Penapisan (Skrining)

 

Sadari (Periksa Payudara Sendiri)

Luangkan waktu kamu hanya selama 7 menit untuk periksa sendiri payudara

Bagaimana Cara Melakukan Sadari?

  1. A.Perhatikan dengan teliti payudara anda di muka cermin, dengan kedua lengan lurus ke bawah. Perhatikan bila ada benjolan atau perubahan bentuk dan ukuran pada payudara (Payudara kanan dan kiri secara normal tidak persis sama).
  1. B.Angkatlah kedua lengan ke atas sampai kedua lengan berada di belakang kepala dan tekan ke depan, ulangi pemeriksaan seperti di samping kiri.

2. Tekanlah kedua tangan anda kuat-kuat pada pinggul dan gerakan kedua lengan dan siku ke depan sambil mengangkat bahu

Cara ini akan menegangkan otot-otot dada anda dan perubahan-perubahan seperti cekungan (dekok) dan benjolan akan lebih terlihat.

3. Angkat lengan kiri anda. Rabalah payudara kiri dengan tiga ujung tengah lengan kanan yang di rapatkan.

Perabaan dapat dilakukan dengan cara:

  • Gerakan memutar dengan tekanan lembut tetapi mantap, dimulai dari pinggang atas (Posisi Jam 12) dengan mengikuti arah jam bergerak ke tengah kearah puting susu.
  • Gerakan dari atas ke bawah dan sebaliknya
  • Gerakan dari bagian tengah ke arah luar. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan anda.

4. Pencet pelan-pelan daerah sekitar puting kedua payudara dan amatilah apakah keluar cairan yang tidak normal (tidak biasa)?

5. Berbaringlah dengan tangan kiri di bawah kepala. Letakan bantal kecil di bawah bahu kanan. Rabalah seluruh permukaan payudara kiri dengan gerakan seperti di uraikan pada nomor 1. Lakukan pada pemeriksaan yang sama seperti di atas untuk payudara yang kanan.

6. Berilah perhatian khusus pada payudara bagian atas dekat ketiak (Kwardran Superolateral) kanan dan kiri seperti terlihat pada gambar, sebab di daerah tersebut banyak di temukan tumor payudara. Jika ditemukan kelainan atau ada perubahan di bandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksa diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pemeriksaan di atas dapat dilakukan sewaktu mandi, Karena busa sabun akan mempermudah anda pada saat meraba payudara.

 

 

Mamogram

Mamogram dapat mendeteksi adanya kelainan pada payudara sebelum terasa oleh kita. Meskipun beberapa organisasi masih mempertanyakan manfaat mamografi, mamogram masih merupakan alat yang paling efektif untuk mendeteksi dini kanker payudara.

Selama mamografi, payudara ditekan oleh 2 alat yang berbentuk piringan selama beberapa detik dengan tujuan mendapatkan gambaran yang jelas dari kondisi payudara. Kadang-kadang timbul rasa tidak nyaman akibat prosedur pemeriksaan ini. Untuk itu, mamografi sebaiknya dilakukan setelah masa menstruasi selesai. Saat itu payudara sedikit melunak. Penelitian menunjukkan sebaiknya tidak menggunakan deodoran, krim, atau bedak di ketiak ketika melakukan mamografi karena hal itu dapat mempengaruhi hasil mamografi.

Dari hasil mamogram, dokter dapat melihat adanya ketidaknormalan pada payudara dan juga mengetahui perubahan yang terjadi bila dibandingkan dengan hasil mamogram yang terdahulu.

Jika ditemukan sesuatu yang mencurigakan, dokter akan menyarankan untuk melakukan biopsi atau pengambilan sedikit jaringan di wilayah yang dicurigai untuk diteliti apakah terdapat kanker atau tidak.

Mamogram Cegah Keganasan Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan 1-3% penyebab kematian akibat kanker pada wanita di seluruh dunia. Sejak mamografi digunakan secara luas sebagai metode skrining, ukuran tumor saat pertama dideteksi dan tingkat kematian akibat kanker payudara menurun cukup tajam sampai 20% dalam 10 tahun terakhir. Kanker payudara di Indonesia sampai saat ini merupakan kanker kedua tersering pada wanita setelah kanker mulut rahin. Dengan insiden kanker payudara sekitar 100 per 100.000 jiwa per tahun dan lebih dari 50% di antaranya ditemukan dalam stadium lanjut, mamografi masih menjadi alat yang diandalkan dalam mendeteksi kanker payudara. Masih sedikitnya penemuan kasus dalam stadium dini menyebabkan upaya deteksi dini dan skrining menjadi sangat penting. Mamografi merupakan salah satu upaya ini, di samping metode lain, yaitu SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) dan pemeriksaan klinis oleh dokter. Mamografi sendiri sangat bermanfaat dalam menemukan lesi berukuran sangat kecil, sampai 2 mm, yang tidak teraba dalam pemeriksaan klinis (biasanya berukuran di bawah 1 cm).

Dengan program skrining diharapkan dilakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia di atas 50 tahun. Pemeriksaan dasar ini akan memberikan data awal jaringan payudara wanita. Bila mamografi dilakukan secara rutin diharapkan jika ada perubahan sedikit saja dari jaringan payudara wanita akan dapat segera diketahui. Sayangnya, pola pikir seperti ini tidak dijumpai pada kaum perempuan umumnya, sangat jarang seorang perempuan datang dengan kesadaran sendiri dan meminta dilakukan mamografi. Hampir semua pasien datang dengan keluhan nyeri atau benjolan, dan hampir semuanya membawa surat rujukan.

Rendahnya kesadaran untuk memeriksakan diri ini tidak hanya terjadi pada wanita dengan pendidikan atau ekonomi rendah, tetapi juga mereka yang berpendidikan tinggi atau cukup mapan, bahkan di kalangan profesi kedokteran sendiri. Penyebaran informasi mengenai manfaat pemeriksaan dini (mamografi) atau faktor risiko kanker payudara mungkin kurang tersebar luas di masyarakat. Menyadari hal tersebut, Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta bekerja sama dengan beberapa institusi menyediakan unit mobil mamografi. Tujuannya adalah mendorong perempuan untuk melakukan pemeriksaan mamografi. Unit Mobil Mamografi dapat menjadi unit yang efisien yang dapat menjangkau daerah yang jauh, serta menawarkan biaya yang ekonomis. Dengan mobil mamografi ini, diharapkan keganasan kanker payudara dapat dicegah.

Selain mamografi, sebenarnya teknik SADARI cukup membantu. Setidaknya, mendorong kaum perempuan untuk segera berobat bila menemukan benjolan pada payudaranya. Tetapi, teknik ini ada kelemahannya. SADARI sangat tergantung pada ketelitian, kepekaan, dan tingkat intelegensi wanita. Karena itu, semua kembali pada kesadaran si perempuan tentang faktor risiko dan bahaya kanker payudara. Tanpa kesadaran, wanita tidak akan melakukan pemeriksaan, apakah itu SADARI ataupun mamografi, sekalipun tidak dikenakan biaya, dari tahun ke tahun jumlah penderita kanker payudara di RSCM tidak mengalami perubahan, dan masih dengan stadium yang cukup tinggi. Ini terjadi karena kesadaran untuk memeriksakan diri dan mencari pengobatan yang benar masih belum membudaya di Indonesia

Tingginya angka kematian perempuan Indonesia karena kanker payudara akan terus meningkat. Bagaimana kita menanganinya? Mulailah dengan mengutamakan kesehatan, melalui upaya deteksi dini dan skrining.