Merajut Hidup Bahagia Bersama Kanker

Saya tidak akan pernah lupa dengan apa yang saya alami 12 tahun lalu. Waktu itu, saya berumur 48 tahun dan memutuskan untuk melakukan check-up kandungan dan payudara. Awalnya saya pikir, tidak akan ada sesuatu yang berbahaya mengingat dua tahun sebelumnya, saya pernah melakukan pemeriksaan khususnya payudara dengan Mammografi di Indonesia dan hasilnya baik-baik saja. Namun pemeriksaan kali ini lain karena dokter mengatakan bahwa ada yang mencurigakan di bagian dalam payudara sebelah kanan, dan menyarankan saya untuk melakukan biopsi. Saya masih ingat perasaan saya saat itu: rasanya begitu gundah dan gelisah. Begitu takut saya memikirkan apa yang akan terjadi pada diri saya. Namun saya tetap menguatkan hati untuk melakukan biopsi keesokan hari.

Usai melakukan biopsi, hari berikutnya dokter memberitahu saya bahwa saya positif kanker payudara ganas stadium 1. Tapi ajaibnya, ada sebuah kekuatan yang seperti menopang saya. Kegundahan saya tidak sebesar hari sebelumnya. Setelah diskusi dengan beberapa dokter dan atas saran suami saya pula, maka saya memutuskan untuk melakukan mastektomi, yaitu pengangkatan payudara sebelah kanan seluruhnya. Hal ini dilakukan karena posisi benjolan ada di dalam dekat dengan tulang rusuk, tidak teraba, tidak terasa, dan tidak ada keluhan. Seperti yang kita tahu, payudara adalah simbol kebanggaan bagi wanita dan pengangkatan ini mau tidak mau membuat hati saya sedikit bersedih. Saya membayangkan akan berjalan seperti apa operasi tersebut. Namun entahlah, saya merasa kuat dan merasa siap menghadapi apa yang akan terjadi di depan saya.

Mastektomi berjalan dengan lancar. Meskipun awalnya saya merasa berdebar. Tapi bukan hanya hal ini yang harus saya lewati. Ada fase lanjutan yang mau tak mau menggetarkan semangat saya: kemoterapi. Banyak orang yang bilang, kemoterapi bukanlah proses yang menyenangkan.

Toh mau tidak mau, saya harus melewati hal tersebut. Dan memang benar yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa kemoterapi begitu menyakitkan. Rasanya seperti nyawa dan raga terpisah. Seringkali saya merasa napas saya tersekat. Bahkan pernah saya lari keluar ruangan, hanya untuk menenangkan perasaan saya. Panas dan terbakar selalu saya rasakan usai kemoterapi. Rasanya seperti antara hidup dan mati. Rasa sakitnya menjalar di seluruh tubuh.

Namun akhirnya saya nikmati saja. Saya membaca buku tentang kanker sehingga sedikit banyak tahu efek-efek yang akan terjadi dalam proses kemoterapi. Ini banyak membantu saya untuk tidak cemas dengan efek kemoterapi. Saya menjalani 6 kali kemoterapi, 5 tahun minum obat Tamoxiven dan 3 tahun Arimidex. Satu yang saya tidak permah lalai adalah kontrol setiap 3 bulan sekali, serta tak lupa check up setahun sekali. Rasanya saya jadi seperti bersahabat dengan segala perawatan dan obat-obatan itu, atas anjuran dokter.

Belum selesai sampai di situ, pada tahun 2008, saya kembali mendapatkan kabar buruk. Bahwa obat-obatan yang saya minum mungkin saja membuat kista Dermoid di indung telur sebelah kanan. Kista yang semula hanya 1 cm, dalam 4 tahun tumbuh menjadi 8 cm. Untuk kedua kalinya saya dianjurkan untuk dilakukan pengangkatan rahim dan indung telur. Betapa rasanya seluruh dunia runtuh di hadapan saya.

Tadinya saya begitu bersedih dan meratapi hal ini. Mengapa harus saya? Mengapa harus organ-organ kewanitaan? Tapi kekuatan tak terlihat itu muncul lagi di diri saya. Kekuatan itulah yang membuat saya tak lelah menebarkan semangat positif ke orang-orang di sekitar saya. Saya tahu, penyakit saya adalah penyakit serius. Bahkan, pada suatu hari, pernah anak saya bertanya, apakah saya kuat menderita seperti ini? Apakah Mama masih bersemangat untuk hidup?

Kepadanya, saya bilang, saya akan hidup sampai waktu yang telah ditentukan untuk saya. Dan mengisinya dengan semangat dan kebahagiaan. “Saya mau kuat. Saya mau mengisi sisa hidup dengan kebahagiaan”

Menjadi perempuan bukan sekadar perkara organ-organ kewanitaan. Saya tetap berdiri tegak dan percaya diri sebagai seorang wanita, meskipun payudara sebelah kanan saya telah diangkat, dan meskipun rahim serta indung telur saya sudah tak ada. Saya tetap merasa cantik meskipun rambut saya rontok. Menjadi cantik adalah tentang menjadi bahagia dan senantiasa merasa sehat

Kini saya sudah survive dari kanker. Desember 2015 kemarin saya sudah boleh periksa 6 bulan sekali. Berkat semangat untuk hidup, saya bisa sampai sekarang. Hal-hal itulah yang selalu saya bagikan kepada sesama penderita kanker payudara. Kita harus disiplin terhadap pengobatan dan patuh pada anjuran dokter. Saya selalu menjadi motivator bagi teman-teman saya yang mengalami hal sama. Saya datangi teman yang melakukan operasi. Jika mereka takut, saya tunjukkan bekas operasi saya.

Menurut saya, penting bagi para penyintas kanker untuk  membuka diri, karena dengan membuka diri, maka informasi pun mudah untuk didapatkan, begitu juga semangat untuk hidup. Kanker memang sebuah momok dalam hidup kita, tapi ada kalanya, kita harus berdamai dengan kanker tersebut, dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang positif.

Tahun 2005, saya diajak ibu Agum Gumelar untuk bergabung di Pita Pink yang sekarang dikenal dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia). Saya senang sekali karena saya selalu suka menyemangati sesama penyintas, mulai dari teman-teman terdekat hingga perempuan yang tidak saya kenal sama sekali. Saya ikut pendidikan khusus pendamping pasiens kanker payudara di gelombang pertama, dan saya sudah lulus bersertifikat dari TUV. Maka informasi pun mudah untuk didapatkan, begitu juga semangat untuk hidup. Kanker memang sebuah momok dalam hidup kita, tapi ada kalanya, kita harus berdamai dengan kanker tersebut, dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang positif.

—————-

Kisah di atas sebagaimana disampaikan Nani Firmansyah kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Share this post