Awas! Pada Wanita Sibuk, Risiko Kanker Payudara Kerap Terabaikan

Jakarta, Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari pada tiap tahunnya. Kanker telah menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia, dan salah satunya adalah kanker payudara.

Di Indonesia sendiri kasus kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Hal tersebut yang mendasari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) memberikan sosialisasi tentang pentingnya deteksi kanker payudara sejak dini.

Saat ditemui di acara Pemeriksaan Mamografi Gratis untuk Rekan Media dan Keluarga, Endang Moerniati selaku Humas dari YKPI menjelaskan bahwa wanita karier justru lebih rentan terkena kanker payudara daripada yang tidak bekerja.

“Semua wanita yang bekerja pasti tidak akan sempat memikirkan dirinya sendiri, terutama kesehatan dirinya. Sibuk memikirkan orang lain, memikirkan pekerjaannya. Kita sebagai perempuan selalu punya pemikiran bahwa kita merasa diri kita kuat. Tidak boleh seperti itu. Karena kita tidak tahu, di dalam diri kita ini ada sesuatu. Kita harus peduli, sebagai perempuan kita harus peduli dengan diri sendiri,” tutur Endang kepada detikHealth, di Melawai, Jakarta Selatan.

Endang juga menambahkan, bahwa memeriksakan diri sendiri lebih awal justru lebih baik. Karena jika sudah terlambat, biaya pengobatan kanker payudara sangat mahal.

“Dan kalau sudah tergeletak kita tidak bisa apa-apa. mumpung masih dalam kondisi sehat dan kuat kita periksakan diri sendiri. Jangan tunggu sakit untuk memeriksakan diri sendiri.

 

Link Referensi: health.detik.com

2030, Kanker Payudara ‘Meledak’ di Negara Berkembang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2030 akan terjadi ledakan kanker di dunia berkembang, termasuk kanker payudara yang menyerang kaum perempuan.

Hal itu diungkapkan Dr Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais kepada wartawan di Jakarta,Jumat (02/02/2018). Menurutnya, Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker. Untuk kanker payudara, 70% pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari 1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara. Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama,” ungkapnya saat pemeriksaan Mammografi dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap 4 Februari.

DR Martha menjelaskan faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat manopuse di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal. “Mereka ini disarankan rutin melakukan deteksi dini, termasuk yang pernah ada riwayat tumor jinak payudara,” jelas dr. Martha.

Ketua YKPI, Linda Gumelar mengatakan (YKPI) mengadakan pemeriksaan mammografi gratis untuk media dan keluarga.  Sekitar 50 wartawan dari berbagai media di Jakarta, yang dikoordinir oleh Forum Ngobras tampak antusias mengikuti pemeriksaan mammografi yang berlangsung di Sekretariat YKPI di bilangan Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Rentang usia peserta antara 35-50 tahun.

“YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak memiliki unit mammografi keliling tahun 2005 dengan bus kecil. Pada tahun 2015 unit mammografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru. Bus mammografi setiap minggu keliling ke puskemas  di seluruh Jakarta, bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais,” ungkapnya.

Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2% hasil yang dicurigai tumor ganas dan 14,8% yang dicurigai tumor jinak. Tahun 2017 lebih banyak lagi yang diperiksa mencapai 3.160 pasien. Bahkan, sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4% yang dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4% yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” tegas Linda. (Ati)

Link Referensi: krjogja.com

Cara Mendeteksi Kanker Payudara Sejak Dini

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mammografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mammografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker di negara berkembang di tahun 2030,” kata Linda saat menggelar pemeriksaan mammografi gratis di kediamannya, Jakarta, Jumat (2/2).

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mammografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya. Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Link Referensi: http://www.jurnas.com

Linda Gumelar : SADARI Seharusnya masuk pelajaran sekolah

Botak, kulit gosong kehitaman, kemudian meninggal. Karena gambaran yang menakutkan itu, “Penderita kanker payudara tidak mau periksa. Lebih baik tidak tahu. Kalaupun tahu, banyak yang memilih berobat ke mana-mana,” ujar Linda Gumelar Ketua YKPI di kediaman nya beberapa waktu lalu, saat acara Rumpian Beha tentang deteksi dini kanker payudara.

Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang juga penyintas kanker payudara ini gemas, sebagian besar penderita kanker datang sudah stadium lanjut. Keberhasilan pengobatan tidak terlalu baik, dan biayanya mahal, “Kalau datang lebih awal, pasien tertolong,” Ujarnya.

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) yang dipimpinnya, aktif kampanye SADARI (Periksa Payudara Sendiri). “SADARI seharusnya masuk pelajaran sekolah, sejak anak gadis mulai menstruasi, agar mereka mengerti apa makna sebenarnya dari deteksi dini dan bahaya nya dari kanker payudara”. Kampanye di sekolah, sebaiknya juga Duta yang bicara, sebab “Kalau yang ngomong nenek-nenek kayak saya, anak-anak mana mau mendengar, ha ha ha.”Maka dari hal ini YKPI menggandeng figur publik, seperti Rossa, Dhini Aminarti, Ririn Dwi Aryanti dan Raline Shah”.

Video kampanye Rumpian Beha yang tayang di youtube sejak 2015, sangat membantu kampanye SADARI, “Penyampaian nya jelas, tidak porno, nyaman karena lucu dan menarik.”

Edukasi tentang kanker perlu cara khusus, juga bila menjadi pendamping pasien kanker dan keluarganya. Linda menceritakan pengalaman nya saat jadi pasien. “Begitu pendamping pulang, saya merasa terpuruk dan sendirian, karena komunikasi nya kurang tepat,” kenang nya. YKPI memberi pelatihan bagi pendamping, Modul pelatihan mencakup pengetahuan tentang kanker payudara, komunikasi dan psikologi. Tiap tiga tahun dievaluasi,”Apakah masih patut jadi pendamping bersertifikat.”

Linda terenyuh saat berjumpa dengan 700-an penyintas kanker payudara se-Indonesia, 1 Oktober 2016. Mereka bahagia berkumpul dengan komunitas nya,”Ada Ibu yang di antar suami pakai kursi roda.”kenang Linda. Si Ibu akhirnya meninggal dunia, “Alhamdullilah bisa meninggal dengan senyum”

Sumber : OTC Digest (Nid)

Edisi : Maret 2017