkat kerumah sakit tersebut. Dan diluar dugaanku selama ini, Yesa menangis! Yesa lelah dengan semua yang dilaluinya! Tuhan, berikan kekuatan untuk Yesa Tuhan…

Dengan tangisnya Yesa mengatakan kalau dirinya sudah tidak kuat lagi menjalani ini semua. Dengan menahan tangis aku berkata kepada dirinya “Ka, kamu harus kuat, ayo kita berjuang sedikit lagi ka..”. aku terus membujuknya untuk terus berjuang melawan penyakitnya. “Ayo Ka kita bisa, kalau Kaka lelah naik motor kita naik angkutan aja, biar ini semua cepat selesai Ka”.

Tapi aku tahu Yesa kuat, dan dia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor, karena kami berdua sadar menggunakan angkutan umum bukan cara yang efisien untuk saat ini.

Dirumah Sakit, kami dikejutkan lagi oleh kabar yang membuat hati kami seperti disayat oleh pisau. Dokter mengatakan bahwa kanker yang ada didalam tubuh Yesa sudah menajalar ke bagian tulangnya, dan juga ada titik-titik yang menjalar ke bagian Rahim.

Dan akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat Rahim Yesa untuk menghindari penyebaran yang lebih dari kanker tersebut.Dan operasi pun berjalan dengan lancar.

Tuhan masih memberikan cobaannya kepada kami, Yesa diketahui juga mengidap kelainan pada liver dan juga paru-parunya. Akan tetapi, dia tidak mau kalah dengan penyakitnya. Disaat semua penyakitnya berusaha untuk semakin menyebar, dia tetap kuat. Bahkan, dalam keadaan tersebut, kakak masih menjadi salah satu driver taksi online di Jakarta.

Yesa terus berjuang untuk mempertahankan hidupnya.Yesa sudah mulai terbiasa dengan segala yang dijalaninya saat ini. Dia akan merasa fit disaat dia merasa fit, dan dia juga merasa drop disaat dia sudah lelah dengan aktifitasnya.

Sekarang, Yesa memang tidak berubah, aku tahu yang dipikirkannya bukanlah sehat untuk dirinya, akan tetapi dia berusaha sehat untuk anaknya yang masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Sehingga bekerja sebagai supir online terus ditekuni dengan semangat. “Keahlian saya hanya bisa menyupir, saya nggak mau mikirin sakit saya, saya mau enjoy dan mau cari uang untuk hidup kami” tuturnya saat bertemu dengan rekannya.

Dan juga sekarang Yesa sudah bergabung dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), yang mana didalamnya semua merasakan hal yang sama. Sama-sama berjuang untuk melawan penyakit ganas yang ada didalam tubuh mereka. Saling menyemangati, saling menasehati dan saling memberikan masukkan membuat Yayasan ini menjadi salah satu Yayasan yang bisa menguatkan Yesa dengan keadaan yang ada. Terimakasih YKPI.

Tuhan..

aku tahu engaku memberikan semua ini karena engkau sayang kakakku..

aku tahu hanya orang yang kau cintai yang akan menerima ini semua..

tapi kenapa harus kakakku Tuhan..

kakak kuat, kakak harus sehat. Aku akan selalu dampingin kakak, aku sayang kakak..

love you Yesa..

Salam sayang dari adikmu,

Disampaikan langsung oleh adik Yesa, Harty Triasfasta Hohu kepada tim PR & Media YKPI saat Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia, 1 Oktober 2016.

Share this post