Kekuatan Doa dan Keluarga Membuatnya Bertahan

Kekuatan Doa dan Keluarga Membuatnya Bertahan

Tak pernah terlintas dalam pikiran bahwa Diah Retno Wilaks Kusumaning Tyas akan mengidap kanker payudara. Awal ketakutan yang ia rasakan ketika anak perempuan yang kedua melihat ada kelainan pada bentuk payudara. “Dia memaksa ingin melihatnya namun saya menolak. Akhirnya di suatu sore selesai mandi, anakku memaksa untuk melihat bentuk payudaraku. Dengan berlinang air mata, dia memohon dan menyarankan agar saya untuk periksa ke dokter” ceritanya kepada tim PR & Media YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia).

Beberapa hari kemudian, kelahiran 16 November 1957 yang biasa dipanggil dengan Laksy mengunjungi dokter radiologi dan memeriksakan keadaannya. Hasilnya tidak menunjukkan tanda keganasan namun ia dianjurkan untuk kembali enam bulan kemudian. Walau demikian, ada rasa takut yang sangat luar biasa didirinya karena merasakan sesuatu yang tidak beres dengan payudaranya. Anaknya yang berprofesi sebagai dokter terus memantau keadaan orangtua yang tercinta, namun Laksy tetap merasakan ketakutan dan membuat emosinya tidak stabil. Setiap hari Laksy selalu sembunyikan ketakutan itu dengan berdoa setiap malam, “Ya Allah, apa yang aku takutkan jangan sampai terjadi.” Pintanya.

Keraguan yang kerap kali muncul dalam benak membuatnya membuat Laksy tidak tenang. Laksy mengajak anaknya untuk mencari second opinion, oleh karena itu pada 13 Desember 2010, Laksy melakukan pemeriksaan mammografi dan USG di salah satu rumah sakit swasta di Medan.

Perasaan takut dan penasaran membuatnya bergumam, “Udah kelihatan ya dok, tanda-tanda keganasannya?” Dokter pun menjawab, “Belum.” Dan sepuluh menit berselang barulah kata-kata yang tidak diinginkannya keluar dari dokter itu, “Pemeriksaan perlu dilanjutkan dan saya dianjurkan segera menemui dokter bedah onkologi”. Pinta dokter kepadanya

Bagai petir di siang bolong, anaknya yang ikut mendampinginya tertegun hingga berlinang air mata, Ia menguatkan Bundanya dengan berkata, “Bunda, pasti Bunda baik-baik saja, kanker Bunda masih dini. Ayo kita langsung jumpai dokter bedah onkologi. Pandang kami Bunda, kami masih butuh Bunda. Bunda harus semangat menghadapi ini semua, percaya dan yakin bunda pasti baik-baik saja.”

Walaupun kaki rasanya seperti tidak menginjak bumi, hari itu Laksy pulang ke rumah menunggu praktek dokter bedah onkologi sore harinya. Sesampai di rumah, Laksy sholat Zuhur sambil menangis dan berdoa, “Ya Allah, terima kasih Engkau beri aku cobaan, aku yakin karena Engkau tahu aku kuat menerimanya, dan dengan Engkau beri aku cobaan, aku bisa lebih introspeksi diriku yang banyak dosa ini. Laa ila ha illa anta subhanaka inni kuntum minazzolimiin.”

Selesai sholat, Laksy segera menelpon suaminya yang saat itu berada di Tanjungbalai. Ia mengatakan bahwa dirinya mengidap kanker dan seketika itu pula suami tercinta menangis. Saat itu Laksy semakin percaya bahwa suaminya sangat sayang pada dirinya.

Sore harinya Laksy mengunjungi dokter bedah onkologi dengan membawa hasil mamografi dan USG, antrian pasien yang banyak yang dilihatnya membuat dirinya bergumam dalam hati, “Ternyata penderita kanker bukan saya saja.”  Dan setelah konsultasi, malam itu pun Laksy langsung di opname di rumah sakit sambil menunggu suami tiba di Medan.

Besoknya, Laksy melakukan full check up. Ia dikenalkan oleh dokter bedah onkologi pada dokter anestesi dan dokter patologi anatomi. Karena rencana didurante operasi langsung diperiksa jaringannya untuk mengetahui batas jaringan yang akan diambil sesuai dengan penyebarannya. Sambil menepuk bahu dirinya, dokter onkologi berkata, “ Sudah siapkah Diah? Besok kita mainkan, semangat dan tegar ya!” Kemudian Laksy menjawab, “Saya sudah siap dan pasrah. Terserah dokter, lakukan yang terbaik buat saya.”

Tanggal 15 Desember 2010, dengan mengucap bismillah Laksy masuk ruang operasi dengan diantar suami, anak-anak, serta para sahabat yang tak pernah berhenti memberikan suntikan semangat. Saat operasi, langsung dilakukan PA dan alhamdullilah belum ada penyebaran di kelenjar. Walaupun demikian, operasi dilakukan seaman mungkin dan tujuh kelenjar ketiak diambil. Operasi berlangsung agak lama karena ternyata dirinya juga mengidap kelainan pada proses pembekuan darah. “Lengkaplah penderitaan saya” ucapnya kala itu.

Seharusnya Laksy diijinkan boleh pulang setelah lima hari paska operasi, namun kelainan darah mengakibatkan dirinya harus tinggal dirumah sakit lebih lama. “Selain lama tinggal di rumah sakit, saya juga ditransfusi sepuluh kantong darah. Setelah itu, hasil jaringan yang telah diangkat diperiksa lagi untuk mengetahui apakah sel kanker tersebut lebih sensitif terhadap obat ataukah kemoterapi. Setelah mengetahui obat yang cocok dan kesiapan tubuh, saya menjalani enam kali kemoterapi yang dilakukan tiga minggu sekali” katanya menceritakan proses menjadi penghuni rumah sakit selamat tiga minggu.

Menurut Laksy, “Kemoterapi ternyata sangat menyakitkan”. Namun kehadiran dan cinta yang dicurahkan suami dan anak-anak memberikan suntikan semangat baru bagi dirinya untuk berjuang. Walaupun ia merasa diberi cobaan yang sangat berat, Laksy tetap ingat kata-kata ini: “Allah tidak akan memberika sesuatu tanpa ada hikmahnya,” dan kunci atas kekuatan yang Laksy miliki adalah selalu yakin pada kekuatan doa.

Bagi pejuang Kanker yang akan memasuki masa pensiunnya sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun depan ini memiliki keinginan menjadi relawan YKPI untuk mengisi hari-hari pensiunnya. “Begitu saya dikenalkan dengan komunitas Pita Pink – YKPI saya makin berkeyakinan bahwa saya tidak sendiri, saya dikelilingi oleh orang-orang hebat di komunitas ini” ujarnya. Untuk menunjukan keseriusan untuk menjadi relawan YKPI di bulan Agustus 2016 ia pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Pelatihan Pendampingan Pasien Kanker Payudara angkatan ke-2 yang diselenggarakan YKPI.

Bahkan Laksy juga akan mengajak 2 orang Survivors dan 1 dokter Onkologi dari Medan untuk bersama dirinya hadir diacara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia yang diselenggarakan pada 1 Oktober 2016. “Mereka nanti akan mudah dikenali karena kami menggunakan kain ulos” tambahnya dengan penuh semangat.

“Kami ingin hadir di Jakarta untuk mengajak para penyintas kanker tidak berputus asa dan mereka tidak sendiri. Mereka bersama kami” Tutupnya mengakhiri wawancara jarak jauhnya dengan tim PR & Media YKPI.

————————————–

Kisah diatas sebagaimana ditulis langsung dan disampaikan dr. Diah Retno Wilaks Kusumaning Tyas kepada YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA”di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Share this post