Kanker Harus Dilawan, Bukan Ditakuti

Berbarengan dengan meletusnya Gunung Kelud, meletus pula tangisan Handayani ketika ia positif terdiagnosis kanker payudara pada tahun 2014. Awal mulanya, ia menyadari keanehan yang terjadi pada payudaranya ketika mandi. “Kok ketika saya memakai sabun mandi, terasa ada benjolan,” akunya.

Berawal dari rasa penasaran, Handayani pun memutuskan untuk pergi ke Puskesmas. Dokter di Puskesmas menyatakan bahwa tidak ada ada yang perlu dikhawatirkan oleh Handayani. “Saat itu, dokter hanya bilang itu adalah hal normal pada orang yang baru saja menopause,” ujarnya sambil mengingat ucapan dokter kala itu. Namun, kegundahan melanda ibu 2 anak ini, “Loh, apa hubungannya menopause dengan benjolan ini?” tanyanya dalam hati.

Tidak sampai dua bulan kemudian, Handayani berani mengungkapkan keanehan pada payudaranya kepada sang adik yang bekerja di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. Kaget karena baru dikabari setelah dua bulan, sang adik pun mengingatkan Handayani untuk tidak “sembrono” dalam menghadapi kasus ini dan meminta sang kakak untuk memeriksakan kembali keadannya di rumah sakit yang lebih besar.

Atas saran sang adik, Handayani pun bertolak dari Magelang ke Yogyakarta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi yang dihadapinya. Kekhawatiran sang adik terbukti, setelah malakukan uji laboratorium dan mamografi di Yogyakarta, Handayani dinyatakan positif kanker payudara. Tindakan segera diambil. Dengan perasaan yang masih diguncang shock dan kebingungan, Handayani melakukan operasi pengangkatan dua hari kemudian.

Tidak hanya sampai di situ, setelah operasi pengangkatan, Handayani juga dihimbau untuk melakukan terapi kimia (kemoterapi) selama lima tahun ke depan. “Pas pertama tahu, saya bingung dan pasrah. Namun, memang sudah keharusan saya untuk sembuh.” tuturnya. Sampai sejauh ini Handayani telah melakukan delapan kali kemoterapi ditambah pengecekan rutin selama enam kali dan dua puluh lima kali penyinaran. Semua hal tersebut dilakukan demi mencapai kesembuhan.

Dalam hal inspirasi dan semangat yang didapatnya dalam menghadapi kanker payudara, Handayani mengakui bahwa Ibu Linda Agum Gumelar lah yang menjadi tokoh panutannya. “Saya terinspirasi Ibu Agum untuk mengikuti organisasi seperti YKPI ini. Terlebih setaelah beliau memberikan pengarahan di komunitas kanker milik Akmil di Magelang” ungkapnya dengan kekaguman. Ia menilai kepedulian Ibu Gumelar kepada para penyintas patut dicontoh oleh masyarakat magelang dan masyarakat Indonesia pada umumnya. “Untuk kota Magelang masih kurang dilakukan, ada yayasan dari akmil tapi belum terlalu terstruktur,” paparnya dengan harapan adanya peningkatan kesadaran terhadap kanker payudara di daerahnya.

Handayani juga berpesan kepada masyarakat, baik tua maupun muda, untuk lebih peduli terhadap kanker payudara. “Adik-adik yang masih muda jangan segan juga untuk mengikuti hal-hal seperti ini,” pesannya. Kegiatan seperti seminar nasional ini dinilai sangat berguna oleh Handayani karena selain mendapatkan teman, ia juga dapat mendapat informasi baru yang dibagikan baik oleh survivor maupun tenaga ahli seperti dokter.

Handayani ingin menyampaikan kepada para penyintas kanker bahwa kanker tidak perlu ditakuti, melainkan perlu untuk dilawan. “Jangan takut untuk periksa diri dan harus semangat sembuh, lebih baik periksakan saja, baik masih muda atau tua,” tegasnya menutup sesi wawancara dengan PR YKPI pada acara temu penyintas kanker payudara se-Indonesia.

Share this post