Melawan Kanker dengan Semangat Hidup

Melawan Kanker dengan Semangat Hidup

Ada yang berbeda di bulan puasa tahun 2016 ini, saya, Zartini, melakukan tadarusan di rumah seperti biasa ketika saya merasa nyeri di payudara saya. Rasa sakit ini terasa lain dan serius. Saya langsung teringat kata-kata teman saya yang meninggal karena kanker payudara 8 tahun lalu, rasa nyerinya sampai tembus ke punggung belakang. Saya langsung meraba payudara dan ada benjolan yang muncul. Saya kaget karena saya sudah tiga kali mammografi, dan tidak pernah ada apa-apa. Terakhir saya mammografi adalah dua tahun lalu yang hasilnya negatif.

Suami langsung menyarankan saya segera ke dokter. Dokter Didit di Rumah Sakit Rawamangun mengatakan,  kalau 2 tahun yang lalu belum muncul dan sekarang ada benjolan, kemungkinan adalah kanker ganas. Saya menolak percaya karena saya merasa bahwa ini tidak mungkin ganas. Saya sering kontrol kok. Saya pun meminta untuk menunda operasi sampai habis lebaran. Namun, dokter menyarankan untuk mengambil langkah segera. Tiga hari kemudian, saya menjalani operasi. Ternyata Dokter Didit benar, kanker yang tumbuh adalah kanker ganas sehingga payudara saya harus diangkat.

Kanker itu berat. Tidak mudah bagi saya yang kini memasuki usia 52 tahun menjalani semuanya. Dunia saya terasa runtuh. Saya selalu merasa bahwa kematian itu nyata berada di depan saya. Saya selalu merasa gelisah setiap kali saya mencoba tidur. Perasaan saya sakit, seperti ada beban besar di hati saya yang membuat saya tercekat. Saya menangis sambil menggumam dalam hati, “Besok saya masih bisa bangun tidak ya?”

Setiap malam, selalu kata-kata itu yang saya ucapkan. Ketika terbangun di besok paginya, saya selalu mengucap syukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk terus menghembuskan napas. Saya masih bertahan untuk bisa terus hidup.

Proses kemoterapi juga tidak kalah beratnya. Makan yang adalah hal paling esensial bagi makhluk hidup menjadi musuh berat saya. Saya selalu keringatan setiap kali akan makan. Perut saya mual. Mulut dan lidah saya penuh dengan sariawan. Makanan sulit sekali untuk masuk ke mulut saya. Saya selalu merasa kelaparan, tapi makanan tetap saja susah untuk dikonsumsi. Saya merasa frustrasi. Dokter menyarankan saya makan saja semuanya, tapi saya selalu ketakutan. Apa boleh saya makan ini? Memangnya kalau saya makan itu tidak akan berpengaruh pada kanker saya? Saya parno dengan semua yang akan saya makan.

Saya down. Saya hanya terbaring di kasur, sambil terus mengaji dan dzikir. Saya tidak semangat untuk melakukan aktivitas lain.  Lalu kemudian, semua itu berubah ketika ponsel saya berdering dari ibu Enita dari YKPI. Dia menelepon saya sampai malam hari, menyemangati saya agar tetap teguh dan kuat. Saya diajak untuk ikut YKPI dimana banyak orang-orang yang menderita hal sama seperti saya.

Benar saja, setelah itu saya merasa bahwa kanker yang saya lawan itu ya sama dengan perempuan-perempuan ini. Keluhan yang dirasakan sama. Penderitaan yang dijalani juga tidak ada bedanya dengan saya. Saya langsung bertanya-tanya dengan sesama penderita tentang pengalaman mereka selama kemoterapi. Mereka bilang bahwa saya harus tetap makan supaya tidak kekurangan nutrisi. Justru sehabis kemoterapi, makan itu hal yang wajib dan sangat diperlukan. Saya pun percaya pada mereka. Mereka sudah melewati itu semua kok, berarti saya juga bisa.

Keluarga juga memberi dukungan yang besar. Suami saya rela mengambil pensiun dini untuk mengurus saya padahal dia masih memiliki waktu kerja hingga 7 bulan lagi. Saya juga selalu terbayang anak saya Rizky, karena dia penyandang autism yang tentu sangat membutuhkan saya. Hal yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya adalah kata-kata mereka yang berkata, “Mama yang kuat ya, kita masih ingin selalu bersama Mama. Kita sangat membutuhkan Mama” Semangat dan dukungan darisuami beserta keluarga memang sangat dibutuhkan untuk melawan kanker pada saat kita benar-benar down.

Baru-baru ini saya menjalani kemoterapi yang ketiga. YKPI selalu menyemangati saya selama masa kemoterapi ini. Mereka selalu bilang, kenapa harus takut dengan kanker anggap saja seperti sakit pusing biasa. Dengan dukungan dan semangat dari teman-teman, saya sekarang semangat. Saya sudah mulai senang melakukan aktivitas dan ikut acara-acara.

Paling terpenting dalam menjalani kemoterapi adalah harus adanya semangat untuk sembuh dan semangat untuk makan. Harus ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Kalau mual ya harus dipaksa. Lawan kemoterapi dengan terus makan. Memang berat, saya mengakuinya, tapi jika ingin sembuh kita harus lawan kemoterapi. Lawan kanker. Jika ada semangat dan kemauan, dan tidak lupa juga untuk terus berdoa, Insya Allah kita akan sembuh.

Penulis: Riska Lenggogini/Team PR dan Media YKPI

Share this post