Deteksi Sebelum Telat

Deteksi Sebelum Telat

JAKARTA, KOMPAS — Upaya mendeteksi sedini mungkin kanker payudara amat penting. Makin awal kanker terdeteksi dan diobati, peluang keberhasilan terapi jauh lebih besar. Namun, kesadaran warga tentang hal itu masih rendah. Mayoritas penderita kanker payudara baru berobat pada stadium lanjut.

Hal itu mengemuka dalam Forum Diskusi Kesehatan bertema “Waspada Kanker Payudara” diprakarsai harian Kompas bekerja sama dengan Rumah Sakit Siloam, Sabtu (22/10), di Jakarta. Acara itu juga sekaligus untuk memperingati Bulan Kanker Payudara.

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Gumelar memaparkan, promotif dan pencegahan kanker payudara amatlah penting. Jika kanker terdeteksi dan baru diobati ketika sudah stadium lanjut, biaya terapi mahal dan kanker lebih mudah menyebar ke organ lain yang sangat berisiko. Itulah yang masih banyak terjadi saat ini, khususnya di Indonesia.

Dokter spesialis bedah onkologi dari RS Siloam, Bernard Agung Baskoro, berharap, masyarakat tidak ragu memeriksakan diri seawal mungkin demi mendeteksi kanker payudara, yang secara genetika berisiko kanker ataupun tidak. Namun, masyarakat umumnya menemui dokter setelah kankernya berada pada stadium lanjut yang secara pengobatan terhitung sudah tidak mudah ditangani.

Jika kanker payudara diobati sejak dini, kata Bernard, peluang ketahanan hidup pasien hingga lima tahun mencapai 95 persen. Bahkan, bisa lebih baik dari itu dalam sejumlah kasus.

Jika kanker ditemukan sejak awal, payudara juga tidak perlu diangkat, bisa terus dipertahankan. “Jauh lebih baik, apabila ada gejala seperti benjolan, baik di payudara maupun ketiak, segera menemui dokter. Benjolan itu belum tentu juga kanker, tetapi lebih baik terdeteksi sejak awal apa sebenarnya benjolan tersebut,” katanya.

Deteksi dan penanganan terlambat, selain berisiko pada keberhasilan penanganan, juga terkait dengan biaya pengobatan yang bisa sangat mahal.

Periksa sendiri

Deteksi dini yang bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat adalah periksa payudara sendiri (sadari). Sayangnya, hal tersebut belum dianggap penting oleh sebagian masyarakat. “Kami tak ingin ada pasien dengan kanker payudara stadium lanjut. Jadi, sadari atau pemeriksaan dengan ultrasonografi atau mamografi penting dilakukan,” kata Linda.

Hasil pemeriksaan mamografi oleh YKPI tahun 2015 menunjukkan, dari 3.427 orang yang diperiksa, 12,5 persen terdeteksi tumor jinak dan 1,4 persen dicurigai ganas. Pada periode Januari-September 2016, dari 1.060 orang yang diperiksa, 13,5 persen teridentifikasi tumor jinak dan 1,6 persen diduga ganas.

Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 mencatat, prevalensi kanker di Indonesia 1,4 persen atau 1,4 orang per 1.000 penduduk. Mayoritas kasus ialah kanker payudara (28,7 persen) dan kanker leher rahim (12 persen). Kanker payudara masih terhitung sebagai jenis kanker yang paling banyak merenggut nyawa penderitanya.

Menurut Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Kementerian Kesehatan Niken Wastu Palupi, sejak 2008, layanan deteksi dini pemeriksaan payudara klinis (sadanis) tersedia di puskesmas-puskesmas. Sadanis dapat dilakukan di 30 persen dari 9.000 puskesmas.

Meski demikian, pada periode 2008-2015, layanan sadanis baru diakses sekitar 1,5 juta warga berusia 30-50 tahun. Padahal, populasi penduduk pada usia tersebut mencapai 37 juta orang. “Tahun 2016, targetnya, 20 persen dari populasi usia 30-50 tahun melakukan sadanis di puskesmas,” ujar Niken.

Sumber : Harian KOMPAS, 24 Oktober 2016 (ADH)

Photo Courtesy : KOMPAS / Heru Sri Kumoro

http://print.kompas.com/baca/sains/kesehatan/2016/10/24/Deteksi-Sebelum-Telat

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Oktober 2016, di halaman 13 dengan judul “Deteksi Sebelum Telat”.

Share this post