Kanker Payudara Bisa Dideteksi Sejak Dini, Begini Caranya

Kanker Payudara Bisa Dideteksi Sejak Dini, Begini Caranya

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mamografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mamografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mamografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker payudara di negara berkembang di tahun 2030,” tuturnya.

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mamografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya.  Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker  Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh  dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Share this post