Jangan Takut, Hadapi Kanker Dengan Senyuman

Ceria adalah satu kata yang dapat menggambarkan sosok wanita bernama Rani Nur Firdausi. Hidupnya indah sampai akhirnya diusianya ke 31 tahun tepatnya tahun 2013, ia divonis mengidap kanker payudara stadium 2. Ini berawal ketika tahun 2012 akhir ia mendapati ada benjolan di payudara sebelah kirinya. Tidak terpikirkan olehnya bahwa benjolan tersebut ialah asal muasal penyakit ganas ini bersarang di tubuh mungilnya.

“Aku pikir benjolannya muncul saat haid saja, jadi aku tidak khawatir” pungkasnya. Namun setelah haid selesai, ia heran mengapa benjolan tersebut tidak ikut menghilang atau setidaknya mengecil. Sempat terpikir olehnya untuk memeriksakan hal ini ke dokter, justru pemikiran lain yang terlintas dikepalanya, “Nanti sajalah ke dokter, aku ingin jalan-jalan dulu”. Rani takut jika ia memeriksakan hal ini ke dokter, justru ia dilarang untuk berpetualang. Walhasil sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia memutuskan untuk berlibur terlebih dahulu.

Petualangan berakhir, saatnya ia untuk memeriksakan benjolan yang ada di payudaranya kepada dokter. Pertama dokter memutuskan untuk mengambil tindakan biopsi. Ritual itu dilakukannya sekitar bulan Maret 2013 dan hasilnya adalah ia divonis mengidap kanker payudara stadium 2. Pada saat itu, Rani tidak memberitahukan keadaannya pada sang ibu. Ia takut ibu yang sangat ia sayangi menjadi sedih. “Aku tidak mau ibuku down melihat kondisiku saat itu” ucapnya. Rani memutuskan untuk menguatkan dirinya terlebih dahulu, tidak lupa juga untuk meminta second opinion ke dokter lain, serta mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang kanker payudara.

Setelah siap mental, akhirnya Rani memberanikan diri untuk memberitahu ibunya perihal penyakitnya ini. “Mam, ternyata ini kanker payudara” ujarnya sambil sedikit mengeluarkan air mata ketika diwawancarai tim PR media YKPI. Mungkin ia teringat masa-masa kala itu. Pastinya sebagai seorang anak, Rani sangat tidak ingin membuat orangtuanya sedih apalagi membuat sedih seorang Ibu. Rani pun sempat berucap kepada sang Ibunda, “Mam, ade minta maaf kalau ade sakit nanti nyusahin mamih”. Ketegaran yang Rani miliki ternyata memang menurun dari sang Ibu, tanpa berfikir lama ibunya langsung menerima kenyataan bahwa anaknya divonis kanker payudara. Ibunda langsung menyetujui keputusan Rani untuk mengambil jalur pengobatan medis yaitu untuk melakukan mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Pikirnya tidak apa ia harus kehilangan satu payudaranya karena jika tidak dilakukan sekarang, kedepannya dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit lain. “Aku tidak memikirkan apa-apa saat itu, yang penting aku bisa sehat, kerja, dan jalan-jalan” ungkapnya. Beruntungnya Rani, setelah melakukan mastektomi, ia hanya harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali saja tanpa harus melalui proses radiasi. Setelah itupun ia cukup kontrol rutin setiap tiga bulan sekali ke dokter.

Selama menjalani kemoterapi, Rani masih terus bekerja seperti biasa dan setelah kemoterapi selesai ia rutin berolahraga dan mengikuti berbagai kegiatan lari. Rani percaya Tuhan selalu ada untuknya, itulah yang membuatnya terus bersemangat dalam menjalani hidup. “Tuhan pasti kasih yang terbaik, jadi aku tidak perlu takut” pungkasnya. Pembawaan Rani yang ceria membuat orang-orang disekelilingnya berpendapat bahwa ia tidak seperti seseorang yang sedang sakit parah. Mereka heran, apa benar seorang Rani mengidap kanker payudara. Bahkan jika sedang bercanda, mereka sering mengatakan bahwa dokternya telah salah mendiagnosanya mengidap kanker payudara.

Wanita yang kini berusia 35 tahun ini sangat bersyukur dan berterima kasih karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mendukungnya. Selama pengobatan berlangsung, ia merasa semakin kuat dan semangat. Tidak ia pungkiri, keluarga dan sahabat selalu ada setia bersamanya saat suka maupun duka. “Sempat merasa sendiri dan takut ditinggal keluarga dan teman-teman” ujarnya mengingat masa-masa awal pengobatan dahulu.

Rani sadar bahwa kanker payudara bukanlah harga mati. Kanker payudara tidak sama dengan mati. Kematian bukanlah hal yang bisa kita hindari, tetapi ada kehidupan yang harus kita perjuangkan. Rani tidak mempermasalahkan kondisi fisiknya saat ini yang hanya memiliki satu payudara. Menurutnya, kanker adalah awal hidup yang lebih berkualitas. Memulai hidup sehat dan teratur dengan menjaga pola makan, rajin berolahraga, dan mengontrol stress. Rani pun mengingat masa-masa sebelum ia mengidap penyakit ini, ternyata ia jarang sekali mengkonsumsi air putih dan lebih senang mengkonsumsi fast food dan teh dalam botol dikesehariannya.

Saat ini Rani tergabung dalam Yayasan Kanker Payudara Indonesia atau YKPI. Ia sangat antusias dengan kegiatan yang diadakan oleh YKPI, seperti sharing dan seminar. Baginya, bergabung dengan YKPI merupakan sebuah anugerah karena dapat mempertemukannya dengan keluarga baru yang berisi para wanita tangguh. Rani juga menambahkan bahwa sosialisasi tentang pengecekan dini itu penting dan memberitahu bahwa kemoterapi itu tidak menakutkan seperti yang banyak dikatakan orang-orang diluar sana. “Jangan takut, pokoknya yang paling penting jangan lupa untuk selalu tersenyum dalam menghadapi hari-hari karena kanker bukan akhir dari segalanya” tutup Rani.

Penulis: Azizah Nadilla Syahna/Team PR & Media YKPI

Share this post