Linda Agum Ajak Masyarakat Lakukan SADARI

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengajak masyarakat untuk rajin melakukan periksa payudara sendiri (SADARI). Sadari , berguna untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.

“Sadari ini cara paling sederhana tapi penting untuk mencegah kanker payudara lepas dari pantauan kita,” kata Linda dalam kegiatan FunWalk 2018 di FX Senayan, Jakarta pada Minggu (7/10) pagi.

Saat melakukan Sadari, bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain: Benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting, maka sebaiknya segera menghubungi dokter.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembap, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” kata Linda.

Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara, menurut Linda, hingga saat ini juga masih lemah. Terbukti, 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas,” ujar Linda.

Memang, lanjut Linda, laki-laki pengidap kanker payudara di Indonesia masih jarang. Bahkan menilik program unit mobil mammografi (UMM) YKPI, para peserta yang melakukan mammografi gratis didominasi oleh perempuan.

Linda juga mengingatkan agar pasien kanker payudara tidak menempuh pengobatan herbal, bila telah mengetahui sedang mengidap kanker payudara. Pasalnya, selama ini alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi payudara makin memburuk.

Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Walhasil, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” jelas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Sejak 2015, YKPI sendiri sudah memeriksa 10.356 orang. Dari jumlah tersebut, 1.511 orang atau 14,7 persen menderita tumor jinak. Sedangkan yang menderita tumor ganas sebanyak 50 peserta atas 1,5 persen.

“Angka itu, terus mengalami kenaikan setiap tahun,” kata Linda. (WASPADA).

Read more...

2030 Indonesia Ditarget Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta – Dalam rangka perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-15, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) kembali menegaskan visi Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut pada 2030.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, target tersebut hanya bisa terpenuhi bila kesadaran diri masyarakat memeriksakan diri secara dini terus tumbuh.

Caranya, lanjut Linda, yakni dengan melakukan periksa payudara sendiri (sadari), atau periksa payudara secara klinis (sadanis), guna mendeteksi adanya benjolan.

“Sadari pintu awal mendeteksi adanya kelainan kanker payudara,” terang Linda kepada Jurnas.com di sela-sela perayaan HUT YKPI ke-15 di Jakarta.

Linda mengimbau masyarakat memanfaatkan akses pemeriksaan mammografi gratis yang diadakan oleh Unit Mobil Mammografi (UMM) YKPI. Program tersebut, hingga saat ini sudah memeriksa lebih dari 10 ribu pasien.

“Dari pemeriksaan sepanjang 2016-2018, 14,7 persen dicurigai jinak, 2,7 persen diucrigai ganas,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Linda juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menempuh pengobatan alternatif atau herbal. Pasalnya, selama ini pengobatan herbal belum terbukti menyembuhkan pembunuh nomor dua di dunia tersebut.

“Jangan sampai nanti sudah borok, sudah stadium lanjut, baru pergi ke dokter. Padahal kalau ke dokter sejak awal, angka harapan hidup pasti tinggi,” tandasnya.

Read more...

YKPI: Kesadaran Memeriksa Kanker Payudara Masih Minim

Jakarta – Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara masih minim. Buktinya, menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar, 70 persen pasien yang memeriksakan diri ke dokter, sudah berada pada tahap stadium lanjut.

Tentu hal ini, kata Linda, menyulitkan proses penyembuhan. Pasalnya, semakin awal kanker payudara dideteksi, angka harapan hidup semakin tinggi.

“Di masyarakat ada yang sudah paham (harus memeriksakan diri) tapi tidak berani. Khawatir dan takut. Padahal kalau ditemukan di stadium awal, harapan hidupnya masih tinggi. Berbeda halnya kalau sudah busuk gara-gara terus menerus ditunda,” kata Linda di sela-sela hari ulang tahun (HUT) YKPI ke-15, di Panglima Polim, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh ahli onkologi dr. I Made Christian Binekada, M.Repro, Sp.B (K) Onk. Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan diri ke dokter ditandai dengan lebih dipilihnya pengobatan alternatif atau herbal.

Hal itu, menurut Christian, tak lepas dari pola pikir masyarakat setempat. Mereka menganggap seakan-akan pengobatan alternatif lebih menjamin, dari pada mengeluarkan ongkos mahal untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Akhirnya pengobatan medis jadi second line-nya. Pengobatan di luar medis jadi first line. Sehingga sekarang bagaimana mengubah paradigma itu dengan kehadiran para pendamping, relawan, dan klinisi untuk menerobos tradisi demikian,” ujar Christian.

Read more...

Waspadai Kanker Payudara Sejak Dini, Inilah Ciri-ciri Gejalanya

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, ada beberapa ciri adanya kanker payudara.

Pertama terdapat benjolan yang tidak disertai dengan nyeri. Benjolan itu tumbuh dengan cepat.

“Atau perubahan seperti kulit jeruk, atau timbul luka di permukaan payudara, itu yang paling sering,” katanya.

Bila menemukan ciri-ciri tersebut, segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan yang ada untuk ditindaklanjuti pemeriksaan medis.

Kanker payudara itu bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak. Bisa juga ke tulang yang menyebabkan tulang patah.

“Bila tulang belakang yang kena, akibatnya bisa lumpuh. Kalau livernya kena, fungsinya bisa terganggu,” tuturnya.

Read more...

Tjhai Chui Mie Ajak Warga Deteksi Dini Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, penyakit kanker harus benar-benar cepat di deteksi agar dapat sedini mungkin di cegah.

Apabila kanker telah menyerang, makan bisa dipastikan akan mempengaruhi umur harapan hidup dalam suatu wilayah.

“Yang berimbas pada derajat kesehatan masyarakat berada pada zona merah,” katanya.

Ia mengajak semua warga yang hadir mengetahui apa itu kanker payudara dan cara deteksi kanker payudara itu sendiri.

Kemudian bagaimana cara menghadapi apabila kanker payudara itu telah menjadi satu di antara masalah gangguan kesehatan.

“Baik pada diri kita, keluarga, maupun lingkungan kita,” ungkapnya.

Read more...

Hati-hati, Kanker Payudara Bisa Karena Faktor Keturunan

Jakarta – Ada banyak hal yang dapat menimbulkan risiko terkena kanker payudara. Di antaranya pola hidup tak sehat, jarang berolahraga, hingga konsumsi makanan berlemak.

Dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) dr. Zora Revina mengatakan faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu pemicu risiko kanker payudra. Karena itu, bagi keluarga yang memiliki riwayat terkena penyakit ini, harus memeriksakan diri sebelum terlambat.

“Kalau ibunya menderita kanker payudara, maka anaknya yang perempuan bisa jadi ada risiko terkena kanker payudara. Untuk memastikan hal itu, nanti ada screening-nya untuk menghitung presentase si anak terkena kanker,” ujar dr. Zora kepada Jurnas.com akhir pekan lalu, dalam kegiatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), pemeriksaan mamografi gratis di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Meski faktor keturunan bisa memicu risiko kanker payudara, dr.Zora menggarisbawahi tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan terkena kanker payudara.

Hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengetahui mereka terkena kanker payudara atau tidak, yakni dengan melakukan Periksa Payudara Sendiri (Sadari) atau Periksa Payudara secara Klinis (Sadanis), agar selanjutnya bisa dilakukan upaya pengobatan dini.

Dr. Zora menjelaskan perbedaan antara Sadari dan Sadanis. Sadari merupakan teknik memeriksa payudara sendiri, sementara Sadanis adalah pemeriksaan payudara dengan bantuan tenaga medis. Kedua-duanya dilakukan secara manual, yakni meraba, namun akurasinya berbeda.

“Orang awam baru mengetahui benjolan setelah dua sentimeter atau lebih, tapi petugas medis (Sadanis), akurasinya lebih tinggi. Satu senti pun sudah bisa diraba,” terang dr. Zora.

Besarnya benjolan dalam pemeriksaan kanker payudara, menurut dr. Zora, sangat berarti dalam penentuan stadium, dan pengobatan selanjutnya. Prinsipnya, semakin cepat diketahui, semakin besar pula kesempatan bertahan hidup.

“Satu senti dan dua senti dalam pengobatan kanker itu sangat berarti, karena akan menentukan stadium. Satu senti orang akan mengatakan, di bawah stadium 2B. Tapi dua senti, orang bisa terkena di 3A atau 3B,” paparnya.

Read more...

YKPI: Banyak Stigma Kanker Payudara sama dengan Mati

Jakarta – Stigma masyarakat terhadap kanker payudara masih memprihatinkan. Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, ada anggapan harapan hidup penderita kanker payudara sangat tipis, sehingga penyakit tersebut diidentikkan dengan kematian.

“Banyak stima kanker (payudara) sama dengan mati. Atau jangan pakai pisau, kalau sudah kena pisau nanti cepat menyebar,” kata Linda saat menghadiri ‘Forum Komunikasi: Environment and Social Responsibility‘ yang digelar PT Astra Internation Tbk, di William Soeryadjaya Hall kantor Astra Pusat di Sunter, Jakarta Utara pada Rabu (18/7).

Salah kaprahnya pemahaman tersebut, lanjut Linda, ditambah pula dengan minimnya dukungan dari keluarga. Menurut pengalamannya, ada beberapa penderita kanker payudara yang tak lagi mendapatkan pengobatan, karena dianggap menderita penyakit kutukan.

“Ada yang bilang istrinya sakit karena diguna-guna. Jadi daripada uang buat pengobatan kanker, mending buat hidup,” tutur Linda.

Tak hanya itu, Linda juga kerap menemui penderita kanker payudara yang tak langsung memeriksakan benjolan di payudara ke dokter. Sebaliknya, malah melakukan pengobatan alternatif dan mengonsumsi obat-obatan herbal.

“Baru setelah hancur, bau, dan herbal tidak mendukung lagi, dia pergi ke dokter, lalu kesannya dokter Indonesia kurang pintar, karena pada umumnya meninggal. Padahal itu karena keterlambatan. Sudah di stadium lanjut,” tegasnya.

Linda menambahkan, dukungan dari pihak swasta terhadap kanker payudara belum optimal. Karena itu, dia berterima kasih karena PT Astra International Tbk masih memberikan perhatian untuk program-program pengerak kanker payudara.

Dalam acara tersebut, Linda beserta Dewan Pembina Tati Hendropiyono, secara simbolis menerima bantuan CSR Mobil Innova dari PT Astra International. Replika kunci mobil diserahkan langsung oleh Head of Corporate Communication, Boy Kelana Subroto.

“Kendaraan ini akan kami gunakan untuk nendukung kegiatan operasional YKPI yang volume kegiatannya cukup tinggi, salah satunya program Unit Mobil Mamografi YKPI yang perlu kendaraan untuk keperluan transportasi  tenaga medis dan tim,” kata Linda.

“Bantuan juga akan digunakan untuk keperluan pendukung kegiatan Rumah Singgah YKPI,” imbuhnya.

Read more...

Kanker Payudara Bisa Dideteksi Sejak Dini, Begini Caranya

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mamografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mamografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mamografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker payudara di negara berkembang di tahun 2030,” tuturnya.

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mamografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya.  Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker  Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh  dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Read more...

Awas! Pada Wanita Sibuk, Risiko Kanker Payudara Kerap Terabaikan

Jakarta, Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari pada tiap tahunnya. Kanker telah menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia, dan salah satunya adalah kanker payudara.

Di Indonesia sendiri kasus kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Hal tersebut yang mendasari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) memberikan sosialisasi tentang pentingnya deteksi kanker payudara sejak dini.

Saat ditemui di acara Pemeriksaan Mamografi Gratis untuk Rekan Media dan Keluarga, Endang Moerniati selaku Humas dari YKPI menjelaskan bahwa wanita karier justru lebih rentan terkena kanker payudara daripada yang tidak bekerja.

“Semua wanita yang bekerja pasti tidak akan sempat memikirkan dirinya sendiri, terutama kesehatan dirinya. Sibuk memikirkan orang lain, memikirkan pekerjaannya. Kita sebagai perempuan selalu punya pemikiran bahwa kita merasa diri kita kuat. Tidak boleh seperti itu. Karena kita tidak tahu, di dalam diri kita ini ada sesuatu. Kita harus peduli, sebagai perempuan kita harus peduli dengan diri sendiri,” tutur Endang kepada detikHealth, di Melawai, Jakarta Selatan.

Endang juga menambahkan, bahwa memeriksakan diri sendiri lebih awal justru lebih baik. Karena jika sudah terlambat, biaya pengobatan kanker payudara sangat mahal.

“Dan kalau sudah tergeletak kita tidak bisa apa-apa. mumpung masih dalam kondisi sehat dan kuat kita periksakan diri sendiri. Jangan tunggu sakit untuk memeriksakan diri sendiri.

 

Link Referensi: health.detik.com

Read more...

2030, Kanker Payudara ‘Meledak’ di Negara Berkembang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2030 akan terjadi ledakan kanker di dunia berkembang, termasuk kanker payudara yang menyerang kaum perempuan.

Hal itu diungkapkan Dr Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais kepada wartawan di Jakarta,Jumat (02/02/2018). Menurutnya, Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker. Untuk kanker payudara, 70% pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari 1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara. Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama,” ungkapnya saat pemeriksaan Mammografi dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap 4 Februari.

DR Martha menjelaskan faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat manopuse di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal. “Mereka ini disarankan rutin melakukan deteksi dini, termasuk yang pernah ada riwayat tumor jinak payudara,” jelas dr. Martha.

Ketua YKPI, Linda Gumelar mengatakan (YKPI) mengadakan pemeriksaan mammografi gratis untuk media dan keluarga.  Sekitar 50 wartawan dari berbagai media di Jakarta, yang dikoordinir oleh Forum Ngobras tampak antusias mengikuti pemeriksaan mammografi yang berlangsung di Sekretariat YKPI di bilangan Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Rentang usia peserta antara 35-50 tahun.

“YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak memiliki unit mammografi keliling tahun 2005 dengan bus kecil. Pada tahun 2015 unit mammografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru. Bus mammografi setiap minggu keliling ke puskemas  di seluruh Jakarta, bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais,” ungkapnya.

Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2% hasil yang dicurigai tumor ganas dan 14,8% yang dicurigai tumor jinak. Tahun 2017 lebih banyak lagi yang diperiksa mencapai 3.160 pasien. Bahkan, sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4% yang dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4% yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” tegas Linda. (Ati)

Link Referensi: krjogja.com

Read more...