Jangan Pernah Takut Karena Kita Tidak Sendiri

Jangan Pernah Takut Karena Kita Tidak Sendiri

Ketika itu aku menyadari ada gejanggalan dalam tubuhku. Tak lama akupun segera memeriksakan diri ke dokter dan setelah menjalani serangkaian tes pada hari itu juga aku divonis postitif kanker payudarapada sebelah kiri. Pasrah merupakan kata yang tepat untuk aku ungkapkan saat mendengar vonis dari dokter. Ya, tahun 2006 merupakan tahun yang cukup berat untukku. Padahal baru selang tiga tahun, aku harus merelakan kepergian Ibuku tercinta karena penyakit yang sama yaitu kanker payudara. Dan saat itu, ternyata aku juga terkena salah satu penyakit genetik ini. Hanya pasrah dan juga berusaha untuk menyembuhkan penyakit ini.

Tanpa menunda-nunda lagi,  setelah berdiskusi dengan keluargaku, jelang tiga harikemudian akupun langsung menjalani operasi pengangkatan. Dengan dukungan dari suami dan dua anakku, aku beranikan diri untuk menjalani semua rangkaian penyembuhan saat itu. Tanpa rasa takut aku jalani semua rangkaian beratitu dalam upaya penyembuhanku.

Aku jalani kemo pertama, kedua, ketiga sampai dengan kedelapan belas. Helai demi helai mahkota rambutku mulai merontok. Lambat laun akupun harus mengikhlaskan untuk kehilangan mahkotaku. Tiada kata yang dapat aku curahkan untuk mendeskripsikan bagaimana rasa sakit luar biasa yang aku rasakan saat itu. Namun semua itu tidak menghalangkan aktivitas keseharianku dan juga semangatku untuk tetap hidup.

Menurut kebanyakan orang, setalah menjalani penyembuhan selama lima tahun maka akan terbebas dari penyakit kanker payudara ini. Tetapi, tidak untukku. Mungkin Tuhan ingin kembali meningkatkan derajatku di hadapanNya. Lagi, dokter menemukan benjolan pada payudaraku sebelah kanan. Entah rasa apa yang aku rasakan saat dokter memberitahukan kalau aku harus kembali menjalani operasi dan juga kemo. Aku hanya dapat berserah diri kepadaNya sambil terus berusaha.

Mengetahui pertumbuhan akar kanker yang sangat cepat, tanpa menunda aku kembali mengambil keputusan untuk operasi. Suami dan anak-anakku adalah dukungan terbesar untukku. Hari operasi itupun tiba, jam tujuh pagi aku memasuki ruang operasi.Kali ini ada yang berbeda dari operasi pertamaku pada tahun 2006 lalu.Belum sadar, setelah selesai mengangkat benjolan, Dr. Wiwin yang menanganiku tiba-tiba meminta izin kepada suamiku untuk melakukan operasi lainnya yaitu operasi keloid.  Pukul tujuh pagi aku memasuki ruang operasi dan baru pukul tujuh malam aku siuman. Alhamdulillah kondisiku cukup fit sehinggaoperasi yang cukup memakan waktu itu berjalan lancar.

Serangkaian penyembuhan yang menyakitkan itu harus kembali aku jalani. Mudah marah, sangat sensitif juga aku alami akibat bawaan dari kemo. Beruntung aku mempunyai suami dan anak-anak yang mengerti kondisiku. Untuk penyembuhan payudara sebelah kanan ini aku menjalani enam kali kemo. Sekali kemo aku harus mengeluarkan biaya sebesar 32 juta rupiah, sangat berbeda pada tahun 2006 lalu yaitu hanya 6,3 juta rupiah.

Kanker payudara tidaklah menjadi penghalang bagiku untuk melanjutkan hidup dan aku tidak larut dengan kesedihan. Dengan pasrah sambil tetap semangat, aku tetap jalani hidupku seperti biasanya tanpa rasa takut. Bahkan sekarang aku semakin semangat untuk meneruskan hidupku. Aku juga pernah merawat Almarhumah Ibuku yang memiliki penyakit sama denganku sehingga membuatku tidak takut menjalani penyakit ini.

Saat ini aku sudah menjadi survivor kanker payudara. Menjalani operasi memang keputusan terbaik untukku dan sampai saat ini aku masih tetap bisa bertahan. Berjaga-jaga jika aku harus menjalani kemo lagi, vena port di tanamkan pada tubuhku yang semakin menua ini. Alat itu ditanam seumur hidup karena bagian tangan kanan dan kiriku sudah tidak dapat ditusuk jarum. Tiga bulan sekali aku harus jalani spooling agar saluran tetap berjalan lancar.

Ya,Semua itu harus aku lewati dengan semangat untuk tetap hidup. Salah satu alasan hingga saat ini aku masih semangat adalah aku masih ingin memomong cucu-cucuku. Dengan begitu aku jadi semakintermotivasi dan selalu ikhlas dengan apa yang telah diberi oleh Yang Maha Kuasa.

Pesanku untuk semua penyintas yang masih berjuang dari kanker payudara, jangan takut untuk menjalani semua rangkaian itu. Aku sudah menjalaninya selama sepuluh tahun dan hingga saat ini aku masih bertahan. Jika sudah divonis agar segera menjalani operasi karena pertumbuhan akar kanker sangat cepat. Dokterku pernah berkata, “Hari ini empat, dan besok sudah menjadi enam belas.”Secepat itulah pertumbahan kanker. Jadi, jangan pernah berfikir untuk pergi berobat ke alternatif karena akan membuang-buang waktu.

Datang jauh-jauh dari Surabaya, aku sempatkan waktuku untuk datang ke acara yang sangat bagus ini, acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se Indonesia yang digagas oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Meskipun aku tidak bergabung dengan komunitas manapun, tapi aku selalu aktif dalalam acara- acara kanker baik di Surabaya atau di luar kota seperti ini.  Terakhir aku datang ke acara serupa yang di selenggarakanoleh Ibu Linda Gumelar di Hotel Sheraton Surabaya.

Menurutku, acara ini sangat bagus dan sangat bermanfaat, khususnya bagi para penyintas kanker payudara yang pastinya menjadi semakin sensitif. Dengan adanya acara ini, kita bisa saling sharing pengalaman-pengalaman, bercengkrama, bersenang-senang sehingga diri kita dapat terhibur. Karena saat sedang sendiri, rasanya hanya kita saja yang mendapatkan penyakit seperti ini. . Padahal banyak di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti kita. Maka, berkomunikasi khusunya dengan sesama penyintas seperti ini akan sangat bermanfaat bagi kita.  Aku berharap, semoga kedepannya, acara ini akan semakin baik lagi. Dan tentunya harus tetap semangat!

—————-

Kisah di atas sebagaimana disampaikan Asia Astrianadari, kelahiran 14 Desember 1955 asal  Surabaya (61 Tahun) kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Share this post