Kemoterapi Pertama Jadi Kado Ulang Tahun

Endang Widyastuti masih tampak bugar di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh. Jika kita melihat sekilas, tidak terlihat tanda-tanda bahwa wanita berusia 69 tahun ini adalah seorang survivor kanker payudara. Berawal dari tahun 2000 ketika ia menemukan benjolan di payudara kirinya karena rabaan. Benjolan itu tidak terasa sakit, namun karena perasaan curiga yang muncul, ibu yang akrab disapa Endang ini langsung memeriksakan diri ke Rumah Sakit Pertamina. Setelah dilakukan mamografi dan pemeriksaan darah, tidak ditemukan indikasi CA (cancer antigen).

Dua tahun berselang ketika ada beban kerja yang berat dan Jakarta dilanda bencana banjir besar, Ibu Endang yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial PemProv DKI Jakarta memiliki tanggung jawab yang besar atas pekerjaannya dan mulai kurang beristirahat. Efeknya, benjolan itu kemudian mulai berdenyut terasa sakit dan terkadang mengeluarkan cairan. “Rasanya seperti bengkak ketika kita mau menyusui anak namun saat dilihat justru biasa saja, tidak bengkak,” jelas Ibu Endang.

Selain benjolan pada payudara, terdapat benjolan lainnya dibagian leher Ibu Endang yang jika diraba terasa masif sehingga ia memutuskan untuk kembali memeriksakan diri ke dokter umum di Rumah Sakit Pertamina. Dokter umum menyarankannya ke dokter bedah dan kemudian dilakukan pemeriksaan darah, mamografi, dan beberapa pemeriksaan lainnya. Saat melihat hasil pemeriksaan itu dokter mengatakan, “Ya, ini harus dioperasi.”

Dari hasil rabaan dokter pada kedua benjolan itu, diperkirakan ada tiroid di leher dan di payudara hanya benjolan biasa. Namun ketika di atas meja operasi ternyata ada cancer antigen di payudara. Kemudian dengan persetujuan suaminya, tiroid dan payudara Ibu Endang diangkat. Setelah itu, dimulailah 6 kali kemoterapi dan 25 kali sinar, baik di leher maupun payudara. “Jadi, tepat ulang tahun saya ke-55 hadiahnya adalah kemoterapi pertama. Saya ingat sekali,” ujar wanita kelahiran 25 April 1947. Selain itu juga ia harus taat minum obat selama 5 tahun.

Ibu Endang mengaku tidak merasakan apa-apa sampai selesai dioperasi. Namun usai operasi dilakukan, ada dokter, suami, serta anak-anak berkumpul dan mengatakan bahwa payudaranya sudah diambil. “Kata anak-anak ‘Sudah diambil, Ma,’ artinya payudara ini sudah diambil semua. Saya juga tidak terlalu merasakan apa-apa karena masih dalam suasana banyak orang yang menjenguk, begitu sudah tiga hari baru saya menyadari, ‘Oh iya ya, penyakit saya serius, payudara saya sudah tidak ada,’ kemudian saya melihat kepada suami, dia dengan ikhlas sekali membuat saya tidak down.”

“Ketika saya menyadari itu, kemudian saya meminta suami memeluk saya erat-erat untuk memberikan kekuatan pada saya. Disitu suami berkata, ‘Sebetulnya semenjak kamu keluar dari kamar operasi, disitu saya sudah mau peluk kamu tapi banyak sekali selang-selang bergantungan jadi tidak bisa,’” cerita Ibu Endang dengan mata berkaca-kaca.

Kehadiran suami dan kedua anaknya yang setia menemani beserta dukungan sanak saudara dan rekan kerja yang menjenguknya memberikan Ibu Endang kekuatan tersendiri. “Kuat atau tidak sebetulnya ada pada diri kita sendiri untuk menghadapinya. Memang ketika kita sadar maka kita akan bersandar pada sekeliling kita, yang dekat dengan kita, terutama suami. Suami saya support dan tegar, ya saya jadi kuat juga. Begitu juga dengan anak-anak,” tutur wanita dua anak ini.

Sebagai seorang survivor yang sudah terbebas dari kanker payudara selama 14 tahun, Ibu Endang mengungkapkan bahwa ia selalu menuruti nasihat yang diberikan dokter. Dokter mengingatkannya untuk tidak makan makanan berlemak dan jangan lupa beristirahat dengan teratur. Selain itu, melupakan stres berkepanjangan juga menjadi salah satu kuncinya untuk bisa survive hingga sekarang. “Kita harus pintar membuang stres karena stres juga memicu segala penyakit apalagi kalau kita sudah ada indikasi kanker,” pesan Ibu Endang.

Kita tidak pernah menyangka ketika sakit menghampiri. Namun ketika sakit itu sudah ada pada diri kita, yang bisa kita lakukan hanyalah kembalikan kepada Tuhan kemudian berusaha untuk sembuh. Ibu Endang juga menambahkan bahwa penyakit itu ada pemicunya. Pemicunya itu ada dalam pikiran, pola hidup, dan pola makan kita. “Jadi yang saya jaga sekarang adalah pola makan, pola istirahat, dan kemudian yang juga saya jaga adalah perasaan diri. Jadi segala sesuatu jangan dibawa stres, jangan dimasukkan ke hati. Rasional saja semua bisa diselesaikan dan berdoa, pasrah kepada Tuhan,” tutup Ibu Endang.
Penulis: Mathilde Liliana P/Team PR & Media YKPI

Share this post