Energi Positif Mengubah Sesuatu Jadi Lebih Semangat

Energi Positif Mengubah Sesuatu Jadi Lebih Semangat

Bulan Mei 19 tahun yang lalu, Rusmeini Subronto divonis oleh dokter menderita kanker payudara. Berdasar pada pengalaman sahabatnya yang terkena kanker payudara memberikan peringatan tersendiri kepada Rusmeini untuk peka terhadap kesehatannya. “Sahabat saya mengingatkan untuk sering meraba payudara, apakah ada benjolan atau tidak. Ketika saya raba, kok di sebelah kiri saya ada benjolan?” ujar wanita yang akrab disapa Ibu Rus ini.

Kemudian pada bulan Oktober 1997, rutinitas check up tahunan dari perusahaan tempatnya bekerja membawanya untuk kembali memeriksakan diri dan melakukan konsultasi lebih lanjut pada dokter mengenai benjolan yang ada pada payudaranya itu. Dokter menyimpulkan bahwa ada kanker stadium satu yang bersarang di payudaranya. Kemudian Rusmeini terbang ke Singapura untuk kembali memeriksakan dirinya di rumah sakit Mount Elizabeth.

“Hari Minggu saya tiba, Seninnya dilakukan needle biopsy. Dokter mengatakan bahwa benjolan itu harus diangkat kemudian dilakukan frozen section, untuk melihat CA (cancer antigen) itu ada di  tingkat berapa. Ketika dilihat ternyata sudah ganas jadi malam itu juga langsung diadakan operasi pengangkatan,” cerita Ibu Rus.

Menjalani proses dari terdiagnosa hingga operasi yang begitu cepat tidak memberikan dampak signifikan bagi Rusmeini untuk terpuruk atas kondisi kesehatannya. Ia mengemukakan bahwa tidak menunda-nunda dan cepat mengambil keputusan, bahkan dalam keadaan mendesak sekalipun, adalah kunci baginya untuk terus survive menghadapi penyakit ini.

Usai operasi dilakukan, ibu berusia 63 tahun ini  harus menjalani serangkaian kemoterapi. Awalnya kemoterapi tersebut dilakukan setiap hari.  Walau sudah lupa detailnya, akan tetapi pada saat itu ia diharuskan bermukim selama dua minggu di Singapura berkaitan dengan tindakan paska operasi tersebut. Kemudian intensitasnya dikurangi menjadi sebulan sekali dan tiga bulan sekali. Setelah itu, ia disarankan melakukan check up dari tiga bulan, enam bulan hingga setahun sekali hingga saat ini.

“Saya waktu itu sempat down saat dokter bilang saya harus dikemo. Tahun 98 lagi krisis dan kemo itu mahal sekali tapi atasan saya bilang untuk tetap lanjutin saja,” ujar wanita yang hingga saat ini masih bekerja di Matari Advertising. Rusmeini juga mengaku tidak pernah terbayangkan kemoterapi itu seperti apa dan bagaimana. Ibu dua anak ini berpikir bahwa sebaiknya tidak mengetahui kemoterapi itu seperti apa dan memilih untuk menjalaninya saja.

Lima tahun berselang, Rusmeini kembali didiagnosa menderita kanker, namun kali ini paru-paru menjadi sarangnya. Awalnya dokter menyarankan untuk dilakukan kemoterapi agar sel kanker dibuat mengecil namun setelah beberapa kali kemoterapi dilakukan, operasi pengangkatan cancer antigen tersebut tak terhindarkan. Setelah operasi dilakukan, ia kembali harus menjalani kemoterapi dan radiasi.

Usai berjuang melawan kanker payudara dan paru-paru, Rusmeini kini menjadi tempat curahan hati para penderita kanker lainnya, karena baginya sharing memiliki peranan penting untuk mengurangi beban penyakit yang diderita. Ia menambahkan bahwa seseorang yang pernah berjuang melawan penyakit tersebut adalah tempat yang cocok untuk berbagi. “Orang yang kena CA, kalau tidak punya tempat untuk diskusi, akan punya pemikiran sendiri yang menggerogoti hati dan pikirannya. Kalau kamu sakit dan yang memberi saran adalah orang yang pernah mengalami, mereka akan merasa lebih nyaman karena sama-sama pernah merasakan,” ungkap ibu dua anak ini.

Rusmeini menekankan bahwa peranan lain untuk tetap bertahan melawan penyakit adalah dengan mengikuti apa yang dikatakan dokter, menjalani kegiatan yang disukai, dan tidak memikirkan sesuatu yang kita tidak bisa ambil keputusannya. Ia hanya memikirkan apa yang bisa ia ubah. “Seperti apa yang Stephen Covey bilang, circle of influence atau circle of concern. Kalau kita tidak bisa ubah ya concern aja. Tapi kalau kita bisa ubah berarti masuk ke circle of influence. Energi kalau positif bisa mengubah sesuatu jadi lebih semangat,” jelasnya. “Dan tentu saja tidak lupa selalu berdoa kepada Allah SWT,” tambah Rusmeini

Walau baru beberapa bulan bergabung di grup whatsapp Pita Pink-YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), Rusmeini merasakan energi positif yang dibagikan kepada para penyintas kanker payudara melalui program-program YKPI yang dijalankan bagi para penyintas. “Highly appreciated untuk YKPI, terutama untuk ibu Agum Gumelar dan timnya yang telah bekerja keras dan dengan network-nya yang oke banget. Ada line dance, fitness bareng, nonton bareng. Luar biasa,” tutup Rusmeini. Hal ini memberikan pelajaran tersendiri bahwa penyakit yang diderita harus dilawan dan bukan menjadi penghalang untuk tetap menikmati hidup selama kita selalu menanamkan energi positif.

Penulis: Mathilde Liliana P/Team PR & Media YKPI

Share this post