Kuncinya adalah Pengecekan Dini

Panik dan takut adalah hal yang dirasakan Sumarni ketika ia mendapati benjolan aneh pada payudaranya untuk pertama kali. “Kok bisa sih sakit sepeti ini,” gumamnya dalam hati. Dengan kekhawatiran yang ada dalam benaknya, pada bulan November 2015, Sumarni mengunjungi dokter umum untuk menyampaikan keluhan yang dirasakan pada payudaranya. Dokter umum menyampaikan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan oleh Sumarni. Sumarni hanya diberi obat pereda rasa sakit, yang menurut Sumarni pada saat itu sangat berguna untuk menghilangkan gangguan pada payudaranya.

Selang lima bulan, rasa sakit itu muncul kembali. Sumarni pun segera mengunjungi dokter umum atas saran suami dan keluarganya. Kembali memberikan keluhan yang sama, sang dokter yang juga mempunyai keluarga yang menderita kanker payudara menyarankan Sumarni untuk melakukan uji laboratorium dan USG. Hasil tersebut diduga merupakan tumor dan disarankan ke dokter bedah.

Usai mengunjungi dokter bedah di Bandung, pada 14 April 2016 pukul 09.00 WIB, ibu lima anak ini  langsung diopname dan menjalani operasi pengangkatan sel kanker payudara tersebut. “Saya masuk rumah sakit jam sembilan pagi, maghribnya di hari yang sama langsung dioperasi,” ujar Sumarni kepada tim Publick Relation (PR) & Media Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia, 1 Oktober 2016.

Dengan keteguhan hati semua rangkaian pengobatan dilakukan oleh Sumarni. Dukungan pun tak henti-hentinya mengalir, “Aku yakin kamu bisa sembuh!,” adalah ungkapan yang sangat sering dilontarkan oleh sang suami.

Sel kanker sepanjang 1,5cm yang menggerogoti Sumarni diangkat dalam operasi sepanjang 9 cm kemudian dibawa untuk dilakukan patologi anatomi (PA). Hasil PA menunjukan bahwa payudara kanan Sumarni harus diangkat seluruhnya. Dua belas hari berselang wanita 44 tahun ini kembali menjalani operasi untuk mengangkat payudaranya. “Lakukan yang terbaik untuk isteri saya, dok!” merupakan pesan suaminya yang mengharapkan kesembuhan sang isteri.

Dorongan yang kuat dari keluarga dan sanak saudara menjadikan Sumarni tetap bersemangat dalam melakukan serangkaian terapi dan pengecekan lanjutan. Dan karena sel kanker tersebut belum menyebar, Sumarni tidak perlu melakukan kemoterapi. Dorongan keluarga untuk melakukan pengecekan dini juga itulah yang telah membuat Sumarni cukup beruntung, sehingga sel kanker pada tubuhnya dapat dideteksi dalam usia dini.

Dalam kesehariannya, Sumarni tidak pernah merasa putus asa. Dengan keyakinan penuh, Sumarni menyadari bahwa segala cobaan dari Allah pasti akan ada obatnya jika ia berusaha sekuat tenaga dalam mencarinya. “Jangan takut, tetap berusaha kita punya Allah! Allah akan memberikan kemudahan. Ia tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya,” papar Sumarni.

“Kuncinya adalah keberanian. Jangan diam-diam saja. Periksakan sesegera mungkin!,” pesannya kepada segenap penyintas kanker payudara lain. Menyudahi sesi berbagi dengan tim PR & Media YKPI, Sumarni berpendapat bahwa acara berskala nasional seperti yang diadakan oleh YKPI pada Bulan Kepedulian Kanker ini sangat bermanfaat untuk para penyintas kanker, sehingga mereka dapat berbagi pengalaman dan membuat mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan yang tengah dialaminya.

Share this post