Kanker Mendorongku Menyebarkan Hal Positif

Kanker Mendorongku Menyebarkan Hal Positif

Yulia Sofiati adalah pribadi yang sangat positif. Dalam kesehariannya tidak pernah dalam benaknya ada rasa dengki, dendam, atau pun iri terhadap orang lain. Ia adalah pribadi yang selalu berusaha untuk menyelaraskan hati dan ucapannya. Mengeluh adalah hal terakhir yang terlintas dalam benaknya.

Keteguhan dan pemikiran positif Yulia juga tercermin dalam usahanya berperang melawan kanker. Wanita yang lahir 64 tahun silam ini sudah divonis positif mengidap kanker payudara sejak 11 tahun yang lalu. Kemoterapi pun ia jalani dengan ikhlas, guna mencapai kesembuhan yang sepenuhnya.

Tahun 2005 menjadi awal dimana ia harus lebih kuat dari sel kanker yang ada dalam tubuhnya. Yulia bercerita bahwa ia menyadari ada keanehan yang terjadi dalam dirinya ketika sedang melakukan sholat. Ketika itu ia melihat ada bercak merah segar pada bagian dada di mukena yang sedang ia gunakan. Berusaha berpikir positif, ia menganggap itu sebagai angin lalu “Ah, paling nyamuk tidak sengaja terpukul,” gumamnya kala itu. Yulia pun menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada keluhan tentang rasa sakit atau pun tidak nyaman yang terlontar darinya.

Selang beberapa hari kemudian, bercak merah itu pun muncul kembali pada saat menunaikan ibadah sholat, lagi-lagi Yulia mengabaikannya. Perasaan tidak enak pun tidak dapat lagi dibantah oleh Yulia ketika ia mendapati bercak merah yang sama untuk ketiga kalinya. Seketika warga Bangil, Surabaya, itu pergi ke kamar mandi dan melihat pantulannya di cermin. Benar saja, kali ini tidak hanya cairan merah segar yang ada di mukenanya, namun juga gumpalan darah ia temukan di payudaranya. “Ini apa ya?” Kiranya kala itu. “Kok tidak ada yang luka, namun berdarah seperti ini?”

Dengan perasaan shock dan bingung, Yulia pergi ke dokter umum untuk mengecek keadannya. Dokter umum menyimpulkan bahwa Yulia baik-baik saja. Tidak puas dengan jawaban sang dokter, Yulia pun berinisiatif untuk pergi ke dokter bedah umum. Lagi-lagi nihil. Dokter bedah umum pun tidak dapat menjelaskan kondisi yang terjadi pada Yulia kala itu.

Baru setelah bercerita pada temannya, Yulia disarankan untuk mengunjungi Dokter Onkologi yang berada di Surabaya. Jarak 40km yang memisahkan Surabaya dan Bangil ia tempuh seorang diri, guna mendapatkan kepastian mengenai kondisi kesehatannya. Sesampainya di Surabaya, ia disarankan untuk mengikuti tes mamografi. “Rasanya sakit sekali, saya sampai menangis berkali-berkali saking sakitnya proses tes tersebut,” ungkapnya pada tim PR YKPI. Tidak hanya tes mamografi, Yulia juga diharuskan untuk melakukan pengecekan darah dari putingnya dan diminta menunggu beberapa jam untuk mengetahui hasil tes tersebut. Pada saat itu, Yulia sama sekali belum memberi tahu suaminya mengenai hal ini. “Takut bapak mikir macam-macam dan terjadi apa-apa, makanya saya diam saja,” katanya.

Saat yang ditunggu pun tiba. Yulia menerima hasil tes dengan hati yang gundah. Hasil tes mengatakan bahwa di payudara Yulia positif terdapat sel kanker payudara. Tidak seperti orang pada umumnya, Yulia, yang selalu berpikiran positif pada saat itu malah bersyukur kepada Allah karena keanehan dalam tubuhnya sudah terungkap. “Alhamdulillah, penyakitnya ketemu sudah!” ujarnya ketika itu.

Rasa syukur itu tidak berlangsung lama. Yulia merasa lemas seketika, ketika mendapati ia harus melakukan operasi pengangkatan payudara. Air mata mengalir dengan deras. Merasa membutuhkan petunjuk, Yulia pun menghubungi anaknya di Jakarta. Respon yang ia dapat positif sekali, “Jangan ragu, Ma! Lakukanlah operasi itu, karena memang hanya itulah solusinya!” ujar sang anak. Suami Yulia pun pasrah, walaupun pada awalnya sangat sulit baginya untuk menerima keadaan ini.

Wanita yang telah melakukan 12 kali kemoterapi seorang diri ini mengakui bahwa belum banyak yang mengerti soal kanker payudara di daerahnya. Proses penyembuhan yang berat pun tak menghalanginya untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bangil “Saya malah tambah aktif menjadi relawan untuk menambah lahan pahala. Itulah prinsip yang saya tanam dalam diri saya selama ini,” akunya.

Yulia telah melakukan penyuluhan mengenai kanker payudara di rumahnya di Bangil. Dengan mendatangkan dokter onkologi, ia mengadakan sesi konsultasi dan tanya jawab. Melalui usaha yang giat, Yulia telah berjasa mengajak banyak penyintas kanker untuk memeriksakan dirinya ke dokter spesialis onkologi. Tidak terkecuali penyintas yang sudah berada pada stage yang sangat krusial. Yulia pun mengaku senang sudah menginspirasi banyak orang untuk berobat, sehingga resiko kematian dapat dicegah se-dini mungkin.

Menutup sesi wawancara dengan tim PR YKPI, Yulia berpesan kepada penyintas kanker payudara lainnya untuk senantiasa menjaga ketenangan jiwa. “Intinya kita tidak boleh merasa sendirian!” himbaunya. “Kalau toh benar-benar ada penyakit, langsung aja ke spesialisnya, tidak perlu takut. Saya dulu merasa ini momok, tapi memang dokter lah yang lebih tau cara mengobatinya,” tutupnya.

Share this post